10-08-2010, 12:56 PM
Quote:[spoiler=Tetapi tragis, pagi kemarin, Kamis (5/8), mereka harus menyudahi perjalanan cinta mereka di rel KA. Sepasang kekasih itu tewas tertabrak kereta api saat berpacaran di sekitar rel kereta api di depan Kantor Imigrasi Jakarta Timur, Jl Raya Bekasi Timur, Jatinegara.
Kepala mereka retak. Darah mengucur, juga dari kepala dan hidung keduanya. "Jenazah mereka kami larikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo," kata Kapolsek Jatinegara, Komisaris Sriyanto, di Mapolsek Jatinegara.
Mapolsek Jatinegara untuk sementara mengatakan, peristiwa itu murni kecelakaan. "Kami belum melihat ada unsur pidana. Kami masih menghimpun keterangan dari keluarga korban dan petugas kereta api," katanya.
Bagaimana hal iltu terjadi? Peristiwa tragis itu bermula dari kesepakatan keduanya untuk berjumpa. Pagi kemarin, Supriadi mengajak Yanti berjalan-jalan. Ia menjemput Yanti di rumahnya, tak jauh dari Pasar Induk Beras, Cipinang. Lalu, mereka berjalan-jalan di pinggiran rel kereta sembari menghirup udara segar. Tak disangka, pagi itu adalah saat terakhir mereka bersama.
Setelah berjalan sekitar ratusan meter, keduanya memilih duduk di rel kereta. Beristirahat sejenak. Saat menikmati suasana pagi itulah, mereka tersentak. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson kereta api menderu. Namun, belum sempat bangkit, kereta api dari arah Jatinegara menuju Bekasi itu melesat. Pasangan muda yang tengah dimabuk cinta itu tertabrak.
Yani dan Yatino, pasangan lain yang juga duduk-duduk di sepanjang rel kereta api itu mengatakan, sebelumnya
Yanti dan kekasihnya, Supriadi, telah diingatkan, ada kereta api akan lewat.Tapi keduanya tidak mendengar teriakan sang teman.]
Tak ayal, ketika kereta api itu melesat, keketika Yanti terlempar ke dinding pembatas antara area kereta dengan daerah sekitar, lalu jatuh dengan kepala mengarah ke rel. Salah satu kakinya tertekuk. Pada detik yanga sama, sang kekasih juga terpental ke dinding dengan posisi kepala membelakangi posisi kepala Yanti. Jarak antara keduanya setelah terpental sekitar dua meter.
Yanti bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di sebuah keluarga di daerah Pisangan, Jakarta Timur. Uniknya, sang pacar, yang lebih tua tiga tahun, juga bekerja pada keluarga yang sama: sebagai pekerja bangunan. "Mereka punya majikan yang sama," kata petugas identifikasi Mapolsek Jatinegara. Diduga, cinta mereka bermula saat mereka sama-sama menjadi pekerja pada sang majikan.
Peristiwa tragis yang menimpa keduanya segera diketahui sang majikan yang langsung ikut berkerubung bersama warga, menyaksikan mayat sepasang kekasih itu. "Dia pembantu saya," kata KSPK Ipda Dwi Yanuar, meniru reaksi majikan dua jenazah yang meninggal tragis itu.
Kapan dan di mana malaikat akan datang menjemput? Tak seorang pun tahu. Tidak. Andai Yanti Oktavia atau kekasihnya, Supriadi, tahu, tentu niat mereka berjalan-jalan pagi, kemarin, urung dilakukan. Tak mampu menghindar dari maut, tak ayal impian mereka bersanding di pelaminan pun sirna. n Nofrita [/spoiler]
Berita ini pernah saya lihat di surat kabar beraliran 'kuning', "Lampu Hijau" yang merupakan titisan dari "Lampu Merah"...
Kenapa kedua korban tidak mendengar teriakan temannya yang memperingatkan bahwa akan ada sepur yang mau lewat (perhatikan yang dicetak tebal)? Apakah ada intervensi yang berbau mistis saat itu?


![[Image: 2r56iya.jpg]](http://i56.tinypic.com/2r56iya.jpg)