![]() |
|
Jembatan Selat Sunda? - Printable Version +- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com) +-- Forum: Peron (https://www.semboyan35.com/forum-4.html) +--- Forum: PPKA (https://www.semboyan35.com/forum-12.html) +--- Thread: Jembatan Selat Sunda? (/thread-2299.html) |
RE: Jembatan Selat Sunda? - dedy vh - 17-11-2014 sepertinya hati para railfans di indonesia mesti berlapang dada melihat jalan rel ka sumatra dan jawa terhubung dengan jembatan selat sunda karena pemerintah saat ini tidak akan melanjutkan proyek jembatan selat sunda alasanya menghilangkan ciri khas negara maritim lebih baik menurut mereka di perbanyak saja moda angkutan lautnya dan dermaga penunjangnya dalam hal ini merak dan bakauheni. saya rasa pemerintah saat ini pemikiranya terbalik alias tidak bervisi ke depan kenapa karena mereka hanya berpikir jangka pendek padahal kalau ingin jadi negara maju sistem distribusinya harus di perbaiki yaitu dengan menjadikan ka sebagai tulang punggung distribusi nasional. RE: Jembatan Selat Sunda? - ady_mcady - 17-11-2014 kalo soal konektivitas rel jawa sumatera itu gak mesti harus nunggu jss nya terbangun. kan sudah ada berbagai contoh dibelahan dunia lain pakai train ferry? apalagi dulu jaman pjka pernah ada train ferry di indonesia yang melayani merak-panjang dan dermaga ujung-kamal. tapi menurut yang saya tahu, perjalanan merak-panjang bisa sampai 11-12 jam. sangat tidak efisien bila dibandingkan dengan merak-bakau yang hanya 2-3 jam saja. yang penting itu adalah rel nya dulu yang sampai bakauheni. baru setelah itu beli kapal roro khusus kereta / train ferry. RE: Jembatan Selat Sunda? - yusirwan - 18-11-2014 (17-11-2014, 07:53 PM)ady_mcady Wrote: kalo soal konektivitas rel jawa sumatera itu gak mesti harus nunggu jss nya terbangun. kan sudah ada berbagai contoh dibelahan dunia lain pakai train ferry? apalagi dulu jaman pjka pernah ada train ferry di indonesia yang melayani merak-panjang dan dermaga ujung-kamal. tapi menurut yang saya tahu, perjalanan merak-panjang bisa sampai 11-12 jam. sangat tidak efisien bila dibandingkan dengan merak-bakau yang hanya 2-3 jam saja. Konsep negara Maritim yg di cetuskan oleh presiden Jokowidodo memang ada benarnya...karena faktanya memang Indonesia adalah Negara Maritim...Negara yg terdiri atas beratus2 pulau...yg di hubungkan oleh laut... ingat lagu.... "nenek moyangku seorang pelaut"... Kita perlu memandang bahwa laut dan selat adalah penghubung antar pulau di indonesia, dengan demikian kita akan mengangap bahwa laut dan selat adalah prasarana transportasi antar pulau...dan yg di perlukan adalah sarana transportasi kapal... kalau kita memandang laut dan selat sebagai pemisah antar pulau...maka pola pikir kita akan memandang selat dan laut sebagai penghalang, sehingga kita memikirkan utk mengatasi halangan tersebut dengan membuat jembatan antar pulau.... Wawasan kita sebagai bangsa bahari, negara Maritim telah terlalu lama di alihkan oleh para pelaku industri otomotif.....kita telah lama di buai oleh keindahan industri otomotif, dgn strategi bisnisnya telah membuat masyarakat indonesia menjadi sangat individual dan menyenangi transportsi pribadi di bandingkan dgn transportasi publik. Hal ini di tambah lagi dgn ketidak mampuan pemerintah menciptakan suatu sistim transportasi publik yg nyaman. Kenyataan yg terjadi saat ini adalah... 1. jalan2 hampir di seluruh kota besar di indonesia menjadi macet...yg di penuhi oleh bermacam2 merk mobil pribadi..... 