Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kompetitor PTKA
#11
(23-02-2010, 06:54 AM)Joe_cn Wrote: Kekuatan dari semua transportasi adalah kecepatan...
Dan kalo kita bicara kecepatan tentu saja kita bakal kalah dari airlines tho dan biasanya mayoritas penumpang saat2 ini adalah mendambakan kecepatan.
Nah KA sebenarnya bisa menang melawan darat karena bagaiamanapun kereta berjalan di rel, tinggal bagaimana saja membuat kereta itu tidak terlambat dan mempunyai waktu yang pas sendiri2 antar kereta dan disiplin waktu....

(23-02-2010, 07:07 AM)Semutsdt Wrote: Di samping kecepatan juga murah mas joe Ngakak 2 2 nya saling berkaitan Xie Xie


yepz, klebihan uda d sebut, gw stuju sama apa yg d ungkapin joe & pakdhe edja. rel dengan jalan yg memiliki short cut tersendiri, itu bisa d bilang satu dari 2 nilai plus yg d miliki KA qta, slaen tentunya pemandangan yg isa d bilang khas d bandingin negara laen.

tapi sayang gw musti ngakuin, klemahan dari PT KA bnernya masi sangat banyak klo d list, entah itu faktor internal, ato mank kterbatasan external.
Gw coba membuat list saja (mohon maaf sblomnya klo mungkin nanti ada yg ga spendapat):
  • teknologi & kmampuan qta masi banyak terbatas untuk membuat perjalanan KA qta memiliki waktu tempuh yg lebi singkat lagi dari sisi medan yg d lalui, contohnya petak KYA-BD yg pgunungannya terjal. Klo misal qta mampu menguruk jalur memotong gunung tsb sperti d negara lain, tentunya waktu tempuh KA akan lebi cpat lagi, slain dari teknik DT qta skarang.

  • Sarana yg kita miliki masih blum bner2 menunjang. Lok2 yg qta punyai skarang ini bisa d katakan 80% adalah lok produksi lama yg sudah sdikit skli d pakai negara bsar lain (tidak termasuk CC 204), perlu d akui klo sbenarnya lok qta tidak scepat lok d USA, Japan, ato Rusia.

  • Kterbatasan sarana lainnya adalah rel & kereta kita. Dari segi rel, d beberapa petak d pulau jawa saja masi ada yg bantalannya sudah lapuk & rel tidak kuat menahan laju CC 203 scara sering. Dari segi kereta, gw melihat produksi yg spertinya perlu d sesuaikan lagi dengan medan yg ada d indonesia, sperti rangkaian dari argo sindoro & argo bromo anggrek yg sering kali PLH jika harus d bawa kedalam rute yg meliuk terlalu banyak & juga rangkaian gajayana yg meskipun kuat untuk melewati pegunungan terjal, namun saat d pakai untuk KLB kemarinpun taspat 80 KM/jam sudah terasa guncang d dalamnya.

  • Yang terakhir yg gw amati adalah perlunya penyesuaian ulang harga d beberapa kasus. Untuk K3 harga menurut gw uda bagus hanya perlu peningkatan pelayanan sedikit, namun untuk K1 & argo pada saat long week end atopun libur panjang sering kli melambung terlalu tinggi & hanya memberi celah tipis dengan pesawat, dari hsil gw sndiri survey d beberapa kampus untuk tujuan berbagai daerah, mreka lebih memilih untuk menggunakan bus & pesawat jika libur panjang datang, mengingat harga ticket KA yg biasanya paling mahal hanya 210rb, namun memasuki liburan harga langsung menjadi 350rb, sdangkan psawat saja hari biasa dengan harga 400rb hanya menaikan harga hingga range harga 470rb. Sering d keluhkan prosentase kenaikan harga KA tidak realistis, apalagi jika ternyata harga tersebut adalah KA tambahan & sering kali pelayanan yg d dapatkan turun jauh d banding hari2 kerja.

