Hahaa ...
Seru nih ... tapi tetep cool yaa ...
@ mas fahrizal
Betul sekali. Setiap perubahan pasti ada pro kontranya terkait dengan plus dan minus perubahan tersebut.
Nah yang kita soroti harus secara keseluruhan yaa, ndak parsial. Betul sekali pengguna ekspress bogor menerima reduksi harga sebesar rp 2000 (dari 11000 menjadi 9000), tapiiii ... ndak stop sampai disini nih ya, ada konsekuensinya, yaituuu ... harus menerima waktu tempuh lebih lama dari yang sebelumnya (30-35 menit sesuai pernyataan KAI/KCJ).
Pro kontranya timbul karena 'apakah sebanding nilai 2000 itu dengan waktu 30-35 menit ?'
Lalu bagaimana jika menyoroti lintas depok dan serpong, apa nilai plusnya ? karena rekan2 lintas tersebut (seperti mas bangunkarta) tidak menerima reduksi tarif seperti rekan2 bogor, tapiiiii ... kelas kereta yang mereka terima pun malah menjadi turun, dari yang sebelumnya 9000 dapat ekspress sekarang hanya eko AC, waktu tempuh juga jelas lebih lama ...
Pasti dong pro kontra yang timbul lebih hebat lagi ...
UNtuk pernyataan mas fahrizal yang " ... sekarang dibuat tak ada sususl susulan....jadi ada rasa senasibnya ..."
Jujur ya mas saya paling anti dengan kalimat seperti ini ... SENASIB ... Kenapa ? Karena KAI/KCJ setelah 2 juli pun masih mengeluarkan 2 kelas yang berbeda. Kita jangan bicara fasilitas kereta ya, karena pada saat penuh, sudah ndak ada fasilitas yang bisa dinikmati, walaupun itu hanya AC.
Selama masih ada perbedaan harga tiket, ndak bisa itu disamaratakan, karena yang membayar lebih sudah pasti menuntut lebih pula, sudah begitu perilakunya. Mas mau beli harga tiket setara bima, tapi fasilitas setara K3 ?
Kalau memang semuanya mau di'SENASIB'kan ya monggo, jangan setengah-setengah, berlakukan semuanya sama juga. Ndak ada ekspress, ya ndak ada ekonomi, hilangkan pso-pso-an atau semua dapat pso. Satu kelas saja jadinya, ekonomi AC saja misalnya. Tapiiiii permasalahannya ndak bisa kan itu diterapkan...
@all,
Soalan jadwal.
Yang mau lihat jadwal existing bisa buka di krlmania.com. Untuk yang setelah 2 juli, bisa buka di krl.co.id.
Saya bandingkan sedikit ya untuk lintas bogor.
Jadwal eksisting : 53 Express, 31 Eko AC, 44 Eko biasa. Total 128 perjalanan.
Jadwal baru : 73 Komuter, 31 Eko. Total 104 perjalanan.
Siapa tadi yang state ndak ada perubahan, silahkan lihat sendiri detilnya dan coba dihitung mulai dari jam 05.00. Karena di lintas bogor jam stgh 6 saja sudah ramai.
Bisa dilihat bagaimana jadinya. Saat ini, 1 kereta batal pasti akan membebani ke kereta dibelakangnya, apalagi kalau yang batal eko panas. Eko panas selanjutnya sudah sangat2 ndak pantas untuk angkutan manusia.
Bagaimana nanti, yang memang secara resmi perjalanan banyak dipangkas.
Dan ndak hanya itu saja.
Penghapusan ekspress diganti bukan dengan Komuter. Contoh KA 205 BOO-THB 06.10 Express, nanti setelah ekspress dihapus, jadwal ini akan diisi olehhhh ... Eko panas. Bukan Komuter/Eko AC ... !!!
Bukannya saya membela pengguna ekspress ya, tapi siapa yang mau tadinya mereka biasa menggunakan ekspress terus dipaksa harus menggunakan eko panas ... Jangan ada omongan manja, ekslusif, dsbnya ya. Tapi ini masalah perilaku konsumen yang ndak bisa dipaksa begitu saja. Otomatis kalau mereka merasa KRL ndak menyediakan opsi, mereka akan memilih diluar jalur KRL. Yang rugi siapa ... penumpang ... ? belum tentu. Kalau KAI ... sudah pasti.
@ mas fahrizal lagi,
quote "... mau cepat enak,walupun jarak cuma satu-dua sta...dengan 9 rb atau mau yg 2 ribu???monggo pilihan ada di ybs.."
Betul sekaliii pilihan ada di pengguna. Saya setuju. Coba statemen mas disebutkan terhadap rekan2 eko panas yang hari sabtu kemarin ada di JAKK menunggu eko panas sampai akhirnya terjadi aksi anarkis karena kereta ndak kunjung tiba.
Mas, ada orang2 yang merasa ndak 'worthed' atau ndak mampu untuk membayar 9000 untuk jarak JAKK-BOO yang sejauh itu, apalagi 9000 hanya untuk satu or dua stasiun saja ...
Apa iya untuk satu dua stasiun mereka harus tunggu setengah-satu jam hanya untuk krl eko tarif 2000, padahal waktu itu sudah cukup untuk waktu tempuh 2 stasiun ... ?
Dengan pola saat ini, rekan2 eko panas masih bisa menyisihkan sedikit dari dananya untuk naik eko ac kalau memang eko panas gangguan. Tapi kalau nanti jadi komuter siapa yang mau atau mampu ?
Betul, yang paling mungkin terjadi adalah cuek saja naik komuter dengan tiket eko panas atau malah ndak bertiket, pasti penuhnya, pasti ndak diperiksanya, atau siapa yang berani periksa ... hehee ...
(Saya pernah dari bojong ke bogor (3 stasiun) naik angkot tarif 5000 waktu tempuh 45 menit karena kereta terdekat masih di pasar minggu. Kalau ada eko ac, pilihan orang masih 50-50. Tapi kalau komuter, mending naik angkot laah ...)
Tapi tenang saja mas,
untuk pernyataan mas tentang perjalanan satu or dua stasiun sudah dijawab kok oleh Kadaops 1 di koran tempo (sumber info dr milis krlmania).
- "Untuk jarak dekat. Misalnya satu dua stasiun, mending naik angkot saja. Kasihan khan sopir angkotnya nanti gak kebagian penumpang." -
Hahahahaaa,
Kalau saya jadi CEO or termasuk di BOD/BOC, ndak pakai panjang, saya pecat tuh orang detik ini juga. Perusahaan pencari laba kok bicaranya seperti itu ..., ndak butuh penumpang, hahahahaa ...
KAI/KCJ Motto : Take It or Leave It ...