02-08-2016, 12:00 AM
TRIP REPORT
KA Ekonomi Sri Tanjung BW(KNE)-SGU-LPN
Selasa, 19 Juli 2016
EKO 3/ 6D dan 6E
Setelah membuat TR KA Kertajaya PSE-SBI di subtrit Lintas Utara, sekarang saya ingin membagikan pengalaman saya menggunakan KA Ekonomi Sri Tanjung BW-SGU-LPN. Saya sungguh tidak sabar dan excited banget sama perjalanan naik KA Sri Tanjung karena:
1. untuk pertama kalinya saya akan naik KA melintasi jalur yang belum pernah saya lewati sebelumnya, yaitu jalur dari Banyuwangi menuju Surabaya yang terkenal eksotis, antik, unik, dan selalu membuat hati ini tertarik untuk mencobanya. Apalagi ditambah saat membaca TR rekan2x RF yang sudah pernah melewati jalur ini, Duh semakin mupeng ngiler deh pokoknya.
2. Untuk pertama kalinya juga saya akan pergi naik KA Ekonomi dengan waktu tempuh perjalanan di atas 12 jam pada pagi hingga malam hari. Biasanya kan kalo naik KA yang belasan jam tuh kalo ga siang hingga dini hari ya sore/malam hingga pagi/siang hari.
Saya sudah memesan tiket KA jauh2x hari karena memang takut keabisan apalagi kan masih musim liburan musim panas sama libur kuliah juga. Saya kebetulan memilih tempat duduk di Ekonomi 3 Kursi No. 6D dan 6E. Kenapa ekonomi 3? Soalnya saya memang kalo naik KA sukanya kayak di kereta 2, 3, 4, dan 5. Ga suka terlalu depan dan ga suka yang terlalu belakang. Sukanya di tengah2x biar dapet peron dan ya ga suka aja kayak jadi yang terbelakang gitu walau beberapa orang suka soalnya bisa liat lokomotif sama kereta2x di depannya.
Sebenernya, saya pesan tiketnya untuk jurusan Banyuwangi Baru-Lempuyangan alias naiknya dari Banyuwangi Baru. Namun, berhubung ternyata tempat penginapan saya+sahabat saya ini ternyata benar2x dekat alias ya cuma sepelemparan batu dari Stasiun Karangasem maka kami memutuskan untuk naik KA Sri Tanjung dari Stasiun Karangasem. Sebenernya pengen banget ke stasiun ujung timur Jawa tapi takut kepagian susah cari transport juga males bangun kepagian juga jadi yaudah lah dari Karangasem aja lebih deket. Mungkin lain kali saya akan mencoba naik dan turun di Banyuwangi Baru.
Kami berangkat meninggalkan Banyuwangi pada Selasa, 19 Juli 2016 menuju Yogyakarta. Oh ya, saking deketnya itu stasiun sama penginapan jadi kami santai banget. Ya tetep bangun pagi jam setengah limaan terus mandi beres2x dll. Ga sempet sarapan soalnya takut kelamaan jadinya mesen makanan di warung deket penginapan. Btw, penginapannya reccomended sih boleh banget dicoba buat yang mau ke Banyuwangi hehehe...
Kami masuk ke peron Stasiun Karangasem tepat pada saat bel khas stasiun yang tingtong tingtong itu berbunyi alias beberapa menit sebelum KA Sri Tanjung masuk Stasiun Karangasem. Hahahaha soalnya emang deket banget jadi woles. Ini lebih woles dibanding saat saya naik KA Majapahit dari ML ke PSE awal Februari lalu di mana saya tiba di dalam KA lima menit sebelum KA berangkat. Kalo di Jakarta mah buset jangan harap deh.