2. Konsumsi BBM terus meningkat...sehingga angaran negara pun habis utk BBM...karena BBM di subsidi pemerintah.... 3. Perilaku masyarakat indonesia di jalan raya semakin jelek, seperti....motor2 seenaknya menerobos lampu merah....mobil dan motor dgn seenaknya masuk jalur bus way.....mobil dan motor parkir dgn seenaknya sehingga menambah kemacetan... Sekarang dgn kondisi yg ada...maka konsep negara maritim harus di padukan antara tansportasi laut dgn transportasi KA.... sebagain kota besar di indonesia terletak di pinggir laut..seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Lampung, Bengkulu, Padang, dlll.... utk kota2 yg pinggir laut perlu di integrasikan antara Pelabuhan laut dgn Stasiun KA...sehingga masyarakat bisa pindah moda transportasi dari Laut dgn KA dgn mudah... sehingga masyrakat yg menuju kota2 yg bukan pingir laut seperti, Bandung, Bogor, Solo, Yogya, kediri, Malang, dll...bisa menggunakan KA.... Misalnya; Penumpang dari Pontianak menuju Bandung.... penumpang tersebut naik kapal dari Pontianak menuju Tj priok...kemudian dari Tj priok menggunakan KA ke bandung... Penumpang dari Banjarmasin menuju Malang.... Penumpang tersebut naik kapal dari banjarmasin menuju tj Perak....kemudian dari Tj perak menggunakan KA ke Malang... RE: Jembatan Selat Sunda? - dedy vh - 18-11-2014 kalau menurut saya sebelum ada jembatan yang menghubungkan pulau jawa dan sumatra permasalahan utama transportasi kita tiap tahunn akan berulang ulang terus misalkan pada musim lebaran antrian panjang kendaraaan yang akan mudik ke pulau sumatra dan ini sangat boros bahan bakar karena kendaraan terjebak macet namun mesin tetap hidup belum lagi antrian barang yang cukup panjang yang dapat meningkatkan biaya logistik karena hasil bumi dari kedua pulau yang tertahan di pelabuhan yang dapat menurunkan kualitas hasil bumi tersebut. benar negara kita memang negara kepulauan terbesar di dunia namun kalau pulau besar jawa dan sumatra yang notabene tidak terlampau jauh dan masih bisa di hubungkan dengan jembatan ya alangkah lebih baik ya di bangun saja jembatan tersebut dan saya rasa dengan adanya jembatan jss itu negara kita tetap negara maritim ko dan saya rasa dampak ikutan yang akan tercipta dari adanya jembatan cukup signifikan untuk meningkatkan apbd dari daerah yang di lalui. negara jepang saja yang memang negara dengan ratusan pulau berusaha mempersatukan atau mengkoneksikan pulau pulau utamanya dengan jembatan yang dapat memperlancar arus barang ekspor dari sentra sentra produksi sehingga biaya logistik dapat di tekan dan daya saing barang ekspor negara tersebut relatif tinggi . makanya jepang dapat menjual barang dengan harga kompetitif namun tetap berkualitas. RE: Jembatan Selat Sunda? - Ardhani Muhad - 16-12-2014 Saya kira penundaan (bukan pembatalan) pembangunan jembatan selat sunda (JSS) ada benarnya. Coba bandingkan biaya antara pembangunan jalan-rel kereta di JSS dengan pembangunan tol-rel kereta di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, & Papua. Â Pada artikel dari Okezone tersebut, untuk pembangunan JSS yang sebagian besar untuk pembangunan jalan tol & rel kereta yang panjangnya hanya 29 kilometer diperlukan biaya Rp. 200T
Â
Sedangkan pada artikel Detik, pembangunan jalan tol trans sumatera & rel kereta api di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi & Papua yang  total panjangnya 4000 kilometer diperlukan biaya Rp. 120 T.