  • Permasalahan harga yg lain adalah pemberian tarif yg pada dasarnya tidak sesuai dengan pangsa pasar pemakai jasa (contoh harga KRD SMC-SLO) ada berbagai tempat d pulau jawa konsumer KA adalah petani & pedagang desa yg daya belinya tidak bsar, namun tarif yg d kenakan untuk KA itu justru mencapai 20rb+, sehingga konsumen lebih memilih bus. Ada pula kasus unik sperti pada tarif bangunkarta exe skarang ini, PSE-SMT harga yg d berikan adalah 190rb, namun dari arah sebaliknya hanya 140rb, jika d pikirkan mungkin itu siasat agar penumpang argo sindoro yg brangkatnya ga jauh bda jamnya dengan KA ini tidak terhisap seluruhnya, namun hal ini tetap terlihat sangat janggal. Terbukti dengan persentase bangunkarta exe dari JG yg relatif padat (entah yg naik dari JG ato juga SMT) namun bangunkarta dari PSE sampai saat ini cenderung lebih sepi karna faktor harga & pelayanan, orang berpikir dengan menambahkan uang sedikit sudah merasa lebih nyaman & cpat sampai menggunakan bima ato gajayana.

mungkin itu dari pemikiran gw pribadi, jika ada yg ingin membrikan tanggapan lain, memperbaiki pendapat ini, silakan Xie Xie
Reply
#12
(23-02-2010, 06:31 PM)Andrew_CN Wrote:
(23-02-2010, 06:54 AM)Joe_cn Wrote: Kekuatan dari semua transportasi adalah kecepatan...
Dan kalo kita bicara kecepatan tentu saja kita bakal kalah dari airlines tho dan biasanya mayoritas penumpang saat2 ini adalah mendambakan kecepatan.
Nah KA sebenarnya bisa menang melawan darat karena bagaiamanapun kereta berjalan di rel, tinggal bagaimana saja membuat kereta itu tidak terlambat dan mempunyai waktu yang pas sendiri2 antar kereta dan disiplin waktu....

(23-02-2010, 07:07 AM)Semutsdt Wrote: Di samping kecepatan juga murah mas joe Ngakak 2 2 nya saling berkaitan Xie Xie


yepz, klebihan uda d sebut, gw stuju sama apa yg d ungkapin joe & pakdhe edja. rel dengan jalan yg memiliki short cut tersendiri, itu bisa d bilang satu dari 2 nilai plus yg d miliki KA qta, slaen tentunya pemandangan yg isa d bilang khas d bandingin negara laen.

tapi sayang gw musti ngakuin, klemahan dari PT KA bnernya masi sangat banyak klo d list, entah itu faktor internal, ato mank kterbatasan external.
Gw coba membuat list saja (mohon maaf sblomnya klo mungkin nanti ada yg ga spendapat):
  • teknologi & kmampuan qta masi banyak terbatas untuk membuat perjalanan KA qta memiliki waktu tempuh yg lebi singkat lagi dari sisi medan yg d lalui, contohnya petak KYA-BD yg pgunungannya terjal. Klo misal qta mampu menguruk jalur memotong gunung tsb sperti d negara lain, tentunya waktu tempuh KA akan lebi cpat lagi, slain dari teknik DT qta skarang.

  • Sarana yg kita miliki masih blum bner2 menunjang. Lok2 yg qta punyai skarang ini bisa d katakan 80% adalah lok produksi lama yg sudah sdikit skli d pakai negara bsar lain (tidak termasuk CC 204), perlu d akui klo sbenarnya lok qta tidak scepat lok d USA, Japan, ato Rusia.

  • Kterbatasan sarana lainnya adalah rel & kereta kita. Dari segi rel, d beberapa petak d pulau jawa saja masi ada yg bantalannya sudah lapuk & rel tidak kuat menahan laju CC 203 scara sering. Dari segi kereta, gw melihat produksi yg spertinya perlu d sesuaikan lagi dengan medan yg ada d indonesia, sperti rangkaian dari argo sindoro & argo bromo anggrek yg sering kali PLH jika harus d bawa kedalam rute yg meliuk terlalu banyak & juga rangkaian gajayana yg meskipun kuat untuk melewati pegunungan terjal, namun saat d pakai untuk KLB kemarinpun taspat 80 KM/jam sudah terasa guncang d dalamnya.

  • Yang terakhir yg gw amati adalah perlunya penyesuaian ulang harga d beberapa kasus. Untuk K3 harga menurut gw uda bagus hanya perlu peningkatan pelayanan sedikit, namun untuk K1 & argo pada saat long week end atopun libur panjang sering kli melambung terlalu tinggi & hanya memberi celah tipis dengan pesawat, dari hsil gw sndiri survey d beberapa kampus untuk tujuan berbagai daerah, mreka lebih memilih untuk menggunakan bus & pesawat jika libur panjang datang, mengingat harga ticket KA yg biasanya paling mahal hanya 210rb, namun memasuki liburan harga langsung menjadi 350rb, sdangkan psawat saja hari biasa dengan harga 400rb hanya menaikan harga hingga range harga 470rb. Sering d keluhkan prosentase kenaikan harga KA tidak realistis, apalagi jika ternyata harga tersebut adalah KA tambahan & sering kali pelayanan yg d dapatkan turun jauh d banding hari2 kerja.

