Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dahlan Iskan Marahi Jonan
#21
Ya wajar Pak Jonan backgroundnya bukan dari PT. Sepoor. Wajar dianya mementingkan bisnis
Reply
#22
(18-03-2013, 08:35 PM)Nicodio Wrote: Ya wajar Pak Jonan backgroundnya bukan dari PT. Sepoor. Wajar dianya mementingkan bisnis

pak jon katanya akuntan ya? kalo bener pantes aja lah
masih menunggu ada K1/K2 Jakarta-TSM
K3 INKA juga boleh sih

twitter: @raihan__aulia
Reply
#23
(18-03-2013, 08:52 PM)raihanaulia Wrote:
(18-03-2013, 08:35 PM)Nicodio Wrote: Ya wajar Pak Jonan backgroundnya bukan dari PT. Sepoor. Wajar dianya mementingkan bisnis

pak jon katanya akuntan ya? kalo bener pantes aja lah

Sebelumnya "kalau tidak salah" bisa membawa citibank lebih baik. kemudian ditarik ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
#koreksi kalau salah ya
Reply
#24
mulai dari tahun 2011 saya sudah pindah ke lain hati yaitu argo mira relasi sby jogja ekonomi ac tarif murah tanpa menanti jam dan antri tiket.
Argo indonesia relasi sby smg ac ekonomi setiap jam ada tanpa harus antri di loket.
Kalau sby jakarta mending naik montor mabur.Maaf OOT
Reply
#25
(18-03-2013, 08:07 PM)megaloblast Wrote: Dulu dikritik, bilang tarip 7 ribu minta ac nyala, udah naek 9 ribu masih aja nganggep murah dan ga layak dipenuhi haknya penumpang. Gile lu jon Ngakak

FYI aja nih, prameks utk jarak 60KM(solo-jogja) tarifnya 10rb padahal NON AC.
yg AC tarifnya 20rb.

udah enak banget tuh sebenernya KRL jakarta bogor
Reply
#26
(18-03-2013, 09:09 PM)Nicodio Wrote:
(18-03-2013, 08:52 PM)raihanaulia Wrote:
(18-03-2013, 08:35 PM)Nicodio Wrote: Ya wajar Pak Jonan backgroundnya bukan dari PT. Sepoor. Wajar dianya mementingkan bisnis

pak jon katanya akuntan ya? kalo bener pantes aja lah

Sebelumnya "kalau tidak salah" bisa membawa citibank lebih baik. kemudian ditarik ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
#koreksi kalau salah ya

inilah karir panjang pak jonan :

- Chief Executive Officer PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Transportasi/Truk/Kereta Api industry

2009 – Present (4 years) Indonesia

The sole operator of railways in Indonesia

- Managing Director - Investment Banking Citi Public Company; 10,001+ employees; C; Jasa Keuangan industry

2006 – 2008 (2 years) Indonesia

- Chief Executive Officer PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) Privately Held; 51-200 employees; Perbankan Investasi industry

2001 – 2006 (5 years) Indonesia

A State-owned Financial Institution

- Director - Private Equity Citi Public Company; 10,001+ employees; C; Jasa Keuangan industry

1999 – 2001 (2 years) Indonesia


Pendidikan :
- Fletcher School of Law and Diplomacy Master of Arts (MA), International Relations and Affairs
2004 – 2005

- Harvard Kennedy School of Government Senior Managers in Government Program
2000 – 2000

- Columbia University - Columbia Business School Senior Executive Program
1999 – 1999

- Universitas Airlangga Doktorandus in Accountancy, School of Economics and Business
1982 – 1986

Sumber : linkedin
Lok Merah Biru Mutiara Timur Ada Sejak Tahun 1972
Reply
#27
(19-03-2013, 03:59 PM)maspramono Wrote:
(18-03-2013, 09:09 PM)Nicodio Wrote:
(18-03-2013, 08:52 PM)raihanaulia Wrote:
(18-03-2013, 08:35 PM)Nicodio Wrote: Ya wajar Pak Jonan backgroundnya bukan dari PT. Sepoor. Wajar dianya mementingkan bisnis

pak jon katanya akuntan ya? kalo bener pantes aja lah

Sebelumnya "kalau tidak salah" bisa membawa citibank lebih baik. kemudian ditarik ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
#koreksi kalau salah ya

inilah karir panjang pak jonan :

