25-01-2011, 11:36 PM
(This post was last modified: 25-01-2011, 11:45 PM by Dana Komuter.)
Sedih juga yah baca artikel cerpen tentang si Amanda... Duhhhh.... seorang tuna netra aja masih bisa meraba uang dan karakternya jujur. Di kehidupan nyata pasti banyak sosok yang sama kayak Amanda yah...
Terus aku punya nih cerita kelanjutannya :
Bagian 3 :
Enggak cukup kalau cuma merasa keliling Jakarta naik KA. Tapi karena faktor kesehatanku yang belum pulih setelah bertahun - tahun lamanya bernafas di suramnya bui, aku pun lebih ingin keliling komplek rumahku aku tinggal. Eitss.... ketemu dengan Khori teman SMPku kala itu sama - sama duduk di kelas II.1. Tapi apa boleh dikata, aku tidak bisa melanjutkannya lagi karena aku dipenjara. Aku pun benar - benar merasa ingin taubat dan tidak ingin melampiaskan dendam kepada pihak - pihak terkait. Khori pun terkagum melihat sosok diriku yang kini di usia yang sama - sama genap 34 tahun yang sudah banyak berubah. Dahulu Khori pun bersama - sama denganku nongkrong di pinggir rel KA sesering mungkin di petak rel KA Pasar Minggu yang baru difungsikan tunggal itu dan beberapa kali di petak rel KA Cikini. Kala itu rel Cikini yang sejajarh dengan bentang rel Jakarta Kota - Gambir - Manggarai masih di bawah. Namun, Khori yang kini berdagang bakso itu pun bisa sedikit santai bersapa denganku sesaat sebelum kembali melanjutkan keliling cari pelanggan. Demi menghidupkan istri dan kedua putrinya, Khori rela meninggalkan mereka di mana sang istri bekerja sambil selain sebagai ibu rumah tangga katanya juga sebagai tukang salon keliling seperti tokoh Atun di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.
Siang pun terasa cukup menyengat, Khori pun tidak menyangka kalau aku ini residivis. Untungnya Khori mengenal baik siapa diriku ini. Selama di tayangan TV memang sosok diriku selalu disensor dan nama pun selalu disingkat hingga tiada satu pun yang mampu mengenalnya. Rumah pun tidak tersoroti karena kejadian perkara itu berada di lain tempat. Sedang berdagang bakso menuntut sepedanya itu Khori tiba - tiba diklaksonin oleh seorang pengendara mobil bermerk Avanza. Tak disangka dia itu Hasan yang dahulu memang tergolong anak yang tajir. Beda dengan diriku yang tergolong pas - pasan dan Khori yang tergolong orang yang kurang mampu atau juga miskin. Tanpa mau perpanjang temu kangen kami ini, Hasan langsung memarkirkan mobilnya dan memesan bakso racikannya Khori ini. Kami pun ngobrol sesaat. Aku ada sedikit perasaan malu dan tersindir karena cuma diriku yang belum menikah apalagi memiliki pacar. Sesekali Hasan becanda kalau aku baiknya jodoh aja sama janda. "Akh...!!! Siapa sih....? Ada - ada aja elo San!!"teriakku dengan nada rada sebal sambil bermuka tersenyum. Hasan kebetulan baru saja mengantar istrinya ke stasiun Gambir untuk menyambangi sanak keluarganya di Solo dengan naik KA Argo Dwipangga.
Siang pun semakin berlarut, bos dari perusahaan properti itu pun beranjak kembali ke kantornya untuk melihat perkembangan bisnis apartemennya itu. Khori sedikit menyesalinya karena terkait dengan dirinya juga. Ada kabar kalau rumah tinggalnya yang cuma sebuah bedeng itu pun siap dibongkar. Selain mengganggu keindahan tata kota, rumah tersebut disinyalir mengganggu aktifitas perjalanan KA karena berada di pinggir rel KA. Kebetulan sekali perusahaan yang diemban Hasan itulah yang akan menggusur perumahan yang didiamin oleh Khori dan keluarga. Entah bagaimana solusinya agar Khori dan keluarganya tetap bisa menghidupi diri mereka masing - masing. Sementara, aku cuma bisa berprakarya berupa kerajinan tangan seperti saat aku berada di rutan. OK deh... enggak cukup rasanya kalau cuma keliling begitu saja tapi tanpa menyentuh rel KA. Namun, sayangnya rumahku terlalu jauh dengan rel KA. Makanya hari ini sulit sekali selain kesehatanku yang masih terganggu aku untuk menjangkau rel KA. Sesekali aku ingin sekali menapaki petak rel KA sepanjang Jl. RE. Martadinata yang konon sebagian sudah ditindih oleh bangunan hotel berbintang tiga. Kenangku kala itu di perlintasan KA di Jl. Gunung Sahari sebetulnya ada yang berupa palang pintu perlintasan KA berupa pintu portal belang - belang hitam kuning yang ditarik dengan tambang tiap ada KA kontainer jenis PPCW yang melintas. Sementara di jembatan KA Kampung Bandan atas sesekali rangkaian KA KLas Ekonomi yang kala itu streaming hijau tua dengan warna dasar putih melintas. Lok BB 301 atau pun BB 303 yang menjadi lok penariknya.
