02-12-2010, 11:08 PM
Kabar Jaladara :
Kereta Jaladara, DPRD nilai pemborosan anggaran
2 Desember 2010
Solo (Espos)–Kalangan DPRD Solo menilai kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) yang mempertahankan kebijakan menyewa Kereta Api Jaladara sebagai upaya mendongkrak kegiatan pariwisata merupakan bentuk pemborosan anggaran.
Pasalnya, program tersebut selama ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan, kegiatan tersebut terkesan hanya menghabiskan anggaran Pemerintah Kota (Pemkot).
Sekretaris Komisi III DPRD Solo, Umar Hasyim mengatakan setidaknya ada dua pertimbangan Pemkot ketika menyewa Kereta Jaladara. Pertimbangan pertama adalah untuk mendongkrak kegiatan wisata sehingga apabila timbul kerugian tidak menjadi masalah. Kedua adalah untuk tujuan ekonomi sehingga apabila pertimbangan ini yang digunakan maka harus ada keuntungan yang masuk ke kas daerah.
“Penjelasan yang kami terima dari Dinas Perhubungan (Dishub) selama ini, Kereta Jaladara dioperasikan untuk mendongkrak kegiatan wisata. Jadi kalau rugi tidak apa-apa,†ujar Umar ketika dijumpai wartawan, Kamis (2/12).
Namun meski pertimbangan pertama yang digunakan, Umar menambahkan tidak seharusnya kerugian besar yang dialami Pemkot selama ini akibat kereta jarang beroperasi ditanggung sendirian oleh APBD.
“Mencermati biaya sewa Kereta Api Jaladara per tahunnya yaitu senilai Rp 789 juta, jelas terlalu membebani anggaran daerah. Oleh sebab itu saya sangat setuju apabila program ini dievaluasi lagi dalam arti ke depannya diteruskan atau lebih baik dihentikan saja,†ujarnya.
aps
http://www.solopos.com/2010/solo/kereta-...aran-77362
Sepur Kluthuk Jaladara â€ÂMogokâ€Â
Rabu, 01/12/2010 09:00 WIB - sul
BANJARSARIâ€â€Kereta uap wisata Sepur Kluthuk Jaladara, yang sudah beroperasi di Solo sejak akhir tahun 2009 lalu, sempat berhenti beroperasi karena terkendala pencairan dana APBD.
Selama dua bulan, kereta yang beroperasi dari Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota, sempat berhenti beroperasi. Alasannya, dana APBD Perubahan untuk mendanai operasional kereta itu baru cair pada bulan November ini.
“Tetapi tanggal 27 November lalu sudah kembali beroperasi,†ujar Humas Stasiun Purwosari, Jaka Mulyana kepada Joglosemar Selasa(30/11).
Sementara itu, Kabid Angkutan Umum Dinas Perhubungan Pemkot Solo, Sri Indarjo, mengakui kondisi itu. Ia menjelaskan, akibat berhentinya operasi, sedikitnya lima pesanan perjalanan wisata di Solo dengan kereta itu terpaksa dibatalkan. “Ya berat memang rasanya, membatalkan pesanan itu,†ujar dia.
Dikatakannya, pengoperasian kereta itu memang masih menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan dan masih sangat tergantung dengan APBD. Terlebih lagi biaya untuk pengoperasian kereta ini memang cukup tinggi. Untuk sekali jalan pulang pergi misalnya, membutuhkan sekitar tiga kubik kayu jati yang harganya mencapai Rp 3,2 juta. “Biaya operasionalnya memang cukup tinggi, bahan bakarnya harus kayu jati,†jelas dia.
Dijelaskan, jika dipikirkan memang biaya operasional itu sangat mahal, hanya untuk perjalanan kereta. Tetapi keberadaan Sepur Kluthuk Jaladara akan mampu membawa multiplayer effect bagi perekonomian Kota Solo.
“Katakan saja mereka yang akan naik sepur Jaladara 60 orang untuk sekali jalan. Maka mereka otomatis akan menginap di Solo dan membelanjakan uangnya di Solo juga,†terang dia. Dia menjelaskan, ke depan pengelolaan Sepur Kluthuk Jaladara akan dibagi dengan Disbudpar. Terutama untuk pemesanan tiket. (sul)
http://www.harianjoglosemar.com/berita/s...30497.html

Kereta Jaladara, DPRD nilai pemborosan anggaran
2 Desember 2010
Solo (Espos)–Kalangan DPRD Solo menilai kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) yang mempertahankan kebijakan menyewa Kereta Api Jaladara sebagai upaya mendongkrak kegiatan pariwisata merupakan bentuk pemborosan anggaran.
