Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Petisi Perbaikan Kualitas Sarana-Prasarana KA Commuter Jabodetabek
#31
(15-11-2013, 06:42 PM)luthfi muhammad Wrote: sebelumnya maaf kalo salah kamar,kalo naik CL itu apa barang bawaan dibatasi?

Mungkin iya gan , mengingat CL hampir setiap perjalanannya penuh , apalagi klo jam sibuk , jd klo barang bawaan terlalu banyak tidak diperbolehkan...apalagi bisa mengganggu kenyamanan penumpang jadi tetap ada batasannya.. Xie Xie
Reply
#32
jerit peluit iringi putaran cakram membelai batang baja
. . . . .



[Image: new2copy.jpg]
Reply
#33
maaf mas numpang nanya,kalo batas barang bawaan di CL ukurannya berapa ya?
Reply
#34
Kereta Sering Mogok, KRL Baru Belum Juga Beroperasi

Jakarta - Sebanyak 100 kereta rel listrik (KRL) jenis 205 yang baru didatangkan dari Jepang hingga kini belum dapat beroperasi di lintasan Bogor-Jakarta dan sebaliknya. Penyebabnya, sertifikasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan hingga kini belum selesai. Sertifikasi merupakan syarat bagi KRL untuk dioperasikan.Sebelumnya, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Commuter Jabodetabek (PT KCJ) sudah mendatangkan 130 kereta sejak 4 November 2013. Pada 4 November, sebanyak 30 kereta tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dari Jepang. Berikutnya, pada bulan yang sama, ada 20 kereta. Hingga Desember, sudah ada 100 kereta jenis 205 di Jakarta. Terakhir, 30 kereta tiba di Jakarta pada 10 Januari lalu. Ke-130 kereta itu merupakan program pembelian tahun lalu. Sebenarnya, masih ada 50 kereta lagi yang akan datang, karena PT KCJ membeli 180 kereta pada program 2013. Sebanyak 50 kereta terakhir akan tiba di Jakarta dalam waktu dekat.Rangkaian KRL jenis 205 tersebut mempunyai 10 kereta (gerbong). Dua dari 10 kereta tersebut bisa dilipat bangkunya. Dengan 10 kereta itu, maka KRL tersebut akan lebih banyak mengangkut penumpang. KRL-KRL yang beroperasi di Jabodetabek saat ini hanya terdiri dari delapan kereta.Seperti diberitakan, ratusan KRL jenis 205 tersebut rencananya belum akan digunakan untuk menambah jadwal pemberangkatan. Pasalnya, saat ini masih banyak KRL yang harus masuk depo untuk diperbaiki. Kerusakan yang paling sering dirasakan masyarakat adalah pendingin udara yang tidak berfungsi dengan baik.Bila menengok kembali sertifikasi-sertifikasi sebelumnya, paling lama satu bulan KRL sudah bisa meluncur di atas rel. Namun, saat ini, hingga hampir tiga bulan KRL berada di Jakarta, tetapi sertifikasi belum juga keluar.Dengan lambatnya sertifikasi tersebut, para penumpang pun menjadi pihak yang dikorbankan. Hal ini terjadi karena KRL-KRL yang ada saat ini banyak yang harus masuk depo untuk diperbaiki.Pekan lalu, ada beberapa kejadian yang membuat penumpang sengsara. KRL jurusan Bogor-Jakarta mengalami kerusakan di Citayam, Bogor, saat jam sibuk. Akibatnya, para penumpang telantar di berbagai stasiun.“Hingga saat ini, saya belum pernah mendengar KRL 205 itu sudah digunakan. Mengapa lama sekali, padahal KRL yang ada sekarang ini sudah sering sekali mogok? Penumpang jadi telantar. Jika armada banyak, saya kira tidak ada lagi penumpang yang telantar,” kata Budi Santoso, warga Depok, Jumat (24/1).Sedangkan Dewi, penumpang yang ditemui di Stasiun Depok berharap KRL 205 tersebut segera bisa dioperasikan, sehingga KRL lama yang sering mogok bisa diperbaiki. “Saya setiap hari menggunakan KRL. Saya sering mengalami keterlambatan atau kerusakan. Bayangkan saja, ada KRL yang dibatalkan jadwalnya, gara-gara rusak,” kata Dewi.Menanggapi hal itu, Kepala Humas Daops 1 PT. Kereta Api Indonesia (Persero), Agus Komarudin mengakui hingga saat ini sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan belum keluar. “Belum ada info kapan sertifikasi itu keluar, jadi selama belum keluar, tentu saja KRL 205 itu belum bisa beroperasi,” katanya.
Sumber:
http://m.beritasatu.com/megapolitan/1625...erasi.html
Reply
#35
Kreativitas butuh nyali

