Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Laporan perjalanan Mudik Lebaran 2012
#21
(03-09-2012, 11:33 AM)stasiunPS+3m Wrote:
(03-09-2012, 11:06 AM)RINALDI Wrote: Trip Report Jakarta - Yogyakarta Etape IV (Lanjutan....................)

Selepas Stasiun Banjar, Kereta Lodaya pun berjalan cukup cepat. Silih berganti berhenti untuk silangan dengan dengan beberapa kereta dari arah timur. Saya pun mulai mengantuk kemudian mulai memejamkan mata. Sesekali saya melihat keluar jendela, tampak kereta melintasi Stasiun Maos dengan cepat. Ada beberapa ketel yang sedang parkir di stasiun ini. Kereta mulai menapaki Bumi Banyumas, memasuki wilayah DAOP Purwokerto.
Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kereta inipun berhenti di Stasiun Kroya. Stasiun Kroya merupakan salah satu stasiun percabangan dari sekian banyak stasiun percabangan yang dimiliki PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Kereta-kereta dari Jakarta dan Bandung yang menuju ke arah timur bertemu di stasiun ini.
Begitu memasuki Stasiun Kroya, disitu telah menunggu KA Lodaya Tambahan yang akan ke Bandung. Begitu kereta saya berhenti, KA Lodaya Tambahan diberangkatkan. Tampaknya stasiun ini lebih besar dan sedikit lebih ramai dari Stasiun Banjar. Setiap kali menyinggahi stasiun ini, saya selalu melihat ada ibu-ibu penjual pecel dan penasaran ingin mencobanya. Sayapun bergegas turun untuk mencari ibu-ibu itu dan untuk melihat-lihat suasana stasiun. Namun, setelah dicari beberapa lama, ibu-ibu itu tidak ketemu. Akhirnya saya urungkan niat untuk makan pecel Stasiun Kroya dan kembali ke kereta.
Tiba-tiba dari kejauhan saya melihat para petugas berdiri berkerumun di samping kereta melihat bogie kereta Bisnis 1 yang ada di belakang KM. Saya pun bergegas menghampiri kerumunan itu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Saya bertanya pada salah satu teknisi yang ada di situ, apa yang sedang terjadi. Kata teknisi tersebut, ketika sedang melakukan pemeriksaan rutin ia melihat as roda depan K2.1 itu pecah akibat melalui medan yang berkelak-kelok dan naik turun sepanjang perjalanan tadi. Merekapun saling berdiskusi mengenai tindakan apa yang sebaiknya diambil untuk mengatasi hal ini.
Akhirnya diputuskan bahwa K2.1 tersebut harus ditinggal di Sta Kroya untuk PA di Purwokerto. Kemudian para petugas dibantu Polsuska meminta semua penumpang di K2.1 ini untuk turun, dan rangkaian K2.1 diputus dengan K2.3. Setelah semua penumpang gerbong itu turun, kereta separuh rangkaian ini menjauh meninggalkan separuh rangkaian belakangnya di peron. Separuh rangkaian itu kembali lagi dan stabling di jalur samping KA Lodaya saya tetapi K2.1-nya sudah tidak ada.
Tiba-tiba saya mendengar bunyi "deng...deng...deng...deng...", ternyata ada lokomotif yang sedang dinyalakan. Beberapa saat kemudian lokomotif itu mendekati rangkaian KA Serayu yang sedang 'tidur malam' di rumahnya DEPO KA Kroya dan menggandengnya. Kemudian lokomotif itu bergerak lagi. Saya tadinya mengira lokomotif itu akan membawa seluruh rangkaian, ternyata setelah bergerak hanya ada satu kereta yang ikut dengan lokomotif itu dan merekapun menjauh dari rangkaian lainnya.
Dari kejauhan mereka berjalan mundur memasuki jalur KA Lodaya yang sedang stabling itu dan kemudian menyambungkan diri dengan setengah rangkaian tersebut. Kemudian lokomotif itupun melepaskan diri dan menjauh. Saya bergegas menaiki K3 Serayu itu dan melihat ada kesibukan didalamnya antara lain OTC sedang membersihkan lantai KA dan toiletnya, dan teknisi sedang menyalakan lampu di dalam kereta. Sesaat kemudian rangkaian inipun maju menjauhi stasiun menuju wesel. Dengan berdiri di bordes bersama juru langsir muda yang agak gemuk, saya melihat dan merasakan rangkaian ini mundur dengan perlahan-lahan memasuki jalur rangkaian yang ditinggalkannya tadi dipandu juru langsir itu dan akhirnya seluruh rangkaian inipun bersambung kembali.
Setelah seluruh rangkaian tersambung, para penumpang K2.1 yang tadi turun segera bergegas naik kembali ke atas K3.1 pengganti ini. Para teknisi bekerja cekatan menyambung kembali arus listrik ke rangkaian belakang yang selama ditinggalkan tadi menjadi gelap gulita karena KM Generatornya mengikuti rangkaian depan. Kok kelihatannya K3.1 milik Serayu ini lebih terang dan lebih bersih jika dibandingkan K2.1 milik Lodaya tadi ya. Apakah karena habis dicuci yaa...?
Jam sudah menunjukkan pukul 2.45 dini hari, sudah 1,5 jam berlalu sejak memasuki Stasiun Kroya. Cukup lama KA Lodaya ini berhenti di Stasiun Kroya sampai-sampai disusul oleh KA Gajayana Tambahan tujuan Malang, KA Argo Lawu Reguler tujuan Solo, dan KA Bogowonto tujuan Lempuyangan, Yogyakarta. Kereta inipun sempat silangan dengan KA Malabar tujuan Bandung dan Mutiara Selatan tujuan Bandung. Akhirnya Kereta Lodayapun berangkat kembali.

