25-03-2009, 09:48 PM
Sebagai railfan, saya sering bepergian naik KA, dan saya juga sering memperhatikan berbagai hal yang berkaitan dengan KA. Dari pengamatan saya selama ini melahirkan beberapa analisa mengenai kota besar yang unik dalam peta perkeretaapian Indonesia. Unik, karena jujur saya sulit menemukan kata yang pas. Uniknya dimana? Berikut analisa saya:
1. BANDUNG
Kota ini adalah pusat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan otomatis jadi pusat perkeretaapian Indonesia. Terlihat dari stasiun besar Bandung, yang terlihat megah dan lapang, walaupun agak berantakan waktu saya kesana beberapa hari yang lalu karena sedang ada renovasi (dan keliatannya pembuatan peron). Apalagi di depannya ada monumen lokomotif.
UNIK KARENA:
Hmm, menyambung keterangan saya di atas, stasiun Bandung memang megah, hanya saja kok saya menangkap kesannya mirip stasiun Jakarta Kota - stasiun buntu! Kenapa demikian?
Kalau anda perhatikan, selain kereta lokal dan beberapa kereta ekonomi, tidak ada kereta yang 'lewat' di Bandung. Maksudnya, kereta macam Parahiyangan dari Jakarta atau Argo Wilis dari Surabaya tidak lewat Bandung, melainkan berhenti dan berawal di Bandung. Parahiyangan datang dari Barat, terus berakhir di Bandung dan balik ke barat lagi. Sedang Argo Wilis datang dari timur, terus berakhir di Bandung, dan balik lagi ke Timur.
Ya, jalur barat dan timur Bandung seperti jalur tersendiri yang tidak berhubungan satu sama lain, kecuali seperti yang saya bilang, kereta lokal dan kereta ekonomi yang numpang lewat seperti Kahuripan dan Serayu. Padahal stasiun Bandung kan tempatnya berhenti jarak jauh khusus KA bisnis dan eksekutif, seperti Stasiun Tawang dan Solobalapan. Dan sampai saat ini, sayang sekali tidak ada kereta bisnis dan eksekutif yang transit di Bandung. Jadi tentu saja Bandung tidak seramai stasiun antara macam Yogyakarta dan Solobalapan dari segi lalu lintas penumpang jarak jauh.
Seandainya saja PT. Kereta Api Indonesia (Persero) meneruskan KA PArahiyangan sampai Tasikmalaya, kereta ini akan memecahkan tradisi Bandung yang tidak pernah jadi tempat transit KA eksekutif dan bisnis jarak jauh.
2. SURABAYA
Satu-satunya kota yang memiliki dan menjadi muara dari dua jalur kereta yang berbeda, utara dan selatan, di dua stasiun yang berbeda pula, Pasar Turi dan Gubeng.
UNIK KARENA:
Walaupun menjadi muara dari dua jalur KA yang berbeda, tidak ada komunikasi yang intens antara jalur utara dan selatan. Keduanya seperti stasiun yang buntu. Padahal stasiun Pasar Turi dan Gubeng dihubungkan oleh jalur yang masih aktif. Sayangnya jalur itu tidak dilalui secara aktif oleh kereta lintas kota, mungkin cuma kereta barang dan langsiran saja. Dengan kata lain, sepertinya sulit membayangkan jalur Semarang-Malang, walau di atas kertas sangat mungkin, karena seperti sudah pakem, kereta dari Semarang pasti muaranya tidak lebih dari Stasiun Pasar Turi, dan kereta dari Malang atau Bandung sudah pasti muaranya Stasiun Gubeng.
Atau paling tidak, kenapa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak menjalankan KA feeder Pasar Turi-Gubeng ya? Sehingga penumpang yang turun dari Semarang di stasiun Pasar Turi tidak perlu nyambung dengan kendaraan lain kalau mau meneruskan perjalanan dengan KA ke Malang dari Sta. Gubeng.
3. CIREBON
Kota ramai di pantura Jawa karena menjadi persimpangan antara jalur utara dan selatan, sehingga (sampai saat ini) semua kereta dari Jakarta kalau mau ke Jawa Tengah dan Jawa Timur pasti lewat sini (kecuali KA Serayu Jakarta-Kroya yang lewat Bandung tentunya)
UNIK KARENA:
Cirebon ini merupakan kota penting dalam perkeretaapian sehingga dijadikan Daerah Operasi sendiri (DAOP 3 Cirebon) oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Hanya saja, menurut saya, Daop Cirebon ini paling 'merana' dibanding Daop lain di Jawa. Tahu kenapa?
Betapa tidak, Daop Cirebon hanya jadi tempat singgah KA dari Daop lain. Selain KA Cireks dan Argo Jati yang semuanya ke Jakarta, tidak ada kereta lain yang bermuara atau berasal dari Cirebon. Mau ke Surabaya, Semarang atau Jogja? Tidak ada kata lain selain menumpang kereta yang dari Jakarta (atau Bandung, dengan Harina ke Semarang). DI musim liburan, ini sangat tidak menguntungkan karena penumpang di Cirebon boleh jadi hanya kebagian sebagian kecil porsi tiket. Bahkan KA ekonomi saja Daop Cirebon tidak punya, tetap harus nebeng KA dari Daop lain (Saya pernah lihat antara Cikampek-cirebon ada gerbong ekonomi yang labelnya CN. Apakah Cirebon punya kereta lokal? Tapi saya belum pernah menemukan ada timetable yang mencantumkan ada KA lokal di cirebon)
Padahal tiap lewat Cirebon, saya selalu menemukan stasiunnya dalam keadaan ramai, baik Cirebon Kejaksan maupun Prujakan. Hm, mungkin sudah saatnya Cirebon punya KA sendiri yang ke timur, sehingga penumpangnya tidak perlu menunggu tumpangan KA dari Daop lain dan dapat jatah sisa. Kalau tidak kesannya dijadikannya Cirebon sebagai Daop tersendiri agak mubazir.
