20-06-2011, 01:41 PM
Dari hasil uji coba jadwal single operation yang dilakukan Sabtu lalu, ternyata pada akhir masa uji coba ini dinodai oleh perusakan satu unit KRL Commuter Line di stasiun JAKK yang bernomor operasi C 528 (penyingkatan yang saya gunakan untuk KA 5528 dan KA dengan nomor 5XXX dengan menghilangkan angka 5 di paling kiri dan menggantinya dengan huruf sesuai kelas KA) yang akan berangkat menuju Bogor oleh pengguna KRL ekonomi yang tidak sabar menunggu kereta mereka tiba.
Selain itu, saya mendapati di lintas JNG-PSE-JAKK terdapat ketidakkonsistenan apa yang diumumkan PAP di beberapa stasiun, di mana PAP stasiun KMO mengumumkan KRL yang saya naiki adalah KRL ekonomi AC namun di stasiun RWI PAP setempat mengumumkan KRL Commuter Line (disingkat CL) dengan nomor C 211 (penyingkatan untuk KA 5211).
Masalah inti pengurangan jadwal sendiri sebenarnya adalah kurangnya daya untuk pasokan listrik seperti berita berikut ini:
Kesimpulan yang saya tarik dari pelaksanaan single operation ini: PT. KAI dan PT. KCJ masih perlu mengkaji ulang penerapan tarif dan jadwal karena di lapangan ditemukan banyak sekali pengurangan jadwal KRL ekonomi non AC yang lebih banyak diminati ketimbang CL karena harganya yang masih terjangkau.
Selain itu, saya mendapati di lintas JNG-PSE-JAKK terdapat ketidakkonsistenan apa yang diumumkan PAP di beberapa stasiun, di mana PAP stasiun KMO mengumumkan KRL yang saya naiki adalah KRL ekonomi AC namun di stasiun RWI PAP setempat mengumumkan KRL Commuter Line (disingkat CL) dengan nomor C 211 (penyingkatan untuk KA 5211).
Masalah inti pengurangan jadwal sendiri sebenarnya adalah kurangnya daya untuk pasokan listrik seperti berita berikut ini:
Quote:Sumber: http://metro.vivanews.com/news/read/2276...ya-listrik
VIVAnews - Masalah keterlambatan jadwal kereta sudah menjadi polemik yang hingga ini belum juga ada solusinya. Hal ini membuat penumpang belum bisa menerima kenaikan tiket kereta dengan penghapusan kereta eksptes dan pemberlakukan kereta commuter line.
Menurut Corporate Secretary PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Commuter Jabodetabek, Makmur Syaheran, masalah ketepatan waktu kedatangan kereta, erat kaitannya dengan ketersediaan sarana dan pra sarana. Pembatalan atau keterlambatan jumlahnya mencapai 50 persen, karena sarana kurang.
"Sedangkan untuk pra sarana domainnya pemerintah. Kita sudah usul untuk membenahi karena ini saling terkait," ujar Makmur dalam jumpa pers di kantor PT KCJ di stasiun Djuanda, Jakarta, Sabtu, 18 Juni 2011.
Dalam hal pra sarana, KRL mengalami kendala dalam ketersediaan daya listrik. Seringkali KRL mati listrik di tengah lintasan dan mengakibatkan keterlambatan yang dapat merugikan pengguna jasa kereta. Setidaknya dibutuhakan 120 megawatt, mengingat adanya penambahan kereta.
"Menunggu penambahan daya listrik bagian atas. Baru ada 86 megawatt, sedangkan kami butuh 120 megawatt untuk 500 unit kereta. Kami khawatir kereta kami tidak bisa jalan karena pemerintah tidak sediakan pra sarana, karena kami sebagai operator sudah sediakan sarana," katanya.
Sementara itu, kepada VIVAnews.com, Kepala Daerah Operasi I (Jabodetabek) PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Purnomo Radiq mengatakan, pihaknya sedang mengupayakan keluhan penumpang terkait kendala keterlambatan kereta. Peningkatan pelayanan ini menurut dia dilakukan dengan membangun tiga gardu listrik baru dan mengganti gardu lama dengan yang baru.
"Mengenai kendala listrik memang sekarang sedang dibangun beberapa gardu, diantaranya untuk stasiun Duren Kalibata, Pasar Minggu Baru, dan Bojong itu diganti baru," jelasnya.
Sedangkan, lanjut dia, setiap tahunnya upaya penambahan daya listrik terus dilakukan, mengingat ada tiga sampai empat gardu yang mengalami kerusakan setiap tahun.
"Setiap ada gardu yang rusak, kita upayakan untuk menggantinya dengan yang baru," tuturnya.
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Commuter Jabodetabek hari ini melakukan uji coba kereta dengan pola 'single line.' Sistem ini mengharuskan seluruh kereta berhenti di setiap stasiun dan meniadakan layanan kereta ekspres.
Secara keseluruhan uji coba berjalan lancar dan jadwal tepat waktu. Namun. tidak dapat dipungkiri masih banyak penumpang yang bingung, baik mengenai harga tiket yang sudah naik dan adanya keterlambatkan beberapa jadwal kereta.
Kesimpulan yang saya tarik dari pelaksanaan single operation ini: PT. KAI dan PT. KCJ masih perlu mengkaji ulang penerapan tarif dan jadwal karena di lapangan ditemukan banyak sekali pengurangan jadwal KRL ekonomi non AC yang lebih banyak diminati ketimbang CL karena harganya yang masih terjangkau.


![[Image: 2r56iya.jpg]](http://i56.tinypic.com/2r56iya.jpg)