23-09-2011, 05:23 PM
(22-04-2010, 04:24 PM)JaY Wrote: Ini yang ane maksud !!Justru kalau aku kerja di PT. KA tentu akan tetap mempertahankan relnya yg berkelok - kelok. Sebab pemandangan alam Bumi Parahyangan-lah yang menjadi daya tarik pengunjung dalam hal ini para turis khususnya orang - orang bule yg gemar memotret. Kalau semua dilurusin meski dibuat berton - ton jembatan KA yang baru, maka akan merusak daya tarik pr turis. Biarkan saja buat aku pribadi yg merasa betah di mobil yah di mobil... yg betah di bus yah di bus... Itu pun kalau mereka tetep mau cari kepraktisannya semata...
Kalau jalur Cikampek-Purwakarta sudah mantap cuma yang jadi
masalah adalah jalur Purwakarta - Padalarang, Mengapa jalur ini tidak dibuat
lurus saja atau berseberangan dengan jalur tol Cipularang ?
Aneh mah orang-orang jaman sekarang, kalau begini sudah jelas jalan tol
memang tiada duanya, coba kalau jalan tol dibuat lengkung-lengkung seperti jalur kereta
Purwakarta-Padalarang ! Mabok!
Kalau nggak salah jalan Padalarang-Purwakarta sekitar 40 km tapi dengan kereta ditempuh hampir
satu setengah jam sedangkan dengan mobil hanya 20 menit. Kalau sudah begini ya mau bagimana lagi,
kita nggak bisa menyalahkan siapapun. Selama ini pemerintah hanya sekadar wacana-wacana konyol yang tak pernah terealisasi sekalipun.
Terus... permasalahan sulitnya mengejar waktu tempuh antara pinggiran Jakarta dengan stasiun Gambir, nampaknya skr sudah tersolusikan semenjak Commuter Line diluncurkan. Semua KRL AC berhenti di tiap stasiun, termasuk Gambir. Jadi, tinggal sosialisasinya saja yang mana setidaknya PT. KCJ juga bekerjasama dg PT. KA utk memberitahu jam brapa aja dan dg KRL AC apa aja yg bisa dinaikin untuk menjangkau rangkaian KA Argo Parahyangan yg stand by di Gambir, Begitu pun saat di st,. Bandung dg pemberitahuan prkatisnya naik Gopar yg jam brapa aja utk bisa ngejangkau KRL AC dr Gambir.