Bersambung.....

apa nggak rugi ya penumpangnya dari K2 disuruh pindah ke k3 gitu? Bethe

iya yah. Oh ya, sampe YK matahari udah terbit belum?
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
#22
(03-09-2012, 12:43 PM)CC-201-23 Wrote:
(03-09-2012, 11:33 AM)stasiunPS+3m Wrote:
(03-09-2012, 11:06 AM)RINALDI Wrote: Trip Report Jakarta - Yogyakarta Etape IV (Lanjutan....................)

Selepas Stasiun Banjar, Kereta Lodaya pun berjalan cukup cepat. Silih berganti berhenti untuk silangan dengan dengan beberapa kereta dari arah timur. Saya pun mulai mengantuk kemudian mulai memejamkan mata. Sesekali saya melihat keluar jendela, tampak kereta melintasi Stasiun Maos dengan cepat. Ada beberapa ketel yang sedang parkir di stasiun ini. Kereta mulai menapaki Bumi Banyumas, memasuki wilayah DAOP Purwokerto.
Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kereta inipun berhenti di Stasiun Kroya. Stasiun Kroya merupakan salah satu stasiun percabangan dari sekian banyak stasiun percabangan yang dimiliki PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Kereta-kereta dari Jakarta dan Bandung yang menuju ke arah timur bertemu di stasiun ini.
Begitu memasuki Stasiun Kroya, disitu telah menunggu KA Lodaya Tambahan yang akan ke Bandung. Begitu kereta saya berhenti, KA Lodaya Tambahan diberangkatkan. Tampaknya stasiun ini lebih besar dan sedikit lebih ramai dari Stasiun Banjar. Setiap kali menyinggahi stasiun ini, saya selalu melihat ada ibu-ibu penjual pecel dan penasaran ingin mencobanya. Sayapun bergegas turun untuk mencari ibu-ibu itu dan untuk melihat-lihat suasana stasiun. Namun, setelah dicari beberapa lama, ibu-ibu itu tidak ketemu. Akhirnya saya urungkan niat untuk makan pecel Stasiun Kroya dan kembali ke kereta.
Tiba-tiba dari kejauhan saya melihat para petugas berdiri berkerumun di samping kereta melihat bogie kereta Bisnis 1 yang ada di belakang KM. Saya pun bergegas menghampiri kerumunan itu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Saya bertanya pada salah satu teknisi yang ada di situ, apa yang sedang terjadi. Kata teknisi tersebut, ketika sedang melakukan pemeriksaan rutin ia melihat as roda depan K2.1 itu pecah akibat melalui medan yang berkelak-kelok dan naik turun sepanjang perjalanan tadi. Merekapun saling berdiskusi mengenai tindakan apa yang sebaiknya diambil untuk mengatasi hal ini.
Akhirnya diputuskan bahwa K2.1 tersebut harus ditinggal di Sta Kroya untuk PA di Purwokerto. Kemudian para petugas dibantu Polsuska meminta semua penumpang di K2.1 ini untuk turun, dan rangkaian K2.1 diputus dengan K2.3. Setelah semua penumpang gerbong itu turun, kereta separuh rangkaian ini menjauh meninggalkan separuh rangkaian belakangnya di peron. Separuh rangkaian itu kembali lagi dan stabling di jalur samping KA Lodaya saya tetapi K2.1-nya sudah tidak ada.
Tiba-tiba saya mendengar bunyi "deng...deng...deng...deng...", ternyata ada lokomotif yang sedang dinyalakan. Beberapa saat kemudian lokomotif itu mendekati rangkaian KA Serayu yang sedang 'tidur malam' di rumahnya DEPO KA Kroya dan menggandengnya. Kemudian lokomotif itu bergerak lagi. Saya tadinya mengira lokomotif itu akan membawa seluruh rangkaian, ternyata setelah bergerak hanya ada satu kereta yang ikut dengan lokomotif itu dan merekapun menjauh dari rangkaian lainnya.