Saat itu KA Sri Tanjung ditarik lokomotif CC 201 dan di belakangnya ada kereta LD, lalu dilanjut Gerbong Bagasi, baru kereta penumpang atau pembangkit atau KP gitu lupa. Jadi ga terlalu depan deket lokomotif, yeayy seneng deh di tengah dan ga berisik hehehe... Begitu masuk ke dalam kabin kereta, wah AC-nya enak sejuk sekitar 23' Celcius. Beda banget sama Kertajaya. Lalu suasananya juga rapi dan bersih lalu sepi belum banyak penumpang. Wah enak nih pikir saya hehehe... Oh ya, eksterior keretanya yang ekonomi 3 masih livery lama warna oren kuning stripping biru khas ekonomi. Kursinya jg masih model lama, belom yg baru.
Tepat pukul 06.45, KA Sri Tanjung membunyikan
khas CC 201 dan berangkat meninggalkan Stasiun Karangasem. See u Banyuwangi! Kami pasti akan datang kembali! Seru banget deh pokoknya Banyuwangi langsung jatuh cinta banget sama Banyuwangi.
khas CC 201 dan berangkat meninggalkan Stasiun Karangasem. See u Banyuwangi! Kami pasti akan datang kembali! Seru banget deh pokoknya Banyuwangi langsung jatuh cinta banget sama Banyuwangi. Perlahan2x, KA Sri Tanjung mulai menaikkan temponya dan menyusuri persawahan serta pemukiman di pagi hari yang sejuk. Sayang banget kaca jendelanya kaca film bikin marah soalnya jadi gelap dan ga leluasa gitu. Padahal kalo bening bakal WOW BANGET. Rasanya pengen dicopot aja tuh kaca film tapi nanti takutnya dikira merusak fasilitas negara :

Baru aja kami seneng karena suasana dan jumlah penumpang yang sedikit. Depan kami juga kosong kursinya, berharap kosong terus sampe Lempuyangan. Eh taunya, begitu memasuki Stasiun Rogojampi, buset dah langsung nambah rame aja penumpangnya. Lumayan banyak juga ya, padahal kecamatan gitu. Mungkin ini kecamatan yang signifikan juga di Kabupaten Banyuwangi. Dan akhirnya kursi di depan saya ditempati oleh seorang bapak yang berasal dari Serang dan akan turun di Surabaya Gubeng lalu melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan KA Gumarang. Luar biasa ya bapak ini. Begitu tangguh.
Hal ini terus terjadi hingga stasiun2x berikutnya, seperti Stasiun Temuguruh, Stasiun Kalisetail, Stasiun Sumberwadung, dan Stasiun Glenmore. Langsung hampir lebih dari separuh isi kereta ekonomi 3 langsung terisi. Penumpangnya juga banyak yang sepertinya berasal dari kalangan agamis yang beragama Islam karena menggunakan sorban, peci, baju koko, dan perempuannya ada beberapa yang menggunakan cadar/abaya berwarna hitam. Apakah di Kabupaten Banyuwangi ada pesantren besar dan terkenal? Soalnya lumayan banyak yang naik gitu soalnya. Saya kurang tahu tapi mereka akan turun di mana.
Setelah cukup banyak KA Sri Tanjung berhenti di stasiun2x kecil di Kabupaten Banyuwangi nan luas itu, KA Sri Tanjung pun tiba di Stasiun Kalibaru pada pukul 07.59 WIB. Wah Kalibaru. Saya sangat excited karena selepas ini jalur KA akan melintas tempat yang alami dan eksotis serta melewati pegunungan, hutan, jembatan, dan terowongan. Apalagi cuaca juga cerah di luar. Saya sampai mewanti2x sahabat saya itu untuk tidak tidur karena selepas Stasiun Kalibaru, KA Sri Tanjung akan melalui jalur yang sangat eksotis. Oh ya, ada satu penumpang perempuan berhijab yang naik dari KBR dan duduk di kursi depan sahabat saya. Jadi langsung full deh.