1. BANDUNG
Kota ini adalah pusat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan otomatis jadi pusat perkeretaapian Indonesia. Terlihat dari stasiun besar Bandung, yang terlihat megah dan lapang, walaupun agak berantakan waktu saya kesana beberapa hari yang lalu karena sedang ada renovasi (dan keliatannya pembuatan peron). Apalagi di depannya ada monumen lokomotif.
UNIK KARENA:
Hmm, menyambung keterangan saya di atas, stasiun Bandung memang megah, hanya saja kok saya menangkap kesannya mirip stasiun Jakarta Kota - stasiun buntu! Kenapa demikian?
Kalau anda perhatikan, selain kereta lokal dan beberapa kereta ekonomi, tidak ada kereta yang 'lewat' di Bandung. Maksudnya, kereta macam Parahiyangan dari Jakarta atau Argo Wilis dari Surabaya tidak lewat Bandung, melainkan berhenti dan berawal di Bandung. Parahiyangan datang dari Barat, terus berakhir di Bandung dan balik ke barat lagi. Sedang Argo Wilis datang dari timur, terus berakhir di Bandung, dan balik lagi ke Timur.
Ya, jalur barat dan timur Bandung seperti jalur tersendiri yang tidak berhubungan satu sama lain, kecuali seperti yang saya bilang, kereta lokal dan kereta ekonomi yang numpang lewat seperti Kahuripan dan Serayu. Padahal stasiun Bandung kan tempatnya berhenti jarak jauh khusus KA bisnis dan eksekutif, seperti Stasiun Tawang dan Solobalapan. Dan sampai saat ini, sayang sekali tidak ada kereta bisnis dan eksekutif yang transit di Bandung. Jadi tentu saja Bandung tidak seramai stasiun antara macam Yogyakarta dan Solobalapan dari segi lalu lintas penumpang jarak jauh.
Seandainya saja PT. Kereta Api Indonesia (Persero) meneruskan KA PArahiyangan sampai Tasikmalaya, kereta ini akan memecahkan tradisi Bandung yang tidak pernah jadi tempat transit KA eksekutif dan bisnis jarak jauh.
2. SURABAYA
Satu-satunya kota yang memiliki dan menjadi muara dari dua jalur kereta yang berbeda, utara dan selatan, di dua stasiun yang berbeda pula, Pasar Turi dan Gubeng.
UNIK KARENA:
Walaupun menjadi muara dari dua jalur KA yang berbeda, tidak ada komunikasi yang intens antara jalur utara dan selatan. Keduanya seperti stasiun yang buntu. Padahal stasiun Pasar Turi dan Gubeng dihubungkan oleh jalur yang masih aktif. Sayangnya jalur itu tidak dilalui secara aktif oleh kereta lintas kota, mungkin cuma kereta barang dan langsiran saja. Dengan kata lain, sepertinya sulit membayangkan jalur Semarang-Malang, walau di atas kertas sangat mungkin, karena seperti sudah pakem, kereta dari Semarang pasti muaranya tidak lebih dari Stasiun Pasar Turi, dan kereta dari Malang atau Bandung sudah pasti muaranya Stasiun Gubeng.
Atau paling tidak, kenapa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak menjalankan KA feeder Pasar Turi-Gubeng ya? Sehingga penumpang yang turun dari Semarang di stasiun Pasar Turi tidak perlu nyambung dengan kendaraan lain kalau mau meneruskan perjalanan dengan KA ke Malang dari Sta. Gubeng.
3. CIREBON
Kota ramai di pantura Jawa karena menjadi persimpangan antara jalur utara dan selatan, sehingga (sampai saat ini) semua kereta dari Jakarta kalau mau ke Jawa Tengah dan Jawa Timur pasti lewat sini (kecuali KA Serayu Jakarta-Kroya yang lewat Bandung tentunya)
UNIK KARENA:
Cirebon ini merupakan kota penting dalam perkeretaapian sehingga dijadikan Daerah Operasi sendiri (DAOP 3 Cirebon) oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Hanya saja, menurut saya, Daop Cirebon ini paling 'merana' dibanding Daop lain di Jawa. Tahu kenapa?
Betapa tidak, Daop Cirebon hanya jadi tempat singgah KA dari Daop lain. Selain KA Cireks dan Argo Jati yang semuanya ke Jakarta, tidak ada kereta lain yang bermuara atau berasal dari Cirebon. Mau ke Surabaya, Semarang atau Jogja? Tidak ada kata lain selain menumpang kereta yang dari Jakarta (atau Bandung, dengan Harina ke Semarang). DI musim liburan, ini sangat tidak menguntungkan karena penumpang di Cirebon boleh jadi hanya kebagian sebagian kecil porsi tiket. Bahkan KA ekonomi saja Daop Cirebon tidak punya, tetap harus nebeng KA dari Daop lain (Saya pernah lihat antara Cikampek-cirebon ada gerbong ekonomi yang labelnya CN. Apakah Cirebon punya kereta lokal? Tapi saya belum pernah menemukan ada timetable yang mencantumkan ada KA lokal di cirebon)
Padahal tiap lewat Cirebon, saya selalu menemukan stasiunnya dalam keadaan ramai, baik Cirebon Kejaksan maupun Prujakan. Hm, mungkin sudah saatnya Cirebon punya KA sendiri yang ke timur, sehingga penumpangnya tidak perlu menunggu tumpangan KA dari Daop lain dan dapat jatah sisa. Kalau tidak kesannya dijadikannya Cirebon sebagai Daop tersendiri agak mubazir.