29-11-2011, 12:41 PM
(29-11-2011, 12:30 PM)kabei Wrote:(29-11-2011, 11:35 AM)ady_mcady Wrote:(29-11-2011, 07:45 AM)kabei Wrote: *sampai saat ini para pengusung paham "keadilan" disini belum bisa memberikan perbandingan yang komprehensif antara bus/truk VS kereta api. yang ada masih terbatas hanya membandingkan komponen BBM saja. padahal dalam kondisi riil, pungli di jalanan itu luar biasa gedenya. andai di operasional kereta api ada komponenn pungli macam di angkutan darat, gw ga bisa membayangkan berapa harga tiket kereta api setelah memasukkan komponen "pungli" dalam pembentuk harga tiket.....
jika argumennya demikian, berarti sebenarnya selama ini subsidi bbm untuk truk/bus adalah lebih digunakan untuk mensubsidi para oknum2 tukang pungli resmi/liar, yang membuat ongkos produksi kita sangat tinggi. mengapa sangat tinggi mengingat 90% barang diangkut pakai truk.lantas kenapa pungli tidak dibabat habis saja? sehingga dengan demikian ongkos bisa turun tanpa minta subsidi bbm untuk jalan raya?
kenyataannya memang memberantas pungli ibarat menghadapi hantu. sulit diatasi karena banyak tangan yang bermain. lalu apakah keadaanya akan begini terus kah? dimana ongkos produsi barang2 kita akan terus lebih tinggi 3 kali lipat dibanding negara tetangga kita. bagaimana mau bersaing di tingkat global kalau begitu.
untuk mengurangi biaya akibat pungli, para pengusaha truk akhirnya "kreatif" mengakali truknya agar bisa mengangkut lebih banyak lagi/ overloaded, seperti yang telah diceritakan rf azu. tapi hal ini berakibat fatal: jalan raya hancur. akhirnya keluar duit lagi lah pemerintah untuk mensubsidi jalan raya. dan angka perawatan jalan tidak main2, pertahun pantura menghabiskan 1 T hanya untuk memperbaiki jalan.
lantas ada solusi cerdas: kenapa tidak dialihkan lewat rel saja? bukankah moda rel lebih "kebal" pungli? untuk memuluskan langkah ini, perlu diberikan kemudahan2 di moda rel. salah satunya adalah subsidi bbm.
o, ya pakdhe kabei. ilustrasi njenengan tentang david vs goliath hampir betul. tapi yang lebih tepat adalah david vs goliath, dengan david nya ada 10 sementara goliath nya cuma 1. jadi si goliath meskipun badannya besar tapi dia "dikeroyok" sama david2 kecil yang akhirnya menang.
kalo mo dialihkan via rel ya tanya dunks ke operator, mau ga mereka mengubah mental??
mo disubsidi berapapun kalo tetep mengharapkan pelanggan datang tanpa mau jemput bola ya pengusaha tetep aja pake truk....
maksudnya divisi kereta barang wajib bin kudu punya truk trailer atau truk barang buat jemput barang ?
bisa jadi solusi murah dan cepat, tapi kalo di Pasoso, Tanjung Priok itu gimana yah, kalau nggak salah malah jadi double handling (betul atau salah nih tulisannnya
), peti kemas dari dan ke kereta barang yg mau di naikan dan di turunkan dari dan ke truk operator lain, jadinya lebih mahal . CMIIW ajah
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar

![[Image: overstappen.png]](https://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)