Tepat pukul 08.02 WIB, KA Sri Tanjung pun akhirnya diberangkatkan kembali dari Stasiun Kalibaru menuju Lempuyangan. Terasa sekali deru lokomotif dan kereta mulai menanjak dan ngegas, sembari membunyikan
. Wah keren.... Tak perlu waktu lama, Akhirnya KA Sri Tanjung pun mulai memasuki jalur eksotis khas Daop IX. Wah wah wah.... Sepanjang perjalanan melalui jalur Kalibaru hingga Kalisat dan Jember, saya dan sahabat saya tak henti-hentinya berdecak kagum memandang keindahan alam yang tersaji di luar jendela KA. Mulai dari bukit, gunung, hutan, pabrik kopi, pemukiman penduduk, jurang. Wah semuanya bener2x luar biasa. Sayangnya saya tidak mengabadikannya karena kaca jendelanya pake kaca film malah jadi burem ga enak utk foto2x.
. Wah keren.... Tak perlu waktu lama, Akhirnya KA Sri Tanjung pun mulai memasuki jalur eksotis khas Daop IX. Wah wah wah.... Sepanjang perjalanan melalui jalur Kalibaru hingga Kalisat dan Jember, saya dan sahabat saya tak henti-hentinya berdecak kagum memandang keindahan alam yang tersaji di luar jendela KA. Mulai dari bukit, gunung, hutan, pabrik kopi, pemukiman penduduk, jurang. Wah semuanya bener2x luar biasa. Sayangnya saya tidak mengabadikannya karena kaca jendelanya pake kaca film malah jadi burem ga enak utk foto2x. Belum lepas kekaguman kami akan pemandangan alam tersebut, kami juga dibuat berdecak kagum dengan terowongan panjang yaitu Terowongan Mrawan serta terowongan pendek yaitu Terowongan Garahan yang menembus wilayah Gunung Gumitir. Wah gila ini sih ga cuma wisata ujung timur Jawa aja yang bikin berkesan, tetapi KA dan perjalanan KA-nya juga bikin jatuh cinta. WOW BANGET SUKAKKKK :
Gila sepanjang jalan ga henti2x-nya bersyukur memuji kebesaran Tuhan karena alam ciptaannya yang luar biasa keren ini ditambah lagi jalur KA yang melintasi wilayah berpanorama indah tersebut. Sumpah ini berkesan banget seumur hidup naik KA lintas timur Jawa. Fix banget kalo Surabaya-Banyuwangi akan selalu naik KA. Ga mau naik yang lain apalagi bus, mobil, dll. Mendingan naik KA aja deh. Ini bikin ketagihan. Pemandangan indah masih berlanjut hingga selepas Kalisat, di mana pemandangan yang tadinya didominasi oleh hutan dan pegunungan digantikan oleh pemandangan persawahan, pedesaan, sungai2x kecil nan jernih, serta bukit di kejauhan. Wah wah wah... Masih pagi udah dikasih pemandangan kayak gini mah aduh aku seneng sekali. Serius deh, saya dan teman saya langsung jatuh hati banget sama pemandangan KA lintas timur Jawa. Gila ini mah kenapa sih keren banget???
Gila sepanjang jalan ga henti2x-nya bersyukur memuji kebesaran Tuhan karena alam ciptaannya yang luar biasa keren ini ditambah lagi jalur KA yang melintasi wilayah berpanorama indah tersebut. Sumpah ini berkesan banget seumur hidup naik KA lintas timur Jawa. Fix banget kalo Surabaya-Banyuwangi akan selalu naik KA. Ga mau naik yang lain apalagi bus, mobil, dll. Mendingan naik KA aja deh. Ini bikin ketagihan. Pemandangan indah masih berlanjut hingga selepas Kalisat, di mana pemandangan yang tadinya didominasi oleh hutan dan pegunungan digantikan oleh pemandangan persawahan, pedesaan, sungai2x kecil nan jernih, serta bukit di kejauhan. Wah wah wah... Masih pagi udah dikasih pemandangan kayak gini mah aduh aku seneng sekali. Serius deh, saya dan teman saya langsung jatuh hati banget sama pemandangan KA lintas timur Jawa. Gila ini mah kenapa sih keren banget??? Oke lanjut ya, singkat cerita akhirnya KA Sri Tanjung pun merapat di stasiun besar yang menjadi pusat daop IX apalagi kalo bukan Stasiun Besar Jember. Nah, di sini KA Sri Tanjung berhenti agak lama, dari 09.11 hingaa 09.20. Mungkin sekalian istirahat kali ya capek abis lewatin pegunungan juga. Lalu kan juga stasiun besar, di sini banyak penumpang yang naik KA ini. Jadi semakin ramai deh keretanya. Untuk pertama kalinya pula saya melihat stasiun besar di daop ujung timur Jawa secara langsung.
