Kalau kita melihat konteks KRL Jakarta seperti yang diangkat mas Dana, berarti kita membicarakan sebuah KA angkutan massal yang beroperasi dari pinggiran kota atau kota satelit menuju ke pusat/tengah kota. Dan kereta yang dipakai adalah kereta tanpa lokomotif yang menggunakan propulsi listrik. Bisa pakai LAA atau LAB, tapi yang penting propulsi listrik.
Pendeknya KRL itu adalah KA komuter tanpa lokomotif bertenaga listrik.
Kalau LRT di Bangkok itu tak masuk kategori KRL seperti Jakarta, karena rutenya hanya di dalam kota saja. Sementara KA komuter malah menggunakan KRD.
Beberapa negara saya perhatikan memang punya KRL, seperti di Australia mayoritas punya KRL, kecuali Adelaide, Darwin dan Hobart. Kalau Adelaide KA komuter pakai KRD. Kalau Darwin dan Hobart malah nggak punya jaringan KA komuter (karena kotanya kecil!).
Jadi kalau sebuah negara tak punya KA komuter, atau KA komuter menggunakan propulsi selain listrik, berarti dia tidak punya KRL, dan masuk kategori yang dikemukakan mas Dana.
Pendeknya KRL itu adalah KA komuter tanpa lokomotif bertenaga listrik.
Kalau LRT di Bangkok itu tak masuk kategori KRL seperti Jakarta, karena rutenya hanya di dalam kota saja. Sementara KA komuter malah menggunakan KRD.
Beberapa negara saya perhatikan memang punya KRL, seperti di Australia mayoritas punya KRL, kecuali Adelaide, Darwin dan Hobart. Kalau Adelaide KA komuter pakai KRD. Kalau Darwin dan Hobart malah nggak punya jaringan KA komuter (karena kotanya kecil!).
Jadi kalau sebuah negara tak punya KA komuter, atau KA komuter menggunakan propulsi selain listrik, berarti dia tidak punya KRL, dan masuk kategori yang dikemukakan mas Dana.
