10-12-2011, 08:45 PM
Selamat malam, mas-mas, mbak-mbak, pakde dan budhe semuanya. Kebetulan hari ini saya sedang lumayan nganggur, jadi saya memutuskan untuk kelayapan keliling ibukota dengan KRL dilanjutkan dengan Transjakarta. Kalau berkenan, monggo anda buka spoilernya dan nikmati paparan perjalanan saya seharian ini. Hehehe.
[SPOILER]
"TEST RUN" KELILING IBUKOTA
Hari ini saya kelayapan menggunakan KRL ekonomi, bertualang menembus rimba ibukota dari satu titik bernama Pondok Ranji. Berangkat dari Pondok Ranji 08.16, KRL berjalan lancar dan lumayan tepat waktu. Sayang sungguh disayang, saat KRL ini memasuki stasiun THB, KRL untuk saya transit berikutnya sudah berangkat.
untung sekitar 20 menit setelahnya ada KRL Ekonomi berikutnya.
Perjalanan berlanjut ke stasiun Duri, dan di sana KRL-nya menunggu aspek aman dan terhambat cukup lama, saya gak tau ada apa, kata pengumuman di stasiun Duri, ada masalah di Stasiun Angke.
Akhirnya setelah menunggu cukup lama, KRL berangkat lagi ke stasiun Angke, dan terus berlanjut ke stasiun-stasiun berikutnya tanpa hambatan berarti. Saya pun turun di Pasar Senen, kalau tidak salah sekitar pukul 09.45 (telat sekitar 20 menit dari jadwal). Dari stasiun Pasar Senen, perjalanan menembus ibukota pun saya lanjutkan dengan moda transportasi lain, Transjakarta.
Singkat cerita, dengan rute perjalanan yang sudah direncanakan sebelumnya, saya membelah ibukota melalui Transjakarta Koridor 1, 2, 3, 4, 5, 7 dan 10. Awalnya rencananya juga melewati koridor 6 dan 9, namun apa daya saat melihat jam tangan, waktu sudah mepet dengan salah satu jadwal KRL Ekonomi menuju Tanah Abang. Akhirnya dengan memperkiraan waktu tempuh, saya pun kembali ke koridor awal perjalanan saya, koridor 2 halte Senen.
saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 12.10 lebih. Saat saya lihat jadwal pada pagi hari sebelum berangkat, KRL Ekonomi ke THB berangkat dari PSE pukul 12.19. Akhirnya saya pun setengah berlari menuju stasiun Senen. Sampai di depan loket pukul 12.15, dan langsung tanya-tanya, kemudian membeli tiket KRL ke THB.
Saya pun masuk Peron Stasiun Senen, menunggu di jalur 4, menunggu, menunggu dan terus menunggu. Kok begini sih? Katanya 12.19, kok sampe 13.00 KRL Ekonominya gak ada? Akhirnya saya menyerah dan keluar lagi, cari minum dan tempat sholat.
Saya tahu KRL Ekonomi ke THB berikutnya akan berangkat pukul 14.50 WIB dari Pasar Senen. Saya pun rela menunggu hampir 2 jam hanya demi KRL Ekonomi. Terkesan aneh dan agak pelit memang, tapi, yah, saya kan hanya anak kuliahan biasa dan sedang menabung untuk pulkam saat libur natal
jadi saya harus menekan segala pengeluaran hingga seminim mungkin. (bilang aja pelit, hahaha)
Setelah perut agak terisi dan dahaga sudah terobati, saya kembali ke peron menunggu KRL Ekonomi sambil menikmati pemandangan Berangkatnya KA Gaya Baru Malam Selatan serta KA Matarmaja. Dan sekitar pukul 14.00, ada KRL Ekonomi menuju Jatinegara. Saya tahu ada KRL Ekonomi sekitar jam segitu. Lalu terbersit pikiran, daripada nganggur di stasiun, akhirnya saya pun ikut KRL itu menuju Stasiun Jatinegara.
Sampai di Stasiun Jatinegara, saya tidak turun dari KRL. Saya tetap duduk di tempat dan menunggu KRL itu berangkat kembali menuju Bogor via THB. Hahaha. Akhirnya, KRL itu pun berangkat kembali menuju Bogor. KRL itu sampai di stasiun Pasar Senen sekitar 5 menit lebih cepat, kalau gak salah. Dan perjalanan pun berlanjut. Kali ini KRL berjalan lancar sampai THB. Dan saya pun turun di sini untuk transit KRL Ekonomi tujuan Serpong.
Hmm, tapi saat itu masih sekitar pukul 15.15 atau 15.20. KRL Ekonomi ke Serpong berangkat pukul 16.10 WIB. Ya sudah, saya menunggu lagi di tengah padatnya stasiun Tanah Abang sambil cuci mata melihat KA Kesayangan saya, KA Brantas, standby di jalur 3. Tak terasa, waktu berlalu dan KRL Ekonomi dari Serpong sudah tiba. Akhirnya, saya pun naik ke KRL itu untuk kembali ke tempat saya memulai segalanya, Stasiun Pondok Ranji.
