19-01-2012, 10:06 PM
19-01-2012, 10:17 PM
Susah bener ya, kalau atapers itu sebenernya masalah mental...mirip-mirip keterbelakangan mental sebenarnya 

19-01-2012, 10:59 PM
(19-01-2012, 06:34 PM)Eko Budy Santoso Wrote: [ -> ]wuh... repotnya menegakkan aturan di negeri ini... PT KA jalan terus...! Semboyan 35 deh
@ Mas Eko Budy,
Senang sekali,
membaca postingan anda, tidak memihak,
tapi memang, semua kembali ke aturan dan mental.
Mungkin,
jika kita menjadi salah satu direksi atau punggawa sepur,
sudah sampai mentok, berpikir,
bagaimana menertibkan penumpang.
Dihimbau, dilarang, disemprot, diberi bola beton,
dan entah akan ada apa lagi.
Dengan jumlah penumpang yang tidak tercukupi,
apa mungkin kereta api menyediakan gerbong sebanyak-banyaknya,
dan sehari, terutama, hanya dua kali dikeluarkan semua,
pada jam keberangkatan pegawai/ karyawan/ anak sekolah = pagi hari,
dan pada jam kepulangan mereka kembali, sore hari, misalnya.
Ini demi, terangkutnya, terutama mereka yang menuntut
bahwa pemerintah harus menyediakan sarana angkutan kereta api.
Dengan rangkaian dan gerbong sebanyak itu,
berapa masinis/ operator/ PLK/ Prama entah Prami,
yang harus disediakan oleh PT. KAI ?
Berapa anggarannya untuk menambah gerbong dan gaji pegawainya ?
Lalu siangnya,
banyak yang menganggur,
karena yang tadi pagi diangkut dan terangkut semua,
sedang sekolah/ bekerja, atau melakukan aktifitasnya masing-masing !
Jika dijalankan, anggap saja, pasti sepi penumpang bukan ?
Mau ditaruh dimana itu gerbong ?
Lalu sore harinya,
dikeluarkan lagi semua, untuk mengantar mereka pulang.
Menurut saya, dinegara manapun,
tidak bisa hanya menggantungkan semua dengan menuntut pemerintah
harus menyediakan semuanya.
Diluar negeri,
selain pendidikkan rata-rata warganya yang sudah tinggi,
kesadaran ketertiban, kebersihan dll, juga lebih baik.
Jumlah penduduknya juga tidak sebanyak disini,
terlebih, kita kan masih masuk Negara Berkembang.
Jadi,
entah Kereta Api mau pakai cara apapun,
ini kan juga karena betapa sulitnya mengatur penumpang
bukan ?
Salam 35 !

19-01-2012, 11:18 PM
(19-01-2012, 08:18 PM)Fajarutama Wrote: [ -> ]maksud saya agar segera memperbanyak armada, apabila armada sudah cukup kan mereka gak punya alasan lagi untuk naik ke atap, dan harus ontime tentunya
Saya sebenarnya cukup setuju dengan anda, walaupun penerapan di lapangan pasti akan mendapat kendala serius, karena:
-menambah frekuensi pasti mempengaruhi gapeka. Menyusun gapeka itu tidak mudah dan tidak bisa mendadak. Apalagi jalur KRL juga dipakai jalur KA konvensional, sebagian juga KA barang dan KA antar kota.
-memperpanjang rangkaian pasti akan tersandung masalah panjang peron. Jika yang diperpanjang peron halte tidak masalah. Tapi bagaimana jika itu peron stasiun yang ada perangkat sinyal di kedua ujungnya? Menyetel sinyal itu tidak mudah, dan pasti bisa mengganggu operasional
Yah walaupun ada kendala-kendala itu, saya tetap berharap semoga rangkaian diperpanjang dan frekuensi disesuaikan dengan kebutuhan.
20-01-2012, 04:59 AM
Ya beginilah kehidupan dinegara berkembang 

20-01-2012, 06:39 AM
20-01-2012, 08:14 AM
20-01-2012, 08:26 AM
payah, bola beton nya masih ketinggian, katanya 25-30 cm, tapi seperti 75 cm dari atap kereta, apa karena menyesuaikan dengan peti kemas ya ?
20-01-2012, 09:23 AM
20-01-2012, 12:29 PM
itu yg ngomong soal HAM..tiap pagi naik kereta nggak? jangan cuma asal bicara HAM saja..