cuma mau tanya dikit sih....
sejak era PJKA tanah sekitar rel/stasiun di jalur-jalur mati disewakan kepada penduduk, yang kemudian menggunakannya sebagai tempat tinggal atau tempat usaha. padahal di dokumen ripnas, kebanyakan jalur mati dijadwalkan beroperasi kembali per tahun 2030 (dari skala peta tidak terlihat apakah memang jalur lama yang dipakai atau jalur baru dibangun)
nah, ntar cara mengurus penduduk yg udah nyewa lahan sekitar rel itu bagaimana? apakah jalur lama tetap digunakan dan penduduk direlokasi, mungkin dengan bantuan uang tali asih, atau jalur lama ditinggalkan lalu membangun jalur baru?
pilihan di atas saya tanyakan hanya untuk daerah-daerah yg tidak terlalu penting secara ekonomi, misalnya pemukiman warga atau sedikit deretan pertokoan. untuk daerah yang sudah terlanjur berkembang menjadi pusat aktifitas ekonomi sepertinya memang tidak memungkinkan jika jalur kereta yg dulu melewatinya difungsikan kembali.
untuk memperjelas permasalahan tanpa panjang lebar menulis, lebih baik kita dengar pendapat Hyde Ajik, seorang warga, di satu grup diskusi Facebook. beliau mahasiswa Manajemen dan Kebijaksanaan Publik di Universitas Gadjah Mada
Quote:... tetapi perlu di lihat analisis dampak sosialnya terlebih dahulu. di sepanjang jalur kereta api lama telah hidup perekonomian rakyat apakah itu akan di korbankan? selanjutnya melihat stasiun yang berada di kota" besar penumpukan gelandangan dan anak jalanan semakin banyak di stasiun dengan adanya hal tersebut maka harus di pikirkan konsep benar" matang agar rakyat tidak menjadi korban dari adanya proyek tersebut. Kereta api itu untuk rakyat bukan mengyensarakan rakyat...terima kasih
...
... tetap yang di utamakan kepentingan rakyat karena sekarang demokrasi hak tertinggi di tangan rakyat toh juga dengan adanya stasiun membuat banyak anjal dan gelandangan yang akan menambah masalah terlebih lagi dari jasa transportasi bis akan mengalami kerugian....
...
yo gak penyerobotan. mereka juga taat membayar pajak kalau dia tidak membayar pajak dia juga telah kena rasia satpol PPkan...demokrasi ni semakin kompleks tidak hanya main gusur saja tetapi perlu pendekatan yang itu tidak cepat perlu deal-deal politik. aset negara juga milik rakyat...tanpa rakyat negara gak ada...gtu...pakai pendekatan wellfarestate (negara memberikan hadiah ke rakyatnya tanpa mereka harus mengorbankannya?
...
...memang kereta api mempunyai makna untuk mengurangi kemacetan tetapi kan sekian ratus bus yang menggantungkan hidupnya di sana kan ksihan juga jika hrus menganggur kalaupun pindah jalur pastinya akan menambah saingan di jalur sebelumnya dan itu akan membuat perpecahan
...
jangan mikir di ekonomi saja mbak....lihat sepanjang jalan rel kereta di situ juga sudah ada rumah penduduk...mungkin bisa ratusan bahkan ribuan penduduk yang telah berada atau telah membuat tembok di atas jalur itu...kan ya kasihan...
...
tetapi warga yang terkena gusur tidak mendambkannya hehehe berbeda pendapat berti...
apakah karena PJKA sudah menyewakannya pada penduduk, dan penduduk sudah lama menetap di daerah itu, jalur kereta lama menjadi tidak dapat difungsikan? apakah karena lamanya mereka menyewa, para penduduk menjadi pemilik lahan secara de-facto, dan dishub tidak bisa mengambil kembali lahan tersebut?
kini ditambah lagi masalah penghidupan para pengusaha angkutan bus dan pegawai mereka. mereka tidak boleh kehilangan mata pencaharian, bro... kan kasihan...
jika memang sikap demikian yang akan diambil pemerintah, barangkali lebih baik jika tanah-tanah tersebut dicoret dari aset dishub dan dijual atau dihibahkan pada warga yang sudah menyewanya selama ini agar para warga bisa lebih tenang beraktivitas di lahan tersebut, tetapi
PT. KA lebih untung tetap membiarkan tanah tersebut di dalam daftar asetnya karena mereka bisa terus memungut uang sewa dari penghuni
[spoiler]saya curiga para penyewa lahan eks jalur kereta yang paling pertama justru adalah pegawai atau pensiunan PJKA. satu hint, di dekat bangunan eks stasiun di suatu kota, ada rumah pribadi dengan papan nama suatu organisasi pensiunan pegawai kereta, yang letaknya justru paling dekat dengan bekas rel kereta[/spoiler]
sekali lagi permasalahan yg saya ajukan hanya meliputi daerah-daerah yg tidak menjadi pusat kegiatan ekonomi
mari kita diskusikan
