Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Quintple Track/ 6 Jalur Kereta Api Antara Jakarta-CiKampek
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5
kalo menurut pemikiran awam saya, gandakan dulu jalur utama kereta api di pulau jawa. Prioritas Lintas: Jakarta-Cirebon-Tegal-Semarang-Cepu-Bojonegoro-Lamongan-Surabaya; Jakarta-Cirebon-Prupuk-Purwokerto-Kroya-Kutoarjo; Jakarta-Cikampek-Bandung; Kroya-Cilacap; Kroya-Bandung

Sekunder Lintas: Bogor-Bandung; Jakarta-Merak; Kertosono-Malang; Malang-Surabaya; Malang-Banyuwangi; Surabaya-Banyuwangi.

Jadi mengurangi silang (kecuali disusul) dan memperbanyak jumlah penumpang dengan menambah KA lokal.

Untuk wilayah Jabodetabek, secara ekstrimnya, pemikiran saya begini:

1. Naikkan jalur kereta api selepas Kampung Bandan smp dengan Tambun dengan design DDT (lahannya kan cukup luas antara KPB-PSE-JNG). Jalur JAKK-TPK tetap di bawah

2. Di Rajawali tetap ada percabangan tapi diatas untuk ke arah Tanjung Priok. Di tengah2 antara Ancol-Tanjung Priok baru diturunin jalurnya ke bawah. Sebelum ini dibangun, benahin dulu Perlintasan2 sepanajang Ancol-Tanjung Priok.

3. Di PSE, formasi jalur tetap (tidak berubah yaitu 6 sepur. Bangunan fisik stasiun tidak dipugar seperti Gambir. Jadi jalur bekas rel nantinya untuk tiang pondasi. Peron tengah yg di bawah tetap ada untuk ruang tunggu penumpang dan waralaba. Di atas dibangun peron baru lengkap dengan Kantor PPKA, hanya saja dibangun dengan desain seminimalis mungkin tapi fungsional. Di timur dan barat di bangun peron. Di tengah di bangun peron plus ruang PPKA. jalur 2 dan 4 untuk stabling. 3 jalur stabling yg di sebelah utara juga tetap ada tapi dibangun diatas.

4. Di JNG, sama juga seperti di PSE, semua jalur naik keatas termasuk Dipo Lok.

5. Stasiun Cipinang bisa difungsikan untuk stabling kereta ato naik turun penumpang komuter.

6. Di BKS, sama juga seperti di PSE, semua jalur naik keatas termasuk jalur stabling KRL yg disebelah barat. Nah masalahnya di BKS bukankah juga ada pembongkaran batubara??? Kalo mau sedikit repot, agak jauh sebelum BKS dari arah JNG ada percabangan, 2 rel turun ke bawah khusus untuk KA batubara.

7. Selepas Tambun baru rel turun ke bawah. Kelak KA jarak jauh ekonomi bisa turun penumpang di Tambun

8 Sampe Cikampek/Cirebon formasi rel tetap DDT.

9. Berhubung di manggarai ada balai yasa, maka rel baru naik selepas MRI ke arah JNG. Untuk ke arah Bogor juga demikian. Formasi rel DDT. Knp supaya kalo kelak ada kereta Jakarta Bandung via Bogor kayak dulu, perjalanan Ka Jarak Jauh tidak tumplek dengan komuter

10. Selepas Jakarta Gudang, rel baru mulai naik sampai dengan Tanah Abang. Sebelum MRI dari Tanah Abang rel baru turun. Desain THB sama dengan PSE, semua naik ke atas. Selepas Tanah Abang menuju Permata Hijau rel mulai turun.

11. Di Stasiun Duri ada percabangan menuju Tangerang. Jalur ini di atas smp dengan Tangerang. dengan tujuan Stasiun Tangerang bisa menjadi stasiun besar. Saat ini kan jumlah rel disana terbatas,buat stabling aja pas2an. Di bawah jembatan, PT KA bisa menyewakan lahannya bekerja sama dengan PD Pasar Jaya untuk membangun pasar. Ada Pasar kan deket stasiun Tangerang???? Hal sama juga berlaku di Pasar Gaplok, setelah jalur dinaikan, lahan di bawah jembatan bisa disewakan (JANGAN DIJUAL).

12. Kalo untuk KA penumpang, sy lebih memlih semua tetap turun di GMR dan JAKK plus MRI. Dengan catatan MRI smp dengan JAKK membangun 2 rel tambahan di jalur layang yg sudah ada sekarang.

Kurang lebih begini pemikiran ekstrim sy.

