05-01-2012, 03:59 PM
perbedaan gauge sebetulnya bukan masalah, beberapa negara (eropa-asia) yang terhubung dengan jalur trans siberia memiliki standard gauge yang berbeda dan solusinya hanya dengan mengganti boogie-nya saja tanpa harus menukar gerbong atau penumpangnya turun. (ada yang menyebutnya regauging)
contoh fasilitas regauging yang saya comot dari google
[spoiler=gambar]
![[Image: 800pxbogiechangestation.jpg]](http://img864.imageshack.us/img864/8065/800pxbogiechangestation.jpg)
![[Image: 20080907039.jpg]](http://img403.imageshack.us/img403/9995/20080907039.jpg)
![[Image: 20080907042.jpg]](http://img38.imageshack.us/img38/2352/20080907042.jpg)
[/spoiler]
gambar diatas diambil di stasiun chop ukraine jalur yang menghubungkan beberapa negara eropa timur dengan bekas negara USSR. cara kerjanya sederhana, masing2 rangkaian gerbong dilepas lalu diangkat dengan dongkrak hidrolik/elektrik (warna biru) lalu tinggal digeser boogienya terlihat terdapat dual gauge direlnya.
contoh lain fasilitas yang agak jadul menghubungkan korea utara dengan rusia di stasiun tumangan korut
[spoiler]
[/spoiler]
dan ini video prosesnya
http://www.youtube.com/watch?v=X7pMXcEmE...re=related
http://www.youtube.com/watch?v=uxij_NMy-...re=related
balik lagi ke masalah trans asia apakah memungkinkan? jawabannya ya memungkinkan namun permasalahannya bukan teknis di lebar gauge,
melainkan apakah saat ini feasible menghubungkan jalur dari indonesia hingga china.
karena ada perbedaan utamanya kondisi geografis antara eropa-asia tengah dengan asia timur-tenggara dimana negara2 di asia tenggara/timur terdapat pelabuhan laut sedangkan di eropa timur hingga asia tengah (trans siberia/mongolia) beberapa negara tidak memiliki pelabuhan laut sehingga transportasi/distribusi lebih mudah melalui darat dalam hal ini kereta.
namun bukan tidak mungkin hal ini bisa terwujud utamanya bila jembatan yang menghubungkan riau/jambi-singapore serta jalur bangkok-vietnam telah terbangun, kapan terbangun??? wassalam hanya Tuhan yang tahu
semoga berguna,
salam.
source : beberapa gambar saya ambil dari sini
contoh fasilitas regauging yang saya comot dari google
[spoiler=gambar]
![[Image: 800pxbogiechangestation.jpg]](http://img864.imageshack.us/img864/8065/800pxbogiechangestation.jpg)
![[Image: 20080907039.jpg]](http://img403.imageshack.us/img403/9995/20080907039.jpg)
![[Image: 20080907042.jpg]](http://img38.imageshack.us/img38/2352/20080907042.jpg)
[/spoiler]
gambar diatas diambil di stasiun chop ukraine jalur yang menghubungkan beberapa negara eropa timur dengan bekas negara USSR. cara kerjanya sederhana, masing2 rangkaian gerbong dilepas lalu diangkat dengan dongkrak hidrolik/elektrik (warna biru) lalu tinggal digeser boogienya terlihat terdapat dual gauge direlnya.
contoh lain fasilitas yang agak jadul menghubungkan korea utara dengan rusia di stasiun tumangan korut
[spoiler]
[/spoiler]dan ini video prosesnya
http://www.youtube.com/watch?v=X7pMXcEmE...re=related
http://www.youtube.com/watch?v=uxij_NMy-...re=related
balik lagi ke masalah trans asia apakah memungkinkan? jawabannya ya memungkinkan namun permasalahannya bukan teknis di lebar gauge,
melainkan apakah saat ini feasible menghubungkan jalur dari indonesia hingga china.
karena ada perbedaan utamanya kondisi geografis antara eropa-asia tengah dengan asia timur-tenggara dimana negara2 di asia tenggara/timur terdapat pelabuhan laut sedangkan di eropa timur hingga asia tengah (trans siberia/mongolia) beberapa negara tidak memiliki pelabuhan laut sehingga transportasi/distribusi lebih mudah melalui darat dalam hal ini kereta.
namun bukan tidak mungkin hal ini bisa terwujud utamanya bila jembatan yang menghubungkan riau/jambi-singapore serta jalur bangkok-vietnam telah terbangun, kapan terbangun??? wassalam hanya Tuhan yang tahu

semoga berguna,
salam.
source : beberapa gambar saya ambil dari sini