  • Permasalahan harga yg lain adalah pemberian tarif yg pada dasarnya tidak sesuai dengan pangsa pasar pemakai jasa (contoh harga KRD SMC-SLO) ada berbagai tempat d pulau jawa konsumer KA adalah petani & pedagang desa yg daya belinya tidak bsar, namun tarif yg d kenakan untuk KA itu justru mencapai 20rb+, sehingga konsumen lebih memilih bus. Ada pula kasus unik sperti pada tarif bangunkarta exe skarang ini, PSE-SMT harga yg d berikan adalah 190rb, namun dari arah sebaliknya hanya 140rb, jika d pikirkan mungkin itu siasat agar penumpang argo sindoro yg brangkatnya ga jauh bda jamnya dengan KA ini tidak terhisap seluruhnya, namun hal ini tetap terlihat sangat janggal. Terbukti dengan persentase bangunkarta exe dari JG yg relatif padat (entah yg naik dari JG ato juga SMT) namun bangunkarta dari PSE sampai saat ini cenderung lebih sepi karna faktor harga & pelayanan, orang berpikir dengan menambahkan uang sedikit sudah merasa lebih nyaman & cpat sampai menggunakan bima ato gajayana.

mungkin itu dari pemikiran gw pribadi, jika ada yg ingin membrikan tanggapan lain, memperbaiki pendapat ini, silakan Xie Xie

Dengan berbagai permasalahan di atas, saya kadang merasa sedih ketika melihat suatu fakta bahwa usia perkeretaapian Indonesia dan Australia (sebagai contoh) tak terlalu berbeda jauh. Namun, Indonesia jauh ketinggalan. Saya pernah naik KA Melbourne-Sydney yang berangkat terlambat kira-kira sejam dari Melb, tetapi tiba tepat waktu di Sydney.

Seringnya KA terlambat, membuat KA di Indonesia memiliki keunggulan komparatif minus dibanding kompetitor-kompetitornya.

Satu catatan tambahan, guna bersaing dengan segala kompetitor, mengapa tidak dipikirkan suatu strategi perolehan penumpang pada daerah-daerah yang terjangkau oleh jalur KA di Indonesia, namun tidak terjangkau/ jauh dari Bandara maupun layanan transportasi bis AKAP eksekutif?

Strategi semacam itu dilakukan oleh operator KA Citylink Sydney-Melbourne untuk melawan kompetitor jalur udara maupun bis. Kereta ini berhenti dan mengangkut penumpang dari stasiun-stasiun terpencil di Australia yang namanya bahkan jarang kita dengar di Indonesia, seperti Moss Vale, Yass Junction maupun Wagga-WaggaTersenyuum

Salam Spoor,
Reply
#13
@toto,

itu kan konsep feeder ya mas? menjemput penumpang dari stasiun2 kecil2 untuk selanjutnya diumpankan ke stasiun besar untuk ganti kereta cepat.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#14
(24-02-2010, 09:02 AM)ady_mcady Wrote: @toto,

itu kan konsep feeder ya mas? menjemput penumpang dari stasiun2 kecil2 untuk selanjutnya diumpankan ke stasiun besar untuk ganti kereta cepat.

Bukan feeder sih, Bang Ady.
Kadangkala di kota kecil kan tidak ada akses lain antar kota selain jalur kereta api. Tidak ada pilihan bagi penduduk selain naik KA. Nah, sampai sejauh mana PT KA bisa meraup keuntungan jika keberadaan penumpang di stasiun kecil bisa diwadahi oleh KA bisnis atau KA Ekse?

