13-06-2011, 09:25 AM
@ mas bonbon,
Boleh banget mas, ndak ada yang melarang untuk beda pendapat kok, hak setiap orang mas ... hehe ...
@All,
Coba deh kita simak pernyataan surat pembaca yang dipost mas bangunkarta ...
Ada poin yang sebenernya menjadi 'inti' keberhasilan dari layanan komuter di Jabodetabek. Yaitu ... 'WAKTU'
Coba kita flashback ke sebelum 1 April, saat wacana single operation plus re-route KRL ini mengemuka. Terjadi sedikit 'perang' antara pengguna Express vs Eko AC n Eko panas. Yang dibahas kan cuma satu, yaitu perihal 'Susul-Menyusul'. Ini artinya apa ... WAKTU juga kan.
Ya memang itulah yang dicari.
Saya sebagai pengguna KRL Express SANGAT TIDAK ANTI kalau tidak ada express lagi. No problem kalau tidak ada susul2an. Tapi balik lagi, kalau kita mencari 'Waktu' artinya ada yang harus dapat disediakan oleh operator terkait 'Waktu' ini, yaitu Ketersediaan kereta (dalam sekian menit harus ada kereta) dan Ketepatan jadwal.
Nah hal ini yang saya lihat belum dapat dipenuhi. Kapan terakhir kereta tepat waktu dalam periode 1 minggu, Kapan terakhir kereta ndak ada gangguan dalam 1 minggu ... belum pernah kan. Ndak usah bicara lebih jauh, 1 minggu saja. Itu hal2 yang tidak bisa dipenuhi. Apa iya KAI/KCJ menjamin setelah pemberlakuan Single Ops ini masalah2 tersebut hilang ... ndak ada yang berani jawab kan, di wawancara dengan pak Makmur yang dipost diatas juga sudah terbaca kan ...
Dan yang lebih parahnya ... Ndak ada usaha KAI/KCJ terhadap pemenuhan aspek ini. Lihat saja dasar penentuan Single Ops ini. Target 1,2 juta penumpang kan. Coba saya tanya ke mas2 semua. Kalau kita bergerak dibidang jasa pengangkutan lalu ditantang untuk dapat menaikkan pengguna. Apa yang pertama ada di fikiran kita ... JUMLAH PENGGUNA vs JUMLAH ARMADA kan ... Kalau kita punya armada yang cukup, baru kita 'otak-atik' perihal pengguna, iya kan.
Nah ini, apa iya sudah dilihat, berapa armada KRL yang tersedia, kok selalu terlihat pengguna sampai kondisinya jauh dari kata layak, yang gelantungan lah, naik diatas lah ...
Dengan kebijakan2 aneh, konyol dan bodoh yang dikeluarkan, pastinya kebijakan Single Ops ini adalah kebijakan yang sangat tidak pro kepada pengguna. Lihat saja dari zaman aling2. Rangkaian dengan 6 gerbong, tetap saja jumlahnya setelah ada kebijakan aling2. Bukannya ditambah aling2nya, tetapi jumlah 6 kereta itu yang di'korting' 2 kereta aling2. Akibatnya pengguna harus masuk ke 4 gerbong saja. Desak2an lah pastinya.
Sekarang target 1,2 juta penumpang diterjemahkan begini, ya sudah berantakan.
Yang pasti dengan kebijakan ini, KA Eko AC dengan tarif 9000/8000 sekali jalan ini ndak akan diminati. Orang ekspress pasti banyak yang lari, karena waktu tempuh bertambah. Orang Eko AC, pasti banyak yang lari juga ke Eko Panas. Wong 2 kali lipatnya kok. Mahasiswa/i sudah pasti lari juga, pengguna jarak dekat sudah pasti juga. Efeknya ya bener kata mas tomrys, Eko panas akan semakin miring karena padatnya sudah ndak karu2an.
Seperti yang sudah saya duga, pasti ini urusannya dengan duit terutama PSO. Karena PSO itu sudah jadi duri dalam daging KAI/KCJ, ya sudah, bagaimana caranya menghilangkan PSO, ya hilangkan si 'pemakan' PSO ini. Karena Eko PAnas ndak mungkin dihilangkan, ya Eko AC lah yang dihilangkan. Terbukti kan dari wawancara tersebut.
Hahaaa ... sepertinya saya juga menghitung hari nih menggunakan KRL ... Apa perlu joyride/sadride ya seperti pas parahyangan dahulu ... hehee ...
Btw, untuk soal parahyangan, ada yang nyadar ndak kalau kasusnya juga seperti ini. Semua orang sedih karena katanya Parahyangan dilikuidasi, sampai ada joyride/sadride, wawancara di stasiun TV. Tapiiiiii sebenernya, yang dilikuidasi kan bukan parahyangan, tapi argo gede. Yang berefek saat ini ... Parahyangan tetap ada, tapi tarifnya setara Argo Gede ... iya kaaaannn ... heheee ...
Salut ane sama KAI/KCJ, permainan kata2nya tingkat tinggi, pengguna banyak yang terkecoh ... hahaaa ...
