Nih saya berbagi cerita trip report KA Parahyangan pertama di tahun 1989.
Kalau saya pertama kali naik KA Parahyangan adalah waktu saya tinggal di Jakarta tahun 1989 silam.
Pada tahun-tahun ini saya mulai melihat ada KA eksekutif (“Kelas 1â€Â) yang menggunakan AC berbentuk kotak diatapnya, seperti bis-bis malam ber-AC pada waktu itu, di stasiun Gambir (bawah).
Saya penasaran, KA apakah itu. Begitu pengumuman berbunyi, rupanya itu adalah KA Parahyangan jurusan Bandung. Wah, sayapun penasaran ingin sekali naik KA itu. Memang sebelumnya saya sudah pernah naik KA EXA sebelumnya, tapi ACnya loyo semua. Akhirnya keinginan saya dikabulkan orang tua saya.
Kira-kira menjelang akhir tahun 1989 (sekitar bulan September), orang tua saya mengajak saya dan saudar-saudara saya naik KA Parahyangan itu. Saya ingat betul KA Parahyangan yang kami naiki adalah yang berangkat awal dari Jakarta. KA ini sebenarnya berangkat dari stasiun Jakarta Kota, tapi karena rumah kami yang di Pejaten lebih dekat ke Gambir (kebetulan Parahyangan berhenti di Gambir/pada periode ini tak semua KA unggulan berhenti di Gambir), maka kami naik KA ini dari sana.
Saya ingat saat itu kami sekeluarga berangkat dari rumah sesaat setelah subuh (langit masih gelap), dan sampai di Gambir menjelang matahari terbit. Waktu itu kereta datang sekitar pukul 6 pagi di jalur 1 stasiun Gambir lama yang di bawah.
Kamipun langsung naik ke salah satu Gerbong EXA yang terletak di belakang rangkaian KA. Interior KA EXA waktu itu didominasi warna hijau keputihan, seperti warna interior beberapa lokomotif sekarang. Dan rak tas diatas mirip dengan rak tas yang ada di kelas bisnis sekarang. Dan gerbong EXA waktu itu lantainya sudah berkarpet. ACnya terasa cukup dingin, tapi tidak membuat menggigil karena hawa Jakarta yang panas. Saya duduk di jendela sebelah kiri, semantara adik di jendela kanan.
Waktu itu konfigurasi rangkaian KA Parahyangan sudah mirip dengan sekarang (atau sebelum tahun 2000an, sebelum gerbong makan merangkap gerbong pembangkit). Saya tak ingat berapa jumlah gerbong yang dibawa. Yang pasti waktu itu rangkaian ini ditarik oleh sebuah lokomotif CC201 warna kuning-hijau yang berjalan dengan konfigurasi hidung pendek.
Tak lama kemudian kereta berangkat menuju Bandung. Perjalanan berjalan dengan cukup lancar. Kira-kira selepas Cikini/menjelang Manggarai, salah seorang kawan baik bapak saya muncul. Rupanya beliau juga ikut perjalanan naik KA ini. Waktu itu saya agak heran, kok sewaktu teman bapak saya bersandar ke dudukan kursi di depan saya, keretanya kok ya miring ke arah yang sama, seperti karena ditimpa kawan bapak saya itu. Rupanya belakangan saya menyadari karena selepas Manggarai ada sebuah tikungan yang cukup besar.
Saya tak ingat apakah waktu itu keretanya berhenti di Jatinegara, yang pasti begitu keluar dari Jakarta, kereta terasa cukup penuh.
Berbeda dengan perjalanan KA dari Jakarta jaman sekarang, begitu memasuki Bekasi, suasananya sudah terasa mirip pedesaan, dan sudah mulai banyak persawahan yang terlihat. Kalau jaman sekarang, mungkin anda baru merasakan suasana pedesaan selepas Karawang.
Perjalanan dari Jakarta ke Cikampek tak terasa begitu beda dengan perjalanan-perjalanan KA yang saya alami di Jawa Timur pada periode yang sama. Hanya perjalanan menembus persawahan yang alami. Apalagi saat itu belum banyak pabrik-pabrik di kabupaten Karawang.