Â
Saya mikirnya daripada duit 200T dihabiskan untuk bikin JSS yang panjangnya cuma 29 kilometer & memakan waktu 12 tahun, mendingan untuk bikin tol trans sumatera & rel kereta di pulau besar non jawa yang menghabiskan waktu kurang dari 10 tahun (pemerintah malah menargetkan dalam waktu 4 tahun), biayanya pun hanya 60% dari biaya pembangunan JSS. Selain itu pulau Kalimantan, Sulawesi, & Papua juga kecipratan perbaikan infrastruktur transportasi. Bayangkan kalau JSS yang memakan biaya sebegitu banyak tetap dibangun tanpa mempertimbangkan “kesejahteraan†pulau lainnya, kesenjangan sosioekonomi antar pulau besar akan semakin terasa
Â
Untuk masalah efisiensi, pengusaha logistik justru lebih mememilih menggunakan kapal daripada lewat JSS. Tarif truk untuk lewat toll JSS diperkirakan 1,5 kali tarif kapal, itupun BBM untuk truk belum dihitung.
Berikut artikel yang memuat pengusaha logistik kurang setuju JSS
Â
Untuk masalah durasi penyebrangan Merak-Bakauheni yang menghabiskan banyak waktu, solusinya bisa dengan cara menambah dermaga, memperbanyak kapal penyebrangan, & perbaikan manajemen transportasi pelabuhan. Realisasinya pun tidak membutuhkan waktu-biaya-tenaga yang banyak
Â
Malah ada usulan, truk untuk ke Sumatera tidak perlu ke Merak untuk menyebrang. Bisa naik dari pelabuhan di dekat kota asal dengan menumpang kapal, lalu truk diangkut menuju pelabuhan terdekat dengan kota tujuan (tidak perlu via Bakauheni). Efeknya, beban jalan pun turut berkurang
Â
RE: Jembatan Selat Sunda? - yusirwan - 17-12-2014 Memang sekarang yg harus di lakukan adalah pemerataan pembangunan infrastruktur....terutama utk transportasi.... utk transportasi yg efesien adalah dengan menggunakan kereta api.... RE: Jembatan Selat Sunda? - ady_mcady - 17-12-2014 naik kapal laut memang paling efisien dan murah.... ...asal naiknya pas bukan musim angin barat ... RE: Jembatan Selat Sunda? - love_alisa - 21-04-2015 kalo betul apa yg disampaikan Pak Jokowi adalah "penundaan" bukan "pembatalan", maka saya setuju... kenapa??? menurut saya lebih urgen lagi adalah meningkatkan terlebih dahulu kualitas infrastruktur di 2 sisi pulau... contohnya ya selesaikan dulu rel KA lintas Sumatera non-stop dari Banda Aceh sampai ke Bakauheni... kalo udah komplit semua, mau disambung ya udah gampang... daripada seperti sekarang, rel KA dari Bakauheni mentok sampe Palembang atau Lubuk Linggau... gak terasa lah manfaatnya buat daerah2 seperti Riau dan Sumatera Utara... RE: Jembatan Selat Sunda? - Dana Komuter - 24-04-2015 (21-04-2015, 11:46 PM)love_alisa Wrote: kalo betul apa yg disampaikan Pak Jokowi adalah "penundaan" bukan "pembatalan", maka saya setuju...Lebih baik secepatnya... Daripada pulang dr Palembang bawa pempek tau2 naik pesawat hilang dr bagasi pesawat.... Â Naek KA ditaruh di rak atas lebih aman...
RE: Jembatan Selat Sunda? - love_alisa - 02-05-2015 (24-04-2015, 04:14 PM)Dana Komuter Wrote:(21-04-2015, 11:46 PM)love_alisa Wrote: kalo betul apa yg disampaikan Pak Jokowi adalah "penundaan" bukan "pembatalan", maka saya setuju...Lebih baik secepatnya... yaaahhhh, persoalan infrastruktur bukan cuma soal pempek yg hilang atau basi... mau tidak mau saat ini kita harus berbicara ttg pemerataan... dgn kondisi transportasi saat ini, JSS hanya menguntungkan Jawa, Lampung, dan Sumsel... seandainya JSS dibuka ketika rel KA dari Lampung ke Aceh sudah komplit, mungkin lebih terasa manfaatnya... apalagi kalo kita mau lebih prihatin lagi kepada saudara2 di Kalimantan, Sulawesi, dan pulau lainnya... |