Posts: 2,186
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
34
(10-07-2013, 04:07 PM)Joe_cn Wrote: membaca kalimat itu, sejenak saya flash back ke beberapa tahun yg lalu, ketika Parahyangan dan Argo Gede sudah koma malah sudah hampir mati mereka, ketika adanya tol Cipularang dan banyaknya moda transportasi seperti travel yg terus bersaing untuk mematikan Kereta khusus jakarta ke bandung dan sebaliknya itu...
Tapi apa?
Apakah mereka mati?
Ternyata tidak....
Bagimana masyarakat pecinta KA yg selalu menggunakan Argo gede dan PArahyangan(Bukan RF), dan termasuk para Pecinta KA(RF) terang2an menolak dengan tegas agar kedua KA itu tidak dimatikan, akhirnya setelah perjuangan yg lumayan panjang akhirnya KA ini melebur menjadi 1 menjadi ARGO PARAHYANGAN yang sekarang kita kenal....
jadi kalo masyarakat memang cinta dengan transportasi itu, apapun bisa mereka lakukan agar si transportasi itu tidak sampe mati...
Lha terus bagaimana dengan transportasi yang satu ini saya sebut aja bus, koq sepertinya ketika mereka sedang sepi penumpang, hampir mati karena kenaikan BBM, koq yo gada yang bela ya?malah bos organda yang koar2...
bisa kita simpulkan masyarakat ga minta harga murah koq untuk suatu moda transportasi, mereka hanya minta layanan yang PANTAS dengan apa yang mereka bayar, itu saja....
Untuk beberapa kalangan, mungkin mereka maunya "pokoknya keangkut". Tapi semakin ke sini, saya lihat semakin banyak juga kok yang menuntut kenyamanan, kecepatan, ketepatwaktuan, dan ke-an ke-an yang lain daripada sekedar ke-terangkut-an. Jadi masih banyak yang rela rogoh kocek dalam-dalam buat naik sepur padahal ada pilihan yang lebih murah via roda karet. Saya udah mengalami sendiri dan mendengar sendiri kok, hahaha. Dan sering saya katakan, saya rela bayar Brantas bahkan hingga Rp 100.000 asalkan bisa mengakomodasi keperluan saya mondar-mandir dengan tanggal yang tidak dapat dipastikan, dan mendapatkan kenyamanan dan ketepatwaktuan yang relatif tinggi. Rekan seperjalanan saya dari berbagai kalangan dan usia di dalam Brantas juga rata-rata berpemikiran sama, sekarang sepur relatif lebih enak dan nyaman walaupun memang harus merogoh kocek sedikit lebih dalam. Tapi mereka rela melakukannya.
Memang sepertinya untuk beberapa jenis KA Ekonomi seperti KA Ekonomi Jarak jauh harus sedikit diubah mindset masyarakatnya dari Kendaraan murah meriah, merakyat dan pokok'e keangkut menjadi kendaraan yang nyaman. Kalau KA-KA Lokal dan komuter tentu saja masih boleh dan memang seharusnya tetap berprinsip pokok'e keangkut
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
Posts: 6,717
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
46
(10-07-2013, 05:22 PM)Hungry Soul Wrote: Untuk beberapa kalangan, mungkin mereka maunya "pokoknya keangkut". Tapi semakin ke sini, saya lihat semakin banyak juga kok yang menuntut kenyamanan, kecepatan, ketepatwaktuan, dan ke-an ke-an yang lain daripada sekedar ke-terangkut-an. Jadi masih banyak yang rela rogoh kocek dalam-dalam buat naik sepur padahal ada pilihan yang lebih murah via roda karet. Saya udah mengalami sendiri dan mendengar sendiri kok, hahaha. Dan sering saya katakan, saya rela bayar Brantas bahkan hingga Rp 100.000 asalkan bisa mengakomodasi keperluan saya mondar-mandir dengan tanggal yang tidak dapat dipastikan, dan mendapatkan kenyamanan dan ketepatwaktuan yang relatif tinggi. Rekan seperjalanan saya dari berbagai kalangan dan usia di dalam Brantas juga rata-rata berpemikiran sama, sekarang sepur relatif lebih enak dan nyaman walaupun memang harus merogoh kocek sedikit lebih dalam. Tapi mereka rela melakukannya. 
Memang sepertinya untuk beberapa jenis KA Ekonomi seperti KA Ekonomi Jarak jauh harus sedikit diubah mindset masyarakatnya dari Kendaraan murah meriah, merakyat dan pokok'e keangkut menjadi kendaraan yang nyaman. Kalau KA-KA Lokal dan komuter tentu saja masih boleh dan memang seharusnya tetap berprinsip pokok'e keangkut 
Iya neh golongan "pokoknya keangkut", dalam 1, 2 taun ni mulai agak punah, walaw sempat dilestarikan Oleh PT spoor dalam 4-5 tahun yang lalu.... 