Waktu sudah sore saat KRL itu sampai di Pondok Ranji (ya elah, dari tadi juga sudah sore kali mas
). Dan saya pun melangkah dengan gontai, pulang ke tempat persinggahan sementara saya di ibukota ini, sebuah kosan di Pondok Aren (mungkin lebih beken Bintaro kali ya daripada Pondok Aren-nya?)
Saat saya sudah menginjakkan kaki di kosan, hal pertama yang saya lakukan adalah browsing, iseng-iseng melihat update terbaru. Dan, hal yang paling membuat saya terpana adalah saat saya melihat jadwal KRL Jatinegara - Bogor. Ternyata KRL Ekonomi dari Pasar Senen yang sedianya saya naiki, berangkat pukul 12.15, bukan 12.19. Pukul 12.19 itu adalah jadwal di stasiun berikutnya (Rajawali). Krik. Saya terdiam. Hanya karena menit-menit berharga itu, saya harus menunggu sampai dua jam untuk mendapatkan KRL Ekonomi lagi. Hahaha. Ironis. Tampaknya saya memasuki peron tidak lama setelah KRL itu berangkat. Ckckckck. Tambah Ironis. Benar-benar ironis. Hahaha.
Oh ya, Dari seluruh perjalanan ini, saya menghabiskan hanya Rp 7.000,00 dari berangkat sampai menginjakkan kaki lagi di Pondok Ranji (termasuk tiket transjakarta). Hanya dengan segitu saya sudah berhasil menembus rimba ibukota tercinta ini. Seneng dah pokoknya, walau capek juga sih. ^_^
Hmm, Kesimpulan saya dari "test run" hari ini ini sih:
1. Sistem Loopline itu, seperti yang sudah saya bilang, bagus dan simpel. Tapi kita harus benar-benar mempelajari jadwal KRL, terutama jika anda termasuk golongan "orang pelit" seperti saya, hahaha.
2. Masih nyambung dengan yang di atas, jangan sampe salah baca jadwal di tiap stasiun, hahaha.
3. Ada banyak drama kehidupan terjadi di atas KRL Ekonomi ataupun di sepanjang jalurnya. Drama perjuangan manusia untuk bertahan hidup dari kejamnya Jakarta. Somehow, saya malah "menikmati" sajian drama kehidupan tersebut. Terkadang, di tengah perjalanan, saya merenung melihat kenyataan yang terhampar di depan saya. Ternyata saya termasuk golongan manusia yang masih beruntung
[/SPOILER]
[SPOILER]
"TEST RUN" KELILING IBUKOTA
Hari ini saya kelayapan menggunakan KRL ekonomi, bertualang menembus rimba ibukota dari satu titik bernama Pondok Ranji. Berangkat dari Pondok Ranji 08.16, KRL berjalan lancar dan lumayan tepat waktu. Sayang sungguh disayang, saat KRL ini memasuki stasiun THB, KRL untuk saya transit berikutnya sudah berangkat.
untung sekitar 20 menit setelahnya ada KRL Ekonomi berikutnya.Perjalanan berlanjut ke stasiun Duri, dan di sana KRL-nya menunggu aspek aman dan terhambat cukup lama, saya gak tau ada apa, kata pengumuman di stasiun Duri, ada masalah di Stasiun Angke.

Akhirnya setelah menunggu cukup lama, KRL berangkat lagi ke stasiun Angke, dan terus berlanjut ke stasiun-stasiun berikutnya tanpa hambatan berarti. Saya pun turun di Pasar Senen, kalau tidak salah sekitar pukul 09.45 (telat sekitar 20 menit dari jadwal). Dari stasiun Pasar Senen, perjalanan menembus ibukota pun saya lanjutkan dengan moda transportasi lain, Transjakarta.
Singkat cerita, dengan rute perjalanan yang sudah direncanakan sebelumnya, saya membelah ibukota melalui Transjakarta Koridor 1, 2, 3, 4, 5, 7 dan 10. Awalnya rencananya juga melewati koridor 6 dan 9, namun apa daya saat melihat jam tangan, waktu sudah mepet dengan salah satu jadwal KRL Ekonomi menuju Tanah Abang. Akhirnya dengan memperkiraan waktu tempuh, saya pun kembali ke koridor awal perjalanan saya, koridor 2 halte Senen.
saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 12.10 lebih. Saat saya lihat jadwal pada pagi hari sebelum berangkat, KRL Ekonomi ke THB berangkat dari PSE pukul 12.19. Akhirnya saya pun setengah berlari menuju stasiun Senen. Sampai di depan loket pukul 12.15, dan langsung tanya-tanya, kemudian membeli tiket KRL ke THB.
