Coba anda naik kereta api 10-30 tahun yang lalu. Terus bandingkan dengan yang sekarang.
Saya yakin 6 dari 10 orang akan berkata kalau naik kereta api di jaman dulu lebih enak. Dan pasti lebih enak dari beberapa segi yang akan diargumentasikan dari mereka yang menganggap itu benar.
Dari segi kecepatan so-pasti dong. Dulu saja namanya KA ekonomi jalannya ngebut. Apalagi KA ekspress, sudah pasti jadi raja.
Dari segi keamanan, dulu aja naik KA ekonomi rasanya senyaman naik antar jemputan sekolahan. Naik KA bisnis rasanya seperti naik mobil colt paman yang baru. Apalagi naik KA eksekutif! Wah, seperti di pesawat. Apalagi ada KA tidur.
Dari segi makanan, mending makan diatas KA daripada di warung karena kualitasnya lebih terjamin, serta porsinya yang lebih mendukung. Itupun sudah termasuk harga tiket yah.
Dari segi kenyamanan, wah pesawat kalah kali. Suara bising nyaris nggak kedengar. Insulasi tokcer, karena lantainya dikarpet. Penerangan tidak silau, karena lampunya disusun rapi. AC juga OK, jadi kontras dengan panasnya cuaca luar di siang hari.
Dan lain sebagainya....tetapi sayangnya, itu dulu.
Sekarang ini, kalau anda tidak bisa menyewa KA Nusantara dan kawan-kawan, kemungkinan besar kalau anda naik KA eksekutif, rasanya seperti naik bus ekonomi AC yang berjalan diatas rel.
Ke depan, bisa saja itu yang benar-benar anda rasakan jika anda naik KA eksekutif di tanah air.
Kenapa yang saya bidik KA eksekutif? Lha kalau yang kelas yang diatas jelek, apalagi kelas bawahnya!
Memang saya sudah melihat pasang surut inovasi di KA eksekutif. Dari berbagai segi. Tetapi sayangnya, dalam lima tahun belakangan (dan mungkin lima tahun ke depan) inovasi yang saya lihat malah berbau kemunduran.
Mungkin penghilangan TV dari KA kombinasi seperti Parahyangan mungkin bisa masuk kategori ini. Tetapi yang pertama saya perhatikan adalah pennggantian karpet dengan vinyl di lantai KA eksekutif.
Tadinya saya juga tidak begitu menggubris penggantian ini, sampai saya perhatikan kalau nuansa interiornya terlihat agak murahan. Tak mewah seperti halnya sebuah KA eksekutif.
Kalau itu kurang, semenjak penggantian ke lantai baru ini, AC itu hawanya jadi menggigit sekali dinginnya. Dan kalau agak loyo, justru panasnya yang dominan. Suara interior juga bising sekali jika dibandingkan dengan dulu.
Bahkan kalau itu kurang, ternyata lantai vinyl itu sangat mudah terbakar. Dan itu dibuktikan dengan terbakarnya gerbong K1-02503 pada tahun 2007 silam di Cisomang.
Pernah saya utarakan masalah ini dengan seorang kawan saya yang pejabat teknik PT KA, dia berdalih “Lantai vinyl itu lebih mudah perawatan dan pembersihannya. Selain itu dia lebih awet.†Tetapi saya lalu berkata “Tetapi pak banyak yang mengeluhkan keberadaannya karena kereta menjadi lebih tidak nyaman.†Diapun kehabisan kata-kata...
Ucapannya seperti membuktikan kalau keberadaan vinyl ini lebih agar urusan perawatan bisa lebih diabaikan.
Warna ombak abu-abu yang ada di KA Argo dan satwa itu asli jelek. Entah siapa yang punya ide seperti itu, sampai-sampai saya juluki warna itu sebagai “Kapal perang.â€Â
Kalau untuk KA Argo, transisi dari warna sebelumnya mungkin tidak begitu berpengaruh karena nuansanya sama saja. Tetapi untuk KA satwa, kelihatan jelek sekali jika dibandingkan dengan warna putih strip biru tosca.
Saya cuman berharap semoga saja ada pejabat PT KA yang mau mendengarkan hal-hal seperti ini. Ini bukan rengekan, tetapi memang suara dari penumpang yang menginginkan pelayanan yang baik dari tiket yang mereka bayarkan.
Saya yakin 6 dari 10 orang akan berkata kalau naik kereta api di jaman dulu lebih enak. Dan pasti lebih enak dari beberapa segi yang akan diargumentasikan dari mereka yang menganggap itu benar.