Tapi boleh juga tuh jika konsep feeder di Indonesia dihidupkan lagi seperti jaman Belanda dulu, misalnya dengan menghidupkan kembali jalur trem dan jalur-jalur mati lainnyaTersenyuum

Ini hanya sekedar pandangan saya sebagai orang awam BangTersenyuum

Salam Spoor,
Reply
#15
o, ngerti saya mas toto. itu konsep komuter. jadi ka eksekutif jarak jauh tapi banyak berhentinya. waduh kalo disini bisa molor itu waktu tempuhnya.

o, ya. sori oot. kalo gak salah sydney-melbourne itu setara jarak jkt-sby ya? mau tanya sedikit mas toto. itu citylink pake gauge berapakah? dan jarak 700 km menempuh berapa lama?

btt, kalo saya sih gampang saja. untuk kasus di indonesia, kalo misal kereta api kalah bersaing dengan pesawat, kenapa tidak kerjasama saja? misal dengan adanya jalur ka ke bandara, bisa mengakomodasi penumpang yang mau ke kota2 kecil disekitar bandara dengan jarak < 100 km misalnya.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#16
(24-02-2010, 02:03 PM)ady_mcady Wrote: o, ngerti saya mas toto. itu konsep komuter. jadi ka eksekutif jarak jauh tapi banyak berhentinya. waduh kalo disini bisa molor itu waktu tempuhnya.

o, ya. sori oot. kalo gak salah sydney-melbourne itu setara jarak jkt-sby ya? mau tanya sedikit mas toto. itu citylink pake gauge berapakah? dan jarak 700 km menempuh berapa lama?

btt, kalo saya sih gampang saja. untuk kasus di indonesia, kalo misal kereta api kalah bersaing dengan pesawat, kenapa tidak kerjasama saja? misal dengan adanya jalur ka ke bandara, bisa mengakomodasi penumpang yang mau ke kota2 kecil disekitar bandara dengan jarak < 100 km misalnya.

Iya sih kalau di Indonesia memang susah. Mungkin hanya bisa terealisasi dengan sistem komuter.

menjawab oot (mohon ijin Pak Moderator), seingat saya 1435mm. Jarak tempuh sekitar 11 jam.

Salam Spoor,
Reply
#17
(24-02-2010, 01:47 PM)Toto Wrote:
(24-02-2010, 09:02 AM)ady_mcady Wrote: @toto,

itu kan konsep feeder ya mas? menjemput penumpang dari stasiun2 kecil2 untuk selanjutnya diumpankan ke stasiun besar untuk ganti kereta cepat.

Bukan feeder sih, Bang Ady.
Kadangkala di kota kecil kan tidak ada akses lain antar kota selain jalur kereta api. Tidak ada pilihan bagi penduduk selain naik KA. Nah, sampai sejauh mana PT KA bisa meraup keuntungan jika keberadaan penumpang di stasiun kecil bisa diwadahi oleh KA bisnis atau KA Ekse?

Tapi boleh juga tuh jika konsep feeder di Indonesia dihidupkan lagi seperti jaman Belanda dulu, misalnya dengan menghidupkan kembali jalur trem dan jalur-jalur mati lainnyaTersenyuum

Ini hanya sekedar pandangan saya sebagai orang awam BangTersenyuum

Salam Spoor,

hhmmm, mengerti gw, slaen brenti d kota2 kcil, tapi juga perpanjangan rute
tapi mustahil klo d saranainya dengan executive kang, paling mungkin ya ekonomi.
skarang ini bnernya uda ada kahuripan yg relasinya dari PDL (padalarang) k SB
hampir ga da KA yg brenti d padalarang slaen parahyangan yg musti bsilang.
mungkin memank bner perlu KA smacam itu juga, sjaun ini ada wacana kutojaya mo d tarik k PWJ (purworejo) tapi ga tau jadi ga nya.
sblomnya tapi perlu ada bsar2an perbaikan jalur dulu untuk merealisasikannya
stuju sama pndapat kang toto
Reply
#18
(23-02-2010, 07:07 AM)Semutsdt Wrote: Di samping kecepatan juga murah mas joe Ngakak 2 2 nya saling berkaitan Xie Xie

Bener bang...
nah murah, bener kata Cak semut, nah apa sekarang KA menurut cak semut uda termasuk murah kalo kita bandingin sama fasilitasnya?
Jangan sampe kita juga dikalahkan oleh bus karena mereka lebih murah dari KA.

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#19
Kalo menurut saya kereta kita itu murah untuk lho baik k1,k2,k3 Ngakak jika di banding naik mobil pribadi Ngakak eh maksuda saya taxi
Reply
#20
maskapai singo mabur (lion air) mau masuk garap kereta bandara.

berita di http://industri.kontan.co.id/news/pemeri...ka-bandara
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)