Tahun lalu masih banyak mereka2 yang masih ngantri di depan stasiun mengharapkan mereka dapat keangkut apapun caranya, entah apa yang akan terjadi tahun ini, apakah sudah jauh lebih tertib, apakah akan ada lagi orang2 yan masih ngantri tiket di depan stasiun mengharapkan terangkut dengan cara apapun....
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN
Posts: 5,045
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
14
(10-07-2013, 05:48 PM)Joe_cn Wrote: (10-07-2013, 05:22 PM)Hungry Soul Wrote: Untuk beberapa kalangan, mungkin mereka maunya "pokoknya keangkut". Tapi semakin ke sini, saya lihat semakin banyak juga kok yang menuntut kenyamanan, kecepatan, ketepatwaktuan, dan ke-an ke-an yang lain daripada sekedar ke-terangkut-an. Jadi masih banyak yang rela rogoh kocek dalam-dalam buat naik sepur padahal ada pilihan yang lebih murah via roda karet. Saya udah mengalami sendiri dan mendengar sendiri kok, hahaha. Dan sering saya katakan, saya rela bayar Brantas bahkan hingga Rp 100.000 asalkan bisa mengakomodasi keperluan saya mondar-mandir dengan tanggal yang tidak dapat dipastikan, dan mendapatkan kenyamanan dan ketepatwaktuan yang relatif tinggi. Rekan seperjalanan saya dari berbagai kalangan dan usia di dalam Brantas juga rata-rata berpemikiran sama, sekarang sepur relatif lebih enak dan nyaman walaupun memang harus merogoh kocek sedikit lebih dalam. Tapi mereka rela melakukannya. 
Memang sepertinya untuk beberapa jenis KA Ekonomi seperti KA Ekonomi Jarak jauh harus sedikit diubah mindset masyarakatnya dari Kendaraan murah meriah, merakyat dan pokok'e keangkut menjadi kendaraan yang nyaman. Kalau KA-KA Lokal dan komuter tentu saja masih boleh dan memang seharusnya tetap berprinsip pokok'e keangkut 
Iya neh golongan "pokoknya keangkut", dalam 1, 2 taun ni mulai agak punah, walaw sempat dilestarikan Oleh PT spoor dalam 4-5 tahun yang lalu....
Tahun lalu masih banyak mereka2 yang masih ngantri di depan stasiun mengharapkan mereka dapat keangkut apapun caranya, entah apa yang akan terjadi tahun ini, apakah sudah jauh lebih tertib, apakah akan ada lagi orang2 yan masih ngantri tiket di depan stasiun mengharapkan terangkut dengan cara apapun....
Paling skrg antrian di stasiun loket pembelian tiket K3 ngga sebanyak dulu. Yang lebih banyak antriannya malah loket penukaran struk
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Posts: 181
Threads: 0
Joined: Jan 2011
Reputation:
0
(10-07-2013, 07:21 PM)CC-201-23 Wrote: (10-07-2013, 05:48 PM)Joe_cn Wrote: (10-07-2013, 05:22 PM)Hungry Soul Wrote: Untuk beberapa kalangan, mungkin mereka maunya "pokoknya keangkut". Tapi semakin ke sini, saya lihat semakin banyak juga kok yang menuntut kenyamanan, kecepatan, ketepatwaktuan, dan ke-an ke-an yang lain daripada sekedar ke-terangkut-an. Jadi masih banyak yang rela rogoh kocek dalam-dalam buat naik sepur padahal ada pilihan yang lebih murah via roda karet. Saya udah mengalami sendiri dan mendengar sendiri kok, hahaha. Dan sering saya katakan, saya rela bayar Brantas bahkan hingga Rp 100.000 asalkan bisa mengakomodasi keperluan saya mondar-mandir dengan tanggal yang tidak dapat dipastikan, dan mendapatkan kenyamanan dan ketepatwaktuan yang relatif tinggi. Rekan seperjalanan saya dari berbagai kalangan dan usia di dalam Brantas juga rata-rata berpemikiran sama, sekarang sepur relatif lebih enak dan nyaman walaupun memang harus merogoh kocek sedikit lebih dalam. Tapi mereka rela melakukannya. 
Memang sepertinya untuk beberapa jenis KA Ekonomi seperti KA Ekonomi Jarak jauh harus sedikit diubah mindset masyarakatnya dari Kendaraan murah meriah, merakyat dan pokok'e keangkut menjadi kendaraan yang nyaman. Kalau KA-KA Lokal dan komuter tentu saja masih boleh dan memang seharusnya tetap berprinsip pokok'e keangkut 
Iya neh golongan "pokoknya keangkut", dalam 1, 2 taun ni mulai agak punah, walaw sempat dilestarikan Oleh PT spoor dalam 4-5 tahun yang lalu....
Tahun lalu masih banyak mereka2 yang masih ngantri di depan stasiun mengharapkan mereka dapat keangkut apapun caranya, entah apa yang akan terjadi tahun ini, apakah sudah jauh lebih tertib, apakah akan ada lagi orang2 yan masih ngantri tiket di depan stasiun mengharapkan terangkut dengan cara apapun....
