07-10-2009, 12:54 PM
btw tiket pesawat & KA BD-SBY brp? jd bs dibandingkan mana yg lbh efisien.
Keep Fighting Never Give

|
07-10-2009, 12:54 PM
btw tiket pesawat & KA BD-SBY brp? jd bs dibandingkan mana yg lbh efisien.
Keep Fighting Never Give
07-10-2009, 12:59 PM
(07-10-2009, 12:54 PM)ouilevio Wrote: btw tiket pesawat & KA BD-SBY brp? jd bs dibandingkan mana yg lbh efisien. tiket peswat BDO-SUB itu kalo pake S*******A AIr yang paling murah sekitar 350rb trus pake M*****I sekitar 500an yg murahnya beda jauh ama KA bandingin ama mutiara selatan yang sekitar 150an kalo bukan waktu lebaran (temanku wkt lebaran kemaren aja naek mutsel 220rb) trus turangga beda jauh kalo dari segi harga mah.....efisien sih naek pesawat kalo diliat dari waktu tapi kalo dari harga ya efisien KA donk....
07-10-2009, 02:51 PM
Keren Mas Bagus foto2nya....
![]() Oh iya mas, BDO-SUB berapa menit? kemudian rate of cruising altitude brp feet mas? dapet meal apa Mas Bagus dari Merpati? hehehe......
07-10-2009, 05:33 PM
(06-10-2009, 08:11 PM)big bro Wrote: cuma bisa komentar ini.... Hoek............
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
09-10-2009, 04:45 PM
(This post was last modified: 09-10-2009, 04:47 PM by Michael Arka.)
Wah,keren mas Bagus bs melihat posisi stasiun dengan foto yg kyk gt.Aq ja smpi nyipit2in mata buat lht.
![]() Ditunggu report selanjutnya,mas.
12-10-2009, 10:20 AM
I am so glad I visited this thread .,I got the information that I really need.,I think the problem that I am facing now will be solve.,
_________________ International travel insurance
15-10-2009, 11:19 AM
(07-10-2009, 02:51 PM)CC204 10 Wrote: Keren Mas Bagus foto2nya.... 1. 1 jam. 2. 13.000 kaki. 3. Sandwich isi sosis atau smoked beef. Laporan sedang disusun. Just stay tune kawan-kawan.
Setelah liburan lebaran yang cukup singkat dan sepi, akhirnya saya kembali lagi ke Bandung.
Karena pertimbangan bahwa saya membawa bumbu dari Surabaya dalam jumlah yang sangat besar (3 krat besar), maka biasanya saya pulang menggunakan kereta api Turangga. Pilihan menggunakan kereta api Turangga juga sebenarnya bukanlah keterpaksaan: pegunungan Priangan memang lebih indah dilihat di pagi hari daripada malam hari (Argo Wilis dari Surabaya sampai Tasik sudah agak gelap). Makanya, pilihan bijak dalam naik kereta api ruta Bandung-Surabaya pp biasanya dari Bandung naik Argo Wilis, lalu dari Surabaya naik Turangga. BERANGKAT. Sore itu saya diantar oleh orang tua dan kakak saya sekeluarga ke stasiun Gubeng, sekaligus membawa barang-barang untuk keperluan dagangan. Namun karena pertimbangan ketiadaan jemputan, maka kali ini saya tak membawa bumbu dalam krat-krat besar. Sesampainya di stasiun Gubeng, saya melihat kalau stasiun ini (yang sebelah timur) tampaknya sudah mengalami beberapa perbaikan dan perubahan desain. Kalau dulu kounter tiket model arsitekturnya garing, kini modelnya ala “minimalis†yang sekarang lagi ngetop. Setelah melewati gerbang pintu, saya sekeluarga langsung menuju ke sisi utara jalur 6 stasiun Gubeng. Tidak ada yang istimewa di stasiun Gubeng pada saat itu. KA Turangga sendiri datang pada pukul 17.55, dan ditarik lokomotif CC204 12. Saya tak menghitung berapa jumlah gerbong yang ditariknya. Tetapi beberapa diantara gerbong Turangga retrofit itu kelihatan masih bersih catnya. Bahkan gerbong yang saya naiki sepertinya juga masih baru keluar Manggarai. ![]() Waktu saya perhatikan nomornya, saya terkejut: rupanya ini gerbong Turangga batch tahun 1999 yang habis diretrofit! Wah, saya pikir yang diretrofit cuman yang gerbong-gerbong tua saja. Ternyata yang baru juga ikut diretrofit. Gerbong yang saya naiki itu gerbong K1-99502. ![]() Saya perhatikan gerbong ini masih bersih sekali dan agak