Pasalnya, program tersebut selama ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan, kegiatan tersebut terkesan hanya menghabiskan anggaran Pemerintah Kota (Pemkot).
Sekretaris Komisi III DPRD Solo, Umar Hasyim mengatakan setidaknya ada dua pertimbangan Pemkot ketika menyewa Kereta Jaladara. Pertimbangan pertama adalah untuk mendongkrak kegiatan wisata sehingga apabila timbul kerugian tidak menjadi masalah. Kedua adalah untuk tujuan ekonomi sehingga apabila pertimbangan ini yang digunakan maka harus ada keuntungan yang masuk ke kas daerah.
“Penjelasan yang kami terima dari Dinas Perhubungan (Dishub) selama ini, Kereta Jaladara dioperasikan untuk mendongkrak kegiatan wisata. Jadi kalau rugi tidak apa-apa,†ujar Umar ketika dijumpai wartawan, Kamis (2/12).
Namun meski pertimbangan pertama yang digunakan, Umar menambahkan tidak seharusnya kerugian besar yang dialami Pemkot selama ini akibat kereta jarang beroperasi ditanggung sendirian oleh APBD.
“Mencermati biaya sewa Kereta Api Jaladara per tahunnya yaitu senilai Rp 789 juta, jelas terlalu membebani anggaran daerah. Oleh sebab itu saya sangat setuju apabila program ini dievaluasi lagi dalam arti ke depannya diteruskan atau lebih baik dihentikan saja,†ujarnya.
aps
http://www.solopos.com/2010/solo/kereta-...aran-77362
Sepur Kluthuk Jaladara â€ÂMogokâ€Â
Rabu, 01/12/2010 09:00 WIB - sul
BANJARSARIâ€â€Kereta uap wisata Sepur Kluthuk Jaladara, yang sudah beroperasi di Solo sejak akhir tahun 2009 lalu, sempat berhenti beroperasi karena terkendala pencairan dana APBD.
Selama dua bulan, kereta yang beroperasi dari Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota, sempat berhenti beroperasi. Alasannya, dana APBD Perubahan untuk mendanai operasional kereta itu baru cair pada bulan November ini.
“Tetapi tanggal 27 November lalu sudah kembali beroperasi,†ujar Humas Stasiun Purwosari, Jaka Mulyana kepada Joglosemar Selasa(30/11).
Sementara itu, Kabid Angkutan Umum Dinas Perhubungan Pemkot Solo, Sri Indarjo, mengakui kondisi itu. Ia menjelaskan, akibat berhentinya operasi, sedikitnya lima pesanan perjalanan wisata di Solo dengan kereta itu terpaksa dibatalkan. “Ya berat memang rasanya, membatalkan pesanan itu,†ujar dia.
Dikatakannya, pengoperasian kereta itu memang masih menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan dan masih sangat tergantung dengan APBD. Terlebih lagi biaya untuk pengoperasian kereta ini memang cukup tinggi. Untuk sekali jalan pulang pergi misalnya, membutuhkan sekitar tiga kubik kayu jati yang harganya mencapai Rp 3,2 juta. “Biaya operasionalnya memang cukup tinggi, bahan bakarnya harus kayu jati,†jelas dia.
Dijelaskan, jika dipikirkan memang biaya operasional itu sangat mahal, hanya untuk perjalanan kereta. Tetapi keberadaan Sepur Kluthuk Jaladara akan mampu membawa multiplayer effect bagi perekonomian Kota Solo.
“Katakan saja mereka yang akan naik sepur Jaladara 60 orang untuk sekali jalan. Maka mereka otomatis akan menginap di Solo dan membelanjakan uangnya di Solo juga,†terang dia. Dia menjelaskan, ke depan pengelolaan Sepur Kluthuk Jaladara akan dibagi dengan Disbudpar. Terutama untuk pemesanan tiket. (sul)
http://www.harianjoglosemar.com/berita/s...30497.html
.

