10-01-2011, 07:08 PM
(This post was last modified: 10-01-2011, 07:13 PM by spoor_belok.)
(10-01-2011, 04:51 PM)Charles Wrote: Berdasarkan pendapat saya, keputusan PT. KAI menaikkan tarif KA ekonomi secara keseluruhan adalah kurang tepat untuk saat ini, di mana aspek utama yang dijadikan sorotan adalah:
1. Ketepatan waktu (seringkali KA ekonomi terlambat berangkat dan/atau terlambat tiba di tujuan).
2. Kondisi sarana (banyak kereta jenis K3 yang mengalami kerusakan baik pada eksterior maupun interiornya).
3. Kenyamanan penumpang (banyak keluhan mengenai toilet yang bau, kipas angin yang mati dan sebagainya).
4. Perbandingan okupansi penumpang dengan ketersediaan sarana (banyak penumpang yang bergantung pada KA ekonomi akan tetapi jumlah armada saat ini belum memadai sehingga banyak terjadi penumpukan penumpang dan timbul kecenderungan penumpang yang nekat naik ke atap atau bergelantungan di pintu/bordes kereta atau lokomotif karena takut tidak terangkut).
Semestinya PT. KAI (Persero) perlu memperhatikan keempat aspek tersebut beserta pengaruhnya kepada masyarakat sehingga ketika diputuskan bahwa tarif KA ekonomi harus dinaikkan masyarakat tidak merasa 'jengah' dan kaget dengan diberlakukannya tarif baru tersebut.
1. ‎​inilah Wajah kelam perkeretaapian indonesia, tidak ada kepastian. Setelah Pemerintah (cq Ditjen Perkeretaapian, Kementrian Perhubungan) menolak Railink sebagai pemakarsa kereta bandara dan menunjuk JICA buat FS lagi, padahal Railink sudah buat dan apa susahnya bila di review saja
2. ‎​Masalah kenaikan tarif kereta kelas ekonomi bukan semata-mata costing saja. Tarif murah memicu over demand, lihat di jabotabek, penumpang diatas atap KRL, sarana KRL dikurangi karena aspek keselamatan, LAA tidak bisa mencukupi kebutuhan perjalanan KRL. Seharusnya Pemerintah (cq Ditjen Perkeretaapian, Kementrian Perhubungan) menurunkan penumpang diatas atap KRL dan memberhentikan KRL tersebut karena melanggar regulasi dan keselamatan
3. ‎​Teoritis sih tarif rendah tidak ada masalah karena akan ditutup PSO, tetapi yang masalah kalau PSO kurang, dan tarif rendah bisa menciptakan permintaan yang lebih tinggi dari kemampuan penyediaannya (sarana dan prasarana) maka pelayanan akan memburuk.
4. Hilangkan beban PJKA ke Perumka dan IMO dibiayai 100% APBN, TAC sebesar 10 % IMO (mengambil contoh di negeri Belanda) maka biaya operasi kereta api akan turun signifikan
5. Bayangkan di 2010 ada cashout 300 M karena beban PJKA ke Perumka, bayangkan 300 M untuk beli suku cadang atas KRL atau membangun balai yasa
6. Kenaikan tarif yang tertunda hanya menambah kira-kira maksimum 100 M, masih sangat kecil dibanding IMO dan beban masa lalu. Jadi kenaikan tarif bukan semata-mata costing saja, ada upaya menurunkan over demand
7. ‎​Karena sudah banyak komentar SPM(standar pelayanan minimal) di media masa, coba saja di share secara lengkap SPM dimoda Darat, Laut dan Udara, biar terlihat bahwa moda kereta api memang tertinggal. Terus terang saya belum pernah melihatnya, padahal saya konsumen moda darat, laut dan udara juga. Saya khawatir kereta api diperlakukan seperti analogi mendidihkan Laut samudra.
8. ‎​Lihat saja sejak UU 23 sampai saat ini belum ada yang masuk ke sektor kereta api, isu kuat baru KA untuk Tambang tapi belum juga. Seperti halnya orang buta megang gajah, tidak berhasil mendeskripsikan gajahnya, masing-masing hanya melihat satu sisi saja, kenaikan tarif. Padahal ada isu over demand, kepastian investasi di sektor perkeretaapian, maka hal ini menjadi isu negatif ke calon investor untuk masuk ke sektor kereta api, kebijakan yang tidak konsisten. Inilah Masa kelam perkeretaapian indonesia
9. Sebenarnya PT KA tidak boleh menjalankan kereta kelas ekonomi saat ini dan tidak melakukan pekerjaan IMO (dampaknya semua kereta api akan berhenti,baik kereta penumpang maupun kereta barang) karena belum ada kontraknya. Pekerjaan mendahului kontrak kan tidak boleh, maka analogi mendidihkan Laut samudra sangat tepat, pekerjaan tanpa kontrak diabaikan...... Apa perlu minta fatwa ke MA agar dapat menghentikan semua KA karena belum ada kontrak tetapi pekerjaan dilakukan, maka sebaiknya semua bisa arif jangan sampai mau mendidihkan Laut samudra
