Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Apa Saatnya Stasiun Harus Dekat Terminal Bus?
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3
(22-01-2011, 10:08 AM)kemal reza Wrote: [ -> ]ya memang mas, untuk merealisasikan tuh agak sulit.. soalnya memindahkan terminal itu suatu PR besar untuk pemerintah..
ada baiknya pemerintah memberikan bus transit bagi untuk ke terminal untuk penumpang yang gak kedapatan tiket/keabisan tiket tanpa harus membayar Bus lagi. gimana menurut temen2 semua? CMIIW

konon manajemen PPD yang baru rencananya mau begitu mas. jadi akan ada bus2 feeder/transit dari berbagai terminal besar ke stasiun2 besar di jakarta. jadi semacam bus2 bandara yang dioperasikan DAMRI

tapi resikonya bangunan sekitar stasiun yang ada terminalnya padat dong?
(22-01-2011, 05:55 PM)ady_mcady Wrote: [ -> ]
(22-01-2011, 10:08 AM)kemal reza Wrote: [ -> ]ya memang mas, untuk merealisasikan tuh agak sulit.. soalnya memindahkan terminal itu suatu PR besar untuk pemerintah..
ada baiknya pemerintah memberikan bus transit bagi untuk ke terminal untuk penumpang yang gak kedapatan tiket/keabisan tiket tanpa harus membayar Bus lagi. gimana menurut temen2 semua? CMIIW

konon manajemen PPD yang baru rencananya mau begitu mas. jadi akan ada bus2 feeder/transit dari berbagai terminal besar ke stasiun2 besar di jakarta. jadi semacam bus2 bandara yang dioperasikan DAMRI

Tapi ada satu hal lagi yang harus diperhatikan: kondisi bus feeder. Apakah armadanya akan sebaik bus Damri rute Stasiun Gambir-Bandara Soetta (atau bahkan lebih baik), ataukah seburuk kebanyakan bus Damri dalam kota Bandung, yang non-AC dan ngebul tiap kali beranjak dari posisi diam?

Kalo armadanya bagus, maka efisiensinya akan mendekati 100%. Sebaliknya, jika armadanya buruk, maka bus-bus feeder itu kecil kemungkinannya untuk menunjukkan kegunaannya.

Contohnya (misal) feeder antara terminal Kampung Rambutan, atau Lebak Bulus, dengan Stasiun Gambir. Kita tahu bahwa kereta jarak-jauh dari dan ke Stasiun Gambir hanya yang kelasnya Eksekutif (kecuali Bangunkarta tujuan akhir Stasiun Ps. Senen) dan beberapa KA kelas Bisnis (seperti Argo Parahyangan dan Cirebon Ekspres yang membawa KA kelas Eksekutif dan Bisnis). Nah, kalo tiba-tiba ada penumpang, misalkan, KA Eksekutif Malam Argo Anggrek, Bima, Sembrani, atau Gumarang (yang terakhir itu campuran Eksekutif dan Bisnis), yang tiba-tiba (berharap ini tidak akan pernah terjadi) dibatalkan perjalanannya karena satu atau beberapa hal, terus diharuskan untuk naik Bus Cepat Malam AC dari Kp. Rambutan atau Lb. Bulus karena harus tiba di Surabaya keesokan harinya, pastinya bakal mencari moda transportasi yang nyaman dan cepat, namun murah, atau bahkan gratis, untuk berangkat dari Gambir menuju terminal keberangkatan bus malam itu.

Naik taksi adalah hal yang cukup "mewah" di Jakarta, apalagi kalo naiknya (maaf nyebut merek) Blue Bird yang tarif atas. Belum ditambah kemacetan, bisa-bisa tarif "tambahan" yang harus dibayar pasti melewati angka Rp. 50.000,-. Bayangkan kalo ada feeder yang full-AC dan tempat duduk nyaman, gratis pula. Pasti calon penumpang yang dibatalkan perjalanannya itu ga bakal sepenuhnya kecewa karena diberi kompensasi yang cukup setimpal oleh pihak PT KA...

Atau contoh lain, saya temukan di thread "Seputar KA Lodaya", ada RF yang tinggal di Bekasi, mau naik Lodaya Pagi yang jam 8 dari Bandung, tetapi ga ada GoPar yang nyampe Bandung sebelum jam 8. Salah satu pilihannya adalah naik bus (sekali lagi nyebut merek) Primajasa sampai Pintu Tol Pasir Koja, baru nyambung angkot ke Stasiun Bandung, atau turun di terminal Lw. Panjang baru nyambung bus Damri ke stasiun. Coba kalo ada feeder Lw. Panjang-St. Hall, pasti itu bisa menjadi alternatif yang sangat bagus.

