(23-05-2010, 12:46 PM)Penjelajah Wrote: [ -> ] (23-05-2010, 12:30 PM)sepur_lori Wrote: [ -> ] (23-05-2010, 12:23 PM)Penjelajah Wrote: [ -> ]Jika anda tahu bagaimana proses rebuild B25 dan C1218, tuas² bisa diambil dari lok² lain atau membuat cetakan dari besi cor. Semua bisa diupayakan, kecuali masalah terbesar : KETEL
Uang pun tak bisa mengatasinya. Walau D52099 dan CC50 TMII sudah mendapat dana sponsor 6 milyar rupiah (CMIIW) dari luar negeri, apalah artinya jika tak bisa menemukan ketelnya?
Benar juga, mas Penjelajah. Dulu berita yg saya dengar ketel dari kedua lok tsb harus diperbarui lagi, karena jika hanya mengandalkan tambal las dikhawatirkan bisa njeblug saat terkena panas yg tinggi (mendekati 12 atm atau kelebihan).
Makanya saya sedikit aneh membaca info ketel B2501 yang ketelnya bocor dan perlu penebalan dan pelapisan? Kalo masalahnya semudah itu, banyak sekali lok uap di dunia yang bisa dihidupkan lagi
Ketel tak bisa ditambal atau dilapis, tapi harus diganti dengan yang kondisinya layak dan rata ketebalannya. Tekanan tinggi tak bisa dibuat main². Tabung LPG saja sulit hancur jika ada masalah, tapi katupnya sering kalah.
karena loko uap ini rata-rata menggunakan pipa gas[ gas pembakaran melewati dalam pipa] maka pipa harus tebal dan paling tidak menggunakan pipa steam SCH.120, lain kalau dengan boiler pipa air , berarti kalau menghidupkan merombak semua pipa semuanya yang pasti biaya milyaran..weleh..weleh..
(23-05-2010, 07:28 PM)eko winarno Wrote: [ -> ]karena loko uap ini rata-rata menggunakan pipa gas[ gas pembakaran melewati dalam pipa] maka pipa harus tebal dan paling tidak menggunakan pipa steam SCH.120, lain kalau dengan boiler pipa air , berarti kalau menghidupkan merombak semua pipa semuanya yang pasti biaya milyaran..weleh..weleh..
Urun rembug, mas Eko. Di rumah saya punya foto-kopian data teknis loko uap (D 52), yg ngasih pakdhe Mardi masinis Solo Balapan yg dulu nabrak bis di Klaten. Kira2 bisa enggak yg buat referensi?
(23-05-2010, 07:31 PM)sepur_lori Wrote: [ -> ] (23-05-2010, 07:28 PM)eko winarno Wrote: [ -> ]karena loko uap ini rata-rata menggunakan pipa gas[ gas pembakaran melewati dalam pipa] maka pipa harus tebal dan paling tidak menggunakan pipa steam SCH.120, lain kalau dengan boiler pipa air , berarti kalau menghidupkan merombak semua pipa semuanya yang pasti biaya milyaran..weleh..weleh..
Urun rembug, mas Eko. Di rumah saya punya foto-kopian data teknis loko uap (D 52), yg ngasih pakdhe Mardi masinis Solo Balapan yg dulu nabrak bis di Klaten. Kira2 bisa enggak yg buat referensi?
wahhhh bagus sekali mas itu dokumen yang berharga bisa untuk referensi nantinya kalau ada usaha menhidupkan lagi,..simpan baik-baik mas dan nanti kalau pas ada waktu bisa berkunjung mas Lori.
(23-05-2010, 07:31 PM)sepur_lori Wrote: [ -> ]Urun rembug, mas Eko. Di rumah saya punya foto-kopian data teknis loko uap (D 52), yg ngasih pakdhe Mardi masinis Solo Balapan yg dulu nabrak bis di Klaten. Kira2 bisa enggak yg buat referensi?
Itu dokumen yang berharga. Tentang D52 sendiri, beritanya simpang siur. Ada yang mengatakan ketelnya sudah tiba di Indonesia dan sedang dianalisis oleh pakar lok yang didatangkan dari Belanda. Tapi yang jelas seri D52 sudah tak ada kembarannya. BR41 di Jerman bergauge 1435 mm, yang merupakan kembarannya, masih belum jelas apakah bisa diaplikasikan ketelnya..
