04-01-2012, 12:10 PM
Quote:Selama KRL Penuh Sesak, Razia Penumpang Di Atap Tak Akan Ampuh.
Jakarta - PT. Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan segala upaya untuk menurunkan penumpang yang naik di atap kereta. Mulai dari mengerahkan Polsuska hingga menyewa Ustadz untuk berceramah. Tapi selama daya tampung penumpang KRL Jabodetabek masih terbatas, penertiban ini dinilai tidak akan berhasil.
"Bukan kita yang harus ditertibkan, harusnya ditambah kapasitasnya. Sudah panas, penuh sesak. Mana enak seperti itu," ujar Dewanto seorang pengguna KRL yang ditemui detikcom di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (4/1/2011).
KRL kelas ekonomi memang merupakan favorit masyarakat untuk menempuh jarak jauh di Jabodetabek. Tiket KRL ekonomi hanya Rp 2 ribu. Sangat murah memang. Bayangkan jarak Jakarta Kota hingga Bogor bisa ditempuh dengan Rp 2 ribu.
"Kalau naik commuter line yang harganya Rp 7 ribu sekali jalan ya kita tidak mampulah. Pulang pergi Rp 14 ribu, kalau ekonomi pulang pergi cuma Rp 4 ribu. Penuh dikit tidak apa-apa," ujar Rizki, seorang penumpang lainnya.
Harga tiket tentu sebanding dengan kenyamanannya. Sudah penuh sesak, banyak pedagang dan pengamen yang lalu lalang di lorong gerbong.
Gerbong khusus wanita di depan dan paling belakang pun tidak seluruhnya diisi wanita. Pantauan detikcom, penumpang pria dengan cueknya berjejal di gerbong yang dikhususkan untuk wanita itu. Padahal gerbong ini awalnya dibuat untuk meminimalisir pelecehan seksual di atas KRL.
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan menilai gerbong khusus wanita ini memang tidak akan efektif selama kapasitas penumpang lebih besar dari daya angkut KRL.
"Kalau sudah penuh sesak, susah mengharapkan gerbong khusus wanita itu berjalan efektif," kata Tigor beberapa waktu lalu.
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pun mengungkapkan sebenarnya memiliki stok kereta yang cukup. Sayangnya fasilitas rel di Jabodetabek tidak mampu menampung penambahan operasional KRL. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pun hanya meminta penumpang bersabar menunggu rangkaian kereta yang lebih kosong.
"Kalau pukul 19.00 WIB itu pasti kosong," ujar Kepala Penindakan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daops I, Akhmad Sujadi saat razia di Stasiun Cikini, Jakarta beberapa waktu lalu.
Walhasil razia kemarin pun tidak berhasil. Penumpang hanya menyoraki petugas yang memaksa mereka turun dari KRL.
Sumber : detiknews.com
