Quote:Edisi : Selasa, 05 Januari 2010 , Hal.XI
Sedan terseruduk Kereta Api Feeder
... deleted...
Kejadian tersebut sempat membuat Akhmad dan istrinya syok berat. Istri Akhmad saat ditemui Espos di lokasi kejadian menjelaskan, kejadian yang dialaminya ini bermula dari keinginan suaminya yang hendak mengikuti kendaraan di depannya. â€ÂKendaraan tersebut lolos, tapi kendaraan saya tersenggol,†jelas istri Akhmad yang mengaku kaget saat melihat bemper kereta yang sudah berada di sampingnya.
Menurutnya seharusnya perlintasan tersebut diberi pengaman agar memberi rasa nyaman dan keselamatan bagi pengendara yang sedang melintas di rel dalam kota tersebut. Atas kejadian ini Akhamd bersama istrinya melaporkan peristiwa tersebut ke pihak Stasiun Solo, Balapan untuk meminta pertanggung jawaban pihak PT KA.
...deleted...
http://edisicetak.solopos.co.id/zindex_m...6&id=48182
Tiga kalimat tebal ini benar² membuat saya geram!!
-Kalimat pertama
Budaya yang ini setiap hari sudah sering membuat saya sebal! Yang mana? Budaya buntut membuntut alias mengekor! Sadarkah kita, anda, saya sebagai pengguna jalan raya akan ini?
Contoh lain; saat lampu hijau menjadi merah, beberapa pengendara yang terlambat masih mengekor depannya. Saat persimpangan jalan macet, kendaraan yang bisa lolos akan dibuntuti dengan sederet di belakangnya tanpa satupun memberi kesempatan pada jalur yang terpotong. Hanya beberapa yang punya AKAL SEHAT, segera berhenti untuk memberi kesempatan yang lain. Suatu perempatan jalan dimana 4 penjuru terjadi macet, maka terbentuklah perkumpulan orang berotak udang yang saling mencari jalan lolos. Padahal seandainya dimulai dari satu arah saja yang MENGALAH dan TIDAK MENGEKOR maka simpul kemacetan itu lambat laun justru terurai.
-Kalimat kedua dan ketiga
Ketidaktahuan, kebodohan, ketidak nalaran Pak Akhmad ini sungguh menggelikan!
Ketidaktahuan
Harus diakui, kita kadang bersembunyi dari ketidaktahuan. Termasuk Pak Akhmad yang
nggak tahu (atau "
nggak tahu") apa itu perlintasan sebidang, hukum perlintasan rel, dll.
Kebodohan dan ketidak nalaran
Apakah beliau berpikir berapa banyak orang Solo yang seperti beliau menjadi korban tiap harinya? Dan berlaku sama? Meminta pertanggungjawaban, gara² propertinya yang tertabrak kereta? Wow, alangkah stressnya PT.KA Solo tiap hari jika seperti itu. Pengaman? Yang bagaimana? Kawat berduri? Pagar listrik? Kita dihadang palang saja banyak yang menerobos ....
Sekali lagi, kita usahakan selalu intropeksi diri dulu. Saya sendiri kadang kalau lagi bad mood juga buruk berlalu lintas, serta sederet sifat minus saya. Tapi ini saya dasari dengan ini: TAHU KONSEKWENSI. Andai ngebut dan mencelakakan orang, saya harus siap dihakimi massa (meskipun itu juga salah). Kalau mau mencuri ya harus tahu dan siap dipenjara. Mau melintasi Cikacepit, ya siap² surat wasiatlah ....
Buat saya yang paling berbahaya itu, melakukan sesuatu yang tidak tahu konsekwensinya, apalagi itu perbuatan jelek!