Jadi, setidaknya, untuk permulaan kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil. Ga perlu dulu bikin terminal di seberang stasiun, kembangkan saja dulu dari apa yang sudah ada...
(22-01-2011, 05:55 PM)ady_mcady Wrote: [ -> ]
(22-01-2011, 10:08 AM)kemal reza Wrote: [ -> ]ya memang mas, untuk merealisasikan tuh agak sulit.. soalnya memindahkan terminal itu suatu PR besar untuk pemerintah..
ada baiknya pemerintah memberikan bus transit bagi untuk ke terminal untuk penumpang yang gak kedapatan tiket/keabisan tiket tanpa harus membayar Bus lagi. gimana menurut temen2 semua? CMIIW

konon manajemen PPD yang baru rencananya mau begitu mas. jadi akan ada bus2 feeder/transit dari berbagai terminal besar ke stasiun2 besar di jakarta. jadi semacam bus2 bandara yang dioperasikan DAMRI

iya mudah2n aja bener terealisasi,
dan mengembangkan bus transit ini untuk calon penumpang yang tidak kebagian tiket dengan maksud untuk memberikan ekstra pelayanan agar calon penumpang tsb tidak perlu mengeluarkan kocek untuk ke terminal..
@ d'tRAiNeR > Aku mengerti sih... Cuma kalau saja bus - bus semisal malam cepat AC ini lagi sedang menganggur karena lagi ketiadaan rinja bagi sejumlah perjalanan KA akan baiknya digunain buat apa aja baiknya? Rinja gak setiap kali muncul karena kejadiannya pasti begitu saja. Maksudnya rinja gak harsu musibah seperti anjlokan dsb lho... tapi semisal kayak KA mogok, listrik aliran atas mati sehingga KRL menghalangi laju KA di belakang / depannya dan masih banyak lagi.

OK semisal disediain misalnya di stasiun Gambir. Kalau pun disediain apa seimbang dengan jumlah para calon penumpang? Lajunya apa harus beriringan atau tidak? Mengingat sejumlah calon penumpang KA pasti punya rombongan keluarga / sanak kerabatnya yg nganterin mrk sampai stasiun. Misalkan 1 orang penumpang aja dianter semisal 10 orang anggota keluarga, apa bus - bus Cepat Malam AC tsb mampu mengangkut 11 orang tsb? Gak mungkin kalau ke-10 anggota keluarga si calon penumpang tsb ditinggalin di stasiun Gambir begitu saja. Itu sih yg aku pikirin.
Lanjut > Misalkan yg ini saja sebagai 'hal sepele' krn cukup sampai Gambir pun gak jadi masalah meski si calon penumpang mesti naik bus ke Surabaya semisal dr terminal bus Pulo Gadung. Yang jadi masalah :
1. Bagaimana pengaturan keuangan yang ada?
2. Para calon penumpang apakah terbebani dg pengembalian tiket KA spt kejadian yg baru2 ini dialami oleh maskapai Mandala Airlines?
3. Seberapa banyak armada bus AKAP / antar Kota Antar Propinsi tsb mampu melayani sejumlah calon penumpang KA yg kena rinja tsb. Misalnya 1 rangkaian K1 Argo Bromo Anggrek ada 300 penumpang, berapa bus AKAP yg harus disediain. Itu baru 1 rangkaian KA. Bagaimana kalau dihitung semisal ada 10 rangkaian KA yang Klas Eksekutif (bbrp yg +Bisnis) tentunya yang kena rinja?
4. Belum lagi kemacetan yang terjadi di Jakarta tak mengenal waktu. Sekedar himbau, jangan terlalu berasumsi dg semisal jadwal ABA yg 1/2 10 malem itu ruas2 jalan raya di Jkt dah lengang lho... Kalau banjir besar dan hujan besar pasti macet bisa sampai tgh malem.

Intinya bukan gak setuju kalau stasiun gak deket terminal bus. Tapi deket pun pasti ada saja rintangannya. Siapa sih yg gak tahu kota2 besar di Indonesia kalau bukan persoalan :
1. Penataan bus2, angkot, ojek, dsb di akses keluar masuk terminal? (becak juga kalau perlu)
2. Penataan pr PKL yang sampai menjamur di jalur bus (meski juga punya peron kyk terminal bus Blok M)?
3. Kebersihan sehingga warga sulit nyaman mau ke toilet, salat di mushola, jalan kaki keluar masuk terminal bus, dsb?
(24-01-2011, 09:48 AM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]@ d'tRAiNeR > Aku mengerti sih... Cuma kalau saja bus - bus semisal malam cepat AC ini lagi sedang menganggur karena lagi ketiadaan rinja bagi sejumlah perjalanan KA akan baiknya digunain buat apa aja baiknya? Rinja gak setiap kali muncul karena kejadiannya pasti begitu saja. Maksudnya rinja gak harsu musibah seperti anjlokan dsb lho... tapi semisal kayak KA mogok, listrik aliran atas mati sehingga KRL menghalangi laju KA di belakang / depannya dan masih banyak lagi.