Selepas Jember, KA Sri Tanjung mulai menaikkan lajunya. Mungkin karena sudah tidak melewati pegunungan dan tidak terlalu banyak berhenti juga kayak pas masih di Kabupaten Banyuwangi. Oh ya, ada hal menarik di sini. Sekarang kan di perjalanan KA udah hampir semuanya pake suara pemberitahuan pengumuman spt keberangkatan dan kedatangan yang ala2x pesawat itu, nah di KA Sri Tanjung ini unik. Selepas Karangasem hingga Jember kali ya? Suara pengumumannya tuh secara manual oleh petugasnya atau apa lah gitu bapak2x kayaknya soalnya suaranya berat. Tapi suaranya jelas banget ga ngadet. Giliran pas dicoba pake yang otomatis suara wanita ala2x pesawat itu, kebanyakan ngadet2x. Sempet sih dipake beberapa kali tapi ya gitu ngadet2x. Akhirnya ganti-gantian deh, kadang manual kadang otomatis jadi gado2x deh. Semoga segera diperbaiki deh biar standar semua.
Di Stasiun Tanggul pun KA Sri Tanjung berhenti. Di sini ada kejadian. Ada serombongan keluarga yang naik, mereka dari Lumajang mau ke Wates. Sepertinya ga dapet Logawa, jadinya naik Sri Tanjung. Mereka juga bilang mau balik abis mudik lebaran. Weleh2x, tanggal 19 Juli baru balik? Mereka terdiri dari Ayah, Ibu, Nenek, dan Anak perempuan. Jadi gini, tiket si Ibunya tuh harusnya di seat 4 A/B kalo ga salah, tapi kok udah ditempati sama seorang bapak2x. Pas ditanya, si bapak itu ngakunya sih duduknya di kursi depan teman saya yang udah ditempati sama perempuan yg naik dari Kalibaru. Kalo si mbak2x KBR ini emang duduknya udah di tempatnya sesuai pas dicek tiketnya. Si Ibu bingung kok bisa dobel ya? Untungnya seat di samping kursi saya dan mbak2x Kalibaru itu masih ada kosong satu/dua jadi ditempati dulu deh sama si Ibu dan anak serta si Mbah. Saat itu juga belum pemeriksaan tiket selepas Tanggul. Pas udah pemeriksaan tiket, saya lupa di mana kalo ga Probolinggo, Pasuruan, ya Bangil gitu si kondekturnya meriksa tiket eh ternyata si bapak yang ngaku kursinya diduduki sama mbak2x KBR itu taunya salah tempat duduk. Harusnya si bapak itu duduk di kursi nomor 13/16/18 gitu. Buset dah, jauh amat bang. Ga bisa bedain angka atau gimana itu? Ckckck... akhirnya problem terselesaikan.
Selepas Tanggul, Saya kira di jalur ini ga boleh ngebut eh taunya ngebut juga bahkan selepas Klakah kan kayak ada tikungan2x gitu masih bisa dan enak untuk ngebut. Boleh juga ini jalur ya. Sampe akhirnya mulai pelan pas jelang Leces. Saya kira ini Sri Tanjung telat, takut aja kalo silang sama Muttim Pagi di sini. Eh taunya cuma jalan pelan aja sampe akhirnya ketemu Mutiara Timur Pagi SGU-BW yang sudah menunggu dengan manis di Stasiun Probolinggo. Oh ya, di Probolinggo ada beberapa wisatawan mancanegara juga. Sepertinya mereka ada yang dari dan menuju Gunung Bromo.
