Hmm...
Jaman keemasan , kapan ya ...
saat 2 lamaran diterima sekitar th 1985 untuk bekerja di Jakarta padahal tinggal di Semarang pasnya sih di Purwodadi . Saat2 KA Tawang Mas bertarip Rp 4.000,- . atau KA Fajar Utama yang berjalan fakultatip , Sabtu , Minggu dan Senin dengan tarip yang sangat merakyat sekitar Rp 6.000.- saja nggak pake mahal . Bus AKAP dengan kondisi yang sama taripnya Rp 5.400,-dengan perjalanan yang sering berhenti untuk menaik-turunkan penumpang jauh-dekat sehingga petak Jakarta -Semarang ditempuh oleh Bus AKAP yang berangkat pagi hari ini dengan waktu 12 jam.
Seminggu sekali Jakarta - Semarang - Purwodadi harus ditempuh , solusinya dari JNG hari Sabtu sore naik KA Gayabaru Malam Utara , BB 304 bawa 9 K3 , KMP3 plus 2 B . tergantung peruntungan, kalau lagi mujur ya dapet tempat. Sesampai di Semarang Tawang masih sekitar jam 3 an . Pindah ke angkutan darat ( Elf / Colt ) dan sebelum subuh sudah sampai di pelukan keluarga tercinta . Seminggu sekali.
Minggu sore cabut dari Purwodadi sekitar jam 3 sore dan turun di SMT. langsung antre karcis , Biar dapet tempat duduk saya milih masuk di gerbong BP , " Spring Bed lima ratus rupiah , silahkan siapa mau beli " , kata penjual koran bekas . dengan tangkas springbed pun segera digelar bersama para " tetangga ". Mereka ngejar bisa istirahat agar bugar sesampai di Jakarta karena langsung bekerja. BB 200 29 terdengar memberikan semboyan35 dan dengan gerakan yang gemulai KA Senja Ekonomi pun bergerak , meliuk bagai ular besi raksasa. Biasanya sesampai di Cirebon simbah BB 200 pun dilepas dan diganti dengan lok muda perkasa CC 201 buatan GE yang datang sekitar th 1977. Tak lupa sebungkus nasi rames khas Cirebon singgah di perut untuk menenangkan cacing2 yang sedari berangkat minta jatah konsumsi.
Selama perjalanan dari Semarang ke Cirebon tidak banyak bersilang karena saat itu hanya ada KA Mutiara Utara , GBM Utara dan beberapa Ka Barang.
Jika pas di hari senin dapat jadwal dinas malam , solusinya dari Purwodadi berangkat jam 4 pagi sehingga di Semarang bisa transit dengan
KA Tawang Mas yang berangkat jam 07.00 wib . Selembar karcis berharga Rp 4.000,- pun segera masuk kantong saat disiarkan bahwa rangkaian segera diberangkatkan dari sepur 1 Stasiun Semarang Tawang.
Saat baru berangkat okupansi baru sekitar 20 %. BB 200 dengan rangkian 5 K3 KM3 plus BP pun menjadi andalan para pemerjalan di petak tsb. sesampai di Poncol KA berhenti sebentar untuk menaikkan penumpang demikian juga di Kaliwungu , Kalibodri , Weleri ,dsb.Saat2 memasuki stasiun Kaliwungu petugas restorka sudah mulai bergerilya untuk menawarkan beberapa kuliner seperti Nasi Goreng , Nasi Rames atau Mie Rebus.
Demikian juga perjalanan yang saya lalui yang setiap minggu selalu setia naik KA Tawang Mas ini ( dulu namanya masih KA Cepat Semarang - Jakarta ) nggak pakai ditawarin dulu. Sepiring nasi goreng plus segelas kopi susu sudah terhidang di meja kecil pinggir jendela .
Dengan senyum yang khas bapak petugas restorasi ini langsung mempersilahkan untuk sarapan. Siangnya , sepiring Nasi Rames diantarkan lagi ke meja saya dengan segelas Es Teh manis , padahal rekening yang tadi belum ditagih , dan menjelang sore saat rangkaian masuk di stasiun Pagaden Baru semangkok Mie rebus pakai telur plus segelas kopi panas kembali hadir di meja kecil . Menjelang stasiun Krawang Bapak petugas reska yang sangat ramah datang sembari memberikan selembar nota . Tiket KA seharga Rp 4.000.- tapi jajannya senilai Rp 15.000.- Tapi rasa nyaman yang saya dapatkan melebihi naik KA klas komersial yang digembar-gemborkan.
Naik KA Ekonomi tanpa rasa sumpek , tidak ada AC tetapi angin semilir sudah bisa menggantikan sang bayu buatan. Masih jarang ada acara susul menyusul yang melelahkan. BB 200 yang jalan dengan kec 60 km per jam ternyata mampu mengantarkan lebih cepat dari bus AKAP siang manapun tanpa ada acara terlambat kerja.
Nah , yang saya uraikan apakah bisa disebut
sebagai bagian dari Jaman Keemasan KA . kalau tidak ya hanya sekedar berbagi cerita.
Salam
