Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
(19-09-2011, 12:17 PM)Illia Wrote: Benerin dulu itu pelayanan, baru bisa bersaing dengan alat transportasi lain.
Selama kereta masih kayak sekarang....itu penumpang pada pindah ke alat transport lain yang lebih nyaman dan cepat.
Walau pun itu tol dibilang mistis kek, apa bahaya kek. Tetep aja tuh PO jalan bolak balik situ bawa penumpang.
Yang lebih aneh lagi kalau ada statment "Cipularang Berbahaya". Lah yang salah ini jalan tolnya? apa orang yang ngemudiin?
Lalu pas Ciganea kereta sehari anjlok dua, ga ada tuh yang bilang "ciganea berbahaya"??? wkwkwkwkwkw.
Aneh ya...alhamdulillah sesuatu banget 
Eh, ada Syahrini di semboyan35.com... Selamat datang, Jeng...Sugeng rawuh...
Ngarepin pelayanan kereta api pd masa saat ini...? 
Mending tarif jalan tol yg dikenakan pd jalan rel dibuang dl dech...
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
(14-09-2011, 05:52 PM)slamtrack Wrote: apa mendingan bikin investasi besar untuk rel baru semacam shortcut dari purwakarta ke padalarang mungkin bisa mulai dari padalarang isetelah under pas setelah stasiun padalarang ambil terus sisi kiri tol sampai sekitar km 100 kemudian mulai menjauh lurus sampai ke arah purwakarta sehingga dapat memperpendak waktu dan jarak tempuh ka secara signifikan ketimbang lewat purwakarta-ciganea-sukatani-plered-cikadongdong-rendeh-maswati-sasak saat yang terlalu mengambil jarak memutar . dengan demikian pt ka dapat bersaing kembali dengan tol cipularang
mas slam,
saya kasih ilustrasi saja. belanda dulu bikin shortcut cikampek-padalarang adalah untuk menghindari tanjakan terjal di petak tagogapu-cipatat yang sekitar 30 permil. sehingga shortcut baru ini kelak didesain untuk memiliki tanjakan maksimal 25 permil. sehingga lok2 bisa leluasa mendaki pegunungan priangan ini tanpa harus kehabisan napas.
sekarang seandainya dibangun rel disebelah jalan tol. tahukan kita berapa derajat tanjakan tol cipularang yang paling terjal? menurut binamarga, tol cipularang memiliki tanjakan maksimum 5%. berapakah itu kalo dikonversi ke tanjakan permil yang lebih familiar di kereta api? yaitu 50 permil.
logikanya, belanda saja sampai perlu menghindari tanjakan terjal di cipatat yang 30 permil, lalu kita mau bikin rel dengan tanjakan 50 permil?
50 permil itu berarti hampir sama dengan trek ambarawa-bedono yang 60-70 permil, yang harus menggunakan rel gigi. dengan rel bergigi maka kecepatan pun otomatis sangat lamban.
sebenarnya bisa tanjakan 50 permil tanpa rel gigi. tapi lok nya harus super duper kuat. saya tidak tahu apakah ada lok demikian. yang pasti, tanjakan 50 permil itu sudah sangat terjal buat kereta api. beda dengan jalan raya. tanjakan nagrek yang terkenal itu, memiliki kemiringan 16 % atau sekitar 160 permil. dan moda roda karet masih bisa menanjak dengan baik.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 1,401
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
24
Mungkin shortcut yang dimaksud seperti membuat jembata contohnya petak padalarang cilame dari pada memutar lebih baik di luruskan dengan jembatan
My Train Frequent Passanger Card
[spoiler]
![[Image: 0951262e89bc11e1a92a1231381b6f02_7.jpg]](http://distilleryimage6.instagram.com/0951262e89bc11e1a92a1231381b6f02_7.jpg) [/spoiler]
Posts: 744
Threads: 0
Joined: Apr 2011
Reputation:
5
Terima kasih pencerahannya, membuat shortcut? Pastilah harus memenuhi persyaratan teknis jalan kereta api, melihat bentuk topografi juga. Beda sekali kereta dengan kendaraan beroda karet. Selain tanjakannya juga radius belokan, ketika pembangunan pengganti tol porong, di usulkan rel kereta api berada di sampingnya, hal tersebut ditolak oleh PT. KAI karena radius beloknya, tidak sesuai dengan persyaratan teknis kereta api,lebih tajam untuk kereta api, kira-kira begitu. Saya pernah baca di suatu majalah (lupa namanya), shinkansen untuk tanjakannya saja maksimal 16 permil, sedang tgv 24 permil, tapi informasi ini sudah lama, 12 tahun lalu, mungkin sudah beda, karena mereka selalu mengupgrade teknologinya. Mohon koreksi.
