Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: STASIUN KA MADIUN
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
big bro Wrote:lalt ijo???? :? :? :? :? :? :?

Semacam kambing... Kambingers
Yang ini ngerubungin HSD yang ngocor dari tangki BBM

Yoek ah....

kembali ke .............. Mediun...........

:ewink:
setujuuuuuuuuu bro... kita kembali saja ke INKA MN....

biarin aja lalat ijonya.... ntar juga mati.... :oops: :oops: :oops:
ada yg tau history nya INKA kenapa ada di madiun ? apakah lahan yg digunakan INKA sekarang ini milik ex perusahaan Belanda ?
Sedikit menjawab pertanyaan Bung Eling... :tos:

Bisa melihat di SINI mengenai latar belakang kota mediun atau penjelasan dibawah.... Big Grin

Quote:PT INKA Indonesia (PT INKA) merupakan perusahaan pembuat gerbong dan kereta penumpang yang kemampuan teknologinya sudah baik dan memiliki fasilitas yang modern. Semua ini diperoleh melalui proses akumulasi kemampuan dan sekaligus pembelajaran teknologi yang tidak sederhana, lama dan terus-menerus.

Kemampuan dan pembelajaran teknologi bukanlah proses yang terjadi begitu saja tetapi merupakan bagian dari usaha sadar untuk mengakumulasi pengetahuan dan kemampuan teknologi. Proses-proses yang terjadi dapat meliputi pencarian teknologi, pemilihan, akuisisi, asimilasi, adaptasi, peningkatan kualitas dan diversifikasi teknologi. Bahkan dengan berhasilnya INKA memproduksi KRL I, membuktikan bahwa proses akumulasi kemampuan dan pembelajaran teknologi tersebut terjadi dengan sangat dinamis.

Latar Belakang dan Sejarah
Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai sejak jaman penjajahan Belanda. Sejalan dengan perkembangan jaman, kereta api nampaknya tersisihkan menyusul dengan adanya ?boom? mobil Jepang yang lebih murah dibandingkan mobil Eropa, yang kemudian diikuti oleh pembangunan prasarana jalan dan bahkan jalan tol, sehingga kebijakan pengembangan jaringan kereta api kalah. Namun dampak dari perkembangan semuanya ini mengakibatkan kemacetan jalan, polusi dan menghabiskan energi, sehingga masyarakat mulai melirik alternatif kereta api sebagai salah satu sarana transportasi yang murah, aman dan bebas macet.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang rencana pengembangan dan modernisasi perkeretaapian sebagaimana yang dituangkan dalam GBHN 1993 dan restrukturisasi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) 1999, dengan prediksi pertumbuhan permintaan kereta penumpang 14% per tahunnya, permintaan KRL untuk Jabotabek sebanyak 932 unit untuk tahun 2001-2011, maka PT INKA melihat kesemuanya ini sebagai peluang yang sangat bagus untuk meningkatkan produksinya dan ikut serta berperan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dilihat dari sejarahnya, INKA didirikan pada tahun 1981 sebagai BUMN dari workshop lokomotif uap dibawah Menteri Perhubungan. Perusahaan ini berawal dengan modal sebesar Rp 75 miliar dan modal disetor berupa 75 ribu lembar saham. Pada tahun 1989 PT INKA berstatus BUMN dibawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), yang sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 1999 berganti nama menjadi PT Bahana Pakarya Industri Strategis (Persero) yang kini juga sudah dibubarkan.

Berangkat dari visi untuk bisa menjadi produsen kelas dunia dalam bidang sarana perkeretaapian di Indonesia, PT INKA bertujuan untuk dapat menjadi perusahaan yang berkemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Misi perusahaan yang dicanangkan adalah mencoba menciptakan keunggulan dalam bisnis dan teknologi perkeretaapian untuk dapat mendominasi pasar domestik dan memenangkan kompetisi di pasar ASEAN dan di negara- negara berkembang lainnya.

Aktivitas perusahaan antara lain bergerak dibidang produksi sarana kereta api, perdagangan, jasa konsultasi teknik, pelayanan purnajual dan diversifikasi produk.

Pada dasarnya produk-produk INKA dikategorikan menjadi produk andalan yaitu gerbong barang dan kereta penumpang, produk unggulan yaitu kereta rel listrik atau KRL, dan produk masa depan yaitu KRL perkotaan (LRT, subway) dan kereta rel diesel listrik (KRDL).

