(22-01-2011, 05:55 PM)ady_mcady Wrote: [ -> ] (22-01-2011, 10:08 AM)kemal reza Wrote: [ -> ]ya memang mas, untuk merealisasikan tuh agak sulit.. soalnya memindahkan terminal itu suatu PR besar untuk pemerintah..
ada baiknya pemerintah memberikan bus transit bagi untuk ke terminal untuk penumpang yang gak kedapatan tiket/keabisan tiket tanpa harus membayar Bus lagi. gimana menurut temen2 semua? CMIIW
konon manajemen PPD yang baru rencananya mau begitu mas. jadi akan ada bus2 feeder/transit dari berbagai terminal besar ke stasiun2 besar di jakarta. jadi semacam bus2 bandara yang dioperasikan DAMRI
Tapi ada satu hal lagi yang harus diperhatikan: kondisi bus feeder. Apakah armadanya akan sebaik bus Damri rute Stasiun Gambir-Bandara Soetta (atau bahkan lebih baik), ataukah seburuk kebanyakan bus Damri dalam kota Bandung, yang non-AC dan ngebul tiap kali beranjak dari posisi diam?
Kalo armadanya bagus, maka efisiensinya akan mendekati 100%. Sebaliknya, jika armadanya buruk, maka bus-bus feeder itu kecil kemungkinannya untuk menunjukkan kegunaannya.
Contohnya (misal) feeder antara terminal Kampung Rambutan, atau Lebak Bulus, dengan Stasiun Gambir. Kita tahu bahwa kereta jarak-jauh dari dan ke Stasiun Gambir hanya yang kelasnya Eksekutif (kecuali Bangunkarta tujuan akhir Stasiun Ps. Senen) dan beberapa KA kelas Bisnis (seperti Argo Parahyangan dan Cirebon Ekspres yang membawa KA kelas Eksekutif dan Bisnis). Nah, kalo tiba-tiba ada penumpang, misalkan, KA Eksekutif Malam Argo Anggrek, Bima, Sembrani, atau Gumarang (yang terakhir itu campuran Eksekutif dan Bisnis), yang tiba-tiba (berharap ini tidak akan pernah terjadi) dibatalkan perjalanannya karena satu atau beberapa hal, terus diharuskan untuk naik Bus Cepat Malam AC dari Kp. Rambutan atau Lb. Bulus karena harus tiba di Surabaya keesokan harinya, pastinya bakal mencari moda transportasi yang nyaman dan cepat, namun murah, atau bahkan gratis, untuk berangkat dari Gambir menuju terminal keberangkatan bus malam itu.
Naik taksi adalah hal yang cukup "mewah" di Jakarta, apalagi kalo naiknya (maaf nyebut merek) Blue Bird yang tarif atas. Belum ditambah kemacetan, bisa-bisa tarif "tambahan" yang harus dibayar pasti melewati angka Rp. 50.000,-. Bayangkan kalo ada feeder yang full-AC dan tempat duduk nyaman, gratis pula. Pasti calon penumpang yang dibatalkan perjalanannya itu ga bakal sepenuhnya kecewa karena diberi kompensasi yang cukup setimpal oleh pihak PT KA...
Atau contoh lain, saya temukan di thread "Seputar KA Lodaya", ada RF yang tinggal di Bekasi, mau naik Lodaya Pagi yang jam 8 dari Bandung, tetapi ga ada GoPar yang nyampe Bandung sebelum jam 8. Salah satu pilihannya adalah naik bus (sekali lagi nyebut merek) Primajasa sampai Pintu Tol Pasir Koja, baru nyambung angkot ke Stasiun Bandung, atau turun di terminal Lw. Panjang baru nyambung bus Damri ke stasiun. Coba kalo ada feeder Lw. Panjang-St. Hall, pasti itu bisa menjadi alternatif yang sangat bagus.
Jadi, setidaknya, untuk permulaan kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil. Ga perlu dulu bikin terminal di seberang stasiun, kembangkan saja dulu dari apa yang sudah ada...