01-09-2010, 03:12 PM
(This post was last modified: 01-09-2010, 03:23 PM by jokotingkir.)
waktu PLH logawa kemarin juga ada niat untuk membandingkan kondisi rel bantalan beton yg ada di lintas madiun sampai surabaya , dengan rel bantalan beton solo-jogya-kutoarjo tapi bener kata mas gak ada referensi untuk menyimpulkan sulit bagi RF mendapatkan detail hasil pemeriksaan teknisnya.
di lintas solo-jogya-kutoarjo dari kualitas betonnya dilihat sekilas mata terlihat lebih kuat , cara kerja penggantian bantalan dan relnya juga lebih rapi , walaupun belum dilewati mesin pecok balas, relnya sudah kelihatan tertata lurus, pokoknya meyakinkanlah itu cuman pandangan mata saya sebagai seorang RF lo ya teknisnya ya gak tahu wong gak diajak proyeknya hahaha, ada yg tahu tipe Rel , bantalan, dan juga tipe penambat yg dipakai dijalur ini gak ya please sharing.
dibanding dengan proses penggantian di lintas madiun sampai surabaya bantalan betonnya aja kelihatan kepyur kayak campuran beton kurang semen kebanyakan pasir, proses pengantian relnya kayak grusa grusu mungkin karena satu jalur sedang slo-yk-kta ada 2 jalur jadi bisa lebih konsen gak diganggu kepadatan perjalanan ka, habis diganti beton rel masih kelihatan bengkong dan bergelombang gak rata kiri kanan, sekalipun sudah di pecok, coba kalau kita lihat rel ketika lewat JPL masih kelihatan gak meyakinkan, jenis penambat sebagian besar yg dipakai pun kontroversial, alhasil GBMS,Sancaka,Logawa pernah keseleo dilintas ini. kalau di lintas slo-yk-kta belum pernah denger ada yg anjlok.
wajar kalau pejabat daop 6 YK berani ngomong gitu (walaupun rel itu yg bangun pemerintah), coba daop 7 atau 8 berani gak.
di lintas solo-jogya-kutoarjo dari kualitas betonnya dilihat sekilas mata terlihat lebih kuat , cara kerja penggantian bantalan dan relnya juga lebih rapi , walaupun belum dilewati mesin pecok balas, relnya sudah kelihatan tertata lurus, pokoknya meyakinkanlah itu cuman pandangan mata saya sebagai seorang RF lo ya teknisnya ya gak tahu wong gak diajak proyeknya hahaha, ada yg tahu tipe Rel , bantalan, dan juga tipe penambat yg dipakai dijalur ini gak ya please sharing.
dibanding dengan proses penggantian di lintas madiun sampai surabaya bantalan betonnya aja kelihatan kepyur kayak campuran beton kurang semen kebanyakan pasir, proses pengantian relnya kayak grusa grusu mungkin karena satu jalur sedang slo-yk-kta ada 2 jalur jadi bisa lebih konsen gak diganggu kepadatan perjalanan ka, habis diganti beton rel masih kelihatan bengkong dan bergelombang gak rata kiri kanan, sekalipun sudah di pecok, coba kalau kita lihat rel ketika lewat JPL masih kelihatan gak meyakinkan, jenis penambat sebagian besar yg dipakai pun kontroversial, alhasil GBMS,Sancaka,Logawa pernah keseleo dilintas ini. kalau di lintas slo-yk-kta belum pernah denger ada yg anjlok.
wajar kalau pejabat daop 6 YK berani ngomong gitu (walaupun rel itu yg bangun pemerintah), coba daop 7 atau 8 berani gak.