Produk-produk yang dihasilkan antara lain berupa kereta penumpang, gerbong barang, bogie dan KRL/KRD. Pada tahun 2001 ini INKA telah berhasil menunjukkan kemampuan teknologinya yaitu membuat sendiri KRL I sebanyak 2 set. Untuk proses alih teknologi, PT INKA melakukan joint venture dengan beberapa perusahaan antara lain dengan Locomotif Manufacturing: PT GE Locomotif Indonesia (PT INKA GE Transportation System GE Pacific)-1995, dengan Engineering Company: PT Rekaindo Global Jasa (PT INKA Sumitomo Corp-Nippon Sharyo Ltd.-KOPINKA)-1998.

Kapasitas Terpasang INKA adalah sebagai berikut :
? 60 unit Kereta Penumpang
? 60 unit Kereta Penumpang (Retrofit)
? 60 unit gerbong barang
? 20 unit KRD
? 20 unit KRL
? 200 Bogie
? 3200 ton produk diversifikasi

Sedangkan Kapasitas Terpakai INKA untuk tahun 2004 adalah sebagai berikut :
? 10 unit Kereta Ekonomi Baru
? 25 unit CQKY Container Wagon Bodies for Australia
? 117 unit Blizzard Wagon Centersills for Australia
? 1 unit Mobile Medical System
? 1 unit Mobile Diagnostic System
? 10 unit Container Clinic Unit
? Steelworks

Proyek jangka panjang seperti KRL Holec/BH tetap dijalankan untuk memenuhi target delivery tahun 1998, sedangkan beberapa program pengembangan produk dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan PT INKA sebagai pusat unggulan teknologi kereta api di Indonesia.

Perkembangan produksi dari tahun ke tahun digambarkan sebagai berikut:
1983 Produksi pertama Freight Wagon (FW)
1985 Produksi pertama Passanger Coach (PC)
1987 Assembling pertama untuk railcar dan produk-produk diversifikasi
1991 Pertama kali ekspor FW ke Malaysia
1994 Produksi pertama electric railcar VVVF
1995 Launching pertama kereta baru Argo Bromo
1996 Produksi pertama lokomotif DE (GE Lokindo) dan ekspor ke Philipina
1997 Launching pertama kereta Argo Bromo Anggrek (sewa)
1998 Ekspor pertama FW ke Thailand


Tahapan Pengembangan Teknologi
Program pengembangan produk INKA diarahkan pada penguasaan teknologi baru sesuai dengan road map produk kereta api dan peningkatan nilai tambah pada produk yang dikuasai. Pengembangan bisnis INKA dan program pengembangan produknya mengacu pada tiga tahapan utama, yaitu tahap lisensi, tahap co-design & co-manufacture, dan tahap pengembangan teknologi tinggi. Sejalan dengan proses perkembangan ketiga tahap tersebut, terjadilah akumulasi kemampuan teknologi dan sekaligus pembelajaran teknologi.
  1. Tahap I (1982-1991) adalah tahap Lisensi untuk Freight Wagon (FW) dan Passanger Coach (PC). Hasil yang diperoleh selama kurun waktu 10 tahun dalam tahap ini adalah: 1838 unit Freight Wagon. (FW) atau kereta barang (untuk selanjutnya disebut FW), 174 Passanger Coach (PC) atau kereta penumpang (untuk selanjutnya disebut PC), dan 4 KRL (Kereta Rel Listrik). PC yang diproduksi pada periode ini adalah PC yang sesuai dengan permintaan pasar yaitu PC yang dapat melaju dengan kecepatan 90 km/jam. Pada tahap ini, INKA memfokuskan langkah transformasi industrinya untuk mempelajari teknologi produksi, pembangunan fasilitas produksi dan gedung baru, serta supporting industry dan supplier. Dengan kata lain aktivitasnya untuk memantapkan integrasi bangunan pabrik. Dalam tahap ini INKA memperoleh pendapatan kurang dari Rp 10 miliar per tahunnya, tidak ada laba karena strategi bisnis perusahaan hanya untuk survival saja. Pembiayaan perusahaan diperoleh dari pemerintah dan dari pinjaman lunak.[/*:m]
  2. Tahap II (1992-2001) adalah tahap Co-design dan Co-manufacture. Pada awal tahun 2002 ini, INKA sudah berada dalam akhir tahap co-design dan co-manufacturing. Dalam tahap ini INKA mulai memasuki pasar bernilai menengah, meraih kestabilan sebagai strategi bisnisnya. Produksi INKA untuk FW dan PC turun menjadi 124 FW unit dan 174 PC unit, sedangkan produksi KRL meningkat menjadi 180 unit sampai tahun 1998. PC yang diproduksi pada masa ini adalah PC yang bisa dipakai dengan kecepatan 120 km/jam. Untuk hal ini INKA telah mencobanya melalui Argobromo (Jakarta-Surabaya), Argo Lawu (Jakarta-Semarang) dan Argo Gede (Jakarta-Yogya). INKA pada fase ini menerapkan after sales services (layanan purna jual), dari hanya berkarakter teknologi produksi menjadi produk teknologi, dari supporting industry supplier ditingkatkan untuk dapat meraih sertifikat standar mutu ISO 9001.

