05-05-2011, 10:12 AM
(19-03-2011, 11:33 AM)ghazbhuld Wrote: Lagi iseng googling, nemu yang ginian:
STUDI KELAYAKAN MENGHIDUPKAN KEMBALI JALAN KERETA API
LINTAS RANGKASBITUNG – LABUAN
Berdasarkan hasil studi Departemen Perhubungan melalui Studi Lintas Cabang Jalan Kereta Api di
Wilayah Banten diperoleh bawah jalan kereta api lintas Rangkabitung – Labuan menjadi urutan ke-2
diprioritaskan untuk ditangani setelah lintas Cilegon – Anyer. Untuk itu maka dilakukan studi kelayakan
menghidupkan kembali jalan kereta api lintas Rangkasbitung – Labuan dengan maksud untuk
mengetahui kelayakan pengaktifan kembali jalur ini baik dari aspek teknis, keuangan, ekonomi dan
lingkungan sehingga dapat dijadikan pedoman dalam perencanaan dan pembangunan jalan kereta api
khususnya pada lintas yang menghubungkan Rangkasbitung dengan Labuan.
Jalan kereta api lintas Rangkasbitung – Labuan sudah tidak beroperasi sejak tahun 1982. Kondisi
prasarana saat ini dalam kondisi memprihatinkan dengan jalur rel, bantalan, penambat sebagian sudah
hilang dan terjadi perubahan fungsi jalan rel menjadi lahan fasilitas masyarakat.
Skenario prediksi pertumbuhan peramalan perjalanan dilakukan dalam 3 skenario yaitu skenario pesimis
3,88%/tahun, skenario normal 4.60%/tahun dan skenario optimis 5.53%/tahun. Proposi jumlah pengguna
yang beralih ke moda kereta api lintas Labuan – Rangkasbitung – Jakarta 4.170 orang/hari (ekonomi non
AC) dan 3.835 orang/hari (ekonomi AC), dan sebaliknya untuk lintas Jakarta – Rangkasbitung – Labuan
3.824 orang/hari (ekonomi non AC) dan 3.534 orang/hari (ekonomi AC). Berdasarkan loading profile
perjalanan diperoleh untuk moda KA kelas ekonomi non AC, puncak jumlah penumpang per hari terjadi
pada segmen Pandeglang – Warunggunung 1.396 pnp/hari dan segmen Jakarta – Rangkasbitung 2.555
pnp/hari. Sedangkan untuk moda KA kelas ekonomi AC, terjadi pada segmen Rangkasbitung – Jakarta
1.310 pnp/hari dan segmen Jakarta – Rangkasbitung 2.432 pnp/hari.
Rencana operasi kereta api meliputi: jenis pelayanan kelas ekonomi non AC, lintas pelayanan Labuan –
Rangkasbitung – Jakarta, jenis sarana lokomotif CC 201 dan kereta K3, Panjang lintasan 136,09 km,
kecepatan operasi 60 km/jam, waktu tempuh 272 menit, waktu berhenti di stasiun 64 menit, total waktu
perjalanan (2 arah) 400 menit, waktu operasi kereta api 17 jam dan biaya penumpang per km Rp.
135,19. Dengan asumsi jumlah penumpang kereta api 90% dari potensi jumlah penumpang maksimal
(pnp/hari) dan 1 rangkaian kereta api terdiri dari lokomotif dan 12 kereta K3 diperoleh jumlah trip kereta
api untuk skenario pesimis 6 trip/hari, skenario normal 7 trip/hari dan skenario optimis 9 trip/hari.
Dikarenakan rute pelayanan terintegrasi dengan rute pelayanan Rangkasbitung – Jakarta, maka tidak
dibutuhkan pengadaan sarana kereta api.
Kebutuhan pengembangan jalan kereta api direncanakan kelas jalan rel adalah kelas IV dengan tipe rel
R-54, jenis bantalan baja, jenis penambat tipe pandrol e-clip. Pengembangan prasarana lainnya meliputi:
pengembangan 8 stasiun. pengembangan seluruh jembatan/bangunan hikmat, pengembangan 8
perlintasan sebidang jalan, pengembangan sinyal dan telekominkasi sistem mekanik.
Masa operasi kereta api selama 20 tahun (2013 – 2032) dengan 3 tahun awal (2010 – 2012) digunakan
untuk persiapan, kontruksi dan pengadaan sarana. Estimasi biaya meliputi: biaya detail teknis sebesar
1,5% dari biaya konstruksi, estimasi biaya kebutuhan pengembangan jalan kereta api Rp.
284.988.290.416 (dengan PPN 10%), biaya pemeliharaan prasarana 3% dari biaya konstruksi, tidak ada
biaya pengadaan sarana kereta api dan biaya operasi dan pemeliharaan sarana Rp. 15.797.480/lintas.
Total estimasi manfaat ekonomi (penghematan BOK, nilai waktu dan polusi udara) untuk skenario
pesimis selama 20 tahun Rp. 5.290.112.376.513, skenario normal Rp. 5.956.178.972.143, skenario
optimis Rp. 6.970.895.993.040. Estimasi pendapatan kereta api dari tahun 2013 – 2032 untuk skenario
pesimis Rp. 908.243 juta, skenario normal Rp. 1.004.277 juta dan skenario optimis Rp. 1.151.011 juta.
Hasil analisis kelayakan ekonomi, EIRR untuk skenario pesimis 52,55%, EIRR skenario normal 54,66%
dan EIRR skenario optimis 57,03%. Hasil analisis finansial FIRR untuk skenario pesimis 4,35%, FIRR
skenario normal 5,66% dan FIRR skenario optimis 5,96%. Rencana menghidupkan kembali jalan kereta
api lintas Rangkasbitung – Labuan ini memberikan kontribusi yang cukup baik dan layak untuk dibangun
dilihat dari kelayakan ekonomi, namun jika dilihat dari kelayakan finansial belum dapat dikatakan layak.
Sumber: http://perkeretaapian.dephub.go.id/index...&Itemid=45
semoga saja studi ini ditindaklanjuti dengan realisasi, mengingat sejarah kelam dari pembangunan jalan ini....
selain itu juga untuk lebih memberikan alternatif transportasi bagi masyarakat Provinsi Banten selain Bus.