Boleh banget mas, ndak ada yang melarang untuk beda pendapat kok, hak setiap orang mas ... hehe ...
@All,
Coba deh kita simak pernyataan surat pembaca yang dipost mas bangunkarta ...
Ada poin yang sebenernya menjadi 'inti' keberhasilan dari layanan komuter di Jabodetabek. Yaitu ... 'WAKTU'
Coba kita flashback ke sebelum 1 April, saat wacana single operation plus re-route KRL ini mengemuka. Terjadi sedikit 'perang' antara pengguna Express vs Eko AC n Eko panas. Yang dibahas kan cuma satu, yaitu perihal 'Susul-Menyusul'. Ini artinya apa ... WAKTU juga kan.
Ya memang itulah yang dicari.
Saya sebagai pengguna KRL Express SANGAT TIDAK ANTI kalau tidak ada express lagi. No problem kalau tidak ada susul2an. Tapi balik lagi, kalau kita mencari 'Waktu' artinya ada yang harus dapat disediakan oleh operator terkait 'Waktu' ini, yaitu Ketersediaan kereta (dalam sekian menit harus ada kereta) dan Ketepatan jadwal.
Nah hal ini yang saya lihat belum dapat dipenuhi. Kapan terakhir kereta tepat waktu dalam periode 1 minggu, Kapan terakhir kereta ndak ada gangguan dalam 1 minggu ... belum pernah kan. Ndak usah bicara lebih jauh, 1 minggu saja. Itu hal2 yang tidak bisa dipenuhi. Apa iya KAI/KCJ menjamin setelah pemberlakuan Single Ops ini masalah2 tersebut hilang ... ndak ada yang berani jawab kan, di wawancara dengan pak Makmur yang dipost diatas juga sudah terbaca kan ...
Dan yang lebih parahnya ... Ndak ada usaha KAI/KCJ terhadap pemenuhan aspek ini. Lihat saja dasar penentuan Single Ops ini. Target 1,2 juta penumpang kan. Coba saya tanya ke mas2 semua. Kalau kita bergerak dibidang jasa pengangkutan lalu ditantang untuk dapat menaikkan pengguna. Apa yang pertama ada di fikiran kita ... JUMLAH PENGGUNA vs JUMLAH ARMADA kan ... Kalau kita punya armada yang cukup, baru kita 'otak-atik' perihal pengguna, iya kan.
Nah ini, apa iya sudah dilihat, berapa armada KRL yang tersedia, kok selalu terlihat pengguna sampai kondisinya jauh dari kata layak, yang gelantungan lah, naik diatas lah ...
Dengan kebijakan2 aneh, konyol dan bodoh yang dikeluarkan, pastinya kebijakan Single Ops ini adalah kebijakan yang sangat tidak pro kepada pengguna. Lihat saja dari zaman aling2. Rangkaian dengan 6 gerbong, tetap saja jumlahnya setelah ada kebijakan aling2. Bukannya ditambah aling2nya, tetapi jumlah 6 kereta itu yang di'korting' 2 kereta aling2. Akibatnya pengguna harus masuk ke 4 gerbong saja. Desak2an lah pastinya.
Sekarang target 1,2 juta penumpang diterjemahkan begini, ya sudah berantakan.
Yang pasti dengan kebijakan ini, KA Eko AC dengan tarif 9000/8000 sekali jalan ini ndak akan diminati. Orang ekspress pasti banyak yang lari, karena waktu tempuh bertambah. Orang Eko AC, pasti banyak yang lari juga ke Eko Panas. Wong 2 kali lipatnya kok. Mahasiswa/i sudah pasti lari juga, pengguna jarak dekat sudah pasti juga. Efeknya ya bener kata mas tomrys, Eko panas akan semakin miring karena padatnya sudah ndak karu2an.
Seperti yang sudah saya duga, pasti ini urusannya dengan duit terutama PSO. Karena PSO itu sudah jadi duri dalam daging KAI/KCJ, ya sudah, bagaimana caranya menghilangkan PSO, ya hilangkan si 'pemakan' PSO ini. Karena Eko PAnas ndak mungkin dihilangkan, ya Eko AC lah yang dihilangkan. Terbukti kan dari wawancara tersebut.
Hahaaa ... sepertinya saya juga menghitung hari nih menggunakan KRL ... Apa perlu joyride/sadride ya seperti pas parahyangan dahulu ... hehee ...
Btw, untuk soal parahyangan, ada yang nyadar ndak kalau kasusnya juga seperti ini. Semua orang sedih karena katanya Parahyangan dilikuidasi, sampai ada joyride/sadride, wawancara di stasiun TV. Tapiiiiii sebenernya, yang dilikuidasi kan bukan parahyangan, tapi argo gede. Yang berefek saat ini ... Parahyangan tetap ada, tapi tarifnya setara Argo Gede ... iya kaaaannn ... heheee ...
Salut ane sama KAI/KCJ, permainan kata2nya tingkat tinggi, pengguna banyak yang terkecoh ... hahaaa ...