    Pada periode ini INKA melakukan modernisasi workshop dalam fasilitas produksinya, juga melakukan jasa leasing dan maintenance. Dilihat dari sisi perkembangan industrinya, pada tahap ini INKA mulai mengarah kepada self sufficient hasil produksinya, meninggalkan produk berteknologi rendah dan mengarah ke teknologi tinggi. Hasilnya, penjualan yang diperoleh mencapai kurang dari Rp 200 miliar per tahunnya dengan laba sebesar 10-15% dari pendapatannya. Pembiayaan dalam periode ini diperoleh dari pemerintah dan sebagian dari jasa leasing.
    [/*:m]
  3. Tahap III (2002-2011) adalah tahap pengembangan teknologi untuk push-pull diesel train. Dalam tahap ini INKA akan memasuki era pengembangan teknologi tinggi. Produk produk yang akan dihasilkan adalah seperti KRL, termasuk untuk subway dan LRT (Light Rail Train), juga KRDE (Diesel Electric trainset). Dengan demikian produksi PC dan FW akan semakin berkurang. PC yang diproduksi dalam tahap ini yang sesuai dengan permintaan pasar adalah yang bisa melaju dalam kecepatan 160 km/jam atau bahkan dituntut 350 km/jam. Langkah-langkah untuk pembiayaan keuangan perusahaan akan dilakukan dengan berbagai cara semisal pembentukan aliansi bisnis, kerjasama operasi maupun joint venture. [/*:m][/list:o]

    Pada awal abad 21 terbentuklah divisi R&D. Dalam melaksanakan aktivitasnya, INKA bekerjasama selain dengan Bruges Nivels (BN)/Holec dari Eropa, juga dengan Sumitomo/Nippon Sharyo, Marubeni, dan Mitshubishi/Hitachi dari Jepang, Hyundai ABB dari Korea (gabungan Marubeni), GEC Alsthom dari Perancis, dan General Electric Transportation System AS.

    Disamping hal-hal tersebut diatas, dalam hal penguasaan teknologi baru, dicapai melalui dua tahap, yaitu studi untuk produk jangka panjang dan prototipe untuk produk jangka pendek. Untuk memenuhi kebutuhan angkutan komuter di wilayah Jabotabek tahun 2003, PT INKA mengembangkan produk KRL eksekutif dengan kandungan teknologi baru, diantaranya sistem kontrol IGBT, konstruksi ringan stainless steel, bogi bolsterless dan interior dengan sistem modul. Program bernilai Rp 54 miliar ini, disebut KRL I, pada tahun 1998 memasuki tahap desain dasar dan diharapkan akan diresmikan pada September 2001. Selanjutnya program penelitian bersama dengan PT Kereta Api Indonesia-ITB-BPPT dan RUK (Riset Unggulan Kemitraan), tahun 1998 telah dibuat prototipe rangka bogi bolsterless. Bogi bolsterless, yang dikembangkan oleh para engineer PT INKA akan diselesaikan produksinya pada tahun 1999, dan setelah dilakukan uji coba akan diaplikasikan pada program KRL I maupun program penjualan produk baru.

    Sebagai langkah mendukung program produksi dan pemasaran, program substitusi komponen impor dilakukan untuk memberikan nilai tambah produk dengan memberikan harga produk yang lebih kompetitif. Usaha ini dimaksudkan untuk mengatasi tingginya nilai produk impor karena depresiasi rupiah. Dengan Analysis Value Engineering, program ini telah berhasil menekan harga komponen utama kereta penumpang seperti kursi, AC, material lantai kereta dan modul interior. Program ini dapat menekan harga komponen sebesar 30-40%.

    Proses Akumulasi Kemampuan Teknologi
    Sejalan dengan tiga tahap utama tersebut diatas, berdasarkan proses perkembangan akumulasi kemampuan sekaligus pembelajaran teknologi yang terjadi di INKA dapat dikelompokkan menjadi beberapa tahapan. Ada 5 tahap dalam proses perkembangan akumulasi kemampuan sekaligus pembelajaran teknologi yang terjadi di INKA selama ini.

