24-10-2010, 03:14 PM
Quote:http://www.jakartapress.com/www.php/news...Habibie.jp
Foke Konsultasi MRT ke Habibie
lokasi: Home / Berita / Ibu Kota / [sumber: Jakartapress.com]
Jumat, 24/09/2010 | 07:09 WIB
Jakarta - Gagasan pengembangan moda transportasi publik berupa Mass Rapid Transit yang digaungkan sejak 1986, merupakan saran mantan Presiden BJ Habibie yang saat itu masih menjabat sebagai kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Untuk merealisasikan rencana pembangunan MRT Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pun mendatangi Habibie di kediamannya. Sebab, perkembangan Jakarta juga tidak luput dari saran-saran berbagai pihak. Salah satunya gagasan Habibie soal MRT yang dilontarkan sejak 24 tahun lalu.
"Jika MRT tidak segera dibangun, Jakarta pada 2016 sudah kolaps," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, saat mengunjung Habibie di rumahnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (23/9).
Foke menilai sejak gagasan pembuatan MRT muncul, terkendala dengan dukungan dari pemerintah. Sehinga perkembangannya belum sampai tahap pembuatan. Namun inisiatif pembangunan MRT tersebut, merupakan modal bagi Pemprov DKI Jakarta untuk mendapatkan pengetahuan. "Itu menjadi modal dasar kita untuk bergerak," ujarnya.
Ia menjelaskan, keamanan MRT dari bahaya banjir maupun gempa sudah diperhitungkan. Terlebih untuk stasiun bawah tanah yang lebih difokuskan pada pengamanan bahaya banjir. Untuk itu, pihaknya juga menggandeng pemerintah Jepang yang mempunyai pengalaman tentang bencana gempa. "Untuk bahaya bencana kita belajar dari kota-kota lain yang struktur tanahnya lebih buruk dari Jakarta," paparnya.
Pembangunan MRT sendiri merupakan kerja sama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Untuk itu, tanggung jawab dan kewajiban dibagi sesuai dengan proporsinya masing-masing. Ia optimis kerja sama yang baik dan dukungan dari pemerintah pusat dapat terjalin hingga pembangunan MRT rampung.
Untuk pembangunan pendukung sistem transportasi di Jakarta, Habibie menyarankan pemberlakukan ERP. Nantinya dalam kawasan yang diberlakukan ERP juga terdapat alat transportasi lainnya yang nyaman. Sehingga masyarakat dapat menggunakannya secara maksimal. Sementara untuk penggunaan air tanah, perlu adanya tandon-tandon yang dapat menghasilkan air baku untuk dijernihkan. Karena cadangan air bersih yang cukup menjadi substansial untuk warga Jakarta.
"Jika tata ruang terintegrasi baik dengan trasportasi, biaya maupun waktu yang dikeluarkan akan jauh lebih hemat seperenamnya. Banyak keuntungan ekonomis jika tata ruang ini terintegrasi. Inefisiensi yang terjadi saat ini karena kurang sinkronnya tata ruang dengan transportasi itu sendiri," terangnya.
Habibie juga mengaku prihatin dengan perkembangan Jakarta saat ini, yang disebabkan oleh masalah tranportasi, tata ruang, dan air. Untuk itu, dirinya ingin mendengar langsung penjelasan mengenai permasalahan yang terjadi dari Gubernur DKI Jakarta sendiri. "Pertanyaan yang saya ajukan tadi, diharapkan memberikan rangsangan kepada para pakar, sehingga mereka akan bekerja sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Saya bersedia memberikan pandangan-pandangan dan saran jika dibutuhkan lagi," tandasnya. (Beritajakarta.com)
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"

