Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Eks Jembatan KA ke Trenggalek
#11
(17-05-2009, 12:49 AM)dytto_argo Wrote: Wah, baru denger ada jalur ka ke Trenggalek, rutenya dari Trenggalek kemana tuh?

masih belum jelas bro...
masih dalam penyelidikan lebih lanjut
Reply
#12
salam Argo Bromo Anggrek S35

nama gw Joe RF DAOP 7 Tulungagung
hp: 085234386200

Eks; jalur tulungagung-ternggalek
* Selatan stasiun kira2 250 m ada wesel cabang lurus k selatan samapai beji bolok kanan 10 derajat lurus sampai pasar burung beji.
* Rel KA motong Jalan raya ke barat menuju boyolangu kira2 dai pasar burung 2km belok k kiri 10 derajat menuju ke selatan lurus sampai boyolangu.

hanya itu yang saya tahu
Reply
#13
(23-04-2009, 03:21 PM)masboleng Wrote: tdi ga sengaja ketemu di flickr
ada yg mau mblusuk mencari tahu bekas2 jalurnya...

Eks KA bridge ke Trenggalek

[Image: 3184988156_099f134fa5.jpg?v=0]
Ini di 200 meter selatan setasiun Tulungagung, itu jembatannya asli bekas KA

yg punya potho pinjem ya....


Moderator Note : Judul Dirubah Ke Bahasa Indonesia

Mas, bekas rel di jembatan ini "spoor sempit" atau "spoor normal"....? Fyi, pada sejumlah kesempatan blusukan di Malang, saya menemukan jembatan yang mirip foto itu dan ternyata bukan jembatan KA maupun trem, melainkan lori tebu....
Namun, saya juga pernah dengar bahwa jalur TA-Nggalek dibuka tahun 1920an. Saya jadi makin penasaran dengan jalur ini.


Salam,
Reply
#14
belanda pada jaman dulu jarang banget membuat jembatan lori dengan desain baja penuh alis belanda dulu membuat jembatan lori hanya selebar rel.
tapi kalau untuk jembatan kereta belanda jarang mengambil resiko, maka kebanyakan ketika belanda berjaya mereka membuat jembatan kereta api dengan desain penuh sekaligus memperhatikan tingkat keamanan karena fungsi utama dari kereta api jaman belanda adalah untuk mobilitas pasukan.
Reply
#15
(21-05-2009, 08:55 AM)masboleng Wrote: belanda pada jaman dulu jarang banget membuat jembatan lori dengan desain baja penuh alis belanda dulu membuat jembatan lori hanya selebar rel.
tapi kalau untuk jembatan kereta belanda jarang mengambil resiko, maka kebanyakan ketika belanda berjaya mereka membuat jembatan kereta api dengan desain penuh sekaligus memperhatikan tingkat keamanan karena fungsi utama dari kereta api jaman belanda adalah untuk mobilitas pasukan.

Mas Moderator, mohon maaf dan mohon ijin untuk sedikit out of topic. Saya bermaksud memberikan sedikit gambaran/ referensi berkaitan dengan jembatan di Trenggalek.

Sampai saat ini saya menemukan beberapa jembatan lori yang tidak sekedar selebar rel.

Jalur lori PG Kebonagung Malang memiliki jembatan serupa dengan foto di atas di derah Krebet Senggrong, Malang. Masih kokoh bekasnya namun rel tidak ada lagi.

PG Kebonagung juga memiliki jembatan lori sepanjang lebih kurang 100 M di daerah Krebet Senggrong juga. Jembatan ini disangga tiang-tiang baja yang sampai sekarang masih kokoh. jembatan yang sekarang dikenal sebagai jembatan Sukoarjo ini sekarang dipergunakan sebagai jembatan umum dan sudah diaspal.Kendaraan roda empat bisa melintasi di jembatan ini.

Satu lagi yang pernah dibangun PG Kebonagung dan juga dipergunakan sebagai jembatan umum pada saat ini adalah Jembatan Balak Bumiayu di dekat Lowokdoro, Malang. Jembatan ini juga bisa dilintasi kendaraan roda empat.

Satu jembatan lori yang lumayan terkenal di kalangan railfan manca negara dan lebarnya juga lumayan adalah jembatan milik PG Purwodadi di Madiun.

Saya memiliki semua foto jembatan tersebut, namun belum sempat saya resize karena ukurannya terlalu besar untuk diupload.

Salam,
Reply
#16
nah, jadi itu jembatan apa gerangan? sepur atau lori? Bingung

usul dikit. kenapa tidak tanya sesepuh desa yang ada dilokasi? biasanya mbah2 kita banyak yang tahu banyak tentang sejarah kereta jaman dulu.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#17
(21-05-2009, 10:08 PM)Toto Wrote:
(21-05-2009, 08:55 AM)masboleng Wrote: belanda pada jaman dulu jarang banget membuat jembatan lori dengan desain baja penuh alis belanda dulu membuat jembatan lori hanya selebar rel.
tapi kalau untuk jembatan kereta belanda jarang mengambil resiko, maka kebanyakan ketika belanda berjaya mereka membuat jembatan kereta api dengan desain penuh sekaligus memperhatikan tingkat keamanan karena fungsi utama dari kereta api jaman belanda adalah untuk mobilitas pasukan.

Mas Moderator, mohon maaf dan mohon ijin untuk sedikit out of topic. Saya bermaksud memberikan sedikit gambaran/ referensi berkaitan dengan jembatan di Trenggalek.

Sampai saat ini saya menemukan beberapa jembatan lori yang tidak sekedar selebar rel.