Di TV tersiar kabar bahwa stasiun Ancol keesokkan harinya akan meresmikan rangkaian KA Jakarta - Bandung via Tanjung Priok dengan melewati stasiun Jakarta Kota. Seketika aku terkejut dan ingin segera menuju lokasi peresmian keesokkan harinya. Dahulu rangkaian KA Parahyangan mengawali dan mengakhiri perjalanan di stasiun Jakarta Kota. Namun, seiring perubahan waktu, sejak tahun 1993 hanya mengawali dan mengakhirinya di stasiun Gambir bersamaan dengan rute perjalanannya di stasiun Gambir atas. Yang dibawah masih sebatas Cirebon Ekspres, Fajar Utama dan Senja Utama. Namun, tahun 1994 seiring peralihan perjalanan KA di jembatan layang, petak rel KA di bawah itu pun dibongkar habis. Belum cukup banyaknya PLH, begitu istilah yang baru kuketahui dari teman - teman komunitas pecinta KA, kali ini PT. KA siap meluncurkan perjalanan KA Jakarta - Bandung pp via stasiun Tj. Priok. Tidak tanggung - tanggung, Gapekanya pun berubah di mana beberapa menjadikan stasiun Gambir sebagai stasiun persinggahan. Lanjut dari Gambir ke Jakarta Kota dan berlaju pindah posisi lok ke arah Tj. Priok melalui Kampung Bandan atas. Begitu pun sebaliknya. Usut punya usut karena minat yang tinggi dari para warga Bandung dan sekitarnya yang ingin berlibur di Taman Impian Jaya Ancol. Selain itu, di Jakarta Kota memiliki tempat wisata Museum Fatahillah, Museum Wayang dan Museum Bank Mandiri yang dekat sekali dengan banyaknya hotel berbintang 3 s/d 4.
Terus aku punya nih cerita kelanjutannya :
Bagian 3 :
Enggak cukup kalau cuma merasa keliling Jakarta naik KA. Tapi karena faktor kesehatanku yang belum pulih setelah bertahun - tahun lamanya bernafas di suramnya bui, aku pun lebih ingin keliling komplek rumahku aku tinggal. Eitss.... ketemu dengan Khori teman SMPku kala itu sama - sama duduk di kelas II.1. Tapi apa boleh dikata, aku tidak bisa melanjutkannya lagi karena aku dipenjara. Aku pun benar - benar merasa ingin taubat dan tidak ingin melampiaskan dendam kepada pihak - pihak terkait. Khori pun terkagum melihat sosok diriku yang kini di usia yang sama - sama genap 34 tahun yang sudah banyak berubah. Dahulu Khori pun bersama - sama denganku nongkrong di pinggir rel KA sesering mungkin di petak rel KA Pasar Minggu yang baru difungsikan tunggal itu dan beberapa kali di petak rel KA Cikini. Kala itu rel Cikini yang sejajarh dengan bentang rel Jakarta Kota - Gambir - Manggarai masih di bawah. Namun, Khori yang kini berdagang bakso itu pun bisa sedikit santai bersapa denganku sesaat sebelum kembali melanjutkan keliling cari pelanggan. Demi menghidupkan istri dan kedua putrinya, Khori rela meninggalkan mereka di mana sang istri bekerja sambil selain sebagai ibu rumah tangga katanya juga sebagai tukang salon keliling seperti tokoh Atun di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.