Dari kejauhan mereka berjalan mundur memasuki jalur KA Lodaya yang sedang stabling itu dan kemudian menyambungkan diri dengan setengah rangkaian tersebut. Kemudian lokomotif itupun melepaskan diri dan menjauh. Saya bergegas menaiki K3 Serayu itu dan melihat ada kesibukan didalamnya antara lain OTC sedang membersihkan lantai KA dan toiletnya, dan teknisi sedang menyalakan lampu di dalam kereta. Sesaat kemudian rangkaian inipun maju menjauhi stasiun menuju wesel. Dengan berdiri di bordes bersama juru langsir muda yang agak gemuk, saya melihat dan merasakan rangkaian ini mundur dengan perlahan-lahan memasuki jalur rangkaian yang ditinggalkannya tadi dipandu juru langsir itu dan akhirnya seluruh rangkaian inipun bersambung kembali.
Setelah seluruh rangkaian tersambung, para penumpang K2.1 yang tadi turun segera bergegas naik kembali ke atas K3.1 pengganti ini. Para teknisi bekerja cekatan menyambung kembali arus listrik ke rangkaian belakang yang selama ditinggalkan tadi menjadi gelap gulita karena KM Generatornya mengikuti rangkaian depan. Kok kelihatannya K3.1 milik Serayu ini lebih terang dan lebih bersih jika dibandingkan K2.1 milik Lodaya tadi ya. Apakah karena habis dicuci yaa...?
Jam sudah menunjukkan pukul 2.45 dini hari, sudah 1,5 jam berlalu sejak memasuki Stasiun Kroya. Cukup lama KA Lodaya ini berhenti di Stasiun Kroya sampai-sampai disusul oleh KA Gajayana Tambahan tujuan Malang, KA Argo Lawu Reguler tujuan Solo, dan KA Bogowonto tujuan Lempuyangan, Yogyakarta. Kereta inipun sempat silangan dengan KA Malabar tujuan Bandung dan Mutiara Selatan tujuan Bandung. Akhirnya Kereta Lodayapun berangkat kembali.

Bersambung.....

apa nggak rugi ya penumpangnya dari K2 disuruh pindah ke k3 gitu? Bethe

Katanya uang kelebihan pembelian tiketnya mau dikembalikan sih. Tapi menurut saya para penumpang sudah tidak menghiraukan uang kelebihan tiket lagi karena sudah lebih dari separuh jalan dan sebentar lagi hampir sampai tujuan, bagi mereka mungkin yang penting cepet sampai aja. Kedua, K3 pengganti ini kondisinya lebih bersih dan lebih terang dengan jumlah kursi yang lebih banyak dari K2 yang rusak sehingga penumpang lebih leluasa merebahkan badan di kursi. Dan terakhir barangkali karena menjelang Hari Raya Idul Fitri sehingga para penumpang mempunyai persediaan maaf yang banyak di dalam hatinya sehingga tidak menuntut kerugian.Ngakak

iya yah. Oh ya, sampe YK matahari udah terbit belum?

Nanti aku ceritain di episode selanjutnya Bos..... Maklum kerjaan kantor menumpuk. Maap yah.....
RF RINALDI, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Mar 2011.
Reply
#23
Lanjutkan TRnya Mas RINALDI Big Grin
Make yourself usefull to other.
Reply
#24
cerita yang unik ... dan langka
mangtstab ...
lanjutkan
Reply
#25
Wah TRnya lain daripada yang lain, kesannya jadi mirip novel nih.
[Image: ok.gif]
Reply
#26
Trip Report Jakarta - Yogyakarta Etape V (Sta. Tugu, Yogyakarta - Sta. Maguwo, Sleman)

Kembali saya lanjutkan yaa....