Lepas Probolinggo, saya kira ini KA bakal ngebut taunya ealah welah dalah kok ini perasaan saya atau gimana kok kayak antara relnya yang jelek atau keretanya yang jelek? Ga nggremet, tapi kayak mau ngebut cuma nanggung. Pas saya cek GPS loh kok cuma 60-an km/jam sih? Saya pun tanya temen saya yg RF Daop VIII. Taunya emang relnya yang masalah. Rel tipe R33 bantalan beton. Yailah, pantesan. Relnya tipenya kecil gitu tapi bantalan beton. Mau ngebut juga nanggung. Beda banget sama jalur sebelumnya yang BW-JR-PB, lebih enak. Ini ada niatan ga dari KAI khususnya Daop IX sama ya Dirjen KA untuk memperbaiki kualitas rel di jalur ini? Gila aja masa lebih cepet mobil, bus, motor yang melaju di jalan raya sebelahnya daripada si KA? Beda banget sama rel jalur pantura CN-BB dan CU-SBI yang tentunya berjalan lebih cepat daripada kendaraan di jalan raya. Sumpah, ga enak banget. Berisik. Ga bisa ngebut.
Penderitaan kami berakhir saat lepas Bangil, di mana KA bisa mulai menaikkan lajunya alias ngebut walau sempet pelan juga pas lewat di samping tanggul Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo. Oh ya, semoga cepet dibikin jalur barunya deh biar ga perlu kena banjir lapindo. Kasian juga, rawan banget kena amblesan lumpur. Selepas lewat lumpur lapindo, KA Sri Tanjung menjadi lebih ngebut melintasi rel KA yang kebanyakan berada di sisi jalan raya Surabaya-Sidoarjo. Keren rasanya berasa kayak di jalur Kranji-Jatinegara, bedanya ga pake ketahan KRL, ketahan sinyal, dan relnya masih single track.
Tak terasa KA Sri Tanjung sudah memasuki kota Surabaya dan merapat di Stasiun Wonokromo. Baru tau sekarang KA ekonomi mandeg lagi di Wonokromo. Bagus deh, jadi lebih praktis kayak KA2x luar kota yang masuk Jakarta berhenti di Jatinegara. Dan tak perlu waktu lama, tepat pukul 13.17 KA Sri Tanjung pun tiba di salah satu stasiun besar utama kota pahlawan. Tak lain dan tak bukan yaitu Stasiun Surabaya Gubeng. Yeay! Surabaya! Akhirnya setengah perjalanan lagi :') Di sini, KA Sri Tanjung berhenti lama karena berpindah posisi dan arah lokomotif. Lalu juga sekaligus isi air toilet kereta. Kemungkinan juga ada pergantian masinis di sini. Lalu, pertukaran penumpang juga terjadi di sini. Hanya saja, saya merasa lebih banyak yang turun daripada yang naik. Namun, tetap saja suasana kereta ramai.
Sebenernya, saya pengen turun cari makan tapi ga tau di SGU yang jualan makanan di dalem stasiun di mana. Mungkin rekan2x di sini ada yang tahu? Soalnya emang bingung juga. Taunya cuma Loko Cafe tapi ya mahal walau kata banyak orang sih enak. Akhirnya saya beli makan D Cost di Reska, itupun pas KA Sri Tanjung udah berangkat dari Kertosono. Untungnya enak sih dan ga semahal di kereta eksekutif hehehe...
Tepat pukul 13.38, KA Sri Tanjung meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng dan melanjutkan perjalanannya menuju kota pelajar. Selepas SGU, KA Sri Tanjung sempat berpapasan dengan KA Jayabaya jurusan ML-SGU-SBI-SMC-PSE yang sepertinya berhenti ketahan sinyal masuk SGU soalnya Sri Tanjung dimasukin ke jalur 6 pas di SGU. Lalu, KA Sri Tanjung kembali berhenti di Wonokromo. Kok berhenti lagi? Rupanya yang pertama tadi berhenti untuk menurunkan penumpang yang memang berakhir di Wonokromo. Yang kedua ini untuk menaikan penumpang yang berangkat dari Wonokromo. Oalah, jadi dibedain dan dua kali toh? Unik juga ya. Baru tahu saya hehehe...
