21-09-2011, 02:22 PM
sebenarnya masih ada satu lagi opsi untuk optimalisasi jalur jakarta-bandung, yaitu elektrifikasi. menurut saya, setidaknya ada 2 keuntungan bila jalur ini dielektrifkasi:
penghematan dari konsumsi bbm dapat menambah daya saing moda kereta dengan moda darat yang lain yang dapat menurunkan biaya perjalanan penumpang/barang.
kendala yang pasti: perlu biaya yang besar juga untuk elektrifikasi. saya tidak tahu persis berapa kira2 investasi elektrifikasi jalur krl per km nya. barangkali rekan2 ada yang tahu?
tapi meskipun sama2 perlu dana yang besar bila dibandingkan dengan kereta tilt, buat jalur baru, pelurusan trek, opsi elektrifikasi lebih mudah eksekusinya dibanding dengan yang lain. ibaratnya tinggal pasang saja.
- peghematan biaya bbm. kita gunakan saja konversi umum 0.2 liter solar dapat menghasilkan 1 kwh energi listrik (lihat di wiki). jika harga 1 liter hsd + ppn sekitar Rp. 10ribu, maka 0.2 liter hsd harganya Rp. 2000. bandingkan dengan listrik untuk krl yang 1 kwh sekitar Rp 750, maka biaya solar dibanding listrik hampir 3 kali lipatnya.
- efisiensi listrik daerah pegunungan. dengan teknologi krl yang baru, rem dinamik dapat menghasilkan listrik dan dikembalikan ke catenary untuk digunakan rangkaian yang lain. jadi kompensasi rangkaian krl yang turun menyuplai listrik tambahan untuk krl yang naik.
penghematan dari konsumsi bbm dapat menambah daya saing moda kereta dengan moda darat yang lain yang dapat menurunkan biaya perjalanan penumpang/barang.
kendala yang pasti: perlu biaya yang besar juga untuk elektrifikasi. saya tidak tahu persis berapa kira2 investasi elektrifikasi jalur krl per km nya. barangkali rekan2 ada yang tahu?
tapi meskipun sama2 perlu dana yang besar bila dibandingkan dengan kereta tilt, buat jalur baru, pelurusan trek, opsi elektrifikasi lebih mudah eksekusinya dibanding dengan yang lain. ibaratnya tinggal pasang saja.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"