Jalur lori PG Kebonagung Malang memiliki jembatan serupa dengan foto di atas di derah Krebet Senggrong, Malang. Masih kokoh bekasnya namun rel tidak ada lagi.

PG Kebonagung juga memiliki jembatan lori sepanjang lebih kurang 100 M di daerah Krebet Senggrong juga. Jembatan ini disangga tiang-tiang baja yang sampai sekarang masih kokoh. jembatan yang sekarang dikenal sebagai jembatan Sukoarjo ini sekarang dipergunakan sebagai jembatan umum dan sudah diaspal.Kendaraan roda empat bisa melintasi di jembatan ini.

Satu lagi yang pernah dibangun PG Kebonagung dan juga dipergunakan sebagai jembatan umum pada saat ini adalah Jembatan Balak Bumiayu di dekat Lowokdoro, Malang. Jembatan ini juga bisa dilintasi kendaraan roda empat.

Satu jembatan lori yang lumayan terkenal di kalangan railfan manca negara dan lebarnya juga lumayan adalah jembatan milik PG Purwodadi di Madiun.

Saya memiliki semua foto jembatan tersebut, namun belum sempat saya resize karena ukurannya terlalu besar untuk diupload.

Salam,

terima kasih atas masukannya... itu di atas hanya sekedar gambaran saya saja... sebab 60% jembatan lori jaman belanda yg saya ketahui adalah seperti itu.. dan itupun hanya ada di jembatan yg panjang atau jembatan kali besar yg mana panjang jembatan adalah +7M dan untuk -7M 60% kebanyakan jembatan lori yg saya temui hanya 2 buah baja membujur selebar rel... klo untuk kereta api... 70% jika panjang jembatan -7M adalah full baja dengan penguat di bagian bawahnya... (studi saya ini berdasarkan pengamatan saya dulu di daerah ponorogo dan madiun)
Reply
#18
Betul sebaiknya tanya langsung ke sesepuh sekitar daerah tersebut jadi lebih gamblang ...
Tp klo menurug sy mungkin itu rel sepur gedi bukan lori ...
bab posisiny bercabang dari arah stasiun Tulungagung...
hehehe .. makin rame neh ... selamat menebak deh ....

waduh ... Upload gambar gimana ya ... makasih banyak sebelumnya .. :-)
Reply
#19
(25-05-2009, 12:32 PM)antaryxa Wrote: Betul sebaiknya tanya langsung ke sesepuh sekitar daerah tersebut jadi lebih gamblang ...
Tp klo menurug sy mungkin itu rel sepur gedi bukan lori ...
bab posisiny bercabang dari arah stasiun Tulungagung...
hehehe .. makin rame neh ... selamat menebak deh ....

waduh ... Upload gambar gimana ya ... makasih banyak sebelumnya .. :-)

Sebenarnya jalur Tulungagung-Trenggalek memang ada, bahkan banyak tercantum di peta-peta tahun 1960an dan sebelumnya. Kalau lihat di peta-peta untuk sekolah (1970an dan sesudahnya) sudah tidak ada. Dua peta DKA tahun 1954 dan peta Belanda tahun 1930an masih mencantumkan jalur ke Trenggalek, bahkan terus ke barat. Cocok dengan cerita orang tua disana tentang usaha Belanda meneruskannya ke Ponorogo namun gagal. (lihat thread tentang jalur-jalur mati di Jawa)

[Image: 4860986383_7d35fd903e_b.jpg]
Reply
#20
(10-06-2009, 05:33 AM)Penjelajah Wrote:
(25-05-2009, 12:32 PM)antaryxa Wrote: Betul sebaiknya tanya langsung ke sesepuh sekitar daerah tersebut jadi lebih gamblang ...
Tp klo menurug sy mungkin itu rel sepur gedi bukan lori ...
bab posisiny bercabang dari arah stasiun Tulungagung...
hehehe .. makin rame neh ... selamat menebak deh ....

waduh ... Upload gambar gimana ya ... makasih banyak sebelumnya .. :-)

Sebenarnya jalur Tulungagung-Trenggalek memang ada, bahkan banyak tercantum di peta-peta tahun 1960an dan sebelumnya. Kalau lihat di peta-peta untuk sekolah (1970an dan sesudahnya) sudah tidak ada. Dua peta DKA tahun 1954 dan peta Belanda tahun 1930an masih mencantumkan jalur ke Trenggalek, bahkan terus ke barat. Cocok dengan cerita orang tua disana tentang usaha Belanda meneruskannya ke Ponorogo namun gagal. (lihat thread tentang jalur-jalur mati di Jawa)

minggu kemaren pulang ke sby.pas ada acara di tv one tentang seorang penggagas "walk to work" di jakarta yang berjalan kaki dari kalimalang hingga kemang untuk bekerja tiap harinya.lah kebetulan ayahanda tercinta menimpali cerita,dulu mbah kung di Nggalek juga pernah jalan kaki dari Trenggalek ke Kediri dengan Menyusuri jalur Rel KA dari Trenggalek-Tulungagung hingga Kediri supaya tidak keblasuk alias kesasar alias tersesat.jadi mbah kung aye pernah jalan tuh menyusuri rel trenggalek sampai kediri.set dah hebat juga ya grandpaku Ngiler...(sory OOT dikit.)

pesan yang saya tangkap dari cerita bokap: wah emang ternyata jalur KA trenggalek-tulungagung itu memang pernah ada tapi sudah keburu mati sebelum kita-kita lahir....Sedih....
####My online hours : Saturday PM - Sunday AM/PM####
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)