Selepas Sta. Kroya, kereta pun berjalan cepat seolah hendak menyongsong terbitnya matahari pagi di stasiun tujuan akhir, Solo Balapan. Karena kereta ini terlambat cukup lama, keliatannya di setiap stasiun selalu diberi sinyal aspek hijau. Pemberhentian selanjutnya adalah Stasiun Kutoarjo. Kereta berhenti di stasiun ini tidak lama. Setelah menurunkan penumpang, kereta ini melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah berjalan kurang lebih 50 menit, akhirnya kereta ini tiba juga di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Sayapun segera turun bersama perwira muda tadi dan kami pun berpisah disini. Saya melihat jarum jam di Stasiun Tugu menunjuk pukul 05.10 WIB, terlambat memang tapi tak apalah. Setelah melihat dan merasakan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesigapan petugas kereta api dalam melayani penumpang dan menangani berbagai persoalan yang mewarnai perjalanan ini, sayapun menganggap keterlambatan yang terjadi ini tidak seberapa besar.
Di Stasiun Tugu, seperti biasa setiap kali turun dari kereta, saya selalu mampir ke sebuah kantin yang telah berdiri cukup lama di dalam stasiun untuk membeli segelas teh manis panas sambil membaca harian pagi ibukota yang juga selalu saya beli di stasiun ini. Setelah menghabiskan teh saya, saya melihat baterai HP saya sudah lowbat dan segeralah saya merecharge di booth charger yang ada di dekat loby pintu timur sisi selatan. Selama menunggu charge HP, saya melihat kedatangan beberapa kereta yaitu Lodaya Tambahan tujuan Solo Balapan, Taksaka, Bogowonto, dan Senja Utama Jogja. Sempat pula saya bertemu rekan kantor yang baru turun dari Taksaka, suami dan istrinya yang sedang menggendong seorang balita. Kebetulan saja mereka berdua rekan satu kantor.
Matahari sudah mulai mamancarkan sinarnya, keadaan mulai terang dan lampu-lampu stasiun mulai dipadamkan, badan saya mulai terasa hangat. Menjelang pukul tujuh pagi, stasiun mulai ramai. Banyak orang mulai berdatangan. Mereka kebanyakan adalah para penumpang KA. Sancaka Reguler relasi Sta. Tugu, Yogyakarta - Sta. Gubeng, Surabaya yang akan berangkat pukul 07.15 WIB. Saya melihat serombongan wisatawan asing kira-kira 10 orang berjalan memasuki K1 Sancaka berjendela pesawat depan KM. Tidak semua K1 pada rangkaian Sancaka itu berjendela pesawat, ada yang berjendela besar. Sembari menunggu keberangkatan kereta, beberapa orang diantara mereka ngobrol di samping pintu KA, ada juga yang mengamati suasana stasiun. Tiba-tiba terdengarlah bunyi bel stasiun dan tepat pukul 07.15 KA. Sancaka Reguler itupun diberangkatkan.
Baterai HP saya sudah terisi penuh dan saya copotlah kabel chargernya. Saya mendengar ada pengumuman kalau KRD Prambanan Ekspres (Prameks) dari Kutoarjo tujuan Solo Jebres akan segera memasuki stasiun Tugu. Bergegaslah orang-orang calon penumpang Prameks ini mendekati jalur 3 tempat Prameks ini akan berhenti. Jam sudah menunjukkan pukul 08.45 WIB, terlambat memang.
Dari kejauhan arah barat telah terlihat ujung depan kereta Prameks tersebut yang berwarna kuning. Memasuki jalur 3, keretapun melambatkan lajunya dan akhirnya berhenti. Setelah pintu otomatis kereta dibuka, seketika itu berjubelah para penumpang yang hendak naik kereta bertabrakan dengan penumpang yang hendak turun kereta. Saya pun turut sebagai peserta perlombaan naik kereta itu. Ternyata didalam kereta telah penuh sesak dengan penumpang dari Kutoarjo sehingga penumpang dari Sta. Tugu tidak mendapat tempat duduk, termasuk saya. Sayapun akhirnya mencari tempat yang agak longgar yaitu di sambungan kereta. Tak beberapa lama kemudian KRD Pramekspun diberangkatkan.

