20-05-2011, 07:19 AM
Pendapat saya soal penomoran baru pada gerbong kereta (karena penomoran ini juga berlaku pada gerbong non-penumpang, seperti gerbong datar, menggunakan istilah "GD"):
Mungkin ditujukan untuk mempermudah penomoran...
OK lah, karena memang sekarang, tidak ada lagi nomor ganda dalam satu "angkatan" gerbong tapi berbeda boogie. Contoh saya ambil dari 2 gerbong KA Argo Wilis:
Penomoran lama:
K1-98505 BD dengan K1-98805 BD (keduanya bernomor seri "5", dibedakan dari seri boogie)
Penomoran baru:
K1 0 98 05 BD dengan K1 0 98 12 BD
Setelah perubahan nomor, buat saya yg kali ini justru cukup memudahkan pengidentifikasian gerbong karena, dengan demikian, suatu gerbong dapat diidentifikasi lebih mudah, cukup dengan mengingat tahun MD dan nomor urut.
Tapi, di samping itu, ada juga kekurangannya: tidak tercantum jenis boogie. Jika sewaktu-waktu terjadi PLH, dan butuh penggantian boogie segera, padahal kejadian di lapangan, jauh dari dipo manapun, untuk mengetahui jenis boogie yg harus diganti, tidak cukup dengan melihat nomor seri.
Misal, kalo gerbong yg terkena musibah BP-09501 (ini kalo ga salah BP yg terlibat dalam PLH rangkaian Gajayana meluncur dari Stasiun Malang Kotabaru), kan gampang diidentifikasi, oh boogie K5 yg harus didatangkan. Nah sekarang, kalo nomornya K1 0 98 12, harus dicek dulu di database, boogie jenis apa yg harus dipakai. Barulah dari database itu diperoleh, boogie yang dibutuhkan adalah jenis K8.
Makanya, saya masih bisa bilang (menurut saya), penomoran yang baru ini ada baiknya. Berbeda dengan penomoran lokomotif baru, terutama yg baru-baru ini, sudah makin panjang, berubah total pula (dari CC 201 62 jadi CC 201 83 24, lha entar CC 201 24 yang asli juga jadi CC 201 77 24, kalo disingkat ala penomoran lama, sama-sama jadi C1 24)...
Mungkin ditujukan untuk mempermudah penomoran...
OK lah, karena memang sekarang, tidak ada lagi nomor ganda dalam satu "angkatan" gerbong tapi berbeda boogie. Contoh saya ambil dari 2 gerbong KA Argo Wilis:
Penomoran lama:
K1-98505 BD dengan K1-98805 BD (keduanya bernomor seri "5", dibedakan dari seri boogie)
Penomoran baru:
K1 0 98 05 BD dengan K1 0 98 12 BD
Setelah perubahan nomor, buat saya yg kali ini justru cukup memudahkan pengidentifikasian gerbong karena, dengan demikian, suatu gerbong dapat diidentifikasi lebih mudah, cukup dengan mengingat tahun MD dan nomor urut.
Tapi, di samping itu, ada juga kekurangannya: tidak tercantum jenis boogie. Jika sewaktu-waktu terjadi PLH, dan butuh penggantian boogie segera, padahal kejadian di lapangan, jauh dari dipo manapun, untuk mengetahui jenis boogie yg harus diganti, tidak cukup dengan melihat nomor seri.
Misal, kalo gerbong yg terkena musibah BP-09501 (ini kalo ga salah BP yg terlibat dalam PLH rangkaian Gajayana meluncur dari Stasiun Malang Kotabaru), kan gampang diidentifikasi, oh boogie K5 yg harus didatangkan. Nah sekarang, kalo nomornya K1 0 98 12, harus dicek dulu di database, boogie jenis apa yg harus dipakai. Barulah dari database itu diperoleh, boogie yang dibutuhkan adalah jenis K8.
Makanya, saya masih bisa bilang (menurut saya), penomoran yang baru ini ada baiknya. Berbeda dengan penomoran lokomotif baru, terutama yg baru-baru ini, sudah makin panjang, berubah total pula (dari CC 201 62 jadi CC 201 83 24, lha entar CC 201 24 yang asli juga jadi CC 201 77 24, kalo disingkat ala penomoran lama, sama-sama jadi C1 24)...

