09-06-2011, 09:28 PM
Chapter 7
"Waduh, gue ditemplokin lagi!" pikirku.
Langsung saja gue cari posisi, membuka lebar mulut, lalu menangkap kue tadi dengan mulut, tanpa ada sedikitpun yang jatuh di bagian badan gue yang lain. Hap, langsung dimakan!
"Hmm, enak!" seru gue setelah menelan habis potongan kue tadi.
"Wow, tangkapan yang mantap!" seru Dodi memuji.
"Siapa dulu donk? Bobby gitu lho!" jawab gue dengan sombong.
Tahu-tahu, teman-teman gue yang lain mengambil ancang-ancang untuk melempar potongan kue masing-masing ke arah gue...
"Eh, cukup! Tidak ada kesempatan kedua melempar kue!" seru gue menghentikan aksi mereka. "Nikmati saja kue masing-masing."
Maka mereka pun kembali menikmati kue masing-masing. Tak lama kemudian, seseorang kembali menyirami gue dengan kocokan telur busuk, sama seperti pada awal "super trap" tadi. Gue pun bertanya-tanya, dari mana mereka bisa mendapatkan telur busuk sebanyak ini?
"Tetangga gue, ada yang jualan telor," aku Dodi. "Cuma banyak yang ga laku, jadi pada busuk duluan. Eh, pas si Ben ama Adit kepikiran..."
"Oh, jadi ini semua ulah lu berdua ya?" tanya gue dengan nada sedikit marah.
"Bertiga, si Dodi juga ikutan!" seru Ben.
"OK, bertiga?" tanya gue.
"Enggak juga sih, idenya punya si Ben," jawab Adit. "Iya kan, Di?"
"Iya. Betul, betul, betul!" jawab Dodi meniru tokoh kartun Ipin.
"Enggak, ini ide bersama!" elak Ben.
Tahu-tahu, seseorang akhirnya membuka kunci borgol. Gue pun terpikir untuk menangkap Ben dan menempatkannya sebagai korban "more super trap" dari gue. Ketika gue akan berjalan menuju Ben, Dodi menghalangi jalan gue.
"Apa, lu mau dipeluk gue, biar belepotan telor busuk tetangga lu?" tanya gue.
"Enggak lah," jawab Dodi. "Bagaimana kalo kita foto-foto dulu?"
"Ide bagus," jawab gue.
Akhirnya, kami mengatur formasi. Laki-laki berjejer di sebelah kiri gue, dan perempuan di kanan gue. Gue bergaya bebas di tengah, sedang yang lainnya menunjukkan ekspresi kebauan. Emang sih, badan gue bau banget gara-gara belepotan telur busuk, hehehe...
Setelah foto bareng, giliran gue berpose sesuka gue. Ada pose marah, biasa, dan seneng. Bahkan ada satu foto dimana gue menyirami diri gue sendiri dengan kocokan telur busuk tadi - yang belum habis juga - dan ada foto lainnya dimana Adit, Ben, dan Dodi bergiliran menyirami gue dengan kocokan tadi dan gue memasang wajah yang seneng banget. Udah lah, toh udah terlanjur kacau begini...
"By the way, apa sih request lu tadi, Bob?" tanya Dodi setelah selesai menyirami gue dengan telur busuk.
Belum sempat gue jawab, terdengar seruan dari arah pintu masuk sekolah.
"Bobby! Adit! Ben! Dodi!" teriak Pak Kepsek.
"Bukan dimarahin Kepsek kan?" tanya Dodi lagi.
"Bro, kapan lagi kita dihukum coba?" tanya gue sambil tersenyum nakal.
"Waduh, gue ditemplokin lagi!" pikirku.
Langsung saja gue cari posisi, membuka lebar mulut, lalu menangkap kue tadi dengan mulut, tanpa ada sedikitpun yang jatuh di bagian badan gue yang lain. Hap, langsung dimakan!
"Hmm, enak!" seru gue setelah menelan habis potongan kue tadi.
"Wow, tangkapan yang mantap!" seru Dodi memuji.
"Siapa dulu donk? Bobby gitu lho!" jawab gue dengan sombong.
Tahu-tahu, teman-teman gue yang lain mengambil ancang-ancang untuk melempar potongan kue masing-masing ke arah gue...
"Eh, cukup! Tidak ada kesempatan kedua melempar kue!" seru gue menghentikan aksi mereka. "Nikmati saja kue masing-masing."
Maka mereka pun kembali menikmati kue masing-masing. Tak lama kemudian, seseorang kembali menyirami gue dengan kocokan telur busuk, sama seperti pada awal "super trap" tadi. Gue pun bertanya-tanya, dari mana mereka bisa mendapatkan telur busuk sebanyak ini?
"Tetangga gue, ada yang jualan telor," aku Dodi. "Cuma banyak yang ga laku, jadi pada busuk duluan. Eh, pas si Ben ama Adit kepikiran..."
"Oh, jadi ini semua ulah lu berdua ya?" tanya gue dengan nada sedikit marah.
"Bertiga, si Dodi juga ikutan!" seru Ben.
"OK, bertiga?" tanya gue.
"Enggak juga sih, idenya punya si Ben," jawab Adit. "Iya kan, Di?"
"Iya. Betul, betul, betul!" jawab Dodi meniru tokoh kartun Ipin.
"Enggak, ini ide bersama!" elak Ben.
Tahu-tahu, seseorang akhirnya membuka kunci borgol. Gue pun terpikir untuk menangkap Ben dan menempatkannya sebagai korban "more super trap" dari gue. Ketika gue akan berjalan menuju Ben, Dodi menghalangi jalan gue.
"Apa, lu mau dipeluk gue, biar belepotan telor busuk tetangga lu?" tanya gue.
"Enggak lah," jawab Dodi. "Bagaimana kalo kita foto-foto dulu?"
"Ide bagus," jawab gue.
Akhirnya, kami mengatur formasi. Laki-laki berjejer di sebelah kiri gue, dan perempuan di kanan gue. Gue bergaya bebas di tengah, sedang yang lainnya menunjukkan ekspresi kebauan. Emang sih, badan gue bau banget gara-gara belepotan telur busuk, hehehe...
Setelah foto bareng, giliran gue berpose sesuka gue. Ada pose marah, biasa, dan seneng. Bahkan ada satu foto dimana gue menyirami diri gue sendiri dengan kocokan telur busuk tadi - yang belum habis juga - dan ada foto lainnya dimana Adit, Ben, dan Dodi bergiliran menyirami gue dengan kocokan tadi dan gue memasang wajah yang seneng banget. Udah lah, toh udah terlanjur kacau begini...
"By the way, apa sih request lu tadi, Bob?" tanya Dodi setelah selesai menyirami gue dengan telur busuk.
Belum sempat gue jawab, terdengar seruan dari arah pintu masuk sekolah.
"Bobby! Adit! Ben! Dodi!" teriak Pak Kepsek.
"Bukan dimarahin Kepsek kan?" tanya Dodi lagi.
"Bro, kapan lagi kita dihukum coba?" tanya gue sambil tersenyum nakal.