OK semisal disediain misalnya di stasiun Gambir. Kalau pun disediain apa seimbang dengan jumlah para calon penumpang? Lajunya apa harus beriringan atau tidak? Mengingat sejumlah calon penumpang KA pasti punya rombongan keluarga / sanak kerabatnya yg nganterin mrk sampai stasiun. Misalkan 1 orang penumpang aja dianter semisal 10 orang anggota keluarga, apa bus - bus Cepat Malam AC tsb mampu mengangkut 11 orang tsb? Gak mungkin kalau ke-10 anggota keluarga si calon penumpang tsb ditinggalin di stasiun Gambir begitu saja. Itu sih yg aku pikirin.
Lanjut > Misalkan yg ini saja sebagai 'hal sepele' krn cukup sampai Gambir pun gak jadi masalah meski si calon penumpang mesti naik bus ke Surabaya semisal dr terminal bus Pulo Gadung. Yang jadi masalah :
1. Bagaimana pengaturan keuangan yang ada?
2. Para calon penumpang apakah terbebani dg pengembalian tiket KA spt kejadian yg baru2 ini dialami oleh maskapai Mandala Airlines?
3. Seberapa banyak armada bus AKAP / antar Kota Antar Propinsi tsb mampu melayani sejumlah calon penumpang KA yg kena rinja tsb. Misalnya 1 rangkaian K1 Argo Bromo Anggrek ada 300 penumpang, berapa bus AKAP yg harus disediain. Itu baru 1 rangkaian KA. Bagaimana kalau dihitung semisal ada 10 rangkaian KA yang Klas Eksekutif (bbrp yg +Bisnis) tentunya yang kena rinja?
4. Belum lagi kemacetan yang terjadi di Jakarta tak mengenal waktu. Sekedar himbau, jangan terlalu berasumsi dg semisal jadwal ABA yg 1/2 10 malem itu ruas2 jalan raya di Jkt dah lengang lho... Kalau banjir besar dan hujan besar pasti macet bisa sampai tgh malem.

Intinya bukan gak setuju kalau stasiun gak deket terminal bus. Tapi deket pun pasti ada saja rintangannya. Siapa sih yg gak tahu kota2 besar di Indonesia kalau bukan persoalan :
1. Penataan bus2, angkot, ojek, dsb di akses keluar masuk terminal? (becak juga kalau perlu)
2. Penataan pr PKL yang sampai menjamur di jalur bus (meski juga punya peron kyk terminal bus Blok M)?
3. Kebersihan sehingga warga sulit nyaman mau ke toilet, salat di mushola, jalan kaki keluar masuk terminal bus, dsb?


yang saya BOLD, adalah pelayanan yang harus diprioritaskan juga..
soalnya ini menyangkut kenyamanan masyarakat juga sih,
satu sisi mereka memang mengais rejeki disitu, tapi sisi lain mereka meresahkan.
kalo bus transitnya kayak gambar ini gimana ya?

[Image: FotoRN54-3.jpg]
mannheim spurbus. foto: Jürgen Götzke
http://www.pro-bahn-bw.de/rv_rhein_necka...purbus.htm

oot: kenapa gak busway aja dibikin begini? jadi bisa masuk ke setiap stasiun untuk transfer penumpang?
(25-01-2011, 08:38 PM)ady_mcady Wrote: [ -> ]kalo bus transitnya kayak gambar ini gimana ya?

[Image: FotoRN54-3.jpg]
mannheim spurbus. foto: Jürgen Götzke
http://www.pro-bahn-bw.de/rv_rhein_necka...purbus.htm

oot: kenapa gak busway aja dibikin begini? jadi bisa masuk ke setiap stasiun untuk transfer penumpang?

wah muantabbb bgt kang seandainya bus transitnya seperti ini,
saya jamin, masyarakat bakal puas sama pelayanannya dan bakal beralih ke transportasi KA. PlayboyPlayboy
Seharusnya nggak usah dibangun terminal bus, halte bus saja sudah cukup. Entar kalau dibangun terminal bus dibangun, nanti KA sama bus malah saingan.
(26-01-2011, 04:38 AM)arif96 Wrote: [ -> ]Seharusnya nggak usah dibangun terminal bus, halte bus saja sudah cukup. Entar kalau dibangun terminal bus dibangun, nanti KA sama bus malah saingan.

maaf kang, mungkin maksud dan tujuannya bukan untuk bersaing.
tapi dalam hal berbisnis persaingan sehat itu wajar ko,
tapi dengan berdekatannya stasiun dan terminal bermaksud untuk meminimalisir ongkos masyarakat apabila ingin beralih ke transportasi lain yang disebabkan kehabisan tiket dan bermacam alasan lainnya, CMIIW
Playboy
Pages: 1 2 3