Bersambung.....

Trip Report Jakarta - Yogyakarta Etape VI Terakhir (Sta. Maguwo, Sleman - Rumah Janti)

Baru sekejap berjalan, KRD Prameks telah berhenti di Sta. Lempuyangan, Yogyakarta. Stasiun ini hanya terletak sekitar satu kilometer sebelah timur Stasiun Tugu. Di ujung barat stasiun ini terdapat Kantor DAOP VI Yogyakarta dan bangunan pergudangan, dan di sebelah timur terdapat Fly Over alias Jembatan Layang. Di bawah Jembatan layang itu pada sore hari sering dijadikan 'tempat wisata' orang-orang yang ingin nonton para siswa sekolah traksi sedang praktek melangsirkan kereta. Memang, di seberang fly over itu terdapat Balai Pendidikan dan Pelatihan Traksi atau pendidikan calon masinis kereta. Stasiun Lempuyangan merupakan tempat pemberhentian kereta-kereta kelas ekonomi, kecuali KRD Prameks, rumah bagi KA. Progo relasi Sta. Lempuyangan - Sta. Senen, Jakarta dan KA. Sri Tanjung relasi Sta. Lempuyangan - Sta, Banyuwangi Baru dan tempat bongkar muat gerbong-gerbong pengangkut semen.
Setelah menaikan dan menurunkan penumpang, KRD Prameks inipun kembali diberangkatkan. Prameks ini berjalan cukup cepat ke arah timur melewati samping Balai Yasa Yogyakarta dan pemukiman penduduk. Sekitar 10 Menit kemudian, KRD Prameks ini melewati Fly Over Janti dan tiba di Sta. Maguwo, Sleman. Stasiun mungil ini terletak di dalam sebuah kompleks transportasi terlengkap di Yogyakarta, hanya ada 4 jalur di sini. Di stasiun ini, terdapat hampir semua moda transportasi, kecuali kapal laut. Begitu turun dari kereta, para penumpang tinggal berjalan kaki menuju ke dalam Bandar Udara Adisucipto yang terletak di sebelah selatan stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai kota di Indonesia atau ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Para penumpang dapat pula melanjutkan perjalanan dengan Shuttle Bus Damri menuju ke Magelang maupun ke Purworejo dan Kebumen karena ada Shelter Bus Damri yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Kalau penumpang kereta ingin melanjutkan perjalanan ke berbagai sudut kota Jogja tinggal berjalan kaki ke Shelter Bus Trans Jogja dimana hampir semua rutenya singgah di shelter ini atau juga dapat menunpang taksi dan ojeg yang banyak dijumpai di situ. Kalau mau berjalan kaki sedikit agak jauh ke utara maka akan menemui jalan raya Jogja-Solo yang padat lalu lintasnya. Di situ bisa dengan mudah mendapatkan transportasi umum seperti bus AKAP, becak, andong dsb. Stasiun ini khusus menjadi tempat singgah beberapa KRD seperti Prameks relasi Solo - Kutoarjo PP, Madiun Jaya Bisnis dan Eksekutif relasi Yogyakarta - Madiun PP, dan menjadi stasiun pemberangkatan KRD eksekutif yang saya lupa namanya relasi Purwokerto - Maguwo - Cilacap - Kutoarjo - Purwokerto.
Sayapun turun dari Prameks. Sayangnya peron di stasiun ini kurang panjang sehingga para penumpang yang ada di kereta bagian belakang terpaksa meloncat ke balast yang cukup tinggi karena tidak kebagian peron. Begitu turun dari kereta dengan meloncat ke balast rel, saya bersama para penumpang tidak bisa naik ke peron karena cukup tinggi dan tidak ada tangganya. Kiranya ini perlu menjadi perhatian bapak-ibu manajemen DAOP VI. Sesaat kemudian KDR Pramekspun diberangkatkan kembali.
Setelah Prameks berangkat, saya berjalan menyusuri rel menuju pintu keluar stasiun. Begitu keluar dari stasiun saya langsung menuju shelter Bus Trans Jogja. Sesampainya di dalam shelter itu saya membeli tiket seharga Rp3.000 lalu saya masukkan ke mesin pintu masuk agar bisa dilalui. Ternyata bis belum datang. Sembari menunggu kedatangan bis, saya melihat suasana sekitar pada pagi itu cukup ramai. Banyak penumpang mudik yang berdatangan baik yang naik kereta maupun pesawat, pagi yang cukup sibuk.
Beberapa saat kemudian datanglah Bus Trans Jogja yang akan saya naiki. Ada beberapa orang penumpang yang telah ada di dalam minibus berwarna kuning-hijau itu, warna kebesaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Begitu saya naik, buspun berangkat meninggalkan shelter keluar kompleks bandara. Bis melalui Jalan Raya Jogja-Solo ke arah barat. Di jalan ini bus transit sesaat di shelter depan sebuah hotel dan sebuah supermarket besar. Di Pertigaan bawah Jembatan Layang Janti bis berbelok ke kiri, arat selatan, untuk menyinggahi sebuah shelter yang berada di bawah jembatan layang itu dan sayapun turun di shelter itu.
Begitu keluar dari shelter, saya berjalan kaki menyusuri bawah jembatan ke arah selatan, menyeberangi pintu perlintasan kereta api, masuk gang, dan lima menit kemudian sudah sampai rumah. Jembatan Layang Janti tadinya sudah saya lewati ketika naik Prameks tadi. Jembatan ini dibangun untuk mengurangi kemacetan kendaraan ketika pintu perlintasan kereta ditutup.

