Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
In memoriam trek kota wingko sampai kota legen/tuak
#71
Dulu memang pernah ada mas jalur ke stasiun merak urak. ini salah satu cerita dari mantan pegawai DKA yg dulu adalah masinis ka BABAT-TUBAN. beliau telah wafat 15tahun yg lalu. Pada waktu itu memang belanda mau merencanakan jalur ka atau membikin jalur penyambung antara lasem tuban tapi ada hal yg tidak bisa dipikir nalar sehat. Pokoknya setiap akan dipasang rel selalu amblas tanahnya dan akhirnya disambung dng melewati jalur ke merak urak tapi tetep aja kek gitu dan akhirnya pembangunan tersebut cuman sampai merak urak dan itupun belum pernah dijadikan jalur reguler karena waktu uji coba trek tersebut ada hal2 mistik yg tak bisa dilalui kereta dan sampai disitu akhirnya merak urak jadi jalur mati yg paling muda umurnya. Soal kebenarannya hanya tuhan yg tahu.
Reply
#72
ternyata begitu toh mas, wah jadi tambah lagi pengetahuan saya Xie Xie
coba jalur lasem-tuban dulu benar2 terealisasi ya mas, pasti masih aktif sampai sekarang, krn itu jalur yang pasti ramai, kalau tidak salah, jalur lasem itu lanjut ke demak, terus ke semarang ya mas?
Reply
#73
Bener lasem merupakan jalur yg menuju rembang semarang dan menuju ke jatirogo
Reply
#74
Ini ada oleh oleh dari hasil blusukan hari minggu kemarin tgl 3 januari 2010 tapi satu 2 dulu soalnya tunggu di upload yak

[Image: wb7yc4.jpg]yg ini masih di seputaran sungai bengawan solo
[Image: 2vkcbco.jpg]

[Image: 2cpdcaf.jpg]


[Image: 2r5zv3r.jpg]yang ini bekas jembatan ka di desa kandangan kabupaten TUBAN
Inilah tanda yg 2 bulan lalu diukur kembali oleh pemerintah di semua jalur ka babat tuban
[Image: 10igbiw.jpg]
Reply
#75
Ini adalah bekas stasiun KLOTHOK
[Image: fa6bzq.jpg] stasiun ini pernah jadi saksi bisu 30 tahun yg lalu bangunan ini pernah jadi tempat berkumpulnya masyarakat desa
Reply
#76
wah jembatanne panjang-panjang dan kayaknya pemandangan alamnya bagus euy..

Reply
#77
Melihat postingannya , tanpa terasa hati menjadi terharu , alangkah indahnya persepuran jaman dulu , kenapa ya kok bisa mati , jawabnya tentu mudah , semudah membalik tangan , jawaban yang paling standar adalah karena rugi , nah kenapa rugi , jawaban mungkin tak semudah pertanyaan pertama , tapi yg jelas karena banyak saingan , tapi itu bukan jawaban yg jujur , jawaban yg diharapkan adalah karena pemerintah kurang peduli terhadap angkutan kereta api , pengelolaan yang setengah hati , managemen yg " bocor " disana-sini buktinya adalah foto2 yg sudah tersaji, tetap semangat Cak Semut , lanjutkan perjuanganmu melalui postinganmu kami selalu bersamamu.
Reply
#78
Ini lagi kang bambang ada bekas jembatan masih didesa klothok
[Image: rwl0qu.jpg]


[Image: k4w1hc.jpg]kalau yang ini berada di desa plumpang
Reply
#79
Mungkin kalo jembatan ini pakai baut biasa bukan pakai keling sudah " Raib " kali ya Cak , mengenaskan sekali nasib sepur lintas cabang , padahal kalo mau bersabar Pemerintah / Dephub / Hubdar / PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mempertahankan hidupnya lintas cabang ini sekarang bisa dilayani KRDI walaupun harus " Tombok " kan buat rakyat juga . Biasanya Jembatan atau bangunan rangka baja yg menggunakan keling cenderung aman dari tangan " kreatif " , kenapa ya ?
Reply
#80
Bener kang bambang padahal rel nya dah raib semua kecuali yg berada di wilayah babat masih utuh semua kalo gambar jembatan plumpang itu sudah mulai masuk area hutan jati yg berjarak sekitar 5km
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)