Paling skrg antrian di stasiun loket pembelian tiket K3 ngga sebanyak dulu. Yang lebih banyak antriannya malah loket penukaran struk 
bener om lokomotip, jaman skrg dah berubah.. yg kini sering kita saksikan adalah panjangnya antrian di loket penukaran struk. Entah kenapa, sekarang di loket PSE yang rame adalah di sisi loket penukaran struk. sedangkan di sisi loket pemesanan cenderung biasa2 aja.
msh inget jaman PJKA-ers ngantri tiket di THB ampe dibela2in nginep, dan pas jam 7 pagi lewat 8 menit diumumin kalo tiket udah ludes
START MER - FINISH BW KAPAN YA?
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
Posts: 2
Threads: 0
Joined: Jul 2013
Reputation:
0
11-07-2013, 05:11 AM
Walaupun masih newbie... minta ijin sharing
Ane kemarin dari malang ke JKT naik Majapahit.. 
Enaknya sekarang
- Online Ticketing ; bagi yg udah doyan nempel ama laptop-PC , ini fitur paling asoy , namun gara2 masih tahap awal , mungkin gak semua stasiun bisa di sikat pake online
- AC ; fitur simpel tpi kalo bwt jalan lama ni obat mujarab, bapak ane ampe molor kaga mau bangun gara2 adem... di list nya sih ni kreta ekonomi , tpi tiba2 ada AC di kereta , sesuatu banget klo mnurut bapak ane -_-" , dulu cuma modal 100rbu tapi ya sama  + takut copet, skarang udah gak sih, suka getayangan securitynya
Mungkin bagi yang merasa kurang berkenan, mohon dimaklumkan... trims
Posts: 2
Threads: 0
Joined: Jul 2013
Reputation:
0
11-07-2013, 05:11 AM
Walaupun masih newbie... minta ijin sharing
Ane kemarin dari malang ke JKT naik Majapahit.. 
Enaknya sekarang
- Online Ticketing ; bagi yg udah doyan nempel ama laptop-PC , ini fitur paling asoy , namun gara2 masih tahap awal , mungkin gak semua stasiun bisa di sikat pake online
- AC ; fitur simpel tpi kalo bwt jalan lama ni obat mujarab, bapak ane ampe molor kaga mau bangun gara2 adem... di list nya sih ni kreta ekonomi , tpi tiba2 ada AC di kereta , sesuatu banget klo mnurut bapak ane -_-" , dulu cuma modal 100rbu tapi ya sama  + takut copet, skarang udah gak sih, suka getayangan securitynya
Mungkin bagi yang merasa kurang berkenan, mohon dimaklumkan... trims
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(11-07-2013, 05:20 AM)ady_mcady Wrote: lho, setahu saya biaya penyusutan infrastruktur (id) ikut sama imo nya. dulu kalau tidak salah skemanya tac-(f(imo+id)). lha kalau sekarang malah ikut tac jadi begini dong skemanya: tac+id-f(imo). artinya pemerintah cuma keluar imo saja sementara depresiasi infrastrukturnya dibebankan ke operator. jelas membebani operator kalau begitu.
lho, kok gitu ya? ini skemanya mengikuti model siapakah? kalau lihat moda lain, memangnya kalau di airlines begitu juga? dimana penyusutan infrastruktur bandara yang tanggung operator2 burung besi?
terakhir, ada yang tahu besaran id ini berapa ya?
Wah, kalo pertanyaan2 tsb ditujukan kpd saya, saya malah nggak tau sama sekali tuch, Kang...
Kalo sampeyan belon sempat donlod aturan mainnya dari Kementrian Perhubungan, silakan menuju TKP. Kalo untuk besaran IMO klik INI dan besaran TAC klik INI.
Penurunan rumusnya mantep tenan...., saya aja blm paham.
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
^^^
hehehe. rumus kedua itu asumsi saya kok kang. jadi kalau terlalu "kreatif" ya harap maklum  monggo dikoreksi. tapi kalau yang pertama itu saya kutip dari tulisan pak harun al rasyid lubis sendiri di salah satu media beberapa tahun lalu (saya punya kliping beritanya sekitar tahun 2002). dan dulu itu skemanya tac=f*(id + imo) yang harus dibayar operator. f tergantung kebijakan pemerintah antara 0-1 dan pada waktu itu disepakati 0.88.
trims linknya. dan ternyata mirip2 skemanya dengan yang dulu tahun 2002 an, dengan asumsi nilai f=1, tac=id+imo. saya nggak ngerti antara tahun tersebut sampai saat ini ada perubahan skema atau tidak. tapi kalau melihat komentar pak taufik hidayat yang menyatakan komponen id memberatkan operator, maka saya ber asumsi, antara 2002-2013 ini komponen id tidak termasuk imo. bener ndak?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
|