20-10-2008, 03:59 PM
Quote:> Metro Bandung
Senin , 20 Oktober 2008 ,
Ke Jatinangor Bisa Naik KA
• Pembangunan Rel Ditarget Selesai 2010
R Oktora Veriawan
RANCABALI, TRIBUN - Pemprov Jabar bersama dengan Departemen Perhubungan akan mengaktifkan kembali jalur kereta api Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari. Pembangunan rel ini dan beberapa jalur lokal lainnya, seperti Bogor-Sukabumi dan Sukabumi-Cianjur, ditargetkan selesai tahun 2010.
Dengan adanya jalur KA ini, mahasiswa asal Bandung yang berkuliah di Kawasan Pendidikan Tinggi (KPT) Jatinangor memiliki transportasi alternatif dan murah meriah, yaitu kereta api, untuk mencapai kampus. “Kami menargetkan tahun 2010 pembangunan jalur kereta api Bandung-Rancaekek-
Jatinangor akan selesai sehingga nantinya ada sarana transportasi alternatif bagi warga Jatinangor dan mahasiswa yang kuliah di sana,†jelas Gubernur Jabar Ahmad Heryawan saat kunjungan kerjanya di Pabrik Teh Walini PTPN VIII Rancabali, Sabtu (18/10).
Heryawan mengungkapkan, dibukanya tiga jalur kereta itu termasuk dalam program pemekaran bidang transportasi di wilayah Jawa Barat. Jalur Sukabumi-Bogor sendiri sedang dalam perbaikan. Direncanakan, peresmian jalur ini akan dilakukan pada November. Begitu jalur Sukabumi-Bogor rampung, akan disusul dengan Sukabumi-Cianjur.
Jalur Sukabumi-Cianjur terakhir aktif pada awal 2006. Jalur itu terpaksa ditutup karena sering terjadi longsor lantaran berada di tanah yang labil. “Tanahnya bergerak dan longsor terus,†katanya.
Perbaikan jalur Sukabumi-Cianjur memakan biaya Rp 80 miliar. Perbaikan terberat adalah menstabilkan sejumlah titik selepas terowongan Lampegan yang rawan longsor. Terowongan ini sempat tertutup tanah dan sudah selesai diperbaiki. “Begitu (jalur) ini dibuka, kereta Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung akan dihidupkan lagi. Target kami, akhir tahun depan tersambung lagi,†ujarnya.
Adapun pengerjaan jalur Bandung-Rancaekek-Jatinangor dimulai dengan tahap pertama, yaitu membersihkan jalur kereta yang diserobot warga. Rute ini dibuka atas pertimbangan potensi pasar mengingat di kawasan ini banyak sekali kampus. Sementara itu, jalan raya menuju Jatinangor dikenal padat.
Untuk Jatinangor, lanjut Heryawan, perlu dilakukan pembicaraan dengan pemerintah daerah terlebih dahulu. Karena menyangkut warga yang menduduki lahan yang dilalui jalur tersebut sehingga membutuhkan bantuan dari pemda untuk membebaskan jalur rel dari penguasan warga yang telah beberapa tahun mendudukinya.
Kepala Humas PT KA Daop 2 Bandung, Mateta Rizalulhaq, beberapa waktu lalu mengakui pihaknya telah mengecek dan mengukur jalur itu, tapi sudah dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk. “Hanya sebagian kecil yang kosong. Sisanya sudah dipakai jadi rumah dan bangunan kos-kosan. Namun lahan itu statusnya masih milik PTKA,†kata Mateta. (tor)
Dihentikan Tahun 1978
* Jarak Rancaekek-Jatinangor sepanjang 4,8 km, sedangkan jarak hingga Tanjungsari 10 km
* Jalur rel KA buatan Belanda terbentang hingga Stasiun Tanjungsari
* Operasional jalur KA Rancaekek-Tanjungsari dihentikan pada tahun 1978
* Saat ini jalur KA itu sudah dipadati rumah dan permukiman
Jalur Peninggalan Belanda
* Tahap pertama pengerjaan jalur Bandung-Rancaekek-Jatinangor: membersihkan jalur kereta yang diserobot warga.
* Rute ini dibuka atas pertimbangan potensi pasar mengingat kawasan ini banyak sekali kampus.
* Jalur KA Jatinangor nantinya akan memotong jalur kereta api Bandung-Cicalengka tepatnya di wilayah Rancaekek.
* Dari Rancaekek rel kereta api yang dibutuhkan hingga Jatinangor yaitu sepanjang 4,83 km
* Jalur Bandung-Tanjungsari merupakan rel KA peninggalan Belanda
* Daerah yang terkenal di lintasan ini adalah Jembatan Cingcin di daerah Cikuda Jatinangor
* Pembangunan jalur ini ditargetkan selesai pada 2010
Quote:> Metro Bandung
Senin , 20 Oktober 2008 ,
Stasiun Tanjungsari Masih Berdiri
Machmud Mubarok, ant
JALUR kereta api Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari dibangun pada tahun 1918 oleh Staat Spoorwegen (SS), perusahaan kereta api Kerajaan Belanda. Jalur itu digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan di daerah Jatinangor dan sekitarnya. Sejak pertengahan abad ke-19, Jatinangor dikenal sebagai daerah perkebunan karet, sedangkan Tanjungsari terkenal sebagai daerah penghasil teh dan tembakau.
Namun jalur KA ini hanya bertahan 60 tahun. Tahun 1978, Djawatan Kereta Api menghentikan operasional jalur KA ini. Semenjak itu, jalur ini ibarat jalur KA hantu. Tak pernah ada lagi KA yang melalui jembatan Cingcin di Cikuda, Jatinangor.
Rencana PT KA yang didukung Pemprov Jabar untuk mengoperasikan kembali jalur ini bukanlah hal yang gampang. Di sepanjang jalur KA ini telah berdiri ribuan rumah dan permukiman penduduk. Untuk membebaskan lahan tentu dibutuhkan biaya sangat besar.
Tak hanya itu, rel KA pun sudah banyak yang hilang. Apabila dioperasikan lagi, semua rel harus diganti karena ukurannya kecil, bukan lagi ukuran standar rel saat ini.
Dari bentangan rel KA sepanjang 10 km antara Rancaekek dan Tanjungsari itu, ada dua monumen yang masih berdiri tegak. Pertama adalah jembatan KA Cingcin di Cikuda, Jatinangor. Jembatan yang menjulang tinggi hampir 50 meter itu menjadi penghubung di antara dua lembah. Di sore hari, jembatan lama dengan konstruksi bata merah ini menjadi tempat pertemuan para sejoli yang memadu kasih.
Monumen kedua adalah Stasiun KA Tanjungsari. Hingga kini, bangunan itu masih berdiri dan dipakai kantor Pepabri. Tulisan Stasiun Tanjungsari pun masih tertera di dinding bangunan. Sebagian bangunan dipakai kantor Pepabri dan sebagian lagi dijadikan gudang teh. (ant/mac)
TRAVEL WARNING TRAIN DANGEROUSLY exotic VEHICLE
![[Image: 2euifjl.jpg]](http://i53.tinypic.com/2euifjl.jpg)
