08-03-2011, 12:50 PM
(This post was last modified: 08-03-2011, 12:51 PM by BAMBANG EKO.)
kabei Wrote:semarang-jokja sekarang cuma 1 trip itupun lewat brumbung-tegowanu-gubug-karangjati-sedadi-ngrombo-gambringan-gundih baru ke solo....
semarang-solo ada 2 trip lewat brumbung-kedungjati-telawa-gundih
KRD bojonegoro-solo sepertinya cukup ramai, kalo sampe jokja bakalan mengganggu prameks dkk
KRD wonogiri solo pekalongan tegal sepertinya ga prospektif
KRD kutoarjo-solo-semarang-pekalongan juga bakalan mengganggu prameks, kecuali cuma dari solo-semarang-pekalongan
yg saya bold itu adalah tantangannya,
kalau PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bisa mengalahkan tantangan ya judulnya kan biar ramai , masalah prospektif ya andaikan kereta api bisa kompetitip dalam tarip juga waktu tempuh sudah bisa dipastikan akan muncul sebagai pemenang kompetisi apa lagi kalau jadwalnya " matching " dengan moda transportasi dan aktifitas bisnis yg lain . dari th 1975 KA Pandanaran saja sudah meluncur di koridor Brumbung - Solo sebanyak 5 X PP dalam sehari . dan th 1985 pernah ada KRD Solo-Pekalongan juga KRD Smg - Yogya belum lagi KRD Cepu-Solo dan KRD Smg-Weleri. Padahal dulu di petak sini dengan penduduk yang belum banyak sudah banyak rangkaian KA yg melintas . Kenapa sekarang Tidak ?
kalau PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bisa mengalahkan tantangan ya judulnya kan biar ramai , masalah prospektif ya andaikan kereta api bisa kompetitip dalam tarip juga waktu tempuh sudah bisa dipastikan akan muncul sebagai pemenang kompetisi apa lagi kalau jadwalnya " matching " dengan moda transportasi dan aktifitas bisnis yg lain . dari th 1975 KA Pandanaran saja sudah meluncur di koridor Brumbung - Solo sebanyak 5 X PP dalam sehari . dan th 1985 pernah ada KRD Solo-Pekalongan juga KRD Smg - Yogya belum lagi KRD Cepu-Solo dan KRD Smg-Weleri. Padahal dulu di petak sini dengan penduduk yang belum banyak sudah banyak rangkaian KA yg melintas . Kenapa sekarang Tidak ?

