25-07-2011, 02:50 PM
(25-07-2011, 12:43 PM)TukangBengkel Wrote:Quote:kontribusi perusahaan otomotif (asing) sangat besar dalam 'meracuni' pemerintah untuk membangun jalan,,ah, masa sih om.... jangan disamain sama amrik atau negara2 barat lainnya ya om. di sana, kalau ada kebijakan tertentu, biasanya perusahaan yg bisnisnya terkait akan melobi2... kl misalnya pembatasan, mereka akan lobi2 supaya agak longgar dengan konsekuensi tertentu. misalnya pabrik mobil, biar tetap produksi banyak... mereka harus mau buat sumbang dana penghijauan. ya kira2 gitu lah.......
contoh lainnya adalah proses likuidasi PT Timor Putra Nasional karena mengancam eksistensi mobil asing
kl di Indo, sih gak perlu repot2 lobi2 kayak gitu... alasannya cukup simple, karena pejabat2 kita pada suka pake jalan raya. coba perhatiin, ada gak level kepala seksi di instansi pemerintah yg masih pake angkot atau naek kereta atau bis..... atau kl ngomongin PTKA/KCJ... coba aja lihat berapa banyak para pejabat kereta yang pake kereta ke kantornya (misalnya di jabotabek), kebanyakan pake mobil.... makanya mereka mati2an buat supaya jalan lancar, caranya memperbanyak jalan.... gitu.....
Tanah yang ada rel-nya, atau bekas jalur kereta yg sudah mati memang masih dikelola oleh PTKA, tapi bukan dimiliki.... yg memiliki semua infrastruktur termasuk lahan rel bahkan stasiun itu adalah kemenhub cq ditjenKA.... lah, kl PTKA cuek, DitjenKA cuek, ada orang yg ngajuin proposal buat jalan........ ya menhub tinggal ttd aja setuju, ditjenKA n PTKA mo ngomong apa.... kecuali, kalo UUKA dirubah... semua infrastruktur adalah milik PTKA....
Lantas mengapa banyak papan peringatan bertuliskan "Aset Milik PT. Kereta Api Indonesia (Persero)" dan bukan Aset Milik Kemenhub di atas tanah KA atau pada bangunan yang berkaitan dengan KA?
Salam Spoor,