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
sebenarnya masih ada satu lagi opsi untuk optimalisasi jalur jakarta-bandung, yaitu elektrifikasi. menurut saya, setidaknya ada 2 keuntungan bila jalur ini dielektrifkasi:
- peghematan biaya bbm. kita gunakan saja konversi umum 0.2 liter solar dapat menghasilkan 1 kwh energi listrik (lihat di wiki). jika harga 1 liter hsd + ppn sekitar Rp. 10ribu, maka 0.2 liter hsd harganya Rp. 2000. bandingkan dengan listrik untuk krl yang 1 kwh sekitar Rp 750, maka biaya solar dibanding listrik hampir 3 kali lipatnya.
- efisiensi listrik daerah pegunungan. dengan teknologi krl yang baru, rem dinamik dapat menghasilkan listrik dan dikembalikan ke catenary untuk digunakan rangkaian yang lain. jadi kompensasi rangkaian krl yang turun menyuplai listrik tambahan untuk krl yang naik.
penghematan dari konsumsi bbm dapat menambah daya saing moda kereta dengan moda darat yang lain yang dapat menurunkan biaya perjalanan penumpang/barang.
kendala yang pasti: perlu biaya yang besar juga untuk elektrifikasi. saya tidak tahu persis berapa kira2 investasi elektrifikasi jalur krl per km nya. barangkali rekan2 ada yang tahu?
tapi meskipun sama2 perlu dana yang besar bila dibandingkan dengan kereta tilt, buat jalur baru, pelurusan trek, opsi elektrifikasi lebih mudah eksekusinya dibanding dengan yang lain. ibaratnya tinggal pasang saja.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 744
Threads: 0
Joined: Apr 2011
Reputation:
5
Elektrifikasi? Lebih ramah lingkungan, ga ada polusi, harus pake pembangkit PLTN, jika masih PLTA sangat tergantung pada debit air, sedang hutan hulu sungai di Jawa, perlahan-lahan mulai hilang.
Posts: 1,485
Threads: 0
Joined: Apr 2009
Reputation:
13
22-09-2011, 12:00 PM
(This post was last modified: 22-09-2011, 12:00 PM by rayka.)
(22-09-2011, 11:37 AM)Ken Aditya Wrote: Elektrifikasi? Lebih ramah lingkungan, ga ada polusi, harus pake pembangkit PLTN, jika masih PLTA sangat tergantung pada debit air, sedang hutan hulu sungai di Jawa, perlahan-lahan mulai hilang.
mohon maaf saya mencoba sedikit memberikan gambaran,
pembangkit di indonesia terutama di jawa tidak hanya PLTA, tapi ada PLTU, sedangkan PLTA hanya untuk beban harian atau beban normal, justru yang menyuplai daya besar sekarang adalah PLTU, yang terbesar PLTU SURALAYA dan PLTU PAITON
Posts: 1,401
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
24
Lah sekarang aja PLN masih kekurangan daya listrik 
liat aja di jabodetabek LAA sering kelebihan beban gara2 PLN cuma bisa ngasih daya terbatas
masa mau bikin Jakarta-Bandung di elektrifikasi proyek pembangkit 10k MWatt aja belom kelar2
My Train Frequent Passanger Card
[spoiler]
![[Image: 0951262e89bc11e1a92a1231381b6f02_7.jpg]](http://distilleryimage6.instagram.com/0951262e89bc11e1a92a1231381b6f02_7.jpg) [/spoiler]
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
ya, memang harus diakui infrastruktur listrik kita masih terus berbenah. tapi optimis saja semakin baik. apalagi berita terbaru dimana PLN menerbitkan obligasi global senilai 2milyar dollar (sekitar 20 triliun) untuk belanja modal.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 744
Threads: 0
Joined: Apr 2011
Reputation:
5
Misal berandai-andai dengan modal sebesar itu 20 trilyun, elektrifikasi terutama di armada barat, jalur ini, apa ada kemungkinan terlaksana, kira-kira berapa tahun lagi, 10 tahun lagi?Mohon pencerahannya.
|