Saya pun masuk Peron Stasiun Senen, menunggu di jalur 4, menunggu, menunggu dan terus menunggu. Kok begini sih? Katanya 12.19, kok sampe 13.00 KRL Ekonominya gak ada? Akhirnya saya menyerah dan keluar lagi, cari minum dan tempat sholat.
Saya tahu KRL Ekonomi ke THB berikutnya akan berangkat pukul 14.50 WIB dari Pasar Senen. Saya pun rela menunggu hampir 2 jam hanya demi KRL Ekonomi. Terkesan aneh dan agak pelit memang, tapi, yah, saya kan hanya anak kuliahan biasa dan sedang menabung untuk pulkam saat libur natal
jadi saya harus menekan segala pengeluaran hingga seminim mungkin. (bilang aja pelit, hahaha)Setelah perut agak terisi dan dahaga sudah terobati, saya kembali ke peron menunggu KRL Ekonomi sambil menikmati pemandangan Berangkatnya KA Gaya Baru Malam Selatan serta KA Matarmaja. Dan sekitar pukul 14.00, ada KRL Ekonomi menuju Jatinegara. Saya tahu ada KRL Ekonomi sekitar jam segitu. Lalu terbersit pikiran, daripada nganggur di stasiun, akhirnya saya pun ikut KRL itu menuju Stasiun Jatinegara.
Sampai di Stasiun Jatinegara, saya tidak turun dari KRL. Saya tetap duduk di tempat dan menunggu KRL itu berangkat kembali menuju Bogor via THB. Hahaha. Akhirnya, KRL itu pun berangkat kembali menuju Bogor. KRL itu sampai di stasiun Pasar Senen sekitar 5 menit lebih cepat, kalau gak salah. Dan perjalanan pun berlanjut. Kali ini KRL berjalan lancar sampai THB. Dan saya pun turun di sini untuk transit KRL Ekonomi tujuan Serpong.
Hmm, tapi saat itu masih sekitar pukul 15.15 atau 15.20. KRL Ekonomi ke Serpong berangkat pukul 16.10 WIB. Ya sudah, saya menunggu lagi di tengah padatnya stasiun Tanah Abang sambil cuci mata melihat KA Kesayangan saya, KA Brantas, standby di jalur 3. Tak terasa, waktu berlalu dan KRL Ekonomi dari Serpong sudah tiba. Akhirnya, saya pun naik ke KRL itu untuk kembali ke tempat saya memulai segalanya, Stasiun Pondok Ranji.
Waktu sudah sore saat KRL itu sampai di Pondok Ranji (ya elah, dari tadi juga sudah sore kali mas
). Dan saya pun melangkah dengan gontai, pulang ke tempat persinggahan sementara saya di ibukota ini, sebuah kosan di Pondok Aren (mungkin lebih beken Bintaro kali ya daripada Pondok Aren-nya?)Saat saya sudah menginjakkan kaki di kosan, hal pertama yang saya lakukan adalah browsing, iseng-iseng melihat update terbaru. Dan, hal yang paling membuat saya terpana adalah saat saya melihat jadwal KRL Jatinegara - Bogor. Ternyata KRL Ekonomi dari Pasar Senen yang sedianya saya naiki, berangkat pukul 12.15, bukan 12.19. Pukul 12.19 itu adalah jadwal di stasiun berikutnya (Rajawali). Krik. Saya terdiam. Hanya karena menit-menit berharga itu, saya harus menunggu sampai dua jam untuk mendapatkan KRL Ekonomi lagi. Hahaha. Ironis. Tampaknya saya memasuki peron tidak lama setelah KRL itu berangkat. Ckckckck. Tambah Ironis. Benar-benar ironis. Hahaha.

Oh ya, Dari seluruh perjalanan ini, saya menghabiskan hanya Rp 7.000,00 dari berangkat sampai menginjakkan kaki lagi di Pondok Ranji (termasuk tiket transjakarta). Hanya dengan segitu saya sudah berhasil menembus rimba ibukota tercinta ini. Seneng dah pokoknya, walau capek juga sih. ^_^
Hmm, Kesimpulan saya dari "test run" hari ini ini sih:
1. Sistem Loopline itu, seperti yang sudah saya bilang, bagus dan simpel. Tapi kita harus benar-benar mempelajari jadwal KRL, terutama jika anda termasuk golongan "orang pelit" seperti saya, hahaha.
2. Masih nyambung dengan yang di atas, jangan sampe salah baca jadwal di tiap stasiun, hahaha.
3. Ada banyak drama kehidupan terjadi di atas KRL Ekonomi ataupun di sepanjang jalurnya. Drama perjuangan manusia untuk bertahan hidup dari kejamnya Jakarta. Somehow, saya malah "menikmati" sajian drama kehidupan tersebut. Terkadang, di tengah perjalanan, saya merenung melihat kenyataan yang terhampar di depan saya. Ternyata saya termasuk golongan manusia yang masih beruntung
[/SPOILER]
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