Soal dana darimana???? Pasti ada jalan. Negeri kita "jagoan" korupsi, masa korupsi bisa cari dana pembangunan kereta api tidak bisa.
untuk mengetahui apakah ide-ide kita seputar pembangunan double track, quadruple/quintuple track, dsb relevan atau tidak, kita juga perlu mengetahui jalur-jalur mana saja yang benar-benar masuk AGENDA RESMI untuk program-program tersebut.
(16-06-2010, 11:19 AM)adinugroho Wrote: [ -> ]Kita harus mencontoh luar negeri, jalur kereta jarak jauh seharusnya terpisah dari kereta komuter (Jabodetabek). Tetapi harus terintegrasi. Misalnya jika disesuaikan dengan jalur KA Jakarta, kereta api eksekutif berhenti di MRI, selanjutnya dari MRI penumpang yg mau turun di stasiun lain bisa naik KRL sesuai kelas KA jarak jauh yg dinaiki secara gratis. Misalnya penumpang KA Argo Sindoro yg mau lanjut ke GMR bisa naik KRL ekspres tanpa dipungut biaya tambahan. Dengan demikian bisa mengurangi kepadatan jalur2 MRI-THB, MRI-GMR, JNG-PSE sampai JAKK. Syukur2 pemerintah mau membangun jalur baru kereta MRT tetapi terintegrasi dgn stasiun2 besar KA jarak jauh maupun jalur busway.

nah setuju sama usul yang ini...
jadi semuanya terintegrasi...
DDT aja masih angan Kapan ya...
DDT tanjungpriok-kota sdh ada,tp tetep juga sepi....
Maaf OOT

Kok istilahnya lucu ya kalau DDT (Double Double Track) bukannya lebih tepat seperti yang dituliskan teman kita yaitu Quadruple Track........ Kalau DDT berarti bisa ada Double Single Track, Double Triple Track, dst.....
terus bahasa Indonesianya DDT jadi "Jalur Dwiganda" mengapa bukan "jalur rangkap empat" atau "empat lajur / empat jalur" ?
(24-04-2014, 09:39 AM)bhaskara Wrote: [ -> ]Maaf OOT

Kok istilahnya lucu ya kalau DDT (Double Double Track) bukannya lebih tepat seperti yang dituliskan teman kita yaitu Quadruple Track........ Kalau DDT berarti bisa ada Double Single Track, Double Triple Track, dst.....
terus bahasa Indonesianya DDT jadi "Jalur Dwiganda" mengapa bukan "jalur rangkap empat" atau "empat lajur / empat jalur" ?

bedanya di layanan jalurnya. ddt itu 2 jalur khusus krl, 2 jalur untuk kereta selain krl. kalo quadruple 2 jalur lintas cepat ditengah untuk kereta ekspress diapit 2 jalur diluar untuk kereta lambat/komuter. ddt untuk memisahkan layanan komuter agar punya jalur sendiri. sementara quad track untuk memisahkan layanan ekspress non ekspress untuk semua jenis kereta.

just imo
Sudah, lah, gak usah 6 jalur dulu... 4 jalur itu sudah cukup kalo melihat kondisi sekarang. Pertimbangannya, 2 jalur saat ini hanya padat di saat tertentu saja. Contoh: pagi hari saat komuter dan KAJJ berebut jalur. Jika menggunakan 6 jalur, 4 jalur lainnya akan sia sia di waktu senggang, dengan asumsi, 2 jalur digunakan komuter setiap saat. Jadi, 4 jalur sudah sangat bagus untuk mencegah terjadinya susulan di Cakung hingga 5 menit saat KA 1-4 mau lewat Bye Bye
(24-04-2014, 09:39 AM)bhaskara Wrote: [ -> ]Maaf OOT

Kok istilahnya lucu ya kalau DDT (Double Double Track) bukannya lebih tepat seperti yang dituliskan teman kita yaitu Quadruple Track........ Kalau DDT berarti bisa ada Double Single Track, Double Triple Track, dst.....
terus bahasa Indonesianya DDT jadi "Jalur Dwiganda" mengapa bukan "jalur rangkap empat" atau "empat lajur / empat jalur" ?

maksudnya "double double" itu dobelnya dua =4. kalo "double single" jadi dobelnya satu =2. "double triple" jadi dobelnya tiga= 6. emang agak aneh sih, kenapa gak "quadruple"

"dwiganda" juga prinsipnya sama.

imho ya
(09-11-2013, 07:29 PM)alin_masuk sepur 5 Wrote: [ -> ]DDT tanjungpriok-kota sdh ada,tp tetep juga sepi....

Paling cuma dipake Bengawan, Brantas, dan Kertajaya itupun cuma 6x Sehari (PP).
Xie Xie
Pages: 1 2 3 4 5