Kiranya demikianlah Kisah Perjalanan Mudik Lebaran saya yang sangat berkesan. Barangkali ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua. Jika ada kekurangan atau kesalahan dalam menuliskan kisah perjalanan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih untuk rekan-rekan yang setia membaca kisah ini, juga untuk seluruh jajaran PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam memeberikan pelayanan kepada pengguna kereta api. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

SELESAI
RF RINALDI, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Mar 2011.
Reply
#27
Ada balik ke Jakartanya gak?
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
#28
(05-09-2012, 09:57 AM)RINALDI Wrote: Trip Report Jakarta - Yogyakarta Etape V (Sta. Tugu, Yogyakarta - Sta. Maguwo, Sleman)

Kembali saya lanjutkan yaa....

Selepas Sta. Kroya, kereta pun berjalan cepat seolah hendak menyongsong terbitnya matahari pagi di stasiun tujuan akhir, Solo Balapan. Karena kereta ini terlambat cukup lama, keliatannya di setiap stasiun selalu diberi sinyal aspek hijau. Pemberhentian selanjutnya adalah Stasiun Kutoarjo. Kereta berhenti di stasiun ini tidak lama. Setelah menurunkan penumpang, kereta ini melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah berjalan kurang lebih 50 menit, akhirnya kereta ini tiba juga di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Sayapun segera turun bersama perwira muda tadi dan kami pun berpisah disini. Saya melihat jarum jam di Stasiun Tugu menunjuk pukul 05.10 WIB, terlambat memang tapi tak apalah. Setelah melihat dan merasakan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesigapan petugas kereta api dalam melayani penumpang dan menangani berbagai persoalan yang mewarnai perjalanan ini, sayapun menganggap keterlambatan yang terjadi ini tidak seberapa besar.
Di Stasiun Tugu, seperti biasa setiap kali turun dari kereta, saya selalu mampir ke sebuah kantin yang telah berdiri cukup lama di dalam stasiun untuk membeli segelas teh manis panas sambil membaca harian pagi ibukota yang juga selalu saya beli di stasiun ini. Setelah menghabiskan teh saya, saya melihat baterai HP saya sudah lowbat dan segeralah saya merecharge di booth charger yang ada di dekat loby pintu timur sisi selatan. Selama menunggu charge HP, saya melihat kedatangan beberapa kereta yaitu Lodaya Tambahan tujuan Solo Balapan, Taksaka, Bogowonto, dan Senja Utama Jogja. Sempat pula saya bertemu rekan kantor yang baru turun dari Taksaka, suami dan istrinya yang sedang menggendong seorang balita. Kebetulan saja mereka berdua rekan satu kantor.
Matahari sudah mulai mamancarkan sinarnya, keadaan mulai terang dan lampu-lampu stasiun mulai dipadamkan, badan saya mulai terasa hangat. Menjelang pukul tujuh pagi, stasiun mulai ramai. Banyak orang mulai berdatangan. Mereka kebanyakan adalah para penumpang KA. Sancaka Reguler relasi Sta. Tugu, Yogyakarta - Sta. Gubeng, Surabaya yang akan berangkat pukul 07.15 WIB. Saya melihat serombongan wisatawan asing kira-kira 10 orang berjalan memasuki K1 Sancaka berjendela pesawat depan KM. Tidak semua K1 pada rangkaian Sancaka itu berjendela pesawat, ada yang berjendela besar. Sembari menunggu keberangkatan kereta, beberapa orang diantara mereka ngobrol di samping pintu KA, ada juga yang mengamati suasana stasiun. Tiba-tiba terdengarlah bunyi bel stasiun dan tepat pukul 07.15 KA. Sancaka Reguler itupun diberangkatkan.
Baterai HP saya sudah terisi penuh dan saya copotlah kabel chargernya. Saya mendengar ada pengumuman kalau KRD Prambanan Ekspres (Prameks) dari Kutoarjo tujuan Solo Jebres akan segera memasuki stasiun Tugu. Bergegaslah orang-orang calon penumpang Prameks ini mendekati jalur 3 tempat Prameks ini akan berhenti. Jam sudah menunjukkan pukul 08.45 WIB, terlambat memang.
Dari kejauhan arah barat telah terlihat ujung depan kereta Prameks tersebut yang berwarna kuning. Memasuki jalur 3, keretapun melambatkan lajunya dan akhirnya berhenti. Setelah pintu otomatis kereta dibuka, seketika itu berjubelah para penumpang yang hendak naik kereta bertabrakan dengan penumpang yang hendak turun kereta. Saya pun turut sebagai peserta perlombaan naik kereta itu. Ternyata didalam kereta telah penuh sesak dengan penumpang dari Kutoarjo sehingga penumpang dari Sta. Tugu tidak mendapat tempat duduk, termasuk saya. Sayapun akhirnya mencari tempat yang agak longgar yaitu di sambungan kereta. Tak beberapa lama kemudian KRD Pramekspun diberangkatkan.