Dari segi kecepatan so-pasti dong. Dulu saja namanya KA ekonomi jalannya ngebut. Apalagi KA ekspress, sudah pasti jadi raja.
Dari segi keamanan, dulu aja naik KA ekonomi rasanya senyaman naik antar jemputan sekolahan. Naik KA bisnis rasanya seperti naik mobil colt paman yang baru. Apalagi naik KA eksekutif! Wah, seperti di pesawat. Apalagi ada KA tidur.
Dari segi makanan, mending makan diatas KA daripada di warung karena kualitasnya lebih terjamin, serta porsinya yang lebih mendukung. Itupun sudah termasuk harga tiket yah.
Dari segi kenyamanan, wah pesawat kalah kali. Suara bising nyaris nggak kedengar. Insulasi tokcer, karena lantainya dikarpet. Penerangan tidak silau, karena lampunya disusun rapi. AC juga OK, jadi kontras dengan panasnya cuaca luar di siang hari.
Dan lain sebagainya....tetapi sayangnya, itu dulu.
Sekarang ini, kalau anda tidak bisa menyewa KA Nusantara dan kawan-kawan, kemungkinan besar kalau anda naik KA eksekutif, rasanya seperti naik bus ekonomi AC yang berjalan diatas rel.
Ke depan, bisa saja itu yang benar-benar anda rasakan jika anda naik KA eksekutif di tanah air.
Kenapa yang saya bidik KA eksekutif? Lha kalau yang kelas yang diatas jelek, apalagi kelas bawahnya!
Memang saya sudah melihat pasang surut inovasi di KA eksekutif. Dari berbagai segi. Tetapi sayangnya, dalam lima tahun belakangan (dan mungkin lima tahun ke depan) inovasi yang saya lihat malah berbau kemunduran.
Mungkin penghilangan TV dari KA kombinasi seperti Parahyangan mungkin bisa masuk kategori ini. Tetapi yang pertama saya perhatikan adalah pennggantian karpet dengan vinyl di lantai KA eksekutif.
Tadinya saya juga tidak begitu menggubris penggantian ini, sampai saya perhatikan kalau nuansa interiornya terlihat agak murahan. Tak mewah seperti halnya sebuah KA eksekutif.
Kalau itu kurang, semenjak penggantian ke lantai baru ini, AC itu hawanya jadi menggigit sekali dinginnya. Dan kalau agak loyo, justru panasnya yang dominan. Suara interior juga bising sekali jika dibandingkan dengan dulu.
Bahkan kalau itu kurang, ternyata lantai vinyl itu sangat mudah terbakar. Dan itu dibuktikan dengan terbakarnya gerbong K1-02503 pada tahun 2007 silam di Cisomang.
Pernah saya utarakan masalah ini dengan seorang kawan saya yang pejabat teknik PT KA, dia berdalih “Lantai vinyl itu lebih mudah perawatan dan pembersihannya. Selain itu dia lebih awet.†Tetapi saya lalu berkata “Tetapi pak banyak yang mengeluhkan keberadaannya karena kereta menjadi lebih tidak nyaman.†Diapun kehabisan kata-kata...
Ucapannya seperti membuktikan kalau keberadaan vinyl ini lebih agar urusan perawatan bisa lebih diabaikan.
Warna ombak abu-abu yang ada di KA Argo dan satwa itu asli jelek. Entah siapa yang punya ide seperti itu, sampai-sampai saya juluki warna itu sebagai “Kapal perang.â€Â
Kalau untuk KA Argo, transisi dari warna sebelumnya mungkin tidak begitu berpengaruh karena nuansanya sama saja. Tetapi untuk KA satwa, kelihatan jelek sekali jika dibandingkan dengan warna putih strip biru tosca.
Saya cuman berharap semoga saja ada pejabat PT KA yang mau mendengarkan hal-hal seperti ini. Ini bukan rengekan, tetapi memang suara dari penumpang yang menginginkan pelayanan yang baik dari tiket yang mereka bayarkan.





![[Image: 10p0h7r.jpg]](http://i37.tinypic.com/10p0h7r.jpg)

![[Image: 2euifjl.jpg]](http://i53.tinypic.com/2euifjl.jpg)
![[Image: 5147433576_a332603046.jpg]](http://farm5.staticflickr.com/4049/5147433576_a332603046.jpg)
,,wah2 itu hanya dari YK naiknya,, apalagi yang naik dari ujung ke ujung,, pasi
..dalm hati sy pun kapok perjalanan malam pake turangga, meningan naik K2 aja yang berangkat didepannya (Mutsel/Lodaya)..