Penulis : Sapto Anggoro 

Pada suatu kesempatan, Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang ngetop dipanggilAhok, gerah mengatasi problematika Transjakarta, tiba-tiba menyebut nama Jonan. Yang dimaksud adalah Ignasius Jonan, Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia (Persero).Menurut Ahok, apa yang telah dilakukan Jonan dalam mengubah wajah perkereta-apian Indonesia patut diacungi jempol dan sukses. Hingga Ahok ingin mempercayakan pengelolaan Transjakarta dan bahkan kalau -- seandainya Jokowi jadi presiden -- minta Jonan jadi menteri perhubungan.Kita tidak membahas soal Capres di sini. Tapi, bagaimanakah pujian Wagub apakah menemui kenyataan? Tentu saja kita tidak boleh mudah percaya dengan hal itu, maka perlu dilakukan studi literer dan juga lapangan (field) bahkan juga perlu responden random sampling internal.Sebagai bekas pelanggan kereta Jabodatabek, yang rajin naik KRL, dulu saya harus membawa bekal pakaian kerja, baru ganti baju di kamar mandi stasiun atau kantor. Sebab, Anda tahu sendiri kan dengan berjubel tanpa AC ditingkahi macam-macam pedagang, sampai di kantor kumal keringat tak pantas untuk menerima tamu. Kurang menghormati tamu.Tatkala banyak orang merasa nyaman dengan KRL sekarang -- yang kemudian diganti nama Commuter Line -- akhirnya saya menemukan jawabnya: KAI memang berubah, nyata dan lebih baik. Harga tiketmurah, bisa pakai kartu flash BCA, dan tiketterusannya sistem deductable otomatis, bisa diisi ulang dan sesuai pemakaian (per utilize).Harga tiket untuk 5 stasiun pertama kena tarif minimum, sisanya seperti parkir di mal (setiap jam ada tambahan biaya) diganti setiap stasiun ada tambahan biaya. Dulu Bogor-Stasiun Kota Rp 12 ribu, sekarang hanya Rp 5 ribu.Tidak ada penumpang naik di atap kereta, yang sering menyebabkan jatuh dan tewas. Semua penumpang masuk gerbong. Setiap stasiun dipasang besi penampang dililit kawat berduri menggantung di atap stasiun yang ukurannya pas menutup celah antara atap stasiun dengan atap gerbong kereta, sehingga sulit diterobos penumpang nekat.Sebelum itu juga sudah diseleksi dengan tiketyang menggunakan magnetik. Tanpa tiketgak bisa masuk. Kalau masuk, gak bisa keluar. Pedagang gak boleh masuk. Pedagang di stasiun juga dibersihkan.Sempat didemo di stasiun UI, tapi kebijakan itu mendapat dukungan secara tak langsung oleh penumpang. Hingga penumpang marah pada demonstran yang mengatasnamakan mahasiswa pro pedagang K5 stasiun KA.Tantangan Jonan, seperti dalam buku "Evolusi PT. Kereta Api Indonesia (Persero)" karya Hadi Mustofa, juga dari dalam. Orang-orang pro status quo banyak yang menentang kebijakannya. Tapi, sebagai bekas profesional multinasional company, Jonan nothing to lose. Dia memberi setiap bagian tugas yang terukur (Key Performance index) yang kalau gagal, siap diganti. Kepala stasiun yang membiarkan kamar mandi/toilet pesing dan jorok, copot.Obyektivitas Jonan jelas, memberikan pelayanan yang terbaik pada penumpang pengguna KA (customer orientation).Dia tidak takut mengurangi hak pensiunan yang sepanjang waktu mendapat keistimewaan (privilege) seenaknya memanfaatkan kartu SAP, diganti dengan cara hanya nama yang terdaftar dan tetap antre cari tempat duduk.Kualitas SDM yang pada masa-masa sebelumnya tidak muncul, karena banyak hasil rekrutmen model keluarga -- kalau tak boleh disebut KKN -- tak lepas dari garapannya. Yang tak perform digeser, yang bagus diberi kesempatan dengan target jelas, dan yang muda potensial, ditugaskan sekolah atau kursus ke luar negeri.Karena KAI lembaga bisnis, bagian dari BUMN, meski tugasnya melayani masyarakat, maka ukuran yang jelas dari kinerja adalah pendapatan. Tiap tahun dahulu, PT KAImerugi. Aneh kedengarannya perusahaan monopoli kok rugi. Namun, meski harga tiketturun, tahun 2013 PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untung Rp 400 miliar, padahal tahun 2012 rugi Rp 80 miliar,Jadi, menjadi pertanyaan sekarang, kemana uang yang mestinya keuntungan itu pada tahun-tahun sebelumnya? Kalau tidak mau disebut korup, hampir dipastikan salah urus (mismanagement). Ini memang menjadi banyak sebab di banyak instansi dan BUMN. Tapi di dalam (internal) juga bukan perkara mudah untuk memberantasnya.Dalam sebuah halaman buku, tertulis bahwa ketika Jonan ditawari oleh Menteri BUMN ketika itu, Sofyan Djalil -- yang banyak mengajak profesional multinasional ke BUMN -- memimpin PT. Kereta Api Indonesia (Persero), sempat canggung, ciut. Bayangan betapa karut-marutnya kondisi perusahaan. "Kalau kamu saja tidak bisa, maka tidak ada lagi orang di Indonesia yang bisa menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki PT. Kereta Api Indonesia (Persero)," kata Sofyan yang melecut Jonan.Maka, dengan segala upaya kreatifnya, meski menabrak tirai bahkan tembok, dia tempuh dibarengi kesungguhan dan selalu mengawasi (control). Tujuannya jelas, pengguna nyaman, perusahaan untung.Beberapa kepala satasiun yang kami kenal, yang dahulu sering mengeluh sulitnya mengatur penumpang dan pedagang, meski merasa hak privilege-nya dipotong oleh kebijakan baru Jonan, ikut bangga bahwa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sekarang memberikan kenyamanan. Kalau saja sudah melingkar Jakarta dan jumlah keretanya banyak, kita bisa bayangkan seperti di Singapura atau negara-negara Eropa, bahwa naik kereta lebih efektif dan efisien ketimbang mobil.Dan, para pensiunan yang saya kenal pun salut pada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sekarang. Sang Dirut, katanya, tak hanya kreatif tapi juga berani, commit, dan bernyali. Terutama menghadapi senior-senior yang merasa paling tahu dan emoh berubah.
Sumber: http://m.merdeka.com/khas/kreativitas-butuh-nyali.html
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)