- Chief Executive Officer PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Transportasi/Truk/Kereta Api industry

2009 – Present (4 years) Indonesia

The sole operator of railways in Indonesia

- Managing Director - Investment Banking Citi Public Company; 10,001+ employees; C; Jasa Keuangan industry

2006 – 2008 (2 years) Indonesia

- Chief Executive Officer PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) Privately Held; 51-200 employees; Perbankan Investasi industry

2001 – 2006 (5 years) Indonesia

A State-owned Financial Institution

- Director - Private Equity Citi Public Company; 10,001+ employees; C; Jasa Keuangan industry

1999 – 2001 (2 years) Indonesia


Pendidikan :
- Fletcher School of Law and Diplomacy Master of Arts (MA), International Relations and Affairs
2004 – 2005

- Harvard Kennedy School of Government Senior Managers in Government Program
2000 – 2000

- Columbia University - Columbia Business School Senior Executive Program
1999 – 1999

- Universitas Airlangga Doktorandus in Accountancy, School of Economics and Business
1982 – 1986

Sumber : linkedin

ooh, begitu ya.. banyak bergelut di dunia bisnis... pantes aja dia begitu.makasih atas infonya mas/bro...
masih menunggu ada K1/K2 Jakarta-TSM
K3 INKA juga boleh sih

twitter: @raihan__aulia
Reply
#28
(19-03-2013, 01:52 PM)argolawu69 Wrote:
(18-03-2013, 08:07 PM)megaloblast Wrote: Dulu dikritik, bilang tarip 7 ribu minta ac nyala, udah naek 9 ribu masih aja nganggep murah dan ga layak dipenuhi haknya penumpang. Gile lu jon Ngakak

FYI aja nih, prameks utk jarak 60KM(solo-jogja) tarifnya 10rb padahal NON AC.
yg AC tarifnya 20rb.

udah enak banget tuh sebenernya KRL jakarta bogor

Ya, emank bner kalo bilang soal penumpang DAOP 6 sampe KTA lebi legowo & 'benar' dlm sikap sbg konsumen, skalipun blakangan mulai pengap soal konsistensi pelayanan dg harganya & mreka mulai membelot dg cara langsung action carter bus hasil patungan sebrapa penumpang yg sama2 mreka temui teronggok di sta hari itu, ga cuma demonya doank.

Tp kondisinya di DAOP 1 ga bisa disamain jg ma DAOP 6 yg tingkat populasi & laju masyarakatnya ga sebesar DAOP 1, kalo masalah harga memank bener 9rb itu terlalu murah, bukan berarti jg si jon bisa semena2 menetapkan harga sampe lebi dr 500% harga skarang kan, itu namanya aji mumpung tp jg cari masalah kayak gw bilang sblomnya.
Ga cuma masalah ma dompet penumpang, tp jg masalah ma kemacetan, polusi & alam yg si jon bikin, cuma krn sikapnya dia itu (menurut gw bukannya nyablak, tp lebi slengean dlm melakukan perannya.

(19-03-2013, 04:32 PM)raihanaulia Wrote:
(19-03-2013, 03:59 PM)maspramono Wrote:
(18-03-2013, 09:09 PM)Nicodio Wrote:
(18-03-2013, 08:52 PM)raihanaulia Wrote:
(18-03-2013, 08:35 PM)Nicodio Wrote: Ya wajar Pak Jonan backgroundnya bukan dari PT. Sepoor. Wajar dianya mementingkan bisnis

pak jon katanya akuntan ya? kalo bener pantes aja lah

Sebelumnya "kalau tidak salah" bisa membawa citibank lebih baik. kemudian ditarik ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
#koreksi kalau salah ya

inilah karir panjang pak jonan :

- Chief Executive Officer PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Transportasi/Truk/Kereta Api industry

2009 – Present (4 years) Indonesia

The sole operator of railways in Indonesia

- Managing Director - Investment Banking Citi Public Company; 10,001+ employees; C; Jasa Keuangan industry

2006 – 2008 (2 years) Indonesia

- Chief Executive Officer PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) Privately Held; 51-200 employees; Perbankan Investasi industry