Bersambung.....

Trip Report Jakarta - Yogyakarta Etape VI Terakhir (Sta. Maguwo, Sleman - Rumah Janti)

Baru sekejap berjalan, KRD Prameks telah berhenti di Sta. Lempuyangan, Yogyakarta. Stasiun ini hanya terletak sekitar satu kilometer sebelah timur Stasiun Tugu. Di ujung barat stasiun ini terdapat Kantor DAOP VI Yogyakarta dan bangunan pergudangan, dan di sebelah timur terdapat Fly Over alias Jembatan Layang. Di bawah Jembatan layang itu pada sore hari sering dijadikan 'tempat wisata' orang-orang yang ingin nonton para siswa sekolah traksi sedang praktek melangsirkan kereta. Memang, di seberang fly over itu terdapat Balai Pendidikan dan Pelatihan Traksi atau pendidikan calon masinis kereta. Stasiun Lempuyangan merupakan tempat pemberhentian kereta-kereta kelas ekonomi, kecuali KRD Prameks, rumah bagi KA. Progo relasi Sta. Lempuyangan - Sta. Senen, Jakarta dan KA. Sri Tanjung relasi Sta. Lempuyangan - Sta, Banyuwangi Baru dan tempat bongkar muat gerbong-gerbong pengangkut semen.
Setelah menaikan dan menurunkan penumpang, KRD Prameks inipun kembali diberangkatkan. Prameks ini berjalan cukup cepat ke arah timur melewati samping Balai Yasa Yogyakarta dan pemukiman penduduk. Sekitar 10 Menit kemudian, KRD Prameks ini melewati Fly Over Janti dan tiba di Sta. Maguwo, Sleman. Stasiun mungil ini terletak di dalam sebuah kompleks transportasi terlengkap di Yogyakarta, hanya ada 4 jalur di sini. Di stasiun ini, terdapat hampir semua moda transportasi, kecuali kapal laut. Begitu turun dari kereta, para penumpang tinggal berjalan kaki menuju ke dalam Bandar Udara Adisucipto yang terletak di sebelah selatan stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai kota di Indonesia atau ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Para penumpang dapat pula melanjutkan perjalanan dengan Shuttle Bus Damri menuju ke Magelang maupun ke Purworejo dan Kebumen karena ada Shelter Bus Damri yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Kalau penumpang kereta ingin melanjutkan perjalanan ke berbagai sudut kota Jogja tinggal berjalan kaki ke Shelter Bus Trans Jogja dimana hampir semua rutenya singgah di shelter ini atau juga dapat menunpang taksi dan ojeg yang banyak dijumpai di situ. Kalau mau berjalan kaki sedikit agak jauh ke utara maka akan menemui jalan raya Jogja-Solo yang padat lalu lintasnya. Di situ bisa dengan mudah mendapatkan transportasi umum seperti bus AKAP, becak, andong dsb. Stasiun ini khusus menjadi tempat singgah beberapa KRD seperti Prameks relasi Solo - Kutoarjo PP, Madiun Jaya Bisnis dan Eksekutif relasi Yogyakarta - Madiun PP, dan menjadi stasiun pemberangkatan KRD eksekutif yang saya lupa namanya relasi Purwokerto - Maguwo - Cilacap - Kutoarjo - Purwokerto.
Sayapun turun dari Prameks. Sayangnya peron di stasiun ini kurang panjang sehingga para penumpang yang ada di kereta bagian belakang terpaksa meloncat ke balast yang cukup tinggi karena tidak kebagian peron. Begitu turun dari kereta dengan meloncat ke balast rel, saya bersama para penumpang tidak bisa naik ke peron karena cukup tinggi dan tidak ada tangganya. Kiranya ini perlu menjadi perhatian bapak-ibu manajemen DAOP VI. Sesaat kemudian KDR Pramekspun diberangkatkan kembali.