(23-05-2010, 07:43 PM)Penjelajah Wrote: [ -> ] (23-05-2010, 07:31 PM)sepur_lori Wrote: [ -> ]Urun rembug, mas Eko. Di rumah saya punya foto-kopian data teknis loko uap (D 52), yg ngasih pakdhe Mardi masinis Solo Balapan yg dulu nabrak bis di Klaten. Kira2 bisa enggak yg buat referensi?
Itu dokumen yang berharga. Tentang D52 sendiri, beritanya simpang siur. Ada yang mengatakan ketelnya sudah tiba di Indonesia dan sedang dianalisis oleh pakar lok yang didatangkan dari Belanda. Tapi yang jelas seri D52 sudah tak ada kembarannya. BR41 di Jerman bergauge 1435 mm, yang merupakan kembarannya, masih belum jelas apakah bisa diaplikasikan ketelnya..
Dulu BR 41 juga diproduksi oleh Fried-Krupp pd masa Jerman Nazi, trus ketika DKA pesan loko, oleh Krupp BR 41 dijelmakan mjd versi kecilnya, di Indonesia diberi nama D 52. Di sini jga terdapat petunjuk cara menghidupkan lok uap, merawat lok uap (pembersihan tank agar tidak berkerak) dan lain sebagainya.
O iya, dulu mas Penjelajah menemukan lok uap di daerah Cisarua, Bogor itu ya? Itu bukan C 14, soalnya C 14 dom uapnya berbentuk bulat. Trus dom uap lok tsb mirip dgn lok kelas C 11 atau C 12. Cerobong asapnya juga mirip ama punya-nya C 1218. Tapi mengapa sampai sejauh ini tdk ada yg mengetahuinya ya? Mungkinkah keberadaan lok tsb sengaja disamarkan?
(23-05-2010, 07:50 PM)sepur_lori Wrote: [ -> ] (23-05-2010, 07:43 PM)Penjelajah Wrote: [ -> ] (23-05-2010, 07:31 PM)sepur_lori Wrote: [ -> ]Urun rembug, mas Eko. Di rumah saya punya foto-kopian data teknis loko uap (D 52), yg ngasih pakdhe Mardi masinis Solo Balapan yg dulu nabrak bis di Klaten. Kira2 bisa enggak yg buat referensi?
Itu dokumen yang berharga. Tentang D52 sendiri, beritanya simpang siur. Ada yang mengatakan ketelnya sudah tiba di Indonesia dan sedang dianalisis oleh pakar lok yang didatangkan dari Belanda. Tapi yang jelas seri D52 sudah tak ada kembarannya. BR41 di Jerman bergauge 1435 mm, yang merupakan kembarannya, masih belum jelas apakah bisa diaplikasikan ketelnya..
Dulu BR 41 juga diproduksi oleh Fried-Krupp pd masa Jerman Nazi, trus ketika DKA pesan loko, oleh Krupp BR 41 dijelmakan mjd versi kecilnya, di Indonesia diberi nama D 52. Di sini jga terdapat petunjuk cara menghidupkan lok uap, merawat lok uap (pembersihan tank agar tidak berkerak) dan lain sebagainya.
kalau memang ada wacana untuk menghidupkan D52 saya kira masih ada harapan besar karena di luar negeri masih banyak yang aktif, herannya dahulu sebelum di scrab kenaapa tidak kepikiran untuk menyimpan salah 2 boilernya yang masih bagus padahal 99 unit bukan hal yang sedikit.

(23-05-2010, 08:24 PM)eko winarno Wrote: [ -> ]kalau memang ada wacana untuk menghidupkan D52 saya kira masih ada harapan besar karena di luar negeri masih banyak yang aktif, herannya dahulu sebelum di scrab kenaapa tidak kepikiran untuk menyimpan salah 2 boilernya yang masih bagus padahal 99 unit bukan hal yang sedikit.
