09-06-2011, 07:33 PM
Chapter 6
Gue pun berpikir sejenak, permohonan apa yang hendak gue minta. Tiba-tiba, gue teringat dengan peristiwa kemarin sore...
Ternyata benar katamu, Bobby. Saya tidak dipecat, setidaknya untuk sementara.
Lho, kenapa sementara?
Belum ada keputusan akhir dari Pusat.
"Kasihan Pak Saleh kalo sampe dipecat," pikirku. "Padahal dia kan ga bersalah. Dia sudah menunaikan tugasnya dengan baik. Kecelakaan kemarin murni kelalaian si korban, yang nekat melintasi rel yang sudah ditutup palangnya."
Akhirnya, gue pun menyampaikan permohonan gue tersebut di dalam hati. Setelah itu, gue meniup lilin di atas kue ulang tahun di hadapan wajah gue, dan seluruh teman gue berseru senang.
Setelah itu, waktunya potong kue. Seharusnya gue yang memotong kue, tetapi karena borgol di tangan tak kunjung dilepas, akhirnya Ben yang memotong kue itu. Potongan pertama, tentunya, menjadi milik gue. Tapi, seakan tidak puas dengan muka gue yang belepotan telur busuk dan tepung, dia menemplokkan potongan kue tadi ke muka gue.
"Eh, keterlaluan banget sih!" seru gue setelah diceplokin kue coklat. "Seneng banget nyiksa gue! Apa ga cukup tadi?"
"Enggak, kalo perlu gue templokin semua kue ini," jawab Ben datar. "Cuma, kita-kita entar rugi, terus sayang kuenya terlalu enak buat ditemplokin ke muka lu!"
Beruntung sahabat gue ini masih punya akal sehat. Coba kalo enggak, gue dah pasti ditemplokin kue...
"Ya udah, sono makan tuh kue!" jawab gue. "Gimana sih, yang ulang tahun ga dapet kue, coklat pula! Yang ada, malah ditemplokin!"
Gue pun hanya bisa melihat betapa teman-teman gue menikmati kue coklat itu. Beruntung Adit mau berbagi dengan gue, walau hanya satu gigit, dan itupun sangat kecil, cuma gue udah cukup senang bisa menikmati kue ulang tahun gue.
"Makasih ya, Dit, lu udah mo bagiin kue lu," kata gue.
"Ga apa koq, lagipula gue nggak terlalu suka kue coklat," jawab Adit.
"Lha, terus, kenapa ga dikasih ke gue semua?" tanya gue.
"Mau?" tanya Adit balik. "Nih, gue kasih semuanya!" serunya sambil menemplokkan potongan kue miliknya.
Beruntung gue tahu duluan apa niat buruk Adit, gue pun langsung menyambar potongan kue itu dengan mulut gue. Tapi, Adit juga cukup cekatan untuk menghindari sambaran mulut gue. Akhirnya, setengah dari kue masuk ke dalam mulut, dan setengahnya lagi menempel di hidung gue.
"Lha, koq ditemplokin?" tanya gue. "Padahal enak kuenya."
"Iya, kan lu minta semuanya!" jelas Adit.
"Lha, iya semuanya," jawab gue. "Tapi buat dimakan, bukan buat ditemplokin ke muka."
"Ya udah, nih gue kasih kuenya gue," potong Dodi.
Dodi pun berjalan menuju tempat gue berdiri. Tapi, di tengah jalan, Adit mendorong Dodi hingga hampir terjatuh. Kue ditangannya pun terlempar bebas...
Gue pun berpikir sejenak, permohonan apa yang hendak gue minta. Tiba-tiba, gue teringat dengan peristiwa kemarin sore...
Ternyata benar katamu, Bobby. Saya tidak dipecat, setidaknya untuk sementara.
Lho, kenapa sementara?
Belum ada keputusan akhir dari Pusat.
"Kasihan Pak Saleh kalo sampe dipecat," pikirku. "Padahal dia kan ga bersalah. Dia sudah menunaikan tugasnya dengan baik. Kecelakaan kemarin murni kelalaian si korban, yang nekat melintasi rel yang sudah ditutup palangnya."
Akhirnya, gue pun menyampaikan permohonan gue tersebut di dalam hati. Setelah itu, gue meniup lilin di atas kue ulang tahun di hadapan wajah gue, dan seluruh teman gue berseru senang.
Setelah itu, waktunya potong kue. Seharusnya gue yang memotong kue, tetapi karena borgol di tangan tak kunjung dilepas, akhirnya Ben yang memotong kue itu. Potongan pertama, tentunya, menjadi milik gue. Tapi, seakan tidak puas dengan muka gue yang belepotan telur busuk dan tepung, dia menemplokkan potongan kue tadi ke muka gue.
"Eh, keterlaluan banget sih!" seru gue setelah diceplokin kue coklat. "Seneng banget nyiksa gue! Apa ga cukup tadi?"
"Enggak, kalo perlu gue templokin semua kue ini," jawab Ben datar. "Cuma, kita-kita entar rugi, terus sayang kuenya terlalu enak buat ditemplokin ke muka lu!"
Beruntung sahabat gue ini masih punya akal sehat. Coba kalo enggak, gue dah pasti ditemplokin kue...
"Ya udah, sono makan tuh kue!" jawab gue. "Gimana sih, yang ulang tahun ga dapet kue, coklat pula! Yang ada, malah ditemplokin!"
Gue pun hanya bisa melihat betapa teman-teman gue menikmati kue coklat itu. Beruntung Adit mau berbagi dengan gue, walau hanya satu gigit, dan itupun sangat kecil, cuma gue udah cukup senang bisa menikmati kue ulang tahun gue.
"Makasih ya, Dit, lu udah mo bagiin kue lu," kata gue.
"Ga apa koq, lagipula gue nggak terlalu suka kue coklat," jawab Adit.
"Lha, terus, kenapa ga dikasih ke gue semua?" tanya gue.
"Mau?" tanya Adit balik. "Nih, gue kasih semuanya!" serunya sambil menemplokkan potongan kue miliknya.
Beruntung gue tahu duluan apa niat buruk Adit, gue pun langsung menyambar potongan kue itu dengan mulut gue. Tapi, Adit juga cukup cekatan untuk menghindari sambaran mulut gue. Akhirnya, setengah dari kue masuk ke dalam mulut, dan setengahnya lagi menempel di hidung gue.
"Lha, koq ditemplokin?" tanya gue. "Padahal enak kuenya."
"Iya, kan lu minta semuanya!" jelas Adit.
"Lha, iya semuanya," jawab gue. "Tapi buat dimakan, bukan buat ditemplokin ke muka."
"Ya udah, nih gue kasih kuenya gue," potong Dodi.
Dodi pun berjalan menuju tempat gue berdiri. Tapi, di tengah jalan, Adit mendorong Dodi hingga hampir terjatuh. Kue ditangannya pun terlempar bebas...