Setelah Prameks berangkat, saya berjalan menyusuri rel menuju pintu keluar stasiun. Begitu keluar dari stasiun saya langsung menuju shelter Bus Trans Jogja. Sesampainya di dalam shelter itu saya membeli tiket seharga Rp3.000 lalu saya masukkan ke mesin pintu masuk agar bisa dilalui. Ternyata bis belum datang. Sembari menunggu kedatangan bis, saya melihat suasana sekitar pada pagi itu cukup ramai. Banyak penumpang mudik yang berdatangan baik yang naik kereta maupun pesawat, pagi yang cukup sibuk.
Beberapa saat kemudian datanglah Bus Trans Jogja yang akan saya naiki. Ada beberapa orang penumpang yang telah ada di dalam minibus berwarna kuning-hijau itu, warna kebesaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Begitu saya naik, buspun berangkat meninggalkan shelter keluar kompleks bandara. Bis melalui Jalan Raya Jogja-Solo ke arah barat. Di jalan ini bus transit sesaat di shelter depan sebuah hotel dan sebuah supermarket besar. Di Pertigaan bawah Jembatan Layang Janti bis berbelok ke kiri, arat selatan, untuk menyinggahi sebuah shelter yang berada di bawah jembatan layang itu dan sayapun turun di shelter itu.
Begitu keluar dari shelter, saya berjalan kaki menyusuri bawah jembatan ke arah selatan, menyeberangi pintu perlintasan kereta api, masuk gang, dan lima menit kemudian sudah sampai rumah. Jembatan Layang Janti tadinya sudah saya lewati ketika naik Prameks tadi. Jembatan ini dibangun untuk mengurangi kemacetan kendaraan ketika pintu perlintasan kereta ditutup.

Kiranya demikianlah Kisah Perjalanan Mudik Lebaran saya yang sangat berkesan. Barangkali ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua. Jika ada kekurangan atau kesalahan dalam menuliskan kisah perjalanan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih untuk rekan-rekan yang setia membaca kisah ini, juga untuk seluruh jajaran PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam memeberikan pelayanan kepada pengguna kereta api. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

SELESAI

Mantap mas, sampai detail keluar stasiun diceritakan juga, saya jadi bisa membayangkan rumah sampeyan ada di mana...Big Grin
Ditunggu laporan perjalanan arus baliknya..
Thomas, James, Percy, Gordon, Emily, Henry, Edward, Toby
Reply
#29
Teman-teman semua.....terima kasih atas apresiasi kisah perjalanan mudik saya. Untuk kisah perjalanan arus baliknya saya rasa kurang dramatis untuk diceritakan karena saya berangkat dari Jogja pakai Taksaka Rabu malam 22 Agustus. Berangkat dari Sta. Tugu pukul 20.00 WIB dan turun di Sta. Jatinegara pukul 04.45 terus naik angkot turun Terminal Kp. Melayu dan disambung angkot turun Kalibata lalu jalan kaki ke kontrakan. Pukul 7.30 masuk kantor sambil ngantuk berat dan kecapekan.
RF RINALDI, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Mar 2011.
Reply
#30
Kalau dilengkapi foto bakalan lebih menarik lagi om
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)