Di Jerman, ketika BB 4 eks PG Gendhing hijrah ke sana, boilernya malah diganti total plus peti api baru, ketel dan mesinnya baru semua, @9 tahun baru keluar setelah operasi besar itu. Jumlah D 52 ada 100 buah, dgn perincian D 52001-D 52050 masih pakai batu bara dan D 52051-D 52100 pakai residu/minyak bakar (setelah dirombak di Madiun sekitar taun 1950an). Kalau kita punya kemauan kuat dan dana yg mencukupi, beli mesin lok uap baru pun tidak masalah
(23-05-2010, 08:24 PM)eko winarno Wrote: [ -> ]kalau memang ada wacana untuk menghidupkan D52 saya kira masih ada harapan besar karena di luar negeri masih banyak yang aktif, herannya dahulu sebelum di scrab kenaapa tidak kepikiran untuk menyimpan salah 2 boilernya yang masih bagus padahal 99 unit bukan hal yang sedikit.
Banyak yang aktif? Harapan terakhir yang ternyata tak bisa diharapkan ya hanya BR41 itu. Dana 6 milyar itu sudah didapat beberapa tahun lalu. Saya tak mau berandai² dan menyesali scrapping besar²an oleh PJKA dulu. Sekarang yang penting upaya dan peluang yang ada dari lok² yang tersisa ini.
note : Ada 100 D52 yang dibeli, bukan 99.
(23-05-2010, 08:30 PM)sepur_lori Wrote: [ -> ]Di Jerman, ketika BB 4 eks PG Gendhing hijrah ke sana, boilernya malah diganti total plus peti api baru, ketel dan mesinnya baru semua, @9 tahun baru keluar setelah operasi besar itu. Jumlah D 52 ada 100 buah, dgn perincian D 52001-D 52050 masih pakai batu bara dan D 52051-D 52100 pakai residu/minyak bakar (setelah dirombak di Madiun sekitar taun 1950an). Kalau kita punya kemauan kuat dan dana yg mencukupi, beli mesin lok uap baru pun tidak masalah
Tolong jangan dibandingkan dengan lok lori, yang sebenarnya lok PG disini lebih berkutat pada masalah non teknis daripada teknisnya. Sekali lagi pelajari saja bagaimana kita proses dan kesulitannya menghidupkan 2 buah B52, C1218 dan E1060 itu.
Selain Krupp sudah tutup, sudah saya sebutkan diatas, masalah menghidupkan D52099 dan CC5001 ini bukan lagi soal dana, tapi spare part! Sangat beruntung dan hebat sekali railfan Indonesia bisa mendapatkan sponsor 6 milyar. Even komersial pun belum tentu mendapat sponsor sebesar itu! Terhitung sejak 2002, sejak wacana ini dibuka hingga saat ini masih berjalan prosesnya.
(23-05-2010, 08:30 PM)Penjelajah Wrote: [ -> ] (23-05-2010, 08:24 PM)eko winarno Wrote: [ -> ]kalau memang ada wacana untuk menghidupkan D52 saya kira masih ada harapan besar karena di luar negeri masih banyak yang aktif, herannya dahulu sebelum di scrab kenaapa tidak kepikiran untuk menyimpan salah 2 boilernya yang masih bagus padahal 99 unit bukan hal yang sedikit.
Banyak yang aktif? Harapan terakhir yang ternyata tak bisa diharapkan ya hanya BR41 itu. Dana 6 milyar itu sudah didapat beberapa tahun lalu. Saya tak mau berandai² dan menyesali scrapping besar²an oleh PJKA dulu. Sekarang yang penting upaya dan peluang yang ada dari lok² yang tersisa ini.
note : Ada 100 D52 yang dibeli, bukan 99.
Thank's koreksinya dan ternyata malah lebih banyak serta sampai mana pembelian boiler BR41 kalau dana ternyata sudah cair, ya mudah-mudahan sudah ada dan siap di pasang/di rakit karena hal ini akan menjadi gengsi tersendiri di mata dunia dengan mengaktifkan D52.
Setuju, mas Eko. D 52 adl lok uap kelas Mikado satu-satunya yg ada di Indonesia. Juga sangat disesalkan pembunuhan besar-besaran lok uap pd masa peralihan ke traksi diesel oleh PJKA, yg hampir menghapus total salah satu lok uap unik di Indonesia ini.
coba kalau D 52 masih beroperasi ya ...
sumber:
http://www.flickr.com/photos/42309484@N03/