15-09-2011, 07:22 AM
(15-09-2011, 06:26 AM)Dana Komuter Wrote: Iya bener kalau perpanjangan rute tanpa dipertimbangin dg banyak pertimbangan rasanya sulit :
1. Faktor masinis yang mana mereka punya jam kerja dan operasi kalo gak salah inget masinis menjalankan KAnya gak boleh >8 jam khan? Makanya ada pergantian masinis di bbrp stasiun persinggahan. Kecuali bener2 emergency spt adanya PL atau pun PLH.
2. Keberadaan masinis itu sendiri. Si masinis A ngejalanin KA B Ekspres utk rute C ke D itu apa ada pertimbangan mess di stasiun yg ada atau begitu sampai di kota D harus balik lagi ke kota C?
3. Mesin pada lokomotif dan KRD yang ada. Kalau diforsir sementara armadanya cuma ada semisal < 4 doank gimana bisa langsung operassin ke kota C lagi? Sementara mesinnya ahrus diistirahatin dulu.
4. Gapeka yang ada. Semisal si B Ekspres ini tiba pukul. 13.00 dari semisal 7 jam perjalanan. Terus balik lagi sekitar pukul. 18.00 berangkatnya. Nah... ini ada wacana akan diperpanjang ke kota E yang semula cuma sampai kota D. Kalau semisal cuma dikasih waktu isitrahat di kota E selama 1 jam saja... waw... apa yang terjadi dg mesinnya nanti digeberterus? Sementara semisal armadanya cuma ada < 4 doank...
Nah... jadi intinya Tegal Ekspres boleh saja terwujud dengan pertimbangan semisal ke Yogyakarta sekalipun via Purwokerto, tapi apakah enggak dilihat pertimbangannya dulu?
1. Bisa mengambil jatah penumpang Kaligung-kah?
2. Kalau dengan KRD apa medannya kuat di petak rel yg melingkar2 menanjak dan menurun?
3. Begitu pun semisal dg lokomotif yg ada. Apa lok2 klas CC atau elektrik cukup tersedia utk si TE ini? Kalau dg lok BB atau hidrolik aku agak ragu yah... Krn khan dah sepuh...
Berlaku juga semisal Tegal Ekspres melayani rute Tegal - Solo via Semarang deh...
Mungkin saja bisa terwujud KA relasi TG - PWT - YK bahkan sampe KT - SLO. Asalkan track PPK - TG sudah diupgrade berikut stasiunnya dan PPK - PWT minimal sudah full DT. Jadi aku kira butuh biaya yang tidak sedikit untuk mewujudkannya.