Selepas WO, tentunya laju KA Sri Tanjung menjadi jauh lebih cepat dibanding jalur2x sebelumnya. Jelas, sekarang Jeng Sri sudah masuk melintasi jalur utama lintas selatan Pulau Jawa yang kualitas rel serta bantalannya lebih baik dari jalur lintas timur. Saya lebih banyak memutuskan untuk beristirahat karena pemandangan cenderung monoton dan tidak semenarik lintas timur, cuma lebih enak karena lebih ngebut.
Oh ya, dua penumpang di depan kami sudah turun. Bapak2x Serang itu turun di SGU, sedangkan Mbak2x Kalibaru itu turun di Mojokerto. Baru saja kami berdua senang karena tempat duduknya lega, eh taunya ada dua orang penumpang yang naik dari Mojokerto. Dua2x-nya perempuan berhijab yang cantik dan sepertinya mahasiswi yang akan menuju ke Jogja. Kenapa saya tahu? Soalnya mereka sempat ngobrol bahwa mereka kuliah di Jogja, apalagi ada juga yang pake baju sama tas tulisannya salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jogja. Sebenernya sih ya seneng aja mereka cantik, cuma yah kan saya jadi ga bisa selonjorin kaki. Secara mereka turunnya di Lempuyangan Jogja. Elah, untung mereka enak dilihat dan ramah juga. Kami sempat mengobrol beberapa kali. Ya not bad lah. Pengen selonjorin kaki tapi nanti takut ga enak hehehe....
Singkat cerita, tak terasa KA Sri Tanjung sudah tiba di Madiun. Di sini, KA Sri Tanjung berhenti lebih dari 15 menit tanpa persilangan dan penyusulan. Entah pertimbangan apa saya pun tidak tahu. Mungkin isi air lagi atau ganti masinis sekalian? Tak apa lah. Yang saya tahu selepas Madiun, KA Sri Tanjung akan mulai bersilang dengan sejumlah KA dari barat dan akan melewati jalur KA yang menurut saya kualitasnya termasuk paling baik di Indonesia yaitu jalur MN-SLO-YK. Yeay tidak sabar untuk segera tiba di Jogja!
Di Paron, KA Sri Tanjung berhenti. Normalnya, di sini ia akan masuk sepur belok untuk bersilang dengan KA 180 Pasundan KAC-SGU yang akan melintas langsung di Stasiun Paron. Namun, yang terjadi malah KA Sri Tanjung masuk sepur lurus Stasiun Paron dan tidak bersilang dengan KA apapun hingga berangkat. Padahal berhentinya sekitar 7 menit. Wah kayaknya telat nih si Pasundan. Di Kedunggalar pun belum bertemu Pasundan
Benar saja dugaan saya. Saat di Stasiun Walikukun, KA Sri Tanjung malah bersilang dengan KA 180 Pasundan KAC-SGU. Padahal, normalnya KA 180 Pasundan masuk dan berhenti di Walikukun sekaligus bersilang dengan KA 181 Kahuripan KD-KAC. Eh kok malah bersilang dengan Sri Tanjung? Sri Tanjung sendiri harus berhenti cukup lama di sini karena harus menunggu si Pasundan masuk dan berhenti di Walikukun. Normalnya pula, Sri Tanjung berhenti di Walikukun untuk bersilang dengan sang raja lintas selatan alias KA 6 Argo Wilis BD-SGU. Ada apa ini si Pasundan pada hari itu? Kok telat banget? Mau berhenti berapa banyak itu selepas Walikukun? Mau sampe SGU jam berapa?