2001 – 2006 (5 years) Indonesia

A State-owned Financial Institution

- Director - Private Equity Citi Public Company; 10,001+ employees; C; Jasa Keuangan industry

1999 – 2001 (2 years) Indonesia


Pendidikan :
- Fletcher School of Law and Diplomacy Master of Arts (MA), International Relations and Affairs
2004 – 2005

- Harvard Kennedy School of Government Senior Managers in Government Program
2000 – 2000

- Columbia University - Columbia Business School Senior Executive Program
1999 – 1999

- Universitas Airlangga Doktorandus in Accountancy, School of Economics and Business
1982 – 1986

Sumber : linkedin

ooh, begitu ya.. banyak bergelut di dunia bisnis... pantes aja dia begitu.makasih atas infonya mas/bro...

Sorry ni yak,
Soal kemampuan dia sbnernya ga diragukan lah, management keuangan di tangan dia bagus. Knapa gw bilang bgini?
Krn kalo diatas adl sejarah & riwayat pendidikan + karir dia, sbaliknya gw mo bawa sejarah knapa dia masuk di dunia ulo wesi.
Sampe 2008 keungkap bahwa dirut yg sblomnya punya sejarah management yg buruk sampe kalo qta bisa liat list PLH yg terjadi taun 2005 akhir sampe 2008 semester pertama berapa panjangnya, skalipun tuslah & pelayanan dlm perjalanan masi lengkap, kondisi sta pun memank ga sdikit yg dikeluhkan waktu itu, termasuk terungkapnya kasus korupsi dirut sblomnya yg membawa direksi ke persidangan.
Dr kejadian itu baru muncullah si jon yg ditugaskan untuk membenahi management & keuangan operator yg rusak saat itu, terbukti emank di 2 taun pertama menurut R6 kruangan operator membaik, brikutnya sarana & pra sarana yg masuk preservasi bernasib lebi baik, tahap brikutnya bbrapa sta yg vital diperbaiki jg, pendataan manivest yg lebi mendetail, itu acungan jempol yg banyak.
Tp sayangnya, knapa stelah hal2 bagus itu si jon malah memberikan keputusan2 yg (sorry) bodoh.
Spt kenaikan harga yg ga wajar kalo dibanding dg tanpa adanya pelayanan ma skali slama perjalanan (diluar yg nempel sdg sarana macem ac, tv, dll), sterilisasi asongan tp jg mensteril kan sta dr sbagian kios2 yg jd kebutuhan penumpang, pembatalan harus sesuai jg dg ID untuk kejelasan manivest mengurangi calo tp malah dibuat ribet jg dg menunda pengembalian dana sampe antara H +30 sampe H+45, itu kan hal basic yg justru menyulitkan penumpang doank.
Mungkin jg itu yg buat dia bertahan sbg anak emas, tp kontra dg pendapat gw yg melihat sbenernya peran dia sudah habis sejak munculnya kebijakan beli tiket harus sesuai ID. seharusnya, dia ga usa bikin kebijakan macem2 lg sekarang & play save aja dg hasil karya dia, krn peran dia uda kelewatan skarang, bukan memperbaiki situasi malah membuatnya jd buruk kembali, dr peran memperbaiki jd peran orang rakus. Yg lebi diperlukan dlm direksi skarang adl orang yg bisa melakukan sesuatu soal pelayanan (tuslah, hiburan yg layak, informasi detail soal perjalanan, kemudahan untuk penumpang ekonomi rendah, keramahan & keprofesionalan SDM) & mendengar benar kritik, saran, serta suara dr pihak luar (sperti RF, orang2 dlm lingkup sekitar stasiun). Itu yg menurut gw dibutuhkan, jd ga cuma si jon yg seenak wetheng kluarin kebijakan.
Cuma opini dr realita yg masuk ke pikiran gw, diluar dr sikap si jon.
Reply
#29
(19-03-2013, 04:34 PM)Andrew_CN Wrote: Sorry ni yak,
Soal kemampuan dia sbnernya ga diragukan lah, management keuangan di tangan dia bagus. Knapa gw bilang bgini?
Krn kalo diatas adl sejarah & riwayat pendidikan + karir dia, sbaliknya gw mo bawa sejarah knapa dia masuk di dunia ulo wesi.
Sampe 2008 keungkap bahwa dirut yg sblomnya punya sejarah management yg buruk sampe kalo qta bisa liat list PLH yg terjadi taun 2005 akhir sampe 2008 semester pertama berapa panjangnya, skalipun tuslah & pelayanan dlm perjalanan masi lengkap, kondisi sta pun memank ga sdikit yg dikeluhkan waktu itu, termasuk terungkapnya kasus korupsi dirut sblomnya yg membawa direksi ke persidangan.
Dr kejadian itu baru muncullah si jon yg ditugaskan untuk membenahi management & keuangan operator yg rusak saat itu, terbukti emank di 2 taun pertama menurut R6 kruangan operator membaik, brikutnya sarana & pra sarana yg masuk preservasi bernasib lebi baik, tahap brikutnya bbrapa sta yg vital diperbaiki jg, pendataan manivest yg lebi mendetail, itu acungan jempol yg banyak.
Tp sayangnya, knapa stelah hal2 bagus itu si jon malah memberikan keputusan2 yg (sorry) bodoh.
Spt kenaikan harga yg ga wajar kalo dibanding dg tanpa adanya pelayanan ma skali slama perjalanan (diluar yg nempel sdg sarana macem ac, tv, dll), sterilisasi asongan tp jg mensteril kan sta dr sbagian kios2 yg jd kebutuhan penumpang, pembatalan harus sesuai jg dg ID untuk kejelasan manivest mengurangi calo tp malah dibuat ribet jg dg menunda pengembalian dana sampe antara H +30 sampe H+45, itu kan hal basic yg justru menyulitkan penumpang doank.
Mungkin jg itu yg buat dia bertahan sbg anak emas, tp kontra dg pendapat gw yg melihat sbenernya peran dia sudah habis sejak munculnya kebijakan beli tiket harus sesuai ID. seharusnya, dia ga usa bikin kebijakan macem2 lg sekarang & play save aja dg hasil karya dia, krn peran dia uda kelewatan skarang, bukan memperbaiki situasi malah membuatnya jd buruk kembali, dr peran memperbaiki jd peran orang rakus. Yg lebi diperlukan dlm direksi skarang adl orang yg bisa melakukan sesuatu soal pelayanan (tuslah, hiburan yg layak, informasi detail soal perjalanan, kemudahan untuk penumpang ekonomi rendah, keramahan & keprofesionalan SDM) & mendengar benar kritik, saran, serta suara dr pihak luar (sperti RF, orang2 dlm lingkup sekitar stasiun). Itu yg menurut gw dibutuhkan, jd ga cuma si jon yg seenak wetheng kluarin kebijakan.
Cuma opini dr realita yg masuk ke pikiran gw, diluar dr sikap si jon.