Di Cikampek, jalur KA yang bercabang, kereta saya dibelokan menuju ke jalur yang ke arah Purwakarta. Tapi yang agak unik, hingga tak terasa seperti naik KA adalah kampung-kampung yang rapat di sekitar rel di Cikampek membuat perjalanan serasa seperti menembus perkampungan daripada naik KA. Oya, juga tikungan selepas stasiun Cikampek juga terasa cukup tajam juga.
Selepas Cikampek kereta api mulai memasuki daerah padang rumput yang cukup luas sekali, hingga melewati bagian bawah jalan tol Jakarta-Cikampek, yang waktu itu memang berakhir di situ. Selepas jembatan tol, kereta memasuki hutan jati yang cukup lebat.
Sekarang ini beberapa bagian padang rumput itu sudah menjadi daerah perumahan dan padang golf, tapi hutan jatinya masih utuh.
Saya tak ingat apa yang saya lihat sewaktu kereta melewati Purwakarta, bahkan waktu itu saya tak ingat kalau melewati stasiun besar itu.
Selepas Purwakarta, jalur kereta mulai berkelak-kelok tajam. Bahkan saya bisa melihat juga lokomotif di depan dengan jelas. Namun saya belakangan insyaf juga. Yang tidak saya ketahui pada saat itu adalah di sisi kanan pemandangan lebih indah, karena kalau sebelah kiri yang anda lihat adalah bukit-bukit yang rapat, sementara kalau di kanan pemandangannya adalah pemandangan lembah yang indah.
Hal pertama yang cukup menyita pemandangan adalah sewaktu kereta melintasi sebuah jembatan yang sangat tinggi sekali. Begitu tingginya sampai saya kaget melihat dasar lembah di bawah. Baru pertama kali itu saya melewati jembatan setinggi itu.
Belakangan saya tahu kalau jembatan itu adalah jembatan Cisomang yang merupakan jembatan tertinggi di Indonesia. Dan jarak dari dasar lembah hingga keatas permukaan rel adalah 100 meter.
Setelah itu yang cukup menyita perhatian adalah sebuah terowongan yang cukup panjang sekali. Baru kali itu saya naik KA melewati terowongan di siang hari. Sebelumnya, saya naik KA Bima melewati terowongan Ijo di malam hari. Seusai terowongan kereta melewati jembatan yang panjang dan tinggi, sehingga kereta api serasa terbang. Belakangan saya mengetahui kalau jembatan itu adalah jembatan Cikubang.
Seusai itu, saya mencoba melihat pemandangan di sebelah kanan, dekat jendelanya adik saya. Saya langsung kaget. Wah, pemandangan lembahnya sungguh spektakuler. Pemandangan di sekitar Cilame sangat indah sekali ,dan baru kali itu saya melihat pemandangan jalan mobil terlihat jauh di bawah lembah di bawah rel kereta api. Kalau saya naik KA ke Malang pemandangannya tak seindah ini.
Waktu itu wacana jalan tol Jakarta-Bandung belum mengemuka, begitu juga penggalian di daerah Padalarang juga masih belum banyak, sehingga pemandangan yang kita lihat cukup alami saat itu.
Menjelang masuk Padalarang saya melihat ada jalur kereta api lain di bukit di seberang lembah. Begitu memasuki Padalarang, jalan kereta api itu bersambung dengan jalur kereta api yang dilewati KA saya.
Tak ada yang istimewa dengan perjalanan dari Padalarang ke Bandung, dan saya rasa pemandangan saat itu tak banyak berbeda dengan sekarang. Beberapa menit kemudian, kereta saya memasuki stasiun Bandung, yang saat itu terlihat lebih rapi dan depo lokomotifnya tidak dipagari seperti sekarang, sehingga meja putar bisa dilihat dengan cukup jelas dari atas kabin KA.
Akhirnya kami sampai juga di Bandung. Sewaktu turun dari KA, saya melihat stasiun Bandung itu pelatarannya seperti taman, sehingga kelihatan cantik sekali. Apalagi tamannya cukup tertata rapi.
Beberapa menit kemudian, sopir jemputan datang dan berakhirlah perjalanan saya naik KA Parahyangan untuk pertama kalinya.