    1. Tahap I - Pembentukan Kemampuan Dasar (1981-1986)
      Pada tahap ini INKA mendapatkan paket kredit ekspor dari pemerintah dengan memproduksi kereta penumpang (assembling) berdasar lisensi dari Nippon Sharyo-Jepang. Hasilnya, telah diproduksi sebanyak 126 unit PC.[/*:m]
    2. Tahap II - Asimilasi dari Pelaksanaan Assembling (1986-1987)
      Masih dalam tahap yang sama, INKA berhasil memproduksi 20 unit PC SKD, 4 unit trailer car SKD juga berlisensi dari Nippon Sharyo-Jepang. [/*:m]
    3. Tahap III - Co-Design dan Co-Manufacture (1991-2001)
      Pada tahap ini INKA bekerjasama dengan Bruges Nivels (BN) Belgia/Holec-Belanda. Aktivitasnya antara lain meliputi Engineering (Co-design, Training, Document Technology Transfer), Procurement (Training, Penguasaan dokumen referensi) dan Construction (Co-industrial, Training, Technical Assistance/TA). Adapun kemampuan yang diperoleh dalam tahap ini antara lain meliputi: kemampuan design carbody mild steel, exterior dan interior dan sebagian integrasi sistem, kemampuan purchasing komponen dan consumable serta sourching komponen-komponen luar negeri, kemampuan penyiapan software produksi, kemampuan persiapan JIG dan fasilitasnya serta kemampuan produksi SKD, CKD, CM. Pada tahap ini, INKA dengan teknologi Jepang telah menghasilkan: 4 unit SKD Hyundai/ABB-Jepang (1993), dan 20 unit CKD KRL Stainless Steel VVVF inverter Hitachi (1997). Selain itu, INKA (1998) juga menghasilkan 32 set (128 unit) KRL Semi Stainless Steel (SSS) modular VVVF inverter BN/ HOLEC/LEN/PINDAD (Phase I: 12 CBU, 12 SKD, 4 CKD, dan Phase II: 40 CKD, 60 CM). [/*:m]
    4. Tahap IV - Co-Manufacture (1994-1996)
      Pada tahap ini INKA beralih ke Hitachi Jepang. Aktivitasnya hampir sama dengan tahap ketiga, antara lain meliputi Engineering (Document licency, Training), Procurement (penguasaan pembelian komponen lokal), Construction (Co-Industrial, Training, TA). Sedangkan kemampuan yang diperoleh dalam tahap ini antara lain kemampuan melaksanakan sebagian hasil desain KRL, kemampuan sourching dan pembelian komponen lokal dan luar negeri, kemampuan penyiapan software produksi, kemampuan persiapan fasilitas produksi, kemampuan produksi kereta full stainless steel. Pada tahap ini, INKA telah berhasil antara lain memproduksi 28 unit (1994) dan 16 unit (1996) electric railcars VVVF, merehabilitasi 8 unit (1995) dan 20 unit (1996) diesel railcars.
      [/*:m]
    5. Tahap V - Pengembangan Kemampuan Riset Rekayasa (1999-2001)
      Pada tahap ini, aktivitas INKA meliputi Engineering (konsultasi design engineering, kedatangan TA, 1 2 orang, 10 X, pengiriman engineer, INKA 5 org ke Jepang, Procurement (Penguasaan sourching dan pembelian komponen LN dan lokal, Construction (saran REKA TA untuk work preparation dan produksi). Kemampuan INKA dalam hal riset rekayasa yang telah diraih pada tahap ini antara lain berupa kemampuan membuat basic design dan detail design KRL, kemampuan multisourching, dan kemampuan penguasaan produksi KRL desain INKA sendiri. Produk kebanggaan yang telah diselesaikan dengan dana Rp 54 miliar adalah KRL I 2 set (8 unit). KRL I ini sedianya akan diresmikan oleh Menegristek pada tanggal 29 September 2001, tetapi karena alasan yang kurang jelas, maka peresmian dibatalkan. Konon kabarnya peresmian menunggu sertifikasi KRL I tersebut. Khusus untuk KRL ini ada dua sumber teknologi yang dipakai oleh INKA yaitu dari Jepang dan Eropa.