ane setuju juga sih sama ente... perlu diakui sarana prasarananya emang lebih bagus dibanding sebelumnya... tapi soal tiket itu loh... yang tempo hari dinaekin jadi 8000 ya kalo ga salah? udah ribut, ini minta naekin lagi... makin ke sini makin banyak perbuatan super jenius yang dia perbuat...

btw, mau nanya sebenernya komuterlen pengelolaannya langsung sama si jojon bukan sih?
masih menunggu ada K1/K2 Jakarta-TSM
K3 INKA juga boleh sih

twitter: @raihan__aulia
Reply
#30
(19-03-2013, 01:52 PM)argolawu69 Wrote:
(18-03-2013, 08:07 PM)megaloblast Wrote: Dulu dikritik, bilang tarip 7 ribu minta ac nyala, udah naek 9 ribu masih aja nganggep murah dan ga layak dipenuhi haknya penumpang. Gile lu jon Ngakak

FYI aja nih, prameks utk jarak 60KM(solo-jogja) tarifnya 10rb padahal NON AC.
yg AC tarifnya 20rb.

udah enak banget tuh sebenernya KRL jakarta bogor

Lah? Masih ada aja yg bandingin CL sama Prameks. Prameks itu itungannya EXPRESS mas ga tiap stasiun berhenti. Jarak antar tasiun juga jauh2, traffic ga sepadet KRL yg udah berhenti tiap stasiun, jarak antar tasiun deket pula. jarak antar stasiun di jalur bogor - kota itu ada yg cuma 1km mas. Blm lg kalo ketahan kereta jawa Ngeledek
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)