(06-01-2011, 04:47 PM)BAMBANG EKO Wrote: Kalau masalah berat rangkaian kayaknya matchingnya dengan jenis rel ( Type Rel R berapa } dan tekanan gandar .
sedangkan untuk Terowongan lebih matching dengan dimensi ( ukutan lebar dan tinggi Lok dan rangkaiannya )
yang jadi masalah adalah Daya mesin lok tsb.
Kondisi prima HP lok BB 301 sekitar 1350 PK dan kondisi sekarang sekitar 60 % atau sekitar 800 PK dengan max daya tarik 2 K3 saat menanjak.
Kalau tidak salah sekitar tahun 80 an pernah ada studi PJKA mengenai jalur PDL-CJ-SI-BOO (khususnya Terowongan Lampegan) sebagai jalur KA Barang dari BD dan sebaliknya. Sebagai antisipasi jika lintas PDL-PWK-CKP penuh dengan KA penumpang. Waktu itu Alm.Parahyangan masih jadi mesin duit PJKA yang paling kenceng. Hasilnya clearence Lampegan bisa dilalui oleh lok sekelas CC 201. Ilustrasinya seperti KRL kalau lewat Sudirman. LAA & Pantographnya mepet dengan bagian bawah jembatan Jl.Sudirman tapi masuk.
Masalah lok, jadi serba salah.
BB 301 yang sekarang menggunakan mesin MTU dengan power 1500 HP sama seperti BB 304. Sayangnya lok BB 301 dianggap bukan aset produktif PT.KA. Kalau saya tidak salah spare partnya pun masih ada, hanya harganya selangit. Tidak seperti lok buatan GE, spare part gampang, banyak, lebih murah pula. Akibatnya lok DH tidak dilirik lagi oleh PT.KA. Wajar kalau kondisi lok DH sekarang alakadarnya. Tidak boleh diforsir, kalau rusak harus kanibal sama yang lain. Lihat saja sekarang lok Argo Peuyeum. BB 301 17,24,41. Supaya B1 17 dan 24 tetap jalan harus kanibal dari si 41. Dinasnya pun sehari jalan,sehari tidur di Dipo. Memang idealnya repowering dengan mesin baru atau lok baru yang sejenis, sambil tunggu repowering. BB 304 THB dimutasi ke BD.
KRD Bumi Geulis sampai LPG, mungkin setelah hampir 30 tahun KRD tidak pernah menginjakkan rodanya di petak SI-LPG. Setelah tahun 80 an terjadi PLH KRD di daerah Cibeber. KRD nya nyungsep masuk sawah. Saksi bisunya NR JNG, konon ikut evakuasi KRD di CBB.
Masalah lok, jadi serba salah.
BB 301 yang sekarang menggunakan mesin MTU dengan power 1500 HP sama seperti BB 304. Sayangnya lok BB 301 dianggap bukan aset produktif PT.KA. Kalau saya tidak salah spare partnya pun masih ada, hanya harganya selangit. Tidak seperti lok buatan GE, spare part gampang, banyak, lebih murah pula. Akibatnya lok DH tidak dilirik lagi oleh PT.KA. Wajar kalau kondisi lok DH sekarang alakadarnya. Tidak boleh diforsir, kalau rusak harus kanibal sama yang lain. Lihat saja sekarang lok Argo Peuyeum. BB 301 17,24,41. Supaya B1 17 dan 24 tetap jalan harus kanibal dari si 41. Dinasnya pun sehari jalan,sehari tidur di Dipo. Memang idealnya repowering dengan mesin baru atau lok baru yang sejenis, sambil tunggu repowering. BB 304 THB dimutasi ke BD.
KRD Bumi Geulis sampai LPG, mungkin setelah hampir 30 tahun KRD tidak pernah menginjakkan rodanya di petak SI-LPG. Setelah tahun 80 an terjadi PLH KRD di daerah Cibeber. KRD nya nyungsep masuk sawah. Saksi bisunya NR JNG, konon ikut evakuasi KRD di CBB.
![[Image: overstappen.png]](https://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
(07-01-2011, 12:22 PM)BuGe780 Wrote:(07-01-2011, 12:06 PM)masboleng Wrote: saya dulu sih pernah baca di blog orang ITB kalo ga salah...
daerah terowongan lampegan bukan hanya berada pada garis patahan...
tapi juga struktur tanahnya berada pada posisi struktur tanah tua dan struktur tanah bercampur lapisan pasir... dan ini yang menyebakan terowongan dandaerah sekitarnya rawan longsor...
pantesan kang,trowongan lampegan itu gak prnh stabil,btw dulu sy prnh dngar ktanya rel yg mlintas trowongan mau direlokasi memutari jalur yg ada skarang tp kyaknya itu hnya skadar wacana..tinggal crita..
Itulah kondisi bawah tanah Lampegan..
Saya salut sama Belanda dulu bangun Terowongan Lampegan. Lebih memilih gali lubang buat terowongan dari pada harus memapas bukit. Kondisi tanah seperti ini ditambah banyak mata air, bangun terowongan pakai bata merah pula. Yang jadi pertanyaan apa maksud Belanda dulu lebih memilih bangun terowongan dari memapas bukit?
![[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]](http://i908.photobucket.com/albums/ac282/andakh/stasiunkeretaapibogor.jpg)