      Sebelum INKA memproduksi KRL, produk FW dan PC juga dihasilkan melalui lisensi. Untuk FW, INKA memakai lisensi dari Tranton Canada (1981-1983). Pada periode ini INKA berproduksi untuk mensuplai FW. Bogie untuk FW ini tidak didesain INKA, melainkan hanya berdasar lisensi saja. Pada tahun 1977 INKA bekerjasama dengan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memproduksi FW untuk PT Bukit Asam, untuk mengangkut batu bara. Sedangkan kemampuan untuk memproduksi PC diperoleh INKA setelah memproduksi sebanyak 126 unit PC (termasuk retrovit) dan selanjutnya 290 unit PC (1985).[/*:m][/list:o]

      Tahapan Pembelajaran Teknologi
      Sebelum PT INKA didirikan pada tahun 1981, perusahaan tersebut sudah melakukan proses pemeliharaan dan perbaikan kereta api atau merupakan bengkel (workshop) lokomotif uap yang berada dibawah koordinasi Menteri Komunikasi. Dengan pengalaman yang terakumulasi selama kegiatan tersebut, setelah beralih menjadi PT INKA, maka sebagian besar personalnya yang memiliki kemampuan dasar mengenai perkeretaapian, menjadi modal awal bagi kelanjutan perkembangan PT INKA.

      Dari sisi proses pengembangan akumulasi kemampuan sekaligus pembelajaran teknologi yang terjadi semenjak INKA berdiri sampai saat ini dapat digambarkan dalam 5 tahap. Kelima tahap tersebut adalah :

      1. Tahap I : Pembentukan Kemampuan Dasar untuk Gerbong Barang (Freight Wagon /FW) dan Kereta Penumpang (Passanger Coach/PC)
        Pada tahap pembentukan kemampuan dasar ini, INKA memproduksi FW dan PC atas dasar lisensi dari Nippon Sharyo dari Jepang. Kemampuan ini didukung oleh kemampuan awal yang berasal dari ex-karyawan Workshop lokomotif uap sewaktu dalam koordinasi Menteri Komunikasi yang kemudian menjadi karyawan INKA. Produk-produk yang dihasilkan antara lain FW, PC, cement wagon dan coal car. Kemampuan produksi dan teknologi dalam fase ini diperoleh sewaktu mengerjakan produk berdasar lisensi tersebut, yang pada dasarnya karena adanya stimulan pemerintah berupa paket kredit ekspor untuk menghasilkan produk-produk tersebut. Tahap pembelajarannya dan mekanismenya berupa akuisisi melalui alih teknologi yang terpaket atau tidak terpaket, belajar melalui kegiatan produksi, merubah spesifikasi, pelatihan, menyewa tenaga luar, mencari informasi bahan baku dan pengetahuan baru.[/*:m]
      2. Tahap II: Pembentukan Kemampuan Assimilation of Assembly Operation dengan Lisensi dari NIPPON SHARYO-Jepang
        Dari akumulasi kemampuan dasar yang berdasarkan lisensi, INKA lebih meningkatkan lagi kemampuannya dengan berhasil melaksanakan Co-design, dan Co-manufacture. Tahap ini pun masih berdasar lisensi, tetapi melalui assembling. Produk yang dihasilkan berupa 2 set atau 8 unit railcar SKD. Tahap pembelajarannya pun hampir sama dengan tahap 1, tetapi ada kegiatan evaluasi dari kegiatan sebelumnya. Sumber pembelajarannya pun juga masih dari lisensornya yaitu Nippon Sharyo disamping feedback dari konsumennya. Yang dimaksud kemampuan produksi berdasarkan teknologi lisensi adalah meliputi kemampuan membaca atau memahami manufacturing document, manufacturing drawing, jig drawing, proses instruction, CAM, welding procedure, flow process, chart , dsb.[/*:m]
      3. Tahap III : Pembentukan Kemampuan Co-Design dan Co-Manufacture dengan Lisensi BN/Holec
        Walaupun tahap ini masih berproduksi berdasar lisensi BN/Holec, tetapi kemampuan produksi dan teknologi sudah pada tahap co-design dan co-manufacture. Kemampuan co-design yang dimaksud disini meliputi detail design, design drawing/CAD, drawing list, diagram, operating & maintenance manual. Produk yang dihasilkan berupa 128 unit railcar SSS. Tahap pembelajaran dan mekanismenya berasal dari tahap sebelumnya, tetapi dengan lisensi dari sumber teknologi lain yaitu dari BN/Holec (Eropa).[/*:m]
      4. Tahap IV : Pembentukan Kemampuan Co-Manufacture dengan Lisensi Hitachi-Jepang
        Pada tahap ini, kemampuan telah meningkat menjadi kemampuan co-manufacture, dengan hasil produksi 24 unit KRL stainless steel. Tahap pembelajaran dan mekanismenya berasal dari tahap sebelumnya, tetapi dengan lisensi dari sumber teknologi lain yaitu dari Hitachi Jepang.[/*:m]
      5. Tahap V: Development of INKA?s Capability Engineering Research-KRL I
        Pada tahap inilah INKA mencapai kemampuan teknologi yang mapan, yaitu berhasil memproduksi dengan design INKA sendiri KRL I sebanyak 2 set (8 unit). Tahapan pembelajaran dan mekanismenya diperoleh melalui kegiatan engineering (konsultasi design engineering, TA, training SDM ke LN), pembelian (penguasaan pencarian komponen lokal dan LN), dan konstruksi. Sedangkan sumber teknologi dan inovasi didapatnya dari lisensor-lisensor, TA, konsultasi dan training ke LN sebelumnya.[/*:m][/list:o]