berbeda dengan Turangga retrofit sebelumnya. WC kereta juga bersih. Tapi ada beberapa perbedaan kecil jika dibandingkan dengan Turangga retrofit yang batch awal tahun 2009. Contohnya bukaan bagasi atas handelnya bisa ditarik (tidak paten). Warna lampunya juga agak putih. Selain itu bagian di bawah pintu dibuat lurus sejajar (aslinya melengkung mengikuti “skirtâ€Â). Diluar itu, semuanya standard dengan gerbong Turangga retrofit lainnya. Tapi bukan berarti perjalanan saya ini sempurna, karena dari awal sudah ada beberapa gangguan kecil. Contohnya di acara TV banyak sekali grafis-grafis yang mengganggu acara TVnya. AC kereta juga nyala sebelah, jadi di satu sisi gerbong terasa dingin sekali, sementara di sisi lain agak panas. Dan karena tidak ada karpet, dinginnya makin menggigit saja. Akibatnya sepatu saya pasang terus, biar tidak kedinginan. Jaman dulu sewaktu KA Turangga masih ada karpetnya, saya dan keluarga bisa mencopot sepatu sebentar waktu tidur, biar kaki tidak letih. Kalau itu kurang, selimut yang dibagikan agak tipis, dan kurang cukup untuk menahan hawa dingin dari AC. PERJALANAN Walaupun ada beberapa kecacatan, tetapi perjalanan tetap cukup nyaman untuk saya. Sayapun juga memasang MP4 player dan mendengarkan lagu-lagunya Earl Klugh. Menurut saya lagu-lagu instrument Earl Klugh yang lembut dan agresif terdengar cukup menyatu dengan suasana perjalanan diatas KA eksekutif. Selain itu saya juga lebih memilih untuk membaca buku Asian Style hotel yang baru saja saya beli, serta majalah Combat Aircraft, daripada melihat acara murahan di TV. Tapi saya juga merasa agak takjub waktu melihat keluar. Sepanjang perjalanan saya sering melihat letusan kembang api di angkasa. Tampaknya ada beberapa anak yang menyalakan koleksi kembang api sisa takbiran mereka. Cukup menarik juga. Di Kertosono, kereta Turangga berhenti. Dan di sini banyak sekali tentara yang naik kereta. Kalau saya perhatikan mereka adalah para tentara yang akan kembali ke baraknya di daerah Bandung dan sekitarnya karena ada logo divisi Siliwangi di seragam mereka. Salah satunya ternyata duduk di sebelah saya. Tapi saya tak sempat ngobrol karena saya langsung tertidur. Tapi kira-kira sejam kemudian saya terbangun karena kedinginan. Daripada menganggur, saya memilih untuk Facebookan sebentar. Nah pas saya membaca update status salah seorang member, kok ada yang posisinya di kereta dan gerbong yang sama dengan saya? Sayapun langsung bangkit dan mencari tahu siapa kira-kira orangnya? Ternyata dia adalah Ade Supriyanto yang sedang kembali ke Jakarta lewat Bandung (karena istrinya bekerja di Bandung). Tak banyak topik yang kami bicarakan, karena kami merasa agak mengantuk dan langsung kembali ke kursi masing-masing. Sewaktu kereta melintasi Solo, saya sempat melihat rangkaian KA wisata yang baru tersebut diparkir. Walaupun agak gelap, tapi rangkaiannya bisa kelihatan dengan cukup jelas. PAGI HARI Saya baru terbangun setelah kereta bertolak dari Tasikmalaya. Saya juga bisa merasakan kalau masinis menambah tenaga dan ngebut begitu meninggalkan Tasikalaya karena tanjakannya yang agak berat. Saya kurang bisa menikmati pemandangan karena posisi duduk saya yang di sebelah kiri gerbong, sehingga mayoritas pemandangannya adalah tebing. Di Cipeundeuy, kereta (seperti biasa) berhenti untuk pemeriksaan rem. Sayapun juga menyempatkan diri untuk memotret seluruh rangkaian KA dari depan. Tumben baru kali ini saya bisa memotret seluruh rangkaian KA dari luar. Dan baru kali ini juga saya bisa memotret KA Turangga di Cipeundeuy, walaupun cahayanya agak jelek. ![]() Tapi yang saya sayangkan adalah para pengemis ciliknya tampaknya mulai beraksi kembali... ![]() Selepas Cipeundeuy pemandangan terlihat biasa-biasa saja. Tak