maksudnya mungkin mau baek bikin nyaman penumpang KRL, tapi di negara manapun, kereta komuter yah pada jam-jam sibuk super padat dan nggak bisa di hindarkan, jadi sayah pikir lupakan dulu soal kenyaman, pikirkan bagaimana mereka bisa terangkut semua tanpa melanggar aturan dan membahayakan diri penumpang...

Maksudnya baik tapi dampaknya tidak baik.
Penumpang CL sebagian besar adalah penglaju,
tidak bijaksana kalau disamakan dengan penumpang KA jarak jauh & menengah.
Saya sih Setuju aja, tapi ada syaratnya.....
- tambah dulu tu rangkaian KRL-nya (kalo bisa setiap maksimal 15 menit ada KRL)
- Jangan sampe ada KRLyang telat, karena pasti bakal ada penumpukan penumpang
- Comuter Line yang masih 6 rangkaian, jadikan dulu menjadi 8 rangkaian semua. Jangankan 6, yang 8 aja masih sumpek.....
Buruk muka kaca dibelah, biar tekor asal kesohor.

(20-01-2012, 01:35 PM)bonbon Wrote: [ -> ]ngaco nih, udah KRLnya se iprit, sering ngalah sama KA AKAP, malah dibatesin penumpangnya.
Harusnya di tambah KRL nya. rata-rata penumpang KRL dari Bekasi lebih tertib, itu pendapat sayah 
Disaat jalur lain masih ada atapers...di bekasi nihil..meskipun di KRL Ekonomi sekalipun,walaupun sepadat2 nya 893..
Kalau misalnya menambah armada atau jadwal menjadi halangan, saya malah mengusulkan agar semua kursi KRL dirubah menjadi kursi lipat yang menempel ke dinding kereta.
Saya pernah melihat ini sewaktu naik Metro di Paris, dimana kursi di tempat tertentu ternyata sifatnya bisa dilipat. Jadi kalau kereta penuh sekali, kursi ini dilipat, dan space buat mereka yang berdiri makin banyak.
(20-01-2012, 05:54 PM)samnawi Wrote: [ -> ]Saya sih Setuju aja, tapi ada syaratnya.....
- tambah dulu tu rangkaian KRL-nya (kalo bisa setiap maksimal 15 menit ada KRL)
- Jangan sampe ada KRLyang telat, karena pasti bakal ada penumpukan penumpang
- Comuter Line yang masih 6 rangkaian, jadikan dulu menjadi 8 rangkaian semua. Jangankan 6, yang 8 aja masih sumpek.....
untuk menambah armada kayaknya akan terkendala padatnya traffic terutama lintas BKS - MRI karena jalur masih mix sama KA jarak jauh. lalu hambatan lainnya seperti yang ane ungkap di atas adalah ketersediaan listrik...
(20-01-2012, 10:15 PM)mas_bagus_ajah Wrote: [ -> ]Kalau misalnya menambah armada atau jadwal menjadi halangan, saya malah mengusulkan agar semua kursi KRL dirubah menjadi kursi lipat yang menempel ke dinding kereta.
Saya pernah melihat ini sewaktu naik Metro di Paris, dimana kursi di tempat tertentu ternyata sifatnya bisa dilipat. Jadi kalau kereta penuh sekali, kursi ini dilipat, dan space buat mereka yang berdiri makin banyak.
agak susah klo disini,Oom
kalo pake kursi lipat, pas dilipat,malah orang2 ngeluarin kursi lipet ny masing2,atau malah lesehan
kultur orang2 disini kan paling males berdiri
Kalau gak bisa menambah train, bener tuh, gimana kalau rangkaiannya saja yang diperpanjang ... lagipula, kalau armada yang sekonyong-konyong ditambah .... kemacetan jalan raya yang dekat PJL bisa makin parah dong ya?
Yang jelas, saya tidak setuju ada rencana 120 persen gini .... memangnya Rapih Dhoho?

Rapih Dhoho yang KA menengah yang sering dijadikan KA komuter oleh penumpangnya saja menurut saya kurang sip juga dibuat 125 %.... ini apalagi yang memang benar-benar dibuat untuk komuter ... cckkckckckk

Berkenankah jika aku berusul sesuatu yang mungkin bisa jadi solusi dan juga pro kontra? Apa justru banyak kontranya nih?
Aku akan menjawab dulu "Sangat tidak setuju" karena di negara mana pun enggak ada pastinya pemberlakukan batas penumpang transportasi publik khususnya utk jarak dekat dalam hal ini komuter. Aku punya solusi dengan cara karcis berjam - jam tertentu.
Semisal :
Aku hendak ke Gondangdia naik dari stasiun Cilebut. Tiba di stasiun pukul. 06.02 dan langsung ke loket. Aku pun mndapatkan karcis KRL Ekonomi dg jam keberangkatan pukul. 06.17 (jadwal cuma seumpama aja lho...). Oleh karena yang siap tiba terlebih dulu yg pukul. 06.10 (seumpama doank...), maka area peron harus steril dr pr calon penumpang dan aku pun tidak diperkenankan utk masuk krn bukan jamnya. KRL datang, naik turunin penumpang, KRL pun lekas berangkat semisal tepat waktu.
Gilirannya yg pukul. 06.15, maka aku pun dipersilahkan masuk pukul. 06.12 misalnya... Masuk pun aku harapkan dr emplasemen tidak antri desak2an. Masalah tetap penuh banget di dalem kereta enggaknya yah itu sudah takdir yg gak pernah lepas di jam2 sibuk... Jadi, pas yg keberangkatan pukul. 06.15 dipersilahkan masuk, petugas loket berhenti menjual karcis yg pukul. 06.15 melainkan KRL Ekonomi berikutnya, yaitu semisal pukul. 06.35. Gak ada alasan nanggung atau gimana lagi...
Ayo, gimana menurut teman2?
Dg cara gini diharapkan PT. KA bersama KCJ mampu mendata seberapa banyak para calon penumpang antara jam 5 pagi sd 9 pagi. Kenapa antara 4 jasm tsb? Karena 4 jam ini yang sedang padat2nya jam berangkat kerja. Begitu juga yg pulang kerja antara jam 4 sore - 8an malem. Oh... ternyata yang pukul. 06.10 (umpama saja) ada sebanyak 25 calon penumpang, yang jam sekian ada sekian calon penumpang. Ini maksud aku di masing2 stasiun baik awal maupun antara / persinggahan, termasuk transit kyk Manggarai, Duri, Tn. Abang dan Jatinegara.