Siang pun terasa cukup menyengat, Khori pun tidak menyangka kalau aku ini residivis. Untungnya Khori mengenal baik siapa diriku ini. Selama di tayangan TV memang sosok diriku selalu disensor dan nama pun selalu disingkat hingga tiada satu pun yang mampu mengenalnya. Rumah pun tidak tersoroti karena kejadian perkara itu berada di lain tempat. Sedang berdagang bakso menuntut sepedanya itu Khori tiba - tiba diklaksonin oleh seorang pengendara mobil bermerk Avanza. Tak disangka dia itu Hasan yang dahulu memang tergolong anak yang tajir. Beda dengan diriku yang tergolong pas - pasan dan Khori yang tergolong orang yang kurang mampu atau juga miskin. Tanpa mau perpanjang temu kangen kami ini, Hasan langsung memarkirkan mobilnya dan memesan bakso racikannya Khori ini. Kami pun ngobrol sesaat. Aku ada sedikit perasaan malu dan tersindir karena cuma diriku yang belum menikah apalagi memiliki pacar. Sesekali Hasan becanda kalau aku baiknya jodoh aja sama janda. "Akh...!!! Siapa sih....? Ada - ada aja elo San!!"teriakku dengan nada rada sebal sambil bermuka tersenyum. Hasan kebetulan baru saja mengantar istrinya ke stasiun Gambir untuk menyambangi sanak keluarganya di Solo dengan naik KA Argo Dwipangga.
Siang pun semakin berlarut, bos dari perusahaan properti itu pun beranjak kembali ke kantornya untuk melihat perkembangan bisnis apartemennya itu. Khori sedikit menyesalinya karena terkait dengan dirinya juga. Ada kabar kalau rumah tinggalnya yang cuma sebuah bedeng itu pun siap dibongkar. Selain mengganggu keindahan tata kota, rumah tersebut disinyalir mengganggu aktifitas perjalanan KA karena berada di pinggir rel KA. Kebetulan sekali perusahaan yang diemban Hasan itulah yang akan menggusur perumahan yang didiamin oleh Khori dan keluarga. Entah bagaimana solusinya agar Khori dan keluarganya tetap bisa menghidupi diri mereka masing - masing. Sementara, aku cuma bisa berprakarya berupa kerajinan tangan seperti saat aku berada di rutan. OK deh... enggak cukup rasanya kalau cuma keliling begitu saja tapi tanpa menyentuh rel KA. Namun, sayangnya rumahku terlalu jauh dengan rel KA. Makanya hari ini sulit sekali selain kesehatanku yang masih terganggu aku untuk menjangkau rel KA. Sesekali aku ingin sekali menapaki petak rel KA sepanjang Jl. RE. Martadinata yang konon sebagian sudah ditindih oleh bangunan hotel berbintang tiga. Kenangku kala itu di perlintasan KA di Jl. Gunung Sahari sebetulnya ada yang berupa palang pintu perlintasan KA berupa pintu portal belang - belang hitam kuning yang ditarik dengan tambang tiap ada KA kontainer jenis PPCW yang melintas. Sementara di jembatan KA Kampung Bandan atas sesekali rangkaian KA KLas Ekonomi yang kala itu streaming hijau tua dengan warna dasar putih melintas. Lok BB 301 atau pun BB 303 yang menjadi lok penariknya.
Di TV tersiar kabar bahwa stasiun Ancol keesokkan harinya akan meresmikan rangkaian KA Jakarta - Bandung via Tanjung Priok dengan melewati stasiun Jakarta Kota. Seketika aku terkejut dan ingin segera menuju lokasi peresmian keesokkan harinya. Dahulu rangkaian KA Parahyangan mengawali dan mengakhiri perjalanan di stasiun Jakarta Kota. Namun, seiring perubahan waktu, sejak tahun 1993 hanya mengawali dan mengakhirinya di stasiun Gambir bersamaan dengan rute perjalanannya di stasiun Gambir atas. Yang dibawah masih sebatas Cirebon Ekspres, Fajar Utama dan Senja Utama. Namun, tahun 1994 seiring peralihan perjalanan KA di jembatan layang, petak rel KA di bawah itu pun dibongkar habis. Belum cukup banyaknya PLH, begitu istilah yang baru kuketahui dari teman - teman komunitas pecinta KA, kali ini PT. KA siap meluncurkan perjalanan KA Jakarta - Bandung pp via stasiun Tj. Priok. Tidak tanggung - tanggung, Gapekanya pun berubah di mana beberapa menjadikan stasiun Gambir sebagai stasiun persinggahan. Lanjut dari Gambir ke Jakarta Kota dan berlaju pindah posisi lok ke arah Tj. Priok melalui Kampung Bandan atas. Begitu pun sebaliknya. Usut punya usut karena minat yang tinggi dari para warga Bandung dan sekitarnya yang ingin berlibur di Taman Impian Jaya Ancol. Selain itu, di Jakarta Kota memiliki tempat wisata Museum Fatahillah, Museum Wayang dan Museum Bank Mandiri yang dekat sekali dengan banyaknya hotel berbintang 3 s/d 4.