banyak yang istimewa, kalaupun yang agak istimewa adalah pemandangan semburan uap panas dari kawah Kamojang, yang terlihat cukup jelas di Cicalengka. ![]() Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya KA Turangga sampai ke stasiun Bandung pukul 7.36 pagi. KETINGGALAN! Tapi ceritanya tak berhenti sampai di situ. Sesampainya kembali ke rumah di Bandung, saya baru sadar kalau barang saya ada yang ketinggalan! Yaitu buku Asian Style Hotel dan majalah Combat Aircraft yang saya letakkan di tempat majalah di belakang kursi depan. Sayapun langsung cepat-cepat kembali ke stasiun dan berusaha mencari majalah saya kembali di stasiun. Sayangnya, usaha saya sia-sia. Walaupun saya mencari ke dalam gerbong, bertanya ke petugas restorasi, kebersihan, portir, petugas PT KA, kepala stasiun, bahkan pak Kahumas! Semuanya sia-sia saja. Dan akhirnya saya kembali ke rumah dengan tangan hampa... Berdasarkan pengalaman saya menggunakan dua transportasi yang berbeda tersebut, maka saya membuat penilaian tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing moda transportasi tersebut. Penilaian saya usahakan seobyektif mungkin, walaupun pengalaman saya (seperti nyaris kehilangan tas di pesawat atau kehilangan buku di kereta) juga sebenarnya mempengaruhi penilaian saya. Rating: ***** Bagus sekali. **** Baik. *** Cukup. ** Kurang. * Jelek. KECEPATAN: Pesawat : ***** Kereta: ** KENYAMANAN: Pesawat : *** Kereta : **** AKOMODASI (Fitur kenyamana kabin). Pesawat: * Kereta : *** TIKET (Harga berbanding nilai). Pesawat: *** Kereta : *** DESAIN INTERIOR: Pesawat: *** Kereta: *** KEAMANAN (Termasuk keamanan barang): Pesawat : *** Kereta : * KETEPATAN WAKTU: Pesawat: **** Kereta: *** PEMANDANGAN (Penilaian saat siang hari): Pesawat: ***** Kereta: ***** PRAMUGARI: Pesawat: ** Kereta: *** PELAYANAN (Pelayanan diatas): Pesawat: *** Kereta: ** MAKANAN (Yang diberikan diatas): Pesawat: *** Kereta: * Saya tidak bisa memungkiri fakta bahwa kejadian yang menimpa barang bawaan saya mempengaruhi penilaia di kategori “KEAMANANâ€Â. Pesawat lebih unggul karena barang saya yang (sempat) hilang diurusi oleh petugas. Tapi kejadian tersebut benar-benar mempengaruhi penilaian saya dari yang tadinya 5 bintang menjadi 3 bintang. Kereta api awalnya saya beri 3 bintang, namun karena barang saya yang hilang tak pernah kembali, akhirnya jadi 1 bintang. Malah mungkin kalau 0 saja... Dan fakta bahwa ruang kaki yang lebih luas serta kursi yang lebih besar membuat kereta api di kategori “KENYAMANAN†lebih unggul dari pesawat, dan sebenarnya itu wajib untuk perjalanan diatas 2 jam. Tapi seandainya lantainya berkarpet (dan pengaturan AC lebih baik), mungkin kereta bisa dapat 5 bintang. Penilaian untuk kategori “PRAMUGARI†murni berdasarkan apa yang saya lihat. Memang sejauh yang saya tahu, pramugari Merpati jarang ada yang cakep dan ramah begitu juga di KA Turangga. ![]() Berdasarkan penilaian yang diberikan saya diatas (bukan pendapat pribadi semata), manakah menurut anda yang lebih baik?
16-12-2009, 12:02 PM
KETINGGALAN!
Tapi ceritanya tak berhenti sampai di situ. Sesampainya kembali ke rumah di Bandung, saya baru sadar kalau barang saya ada yang ketinggalan! Yaitu buku Asian Style Hotel dan majalah Combat Aircraft yang saya letakkan di tempat majalah di belakang kursi depan. Sayapun langsung cepat-cepat kembali ke stasiun dan berusaha mencari majalah saya kembali di stasiun. Sayangnya, usaha saya sia-sia. Walaupun saya mencari ke dalam gerbong, bertanya ke petugas restorasi, kebersihan, portir, petugas PT KA, kepala stasiun, bahkan pak Kahumas! Semuanya sia-sia saja. Dan akhirnya saya kembali ke rumah dengan tangan hampa... [/quote] iya mas bagus sayah baca inpoh ini di salah satu koran bandung...! |