jepang punya kurang lebih 1,2 juta km panjang jalan seluruh negri. 5000 an km diantaranya adalah jalan ekspress atau tol. sementara panjang jalan ka nya sekitar 20 ribu km.
bila dibandingkan, ternyata panjang relnya cuma 1,7 % dari panjang jalan raya nya!
satu lagi: dari 1000 orang jepang, 440 nya punya mobil!
sumber data: encarta 2009.
(11-04-2010, 06:04 PM)eko winarno Wrote: [ -> ] (11-04-2010, 05:03 PM)Adolph Wrote: [ -> ]ya saya pernah baca artikel orang ini beberapa tahun yg lalu n ia berhasil 'mendidihkan' darah saya, terpikirkan betapa naifnya orang ini, hanya karena terkagum-kagum ma jalan tol cina, padaqhal cina sndiri ga mengubah jalur KA jadi tol, malah mengembangkannya secara besar2an karena tol n KA saling mengisi,, apa dia ga berpikir akan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yg akan terjadi kalau idenya yg lucu ini jadi kenyataan..
kok tidak disinggung pembuatan jalur kereta sampai ditibet yang berada di ketinggian yang merupakan prestasi di china, harusnya China membangun jalan tol dan jalur kereta yang sangat signifikan dengan maksud saling bersinergi dalam transportasi untuk menuju macan baru ekonomi Asia, itu maksud dari tujuan jangka panjang suatu kebijakan pemerintah china.
Karena kalau di maksud sistim cambuk banyak yang tidak ngerti malah ora urus, tapi kalau di pangku dan di pameri mudah2an malah mengerti.
Tidak seperti orang sana kalau di cambuk di akan lari supaya cepat target ( iron horse ), nah kalau di sini di cambuk malah balik gigit..( white snake ).
Mudah-mudahan mengerti lah falsafah-nya.


Hahahahaha juga buat falsafahnya.
Beberapa waktu lalu saya nemu juga lho tulisan di
http://dahlaniskan.wordpress.com/2009/10...indonesia/. Ternyata dia harus ngaku jadi wong ndeso pas nanyain cara ngoperasiin mesin pencetak tiket Beijing Subway.
namabahin ah harus di buat kereta K 2 dengan tarif terjangkau dan berhenti di Bekasi
kasihan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan adanya jalan toll trans jawa menjadi ancaman buat kereta api secara keseluruhan
Tiket pesawat murah saja sudah ancaman


mana kereta kalah gengsi pula dengan pesawat

Mending buat rel ka lah dari pada tol, karena 1 lajur tol itu lebih lebar dari rel ka yang udah di DT (jalan tol makan tempat byk)

Jalan tol itu hanya bisa dinikmati oleh orang yang punya mobil, sedangkan petani jarang ada yang punya mobil. Kalaupun ada, mereka jelas harus ke pusat kota atau kawasan strategis untuk masuk tol karena hampir tidak mungkin pintu tol dibangun di kawasan terpencil seperti di Sengon, Sukorejo, dll. Hanya kereta api yang mampu menembus kawasan terpencil yang kebanyakan masyarakatnya hidup menengah kebawah dan merupakan satu - satunya transportasi multi level dimana di dalam 1 rangkaian kereta api bukan tidak mungkin akan terdapat penumpang dari yang berpeci sampai berdasi, dari ransel sampai koper. Mengenai harga tanah yang rendah, itu bukan karena dipotong oleh rel, tapi karena memang itu tanah letaknya di tempat terpencil. Coba jika tanah yang dipotong rel berada di tengah kota, misalnya di daerah Gubeng atau Pasar Turi.
Jangankan kalian, saya dan ribuan manajer dan karyawan PLN sendiri BENCI sama tuh orang. Tanya saja sama orang - orang PLN, pasti jawabannya sama, "Tuh orang goblok yang gak tau perjuangan orang PLN asli karena dia bukan orang PLN". Memang tuh orang asal ngomong saja.
Semoga Pak Dahlan juga mengetahui bahwa perkeretaapian di China jauh lebih maju dan modern dari Indonesia. Tidak hanya merakit lho. Tapi bisa membuat dan export keluar negeri.
Hmmmm kalo jalan tol ada sepanjang 30.000 km, berapa banyak BBM yang harus dihabiskan, berapa harga BBM di Indonesia saat tol yang ada di Cina itupun ada pula di Indonesia. Terkait biaya, energi yang dihabiskan dari bawa mobil sendiri dibanding dengan naik kereta, saya rasa tetep kereta tetap unggul
Mumpung blom dibangun... Usulin donk ke Jasa Marga atau CMNP atau apalah namanya... restoran - restoran persinggahan di pinggir tol kalau sebidang dg petak rel KA dibangunnya persis di pinggir rel KA. Jadinya pengguna jalan tol bisa disuguhin pemandangan petak rel KA yg selalu ramai perjalanan KAnya itu pastinya...
Trus... kalau berbicara soal pengaruhnya ke Cireks, Tegal Arum dan Argo Jati sih yah tergantung pelayanannya aja.
1. Adakah kelak kemacetan yg terjadi di gerbang tol keluarnya di masing2 kota tujuan masyarakat?
2. Seberapa penuhnya mobil travel yg akan beroperasi?
3. Pelayanan di KA khususnya Klas Eksekutif seperti apa aja? Terutama jasa kuliner, wifi mungkin..., tayangan film yg diputer, dll.
4. Jika terjadi PL atau PLH (gak kita harepin pastinya) seberapa lama para penumpang KA dirugikan? Solusinya gimana aja?
5. Meski kalah cepat sampai sekalipun, adakah di no. 3 di atas ini punya kelebihan yang lain? Seperti salah satunya waktu di Argo Dwipangga dg jasa pijit (entah bayar atau gratis) meski cuma berjalan bbrp waktu saja.
maaf, mungkin kalo agak OOT.
apakah di pihak kementerian perhubungan, antar sesama transportasi darat tidak saling berkoordinasi untuk perencanaan sistem transportasi di Indonesia.
kalo ada koordinasi kan sepertinya permasalahan antara pembangunan jalan tol, maupun peremajaan dan perawatan sarana perkeretaapian di Indonesia, saya rasa tidak akan terjadi, karena jika perencanaannya untuk suatu daerah A misalnya, ternyata sudah dilayani dengan rangkaian KA yang telah terbukti mampu mengangkut ribuan orang, mungkin ada baiknya pada daerah tersebut, daripada dibangun jalan TOL, mending optimalisasi sarana perkeretaapian yang sudah ada. kan anggarannya bisa dialihkan tu buat perawatan KA. Mendingan jika emang pada daerah tersebut sama sekali tidak ada jalur KA, dengan arus pergerakan penduduknya cukup besar, baru diadakan wacana, apakah mau membangun jalan TOL atau rel KA.
sehingga kalo bisa jangan melemahkan sistem yang sebenarnya sudah berjana cukup baik.
itu cuman dari pandangan ane aja kang....
biarin aja jadi jalan tol, supaya cireks tarifnya bisa murah seperti gopar....hehehehehe