Saya pikir selepas Pasundan berangkat, saya pikir KA 6 Argo Wilis juga akan telat dan bergeser persilangannya. Taunya, eh malah sekalian disuruh nungguin si Argo Wilis pula. Astaga, lama aja jadinya. Pas saya lihat, rupanya si Argo Wilis udah di depan sinyal muka/sinyal masuk Stasiun Walikukun. Kasian banget Wilis. Udah lah disusul aja noh si Pasundan daripada bikin lama.
Oh ya, di Walikukun saya sempet negur sahabat saya. Dia tuh orangnya ya gitu deh agak keras kepala kadang. Dia mau mengabadikan momen persilangan KA Sri Tanjung dengan KA Argo Wilis. tapi, dia keluarin badan dan mepet gitu loh. bahkan dia sempet mau turun. Ya saya tegur lah,"Cuy jangan deket2x. Itu nanti kenceng. Ya walau ga bakal sekenceng kalo papasan KA di jalur ganda. Nanti lu jatoh ketabrak aja" Eh dia malah ngomong,"Emang sekenceng apa sih? Bawel lah, gue juga tau kali" Idih, pengen gue jorokin aja tuh di sepur lurus biar kelindes. Kesel juga. Belum tau aja anginnya Argo Wilis kayak apa. Dan ya bener aja, pas KA Argo Wilis lewat... WUSSS>>> ..... Dia langsung kaget dan diem lalu mundur. Dia lalu bilang,"Anjir, anginnya kenceng juga ya. Mesinnya kagetin. Untung gue ga jadi terlalu deket" Tuh kan bener kata gue. Ga percaya sih. Masih untung itu si Argo Wilis sempet ketahan sinyal dulu jadi ga terlalu kenceng. Coba kalo ga ketahan sinyal, beuhhh pastinya kenceng dengan
meraung2x. Tau sendiri si Argo Wilis kalo udah kenceng gitu kayak apaan.
meraung2x. Tau sendiri si Argo Wilis kalo udah kenceng gitu kayak apaan.Selepas Walikukun, tepat saat adzan maghrib KA Sri Tanjung pun berangkat. Dia kembali harus menepi di Kedungbanteng untuk bersilang dengan KA 86 Sancaka Sore YK-SGU dan Berhenti di Kebonromo (Sepertinya untuk berhenti normal karena kayaknya Sri Tanjung harusnya silang sama Sancaka Sore Di Kebonromo. Di sragen pun berhenti normal.
Lepas Sragen, KA Sri Tanjung jadi makin kenceng bahkan sempet sampe menyentuh angka 90-95 km/jam kecepatannya. Memang luar biasa jalur utama daop VI ini. Favorit dari dulu hehehe... Singkat cerita melintas langsung di Solo Jebres, Solo Balapan, dan akhirnya merapat di Purwosari. Yeay bentar lagi Jogja! Sempet juga sih saya khawatir pas Jeng Sri mandeg di PWS. Pas liat jam lah udah hampir jam tujuh malem. Artinya Lodaya Malam SLO-BD bakalan jalan bentar lagi. Duh jangan sampe deh disusul Lodaya Malam Bisa mampus, mau sampe jogja jam berapa? Namun, kekhawatiran saya tidak terbukti. Syukurlah.
Lepas PWS, KA Sri Tanjung melintasi rel yang diklaim paling bagus kualitasnya di Indonesia dan memang iya sih soalnya nyaman banget juga. Mana udah jalur ganda lagi. Mantep. Tak terasa pula tepat pukul 19.43 KA Sri Tanjung mengakhiri perjalanannya di Stasiun Besar Lempuyangan, Yogyakarta. Telat 13 menit dari jadwal sih, harusnya 19.30. Sebenernya bisa ontime, cuma lagi kena sial aja tuh gara2x si Pasundan telat jadinya silang dobel deh di Walikukun. Tapi ya keren sih untuk KA dengan jarak tempuh sejauh dan waktu tempuh selama Sri Tanjung hanya terlambat 13 menit. Apalagi jalurnya mayoritas masih jalur tunggal, melewati wilayah pegunungan, belom lagi lewat rel yang berisik, harus pindah arah posisi lokomotif, berhentinya juga banyak. Keren deh. Ga nyesel naik Sri Tanjung. Saya menyimpulkan KA ini sangat reccomended untuk yang ingin merasakan indahnya panorama Pulau Jawa dengan KA. Apalagi penumpangnya pada baik, ramah, disiplin, dan tertib karena pada sadar diri dan menutup pintu kereta usai membukanya. Luar biasa ya. Salut dengan penumpang dan kru KA Sri Tanjung.
Oh ya, penumpang yang turun di LPN juga banyak banget. Terus ga lama kemudian pukul 19.50 KA Bengawan dari PSE tujuan PWS juga tiba di LPN. Jadi makin rame deh itu penumpang yang turun d LPN. Hebat juga ya Bengawan ontime loh sesuai jadwal. Dan sebagai penutup, saat KA Sri Tanjung tengah dilangsir dari arah JPL 351 LPN dan KA Bengawan akan berangkat kembali menuju PWS, dari arah timur terlihat sorot cahaya lampu lokomotif disertai deru dan suara s
C206. Rupanya KA 81 Lodaya Malam SLO-BD melintas langsung dengan gagahnya di Stasiun Besar Lempuyangan. Wah keren keren. Kayaknya suatu saat nanti saya harus menikmati malam di JPL 351 LPN kala berkunjung ke Jogja.
C206. Rupanya KA 81 Lodaya Malam SLO-BD melintas langsung dengan gagahnya di Stasiun Besar Lempuyangan. Wah keren keren. Kayaknya suatu saat nanti saya harus menikmati malam di JPL 351 LPN kala berkunjung ke Jogja. Intinya, saya senang dan puas dengan perjalanan serta pelayanan KA Sri Tanjung. Semoga bisa menjadi lebih baik dan tetap bertahan. Ga ragu deh untuk menjadikan KA Sri Tanjung sbg pilihan transportasi apalagi kalo rame2x sama temen pastinya lebih seru. Thank you Sri Tanjung :
D
D Selasa, 19 Juli 2016
Banyuwangi Baru 06.30 WIB (Jelas lah ya ontime)
Karangasem 06.42-06.45
Rogojampi 06.55-07.00
Temuguruh 07.12-07.15
Kalisetail 07.25-07.28
Sumberwadung 07.36-07.38
Glenmore 07.46-07.48
Kalibaru 07.59-08.02
Kalisat 08.49-08.52
Jember 09.11-09.20
Rambipuji 09.32-09.35
Tanggul 09.54-09.56
*Berjalan perlahan di Stasiun Leces 10.46-10.49
Probolinggo 11.04-11.11 X KA 87 Mutiara Timur Pagi SGU-BW
Pasuruan 11.55-12.00
Bangil 12.19-12.23
Sidoarjo 12.46-12.50
Wonokromo 13.09-13.10
Surabaya Gubeng 13.17-13.38
Wonokromo 13.45-13.46
Mojokerto 14.17-14.21
*Berjalan pelan dan ketahan sinyal masuk Stasiun Curahmalang untuk menyilang KA Ekonomi Logawa PWT-SGU-JR 14.28-14.32
Jombang 14.45-14.48
Kertosono 15.02-15.08
*Berjalan perlahan Baron 15.14-15.16
Nganjuk 15.28-15.30
Caruban 15.57-15.58
Madiun 16.13-16.30
Barat 16.40-16.42
Paron 16.56-17.03
Walikukun 17.22-17.45 X KA 180 Ekonomi Pasundan KAC-SGU dan KA 6 Eksekutif Argo Wilis BD-SGU
Kedungbanteng 17.56-?? X KA 86 Sancaka Sore YK-SGU
Kebonromo 18.??-18?? Berhenti Normal (Harusnya silang dengan Sancaka Sore YK-SGU di sini)
Sragen 18.18-18.20
Purwosari 18.50-18.53
Klaten 19.16-19.18
Lempuyangan 19.43