        Penutup
        Sebagai perusahaan pembuat gerbong dan kereta penumpang, PT INKA sudah memiliki kemampuan teknologi yang baik dan memiliki fasilitas yang modern. Dari segi kemampuan teknologi, saat ini INKA telah berada pada tahap ketiga yaitu tahap pengembangan teknologi tinggi dengan produk unggulannya berupa KRL I dan produk masa depan yaitu KRDL.

        Kemampuan ini diperoleh melalui proses akumulasi kemampuan dan sekaligus pembelajaran teknologi yang tidak sederhana, lama dan terus-menerus, antara lain meliputi pencarian teknologi, pemilihan, akuisisi, asimilasi, adaptasi, peningkatan kualitas dan diversifikasi teknologi. Bahkan dengan berhasilnya INKA memproduksi KRL I, membuktikan bahwa proses akumulasi kemampuan dan pembelajaran teknologi tersebut terjadi dengan sangat dinamis.
        Sumber

Sementara itu ada gambar maning.... :tos:
[Image: 20080807155137_102_9919_489ab7992a512-t.jpg][Image: 20080807155141_l_TH_SRT_GE_4001_489ab79d6c497-t.jpg]

Poto oleh : Fajar Arifianto
tuh ntar kereta aceh bawa ke sananya gimana???

kan lebar relnya aja dah beda.....
@ Gege.

Thanks bro penjelasannya....
btw itu yg dijadikan background Lok jenis apa ya ?
phaser & thuser model terbaru punya PT KA....

tul gak om momod????
big bro Wrote:phaser & thuser model terbaru punya PT KA....

tul gak om momod????

Fungsinya buat apa Phaser & thuse, apa itu juga Made In Indonesia (INKA) ?
eling Wrote:
big bro Wrote:phaser & thuser model terbaru punya PT KA....

tul gak om momod????

Fungsinya buat apa Phaser & thuse, apa itu juga Made In Indonesia (INKA) ?

He he he.. yang tepat, Plasser and Theurer...
benda-benda ini made in Austria.. kalo ndak salah, yang punya Departmen Perhubungan.. Fungsi dari set alat-alat ini adalah untuk melakukan perawatan jalan rel..
Beberapa orang menyebutnya dengan mesin picuk, karena mereka kerap menusuk kricak dan mengangkat rel untuk menstabilkan kondisi track.

Fungsinya kira-kira sebagai berikut:
* Tamping Machines
* Ballast Distributing and Profiling Machines
* Stabilising Machines
* Ballast Cleaning Machines
* Formation Rehabilitation Machines
* Material Conveyor and Hopper Units
* Machines for Track Renewal and Track Laying
* Machines for Switch Renewal and Switch Laying
* Machines for Mobile Rail Treatment
* Recording Cars
* Carrier Vehicles
* Machines for Renewal and Installation of Catenary
* Trackbound Maintenance Vehicles
OOT yeh...

Jawabannya ke SINI yuk?

Kita bahas soalan Plasser & Theurer di sana...

Sementar itu balik ke Mediun.....

Ini ada poto lagih...
Quote:D30150 me-langsir rangkaian gerbong semen
[Image: 20080808095831_untitled_489bb6574170b-t.jpg]

Berhubung masih pakai cara manual, peran tukang rem tidak boleh diremehkan
[Image: 20080808095834_untitled1_489bb65a74231-t.jpg]
Poto oleh Willy Aprilianto

:ewink:
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10