31-07-2010, 09:47 PM
sekarang hitung2 an gaya bakul. perhari ada sekitar 7 juta orang hilir mudik seantero jakarta. dari jumlah itu, share krl seluruh koridor jabodetabek hanya sekitar 8% atau sekitar 600ribuan perhari.
tapi ingat, itu jumlah penumpang komuter seantero jabodetabek yang dilalui jaringan krl. sementara jumlah penumpang seantero jakarta yang menggunakan krl jumlahnya sangat sedikit.
saya belum tahu pasti. tapi saya bisa bandingkan dengan sampel koridor bogor. jumlah penumpang yang naik/turun dari st. ui (batas selatan jakarta) ke arah utara (sampai beos) jumlahnya sedikit. demikian pula sebaliknya ketika jam pulang kantor.
artinya, penumpang krl mayoritas didominasi warga bodetabek, bukan warga jakarta.
solusi penambahan krl ide bagus. tapi tetap tidak mengurangi kemacetan di jakarta. justru yang bisa mengurangi adalah busway yang lebih menggurita koridornya sejakarta.
kecuali, kalo menambah koridor baru krl, misal ke arah ciledug, karawaci, cibubur, kelapa gading, cilincing, cinere, atau kemana saja daerah pemukiman berada. baru itu bisa.
cmiiw.
tapi ingat, itu jumlah penumpang komuter seantero jabodetabek yang dilalui jaringan krl. sementara jumlah penumpang seantero jakarta yang menggunakan krl jumlahnya sangat sedikit.
saya belum tahu pasti. tapi saya bisa bandingkan dengan sampel koridor bogor. jumlah penumpang yang naik/turun dari st. ui (batas selatan jakarta) ke arah utara (sampai beos) jumlahnya sedikit. demikian pula sebaliknya ketika jam pulang kantor.
artinya, penumpang krl mayoritas didominasi warga bodetabek, bukan warga jakarta.
solusi penambahan krl ide bagus. tapi tetap tidak mengurangi kemacetan di jakarta. justru yang bisa mengurangi adalah busway yang lebih menggurita koridornya sejakarta.
kecuali, kalo menambah koridor baru krl, misal ke arah ciledug, karawaci, cibubur, kelapa gading, cilincing, cinere, atau kemana saja daerah pemukiman berada. baru itu bisa